Sang Penggila Kekuatan

Sang Penggila Kekuatan
MINERVO 16 : Para Perawat yang Kepanikan


__ADS_3

BRAK!



Paul, Jeddy, dan Colin terkejut saat mendengar suara gebrakan pintu, setelah punggung mereka didorong oleh seseorang untuk masuk ke dalam ruangan Cherry. Sontak, mereka bertiga menolehkan pandangannya ke pintu.



"Pe-Perawat itu!" Muka Colin langsung panik melihat pintu sudah terkunci rapat. "Di-Dia mengunci pintunya!" kemudian, dengan mulut yang bergetar, Colin mencengkram lengan kanan Paul, dia tampak sangat ketakutan. "Bagaimana ini! Paul!? Aku tidak mau--"



"Jangan menyentuhku! Brengsek!" Paul langsung menepis tangan Colin yang mencengkram lengan kanannya, lalu dia menatap lelaki berambut biru itu dengan bengis. "Bersikap ketakutan seperti pecundang, dan kau masih mau menyebut dirimu sebagai lelaki, hah!?"



"Ta-Tapi!" Colin mendelik ke arah Cherry, kemudian menatap lagi ke wajah Paul. "Ak-Aku tidak kuat berhadapan dengan orang gila! Ak-Aku benar-benar takut!"



"Eh?" Mendengar itu, Cherry terkejut, sampai tiga lolipop yang dia sodorkan ke tiga lelaki itu, dia jatuhkan secara refleks. "Memangnya di sini ada orang gila, ya? Cherry tinggal di sini hampir setahun, dan Cherry tidak pernah melihat orang gila, kok! Jadi, kalian tidak perlu takut, soalnya di sini pasti aman! Hihihihi!"



"Hahaha!" Jeddy tertawa renyah melihat ekspresi Colin yang ketakutan sampai seluruh tubuhnya gemetaran, kemudian dia memandang Cherry dengan membungkukkan badannya, agar tingginya setara dengan gadis itu. "Cherry benar! Di sini tidak ada orang gila! Hehehe! Yang ada, hanyalah Cherry yang cantik!" Lalu Jeddy mengambil lolipop yang berjatuhan di depan Cherry, dan menggenggam tiga permen itu di telapak tangannya. "Terima kasih, ya! Pasti permen-permen ini rasanya manis seperti Cherry, hehehe!" Dan Jeddy pun berdiri tegak kembali dengan memasang senyuman mesumnya pada Cherry.



"Tunggu sebentar," tiba-tiba suara riang Cherry jadi terdengar menyeramkan, dan kedua matanya mengerling ke arah Jeddy, membuat lelaki itu tersentak. "Mengapa kau mengambil permen-permen itu? Bukankah permennya sudah Cherry jatuhkan ke lantai? Itu artinya, permen-permen itu sudah tidak layak untuk dimakan, jadi, buang permen-permen itu ke lantai," Kemudian, Cherry mengalihkan pandangannya ke Colin. "Dan kau," nadanya terdengar sangat ditekan ketika berbicara pada Colin. "Apa maksudmu dengan 'takut pada orang gila', kau pikir kamar Cherry ini penuh dengan orang gila? Atau jangan-jangan... kau menganggap Cherry sebagai orang gila?"



Jeddy dan Colin terkaget melihat ekspresi riang Cherry berubah jadi sangat seram. Paul hanya mengenyitkan alisnya, tampak keheranan, dan akhirnya dia pun bertanya pada Cherry, "Mengapa wajahmu jadi berubah begitu?" Mendengar pertanyaan itu, bola mata Cherry langsung terfokus ke arah Paul, dengan sangat tajam dan menindas.



"Apa masalahmu mengomentari wajah Cherry? Kau pikir kau siapa di sini? Ini adalah rumah Cherry, dan Cherry bebas melakukan apa pun di sini. Kalian sebagai tamu harusnya menghormati Cherry, atau jangan-jangan kalian bertiga datang kemari hanya ingin mengejek Cherry?" ucap Cherry dengan suara yang sangat menyeramkan.



Paul benar-benar dibuat kaget dengan sikap Cherry yang mendadak aneh begitu, Jeddy dan Colin pun penasaran mengenai hal itu. Dan, dengan tiba-tiba, ekspresi Cherry berubah lagi, tatapan tajamnya, bibir cemberutnya, ekspresi menindasnya, dan atmosfir kelamnya langsung menghilang, dia kembali ke ekspresi sebelumnya, riang gembira. "Waduh! Maaf, ya! Cherry pasti membuat kalian ketakutan!" ucap Cherry dengan tertawa-tawa sambil menjitak kepalanya sendiri dengan imut. "Terkadang suasana hati Cherry bisa berubah-ubah sangat cepat! Cherry sendiri pun selalu bingung pada diri Cherry sendiri! Soalnya! Karena hal itu! Cherry tidak punya teman! Semua gadis-gadis sebaya Cherry selalu ketakutan saat melihat perubahan suasana hati Cherry! Jadi, Jangan benci pada Cherry, ya! Hihihi!"



