Sang Penggila Kekuatan

Sang Penggila Kekuatan
MINERVO 33 : Kita Semua Setara


__ADS_3

Dor! Dor! Dor! Dor!



Peluru-peluru itu dilesatkan dari selongsongnya masing-masing ke arah Cherry, setiap peluru berjatuhan dengan kecepatan tinggi. Semua orang yang ada di sekitar halte berlarian ke segala arah, mencari tempat aman agar tidak terkena tembakan-tembakan itu, mereka menjerit-jerit ketakutan. Gadis pirang bergaun mewah itu pun berjalan cepat, menjauhi lokasi itu, agar bawahan-bawahannya bisa menembak Cherry dengan leluasa. Gadis pirang itu memilih untuk berlindung di balik pohon besar berdaun rimbun dengan kepalanya yang disembulkan, untuk mengintip aksi-aksi mematikan dari para bawahannya dalam upaya membunuh dan menghancurkan bocah menyebalkan yang telah meremehkannya.



"Hahahaha! Mati kau! Bocah!" Gadis pirang itu tertawa-tawa bahagia menyaksikan peluru-peluru itu meluncur ke tubuh Cherry.



Semua kendaraan yang mau melewati halte pun akhirnya menghentikkan lajunya, angkutan umum hingga mobil pribadi, semuanya terdiam, memandangi peristiwa mengerikan itu. Menimbulkan kemacetan yang begitu panjang dari dua arah yang berlawanan.



Saat peluru pertama nyaris menyentuh kulitnya, Cherry dengan santai menghindarinya, tubuhnya bergerak sedikit ke arah kiri, dan akhirnya dia selamat dari hujaman peluru tersebut. Namun itu belum berakhir, karena disusul peluru-peluru berikutnya yang berjumlah puluhan--ah, tidak, sepertinya ratusan--membuat Cherry lagi-lagi bergerak ke berbagai arah, entah lompat kanan, lompat kiri, melangkah maju, melangkah mundur, untuk menghindari semua tembakan-tembakan itu.



Dan secara tidak sadar, pergerakan-pergerakan Cherry dalam menghindari peluru-peluru telah menciptakan sebuah gerakan yang cukup mengesankan. Cherry jadi terlihat seperti sedang menari-nari riang di tengah jalan, tidak lupa dia pun goyangkan kedua tangan dan pinggulnya, membuat semua orang berdecak kagum menyaksikannya. Mereka seolah-olah sedang menonton seorang gadis mungil sedang menari-nari di tengah jalan raya dengan ratusan peluru yang berjatuhan ke arahnya. Gadis pirang itu terkejut, dia tidak sangka semua ini malah jadi seperti sebuah pertunjukkan tari yang konyol.



Karena Cherry tampak begitu senang, membuat beberapa orang yang menyaksikannya, menepuk-nepuk kaki mereka ke tanah, menciptakan sebuah ritme musik yang sederhana dan alami, lalu tangan mereka pun ikut ditepuk-tepuk. Dan akhirnya, terciptalah alunan musik dari suara-suara tepukan itu. Cherry tersenyum mendengarnya, sambil terus menggoyang-goyangkan badannya, walau bunyi peluru terus meraung-raung di atas kepalanya. Beberapa orang di seberang jalan pun ikut meramaikan alunan musik itu dengan memukul-mukul kaleng minuman yang sudah kosong ke tiang-tiang listrik.



Suasananya jadi sangat meriah dan tidak menakutkan. Cherry makin semangat menggerakkan pinggulnya dengan riang, agar nyawanya tidak hilang terkena tembakan sekaligus agar semua orang terpukau dalam menikmati tariannya yang mempesona. Namun, mendadak peluru-peluru itu tidak lagi berjatuhan, membuat suasananya jadi sepi secara mendadak. Cherry pun mendongakkan kepalanya ke tiga helikopter yang sedang terbang di ketinggian kurang lebih lima puluh meter di atas kepalanya.



"Eeeeeh!? Kenapa berhenti!? Padahal lagi seru-serunya!" Cherry mengembungkan kedua pipinya, kecewa pada para pria berkaca mata yang sudah menenggelamkan kepala mereka untuk masuk ke dalam helikopter. Dan betapa mengejutkannya, ketika tiga helikopter itu mengeluarkan masing-masing dari tubuhnya, satu orang pria yang menggenggam sebuah meriam besar berbentuk tabung yang Cherry yakin namanya adalah bazoka. "Uwaaah! Ada tiga bazoka yang diarahkan pada Cherry!"



