Sang Penggila Kekuatan

Sang Penggila Kekuatan
MINERVO 90 : Terlambat


__ADS_3

"KAMI PULANG!"


Paul langsung menendang pintu depan rumahnya yang tertutup hingga terbuka dengan bantingan yang lumayan keras. Ketika pintunya terbuka lebar, Paul dikejutkan dengan sesosok lelaki tinggi yang sedang melamun di kursi tamu sendirian. Ketika menyadari kehadiran Paul, lelaki itu tersenyum tipis.


"Paul. Cherry. Naomi. Dan," Lelaki itu memicingkan matanya ke arah Isabella."Siapa?"


"Cherry kira siapa, ternyata hanya Abbas!" pekik Cherry saat melihat dengan jelas sosok lelaki tinggi tersebut. Cherry dan yang lainnya, langsung masuk ke dalam ruang tamu dan duduk di sofa yang memutari meja. Kemudian, Cherry mencoba memperkenalkan orang baru di hadapan Abbas. "Nama perempuan seksi ini Isabella Melvana! Dia adalah mantan pelacur populer di Kota Luna, loh! Dia juga sangat pandai menggoda dan menjahili orang lain!" Cherry berbisik pada Abbas. "Berhati-hatilah."


Setelah duduk di sofa, dan meletakkan dua plastik hitamnya yang berisi gepokkan uang ke atas meja, Isabella menyunggingkan senyuman ramah pada Abbas sambil menjulurkan tangannya, "Seperti yang dikatakan Cherry. Itulah namaku. Dan namamu Abbas? Nama yang menarik, rahimku jadi terasa hangat mendengar nama itu. Ah, pokoknya salam kenal, Abbas."


Abbas menerima uluran tangan Isabella dan akhirnya mereka berdua berjabat tangan. Abbas hanya mengangguk dan tersenyum.


"Eh?" Hidung Paul berkedut-kedut, dan keningnya mengerut. "Sepertinya aku mencium aroma yang tidak mengenakkan di sini. Aromanya datang dari kamar Ibuku!" Paul langsung bergegas ke kamar Elena dan masuk ke dalam untuk memeriksanya.


"Koko!?" Paul kaget ada Koko di dalam kamar ibunya. "Sedang apa kau di sini?"


"P-Paul?" Koko terkejut melihat kedatangan Paul yang mengejutkan. "K-Kau sudah pulang? S-Syukurlah." Walaupun Koko bilang begitu, sebenarnya dia sedang cemas dan resah, takut kalau Paul akan memarahinya karena membiarkan Tante Elena sakit parah seperti itu. Koko jadi bingung harus bilang apa untuk menjelaskan semua yang terjadi. "S-Seperti yang kau lihat. T-Tante Elena sedang... sakit."


"Serius!?" Kaget, Paul langsung berjalan mendekati kasur untuk melihat kondisi ibunya dan ternyata benar, di sana, wanita itu sedang terlelap dengan kain kompresan yang diletakkan di kening. Mukanya pun tampak pucat dan basah. "Ibu... aku pulang."


"WOW!" Jeddy, yang baru keluar dari dapur, setelah kenyang melahap makanan lezat di dapur, terkejut dengan sesuatu yang dilihatnya di sofa tamu. "Perempuan cantik!" Senyuman mesum Jeddy langsung terlukis di wajahnya dan ia berjalan cepat mendekati meja tamu untuk melihat secara dekat perempuan berambut merah yang sedang duduk di sofa bersama Naomi dan Cherry, juga ada Abbas di sana yang duduk di sofa seberang. "Halo! Namaku Jeddy! Senang bertemu denganmu, hehehehe!"

__ADS_1


Menyaksikan kedatangan Jeddy, Isabella menyunggingkan senyuman menggodanya sambil bilang, "Oh? Siapa lelaki ini, Cherry? Sepertinya dia cukup," Isabella menjilat bibirnya dengan seksi. "... menyenangkan."


"Dia itu orang yang disukai Naomi! Yang namanya Jeddy, loh! Kau ingat!? Hihihihihi!" Dan sedetik kemudian, Cherry terbelalak dengan kata-katanya sendiri. Dia tidak sengaja telah membocorkan rahasia Naomi di depan Abbas dan--yang lebih parahnya--Jeddy. "Ah, tidak! Maksud Cherry itu--"


Baru saja Cherry bilang begitu, tiba-tiba pundak gadis mungil itu dicengkram oleh tangan seseorang dengan sangat horor dari belakang. Setelah ditengok sedikit, ternyata itu berasal dari tangan Naomi. Gadis berkerudung itu tampak menunjukkan ekspresi mengintimidasi yang luar biasa menakutkan.


"Maaf?" Naomi berusaha semaksimal mungkin, menyunggingkan senyuman ramahnya pada Cherry. "Tadi Anda bilang apa?"