Menyaksikan Cherry kembali ke mode riangnya, Jeddy langsung sumringah, dia tersenyum lebar. Colin malah semakin bergidik ketakutan, dia jadi yakin untuk tidak dekat-dekat dengan gadis itu. Sementara Paul langsung mengeluarkan suaranya pada Cherry, "Walau tempat ini dipenuhi dengan wangi permen, tapi aku bisa menciumnya dengan jelas, ada bau bangkai di sini. Jelaskan padaku, kenapa ada bau bangkai di sini, Cherry!?" Jeddy dan Colin langsung terbelalak mendengar pernyataan Paul, kemudian mereka menghirup udara di kamar tersebut secara bersamaan, untuk memastikan kebenaran dari omongan mentornya.



"Bro! Aku tidak mencium bau busuk apa pun, kok! Kau ini ada-ada saja! Hahaha!" Jeddy tidak percaya pada ucapan Paul karena setelah menghirup udara ruangan, dia tidak mencium aroma apa pun selain wangi permen. Jeddy jadi menduga kalau Paul hanya mengada-ada saja, lagipula mana mungkin gadis semungil Cherry menyimpan sebuah bangkai di kamarnya.



Sedangkan, Colin malah sebaliknya, setelah dia menghirup udara untuk memastikan omongan Paul, ternyata dia dapat mencium bau bangkai itu, walau hanya sedikit, tapi tercium sangat jelas. "A-Aku juga menciumnya! Paul!" kata Colin dengan muka pucat pasi. "Kau benar! Ada bau bangkai di sini! Aku bisa menciumnya dengan jelas! Kau tidak berbohong!" Kemudian, Colin menatap wajah Cherry dengan ngeri. "Ce-Cepat jelaskan pada kami! Mengapa ada bau bangkai di kamarmu, Ch-Cherry!?"



Melihat teman-temannya menuduh Cherry, Jeddy tampak tidak terima, dia langsung mengantongi tiga permen lolipop itu ke saku celananya kemudian dia berkata di depan Paul dan Colin, sambil tangannya direntangkan, berusaha melindungi Cherry dari mereka.



"Cukup! Bro! Jangan menyakiti mentalnya lebih parah lagi! Kalian tahu, kan? Dia ini hanya seorang gadis! Tidak mungkin dia menyimpan sebuah bangkai di sini!"



Colin mengernyitkan alisnya, terkejut dengan sikap Jeddy yang berusaha melindungi gadis itu. "Apa kau bodoh!?" Colin jadi kesal pada Jeddy. "Jelas-jelas di sini ada bau bangkai! Hidungmu pasti bermasalah! Jadi, menyingkir dari hadapan kami, Jeddy! Kami ingin meminta penjelasan dari Cherry!"

__ADS_1



"Tidak! Kalian tidak boleh menyakiti Cherry!" seru Jeddy dengan memasang wajah super serius.



"Kau ini!" Colin maju ke hadapan Jeddy, kemudian mencengkram dagu lelaki itu dengan keras, lalu ia berbisik padanya. "Kau tahu, kan? Dia punya penyakit kejiwaan, itu sudah bukan lagi hal yang mustahil jika dia menyimpan sebuah bangkai di sini. Sebenarnya, kau menganggap orang gila itu seperti apa? Makhluk imut? Makhluk lucu?  Makhluk cantik? Tidak! Orang gila, mau bagaimana pun bentuknya, adalah makhluk yang sangat mengerikan, Jeddy."



Jeddy meneguk ludah mendengarnya, dia tampak tersadarkan akan hal itu, tapi dia tetap tidak ingin melihat teman-temannya menyakiti mental Cherry.  "Bro! Walau begitu, bisakah kalian menggunakan cara yang lebih halus padanya? Aku tidak suka melihat kalian menyakiti mentalnya!"



"EHEM!" Paul berdehem sambil menatap tajam mata Jeddy. "Aku tahu kau adalah seorang pahlawan, tapi ini bukan waktu yang tepat untuk bertingkah seperti pahlawan! Jadi, menyingkir dari sana, aku ingin melihat Cherry!"



Tidak bisa membantah perintah dari mentornya, akhirnya Jeddy dengan terpaksa menyingkir bersama Colin, dari pandangan Paul. Walau kelihatannya Jeddy masih menyimpan kekesalan.