Cherry melotot saking kagetnya, tapi bukannya ketakutan, dia malah kegirangan saat tiga bazoka besar sedang diarahkan padanya. Sedangkan orang-orang yang menonton kembali berlarian, supir-supir dan para penumpang yang ada di angkutan umum pun berhamburan keluar, menjauhi area itu agar tidak terkena ledakan bazoka. Sementara itu, di balik pohon yang rimbun, gadis pirang bergaun mewah itu menyeringai kejam saat melihat bawahan-bawahannya mengeluarkan senjata utama mereka.



"Bagus, sekarang, tembaklah dia sampai mati! Hahahaha! Kali ini! Bocah itu tidak akan bisa menari-nari lagi! Karena serangan sebuah bazoka tidak seperti senapan kecil, serangannya akan menimbulkan sebuah ledakan yang sangat besar! Dan sepertinya aku juga harus mencari tempat yang lebih aman, karena jangkauan ledakan bazoka cukup luas! Selamat menikmati! Bocah! Hahahaah!"



Nico bersama pria berkumis itu akhirnya sampai di depan pintu perak dari ruangan yang di dalamnya diadakan sebuah rapat penting. Saat pria tua yang punya kumis tebal itu mendorong pintu tersebut secara perlahan, Nico menunjukkan seringaian liciknya, dia sudah merencanakan semua aksinya dengan matang. Dan Nico yakin sekali kalau strateginya kali ini bahkan bisa menghancurkan sebuah kota besar seperti Aljelvin.



"Aku kembali," ucap pria tua itu ketika dirinya masuk ke ruang rapat itu. Dia berjalan santai ke tempat duduknya, sementara Nico masih berdiri angkuh di ambang pintu.



Aroma rokok dan bau busuk dari tubuh pria-pria tambun yang tengah duduk di kursinya masing-masing, menyambut indera penciuman Nico. Suasana tenang nan sunyi dicampur dengan cahaya lampu yang remang-remang, menyambut indera pendengaran dan penglihatan Nico. Dan akhirnya, Nico melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam ruangan rapat itu sembari menutup kembali pintunya agar aksinya nanti bisa tampak dramatis.



"Jadi, siapa pemuda yang kau bawa itu?" tanya salah satu pria gemuk pada si pria berkumis saat melihat rekannya membawa seorang lelaki muda berambut putih masuk ke dalam ruang rapat. "Apa dia putramu?"



"Eh? B-Bukan! Dia bukan putraku," ucap si pria berkumis itu dengan gelagapan.



"Lalu? Dia putranya siapa? Apakah kau? Atau kau? Atau mungkin kau? Ayo cepat mengaku, bukankah kita sudah sepakat untuk tidak lagi membawa anak-anak kita ikut ke dalam rapat?" kata pria berjenggot panjang pada rekan-rekannya yang duduk di sekitarnya, menghadap meja bundar.



"Dia bukan putraku."



"Kalian semua sudah tahu, kan? Aku hanya punya anak perempuan?"


__ADS_1


"Hey! Aku belum punya anak!"



"Aku tidak punya anak laki-laki setampan itu."



"Aku dari keluarga rambut merah, tidak mungkin punya anak berambut putih, kan?"



"Mana mungkin, tiga anakku masih kecil semua."



Dan mereka semua saling sahut-menyahut, menjelaskan bahwa masing-masing dari mereka tidak punya anak seperti Nico, yang membuat situasi jadi berujung ke sebuah pertanyaan besar, yakni, "Lalu? Dia anaknya siapa?"



Dan senyuman Nico jadi tercetak semakin jelas, dia terus berjalan dan berjalan, menghampiri kumpulan pria-pria tua berpakaian rapi yang sedang duduk berjejer memutari meja bundar.



Brak!



Nico langsung menggebrak meja bundar itu dengan tangan kanannya, ketika dia sudah berdiri di depan para pria tua tersebut. Membuat mereka semua terkejut dengan tingkah Nico yang terkesan kurang sopan. Lalu, dengan seringaian liciknya, Nico berkata, "Bolehkah aku menanyakan sesuatu pada kalian?" ucap Nico dengan intonasi penuh penekanan. "Sudah berapa jauh kalian memperbaiki kebobrokan kota ini? Sudah berapa jauh kalian menyembuhkan penyakit tolol dari para bangsawan di kota ini? Dan sudah berapa jauh kalian menghapuskan sistem perbudakan yang menjamur di kota ini? Bolehkah aku mengetahuinya? Aku akan senang jika salah satu dari kalian mau menjawab pertanyaanku."



"Hey! Sebenarnya dia anaknya siapa! Cepat mengaku! Tingkah anak ini kurang ajar sekali pada kita!?"