Jeddy terlihat memiringkan kepala. Abbas memasang muka penasaran. Cherry menampilkan raut ketakutan. Sedangkan Isabella, terkikik-kikik melihat perlakuan Naomi pada Cherry.


"I-Itu--"


"Iya! Iya! Iyaaaa! Itu hanya salah kata, kok! Hihihi! Maaf, ya!" Cherry, dengan keringat yang bercucuran, mencoba tersenyum riang seperti biasanya agar Jeddy dan Abbas tidak curiga. "Terkadang Cherry sering bicara tidak jelas! Hihihi! Maaf, ya! Cherry kan memang berbeda dari kalian! Hihihi!"


Naomi, menganggukkan kepala, menyetujui perkataan Cherry dengan tersenyum tipis. "Jadi, tidak perlu dipikirkan." ucap Naomi pada Jeddy dan Abbas dengan ramah.


"Oh, benarkah itu?" Isabella menopang dagu dengan memeletkan lidah pada Naomi dan Cherry. "Kurasa, itu bukan salah kata."


Semua perhatian langsung tertuju pada Isabella, terutama Jeddy yang tampak kebingungan dengan pembahasan ini.


"Rasanya seperti," Isabella melanjutkan kata-katanya. "Ada sesuatu yang sedang mereka sembunyikan," Isabella menatap mata Jeddy lekat-lekat. "Benar, kan, Jeddy?"

__ADS_1


Naomi menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak! Itu hanya kesalahan kata! Cherry tidak benar-benar mengatakan itu! Dia hanya salah kata! Lagipula!" Naomi, dengan membuang mukanya ke samping, berkata dengan suara yang bergetar. "Saya tidak mungkin menyukai lelaki seperti Jeddy! Bagi saya! Jeddy hanyalah lelaki bodoh! Dungu! Tidak sopan! Idiot! Ceroboh! Keras kepala! Besar kepala! Dan yang terutama! Dia itu seorang ERIS! Mustahil bagi saya, sebagai umat Blanca yang taat pada agama, mencintai Eris! Orang yang tidak memeluk agama yang sama seperti saya! Itu hanya akan menambah dosa saya saja! M-M-M-Menjijikan!"


Walaupun Naomi bilang demikian, jauh di dalam hatinya, ia sedang mengatakan 'saya sangat-sangat-sangat mencintai Anda, Jeddy. Maafkan saya. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf.'


Semua orang yang ada di ruang tamu, tersentak mendengar perkataan Naomi yang terkesan sangat kejam dan sadis pada seseorang. Terutama Jeddy, yang mukanya tampak tegang, merasakan dirinya tidak dihargai oleh Naomi. Namun, perlahan-lahan, senyuman terukir di bibir Jeddy.


"Hahahaha! Tentu saja! Mana mungkin juga, kan? Naomi jatuh cinta padaku? Itu mustahil! Bro! Hahaha! Jangan khawatir, Naomi! Aku tidak akan menganggapnya serius, kok! Jadi santai saja! Hahahaha!"


Jeddy tertawa terbahak-bahak setelah dirinya dihina-hina oleh Naomi, membuat Cherry, Abbas, dan Isabella tercengang melihat respon lelaki itu yang terlihat tidak marah atau pun sedih dirinya diperlakukan buruk. Benar-benar lelaki yang kuat, pikir Isabella sambil memperhatikan gerak-gerik Jeddy.


Cherry juga bingung mau bilang apa di situasi ini, karena masalah ini muncul akibat ulahnya yang keceplosan. Itulah mengapa dari tadi Cherry hanya terdiam kaku, karena dia bimbang harus bertindak apa. Sebenarnya Cherry marah pada kata-kata Naomi yang merendahkan harga diri Jeddy, tapi di sisi lain, dia juga merasa bersalah karena telah membuat Naomi terpaksa berpura-pura membenci Jeddy.


Semua itu tidak mungkin terjadi kalau Cherry menjaga ucapannya.


Menyaksikan Jeddy tidak marah pada ucapannya, membuat Naomi meringis, dia sakit melihat orang yang dicintainya harus mendengar kata-kata jahat yang keluar dari mulutnya. Bahkan, Naomi sadar kalau kata-katanya sangat keterlaluan. Dan Naomi jadi gelisah harus minta maaf dengan cara apa nantinya pada Jeddy.


Seketika, di saat suasana sedang tegang-tegangnya, tiba-tiba muncul seseorang dari pintu depan, mengagetkan semua orang yang ada di ruang tamu.


"Sepertinya aku datang terlambat," kata orang itu dengan menekan kaca matanya yang agak melorot. "Jadi ada insiden apa lagi di sini? Tolong jelaskan padaku."


Ternyata Itu adalah Nico.

__ADS_1


__ADS_2