Setelah Jeddy menyingkir, akhirnya Paul bisa melihat wajah Cherry lagi, dan sesuai dugaannya, gadis itu kembali lagi ke mode 'gelap'nya. "Hah..," Cherry menghela napasnya dengan tatapan bosan, kemudian dia memandang wajah tiga lelaki yang ada di depannya dengan sinis. "Kupikir kalian akan jadi teman Cherry, tapi sepertinya mustahil. Kalian terlalu berisik dan menjengkelkan. Kalian di mata Cherry, terlihat seperti makanan busuk yang bahkan tidak layak untuk Cherry santap," ucap Cherry dengan nada yang menggeram. "Tapi, Kakak-Kakak di sini sering menasehati Cherry untuk tidak pilih-pilih makanan, karena seburuk apa pun penampilannya, makanan harus dimakan. Kalau tidak dimakan, Cherry bisa dimarahi oleh Kakak-Kakak di sini."



Tiba-tiba Cherry menyunggingkan senyuman tipisnya, menyaksikan hal itu, Paul tampak waspada, dia harus bersiap jika gadis itu hendak menyerangnya. Colin terlihat resah, dia terlalu takut untuk menghadapi Cherry yang merupakan orang gila. Sementara Jeddy terdiam, dia hanya memandang  tingkah Cherry yang jadi semakin aneh, ia memang tidak ingin melihat teman-temannya menyakiti gadis itu. Tapi dia juga tidak mau teman-temannya dijadikan santapan oleh Cherry. Karena itulah, Jeddy juga menyiapkan kuda-kuda untuk melindungi teman-temannya.



PIIIIIIIIIIT!




"Tadi kalian bilang, kalian mencium bau bangkai di kamar Cherry, ya?" suara Cherry terdengar  menggema di kegelapan ini, mereka bertiga tersentak. "Hihihi! Jika Cherry boleh jujur, sebenarnya memang ada banyak mayat di kamar ini! Mereka adalah orang-orang yang pernah mengunjungi kamar Cherry! Daaaaan, tahu tidak? Mayat-mayat itu adalah orang-orang yang pernah menjahati Cherry! Jadi Cherry masukan mereka ke dalam perut dari boneka-boneka beruang yang ada di sini! Tentu saja! Cherry melumuri mayat-mayat mereka dengan minyak beraroma permen! Agar bau busuknya hilang! Tapi Cherry kaget, ternyata kalian bisa mencium bau busuknya! Hihihi! Mungkin hanya si rambut hijau yang hidungnya payah! Hihihi!"



"Hoo? Begitu, ya," Paul merespon ucapan Cherry dengan santai. "Lalu? Apakah kau akan menjadikan kami sebagai koleksi mayatmu juga?"



"Paul! Jangan bilang begitu! Aku tidak mau mati di sini!" balas Colin dengan panik, mereka tidak bisa melihat satu sama lain karena berada di kegelapan ini. "Hey! Cherry!" Colin memberanikan diri untuk berbicara pada Cherry. "Kau ini benar-benar gadis menyedihkan, ya! Apa selama ini kau tidak sadar, kalau perbuatanmu ini sangat jahat! Kau pikir nyawa manusia itu apa! Mereka bukanlah makanan! BODOH!"



"Eh!? Siapa yang kau panggil bodoh!?" Cherry menggeram setelah mendengar ucapan Colin. "Kalau kau masih berniat mengejekku! Aku akan mencabik-cabik tubuh kurusmu itu!"



"Aku .... TIDAK TAKUT!" Jawab Colin dengan suara yang lantang. "Padahal kau ini gadis yang cantik! Tapi mengapa kau bisa-bisanya membunuh manusia dengan sebegitu mudahnya! Apa kau tidak punya perasaan sedikit pun ketika melihat manusia yang kesakitan!? Apa hatimu sudah membusuk seperti mayat-mayat yang kau simpan itu!?"



"DIAAAAAM! DIAAAAAAAAM!"



Colin tetap menunjukkan suaranya dengan kencang, tidak peduli kalau tubuhnya kini bisa saja ditusuk, dipenggal, dirobek, dicakar, dihantam, oleh Cherry, tapi dia tetap ingin bersuara lantang. "KAU ADALAH GADIS PALING IDIOT DI DUNIA INI! CHERRY!"



Tiba-tiba lampu kembali menyala, menampilkan Cherry yang tersungkur di lantai, sedang menggeliat-geliat sambil menutup telinganya dengan tangan, mukanya tampak menderita, air matanya membasahi kedua pipinya. Rambut merah mudanya jadi acak-acakkan, dan di samping tubuhnya, ada sebuah pedang panjang yang kelihatannya sangat tajam, sedang tergeletak dingin di sana. Paul, Colin, dan Jeddy terkejut melihatnya, mungkinkah Cherry berniat akan menebas mereka dengan menggunakan senjata itu, apalagi mata pedangnya pun terlihat sangat kotor oleh noda-noda darah yang sudah menghitam, sepertinya senjata tersebut sudah digunakan untuk menebas banyak manusia. benar-benar mengerikan.

__ADS_1



"Diam! Diam! Diam! Diam! Diam! Diam! Diam! Diam! Diam! Diaaaam!" gumam Cherry dengan suara yang menggeram, ia terus menutupi telinganya dengan kedua tangannya, seolah-olah dia merasa ada seseorang yang membisiki kupingnya terus-menerus hingga air matanya terus mengucur. "Cherry bukan gadis idiot! Cherry bukan gadis jahat! Cherry bukan gadis bodoh! Itu salah mereka! Mereka selalu mengejek Cherry! Mereka selalu menertawakan Cherry! Mereka lah yang jahat! Jadi bukan salah Cherry jika Cherry membunuh mereka semua!"



Jeddy langsung menghampiri Cherry yang sedang menggeliat-geliat di lantai, kemudian dia dengan cepat mengangkat tubuh gadis mungil itu ke pelukannya dan ia pun berdiri tegak di hadapan Colin dan Paul. "Bro, aku mohon, jangan sakiti dia lagi," kata Jeddy dengan mengusap-usap punggung mungil Cherry yang terisak-isak. "Cherry pasti punya alasan tersendiri mengapa harus membunuh orang."



Paul mengabaikan perkataan Jeddy dan dia berjalan mendekati boneka-boneka beruang yang berjejer rapi di pojok ruangan. Paul mengambil satu boneka dan ia dengan brutal merobek perut boneka itu dan keluarlah kepingan-kepingan daging yang sudah dipenuhi oleh belatung, berjatuhan ke lantai. Setelah mendapatkan sebuah bukti nyata bahwa omongan Cherry bukanlah kebohongan, Paul pun membuang kembali boneka itu ke pojok ruangan. Kali ini dia menghampiri lilin-lilin kecil di lantai yang sengaja dibuat melingkar.



"Aku mengerti sekarang," ungkap Paul setelah dia memandangi semua hal yang ada di kamar tersebut. "Jujurlah padaku, Cherry," Paul menghampiri gadis itu yang sedang digendong oleh Jeddy. "Semua tindakan pembunuhan yang telah kau perbuat ini, kau pasti dipaksa oleh seseorang, kan?"



Mendengar hal itu, Cherry langsung mengangkat kepalanya yang terbenam di pundak Jeddy, dan menolehkan pandangannya ke Paul  "Cherry... telah dipaksa oleh seseorang?" ulang Cherry dengan kebingungan.



Kelihatannya gadis itu pun tidak sadar pada apa yang selama ini dia rasakan, dia menganggap bahwa semua perbuatan kejinya merupakan perbuatannya sendiri. Tapi Paul bisa mengetahuinya, bahwa semua yang Cherry lakukan, bukan murni karena keinginannya. Paul menduga, ada pihak lain yang memanfaatkan Cherry dari balik layar.



"Ah! Cherry ingat!" Dan mendadak Cherry bersuara, membuat Paul tersentak. "Orang-orang di Fufirm! Kakak-Kakak di sini! Mereka selalu memerintahkan Cherry untuk membunuh orang yang mengunjungi kamar Cherry dan mereka juga memaksa Cherry untuk memberikan sebagian tubuh orang yang Cherry bunuh pada mereka! Dan jika Cherry menuruti keinginan mereka! Maka Cherry akan dikasih banyak permen! Tapi! Jika Cherry tidak mematuhi keinginan mereka, Cherry akan disiksa habis-habisan oleh mereka!"



Colin melotot kaget mendengarnya, dia jadi merasa bersalah karena telah mengatakan hal yang jahat pada Cherry. Jeddy terbelalak karena dia tidak menyangka kalau orang-orang di rumah sakit ini punya hati yang sangat busuk. Sementara Paul hanya menyunggingkan senyuman tipisnya sambil bilang, "Colin, Jeddy, dan kau Cherry! Ini waktunya kalian sebagai seorang pahlawan untuk bertindak," kata Paul dengan santai. "Hancurkan mereka semua!"



"Pahlawan?" Cherry tambah kebingungan mendengar hal itu.



Beberapa perawat yang menguping di balik pintu terkaget mendengar ucapan tersebut, mereka semua ketakutan dan berlarian ke dalam lift untuk melarikan diri dari Fufirm. Namun, saat pintu lift baru terbuka,



"Mau lari kemana, Nona-Nona?"



Seorang lelaki pucat muncul di dalam lift dengan wajah yang ramah di depan mereka semua. Kemudian, dia menjentikkan jarinya, dan tiba-tiba saja, ratusan pintu yang mengurung gadis-gadis gila, terbuka secara bersamaan, dari lantai