Mendengar umpatan itu, Nico segera menolehkan kepalanya ke orang yang berbicara kemudian dia dekatkan kepalanya ke wajah orang tersebut, sangat dekat, hingga hidung mereka bersentuhan dan kaki Nico naik ke atas meja bundar. "Kalau begitu, bagaimana kalau kau saja yang jawab pertanyaanku, Tuan." Mata Nico sampai melotot di wajah orang tersebut.




Ucap Paul pada Koko dengan raut muka yang begitu serius, bola matanya memancarkan amarah yang membara, napasnya menderu tak beraturan, dan keringat membasahi wajahnya. Bisa disimpulkan kalau Paul sama sekali tidak menyimpan rasa benci mau pun jijik pada Koko, malah sebaliknya, dia sangat marah pada semua orang yang ada di kota ini, terutama para bangsawan. Selain kesal pada ketidak-adilan yang merajalela, Paul juga geram pada sistem perbudakan yang sudah membudaya di Aljelvin, seolah-olah hal tersebut telah menjadi sebuah tradisi turun-temurun dari kalangan bangsawan untuk memperbudak sesama manusia.



Koko tertegun pada ekspresi Paul yang menunjukkan rasa empati dan geram secara bersamaan. Semua itu dilukiskan dengan sempurna oleh percikan amarah yang meletup-letup di bola matanya, seakan-akan, Paul menginginkan sebuah perubahan yang besar pada Kota Aljelvin. Sungguh, Koko tidak pernah sekali pun menyaksikan ekspresi seperti itu, dia pernah berkali-kali berpapasan dengan orang-orang baik yang geram pada sistem perbudakan, tapi dia tidak pernah sekali pun melihat ada orang yang berempati pada kaumnya: lelaki yang menyerupai perempuan. Karena menurut Koko, sebaik apa pun orang lain, selembut apa pun orang lain, seramah apa pun orang lain, mereka akan berubah jadi makhluk yang sangat kejam, keji, brutal, dan jahat jika bersangkutan dengan kaumnya.



Tapi, lelaki ini berbeda.



Lelaki asing yang baru saja memberikan sebungkus roti dan segelas cokelat hangat padanya, memiliki sesuatu yang berbeda dari orang-orang yang pernah Koko temui. Lelaki ini memang baik, tapi dia tidak ramah maupun lembut, suaranya saat berbicara sangat keras, dan kata-katanya kadang terdengar begitu kasar, tapi, dia tidak menunjukkan sikap benci maupun jijik padanya, padahal Koko sudah sangat siap untuk dihina, dibenci, atau pun dijauhi oleh lelaki itu, karena begitulah yang sering ia alami selama ini.



Semua orang yang pernah menolong Koko, selalu saja langsung jijik jika ia mengungkapkan bahwa dirinya adalah seorang lelaki, mereka selalu mengira dirinya adalah seorang gadis cantik berambut ungu panjang yang diperbudak oleh bangsawan jahat, padahal itu tidak tepat. Alhasil, mereka semua--orang-orang yang pernah menolongnya--akan menjambaknya, meludahinya, memukulinya, menamparnya, menginjaknya, dan berkata bahwa mereka menyesal karena telah menolong makhluk hina seperti dirinya.



Koko pun menyunggingkan senyumannya, lesung pipinya jadi makin terlihat, membuat wajahnya jadi begitu cantik. "Walau aku bilang begitu padamu, tapi sebenarnya, aku ini sangat jahat pada diriku sendiri. Aku bahkan menyimpan rasa jijik pada diriku sendiri saat melihat pantulan wajahku di cermin, aku selalu.. muak pada diriku sendiri. Aku benci pada setiap lekuk tubuhku, pada rambut panjangku, pada mataku, pada hidungku, pada bibirku, pada badanku, kaki, tangan, semuanya. Aku benar-benar membenci diriku sendiri. Karena itulah, jika dibandingkan dengan kebencian orang lain, kebencianku lebih besar dari mereka, karena terkadang, aku berharap keberadaanku lebih baik lenyap dari muka bumi ini. Sebuah kesalahan jika orang sepertiku diberikan kehidupan, orang-orang sepertiku... seharusnya tidak dilahirkan, benar, kan?"



"MINTA MAAFLAH!"



Tiba-tiba Paul berteriak dengan suara yang sangat kencang di hadapan Koko, membuat lelaki cantik itu terkaget mendengarnya. Kekagetannya bertambah saat melihat ekspresi Paul yang kelihatannya begitu marah pada dirinya. "M-Minta maaf?" Koko tidak mengerti pada ucapan Paul.



"Dasar bodoh! Kau sudah menyakiti dirimu sendiri! Maka dari itu, minta maaflah pada dirimu sendiri!" Tatapan tajam Paul begitu menakutkan, matanya melotot, seolah-olah bola matanya akan melompat keluar. Giginya saling bergelemetuk, aliran darahnya membludak, membuat wajahnya jadi merah total. "Aku sangat jijik pada orang yang tidak mencintai dirinya sendiri!" bentak Paul pada Koko. "Dengar ini! Jika semua orang membencimu! Maka kau harus jadi orang pertama yang mencintai dirimu sendiri! Dan apa-apaan omonganmu itu! Semua makhluk hidup punya hak untuk hidup bahagia! Termasuk kau juga! Jadi jangan berpikir yang aneh-aneh! Brengsek!"

__ADS_1



Hening seketika.



Koko terdiam beberapa detik, menundukkan kepalanya, membuat untaian rambut ungunya berjatuhan ke pangkuannya. Dia merenungkan perkataan Paul dalam-dalam, sampai akhirnya, dia menemukan titik terang. Dan pada saat itulah, tangisan Koko pecah. Tidak ada lagi senyuman yang tercetak di wajahnya, dia menangis tersengguk-sengguk, air matanya menetes-netes dengan deras.



"Katakan padaku... apakah aku ini makhluk hina?"



"Bukan!"



"Apakah aku ini... makhluk yang menjijikan?"



"Bukan!"



"Apakah aku ini... makhluk yang terkutuk?"



"Bukan!"



"Apakah aku ini.. makhluk rendahan?"



"Bukan!"



"Lalu aku ini apa?"



"KAU MANUSIA! SAMA SEPERTIKU! KITA SEMUA SETARA! TIDAK ADA PERBEDAAN APA PUN! JADI JANGAN PEDULIKAN ORANG LAIN! CINTAI DIRIMU SENDIRI APA ADANYA! BRENGSEK!"



Tangisan Koko semakin pecah saat mendengar penegasan Paul yang mengatakan bahwa dirinya adalah manusia yang sederajat dengan manusia-manusia lainnya. Itu adalah kata-kata yang selalu ingin Koko dengar dari orang lain, dan hari ini, keinginannya terkabulkan. Ternyata dunia tidak sesempit itu, yang Koko pikir isinya hanya kumpulan orang-orang yang jiwanya dipenuhi kebencian, karena di tempat-tempat lain, masih banyak manusia yang akan menerimanya dengan menjadi dirinya sendiri. Rasanya, Koko seperti terlepas dari jeratan menyakitkan yang selama ini mengikat dirinya sendiri. Kelegaan yang luar biasa mulai menjalar naik ke seluruh tubuhnya. Merinding haru memenuhi emosinya, dia ingin sekali memeluk seseorang, tapi dia tidak berani, apalagi pada Paul. Lelaki ini pasti jijik padanya, walaupun--



Puk!



Betapa kagetnya Koko saat Paul tiba-tiba memeluk tubuhnya dengan erat, dia terbelalak. "K-Kenapa!?" Koko sampai bertanya-tanya keheranan mengapa lelaki ini mau memeluknya. "B-Bukankah ini menjijikan jika dilihat orang lain? S-Semua orang memandang ke arah kita! Lepaskan! K-Kumohon! Lagipula, kita ini sama-sama lelaki!"



Saat ini, semua orang yang berlalu-lalang di sekitar Plaza mendadak menghentikan kakinya, mereka secara serentak menyaksikan Paul dan Koko yang sedang berpelukan. Namun, Koko bisa melihat di muka setiap orang, mereka semua menyunggingkan senyuman, tampak mendukung. Ah, dia ingat, pasti mereka semua mengira bahwa dirinya adalah seorang gadis cantik berambut panjang. Namun, pikirannya langsung teralihkan saat Paul melepas pelukannya dengan kasar, lalu ia menatap muka Koko dengan beringas.



"Dengarkan baik-baik! Aku tidak peduli pada pandangan orang lain! Aku juga tidak peduli kau ini lelaki atau perempuan! Aku tidak bisa diam saja melihat orang menangis di depanku! Dan satu lagi!" Dengan tenaga yang sangat kuat, tangan kanan Paul langsung menarik rantai emas yang membelenggu leher Koko hingga akhirnya, rantai itu terlepas dengan sempurna. "Hari ini! Kau bukan lagi seorang budak! Kau akan menjadi seorang pahlawan!"



Rantai emas itu terjatuh ke tanah Plaza yang keras, menimbulkan suara gemerincing yang cukup mengundang perhatian orang lain. Namun, leher Koko mendapatkan bekas luka dari rantai itu, warnanya merah, yang melingkar ke setiap sisi lehernya.



Kemudian, sebuah pertanyaan terlontar dari mulut Koko, dengan wajah bingung, "Menjadi seorang pahlawan? Memangnya boleh ya? Lelaki sepertiku jadi seorang pahlawan?"

__ADS_1



__ADS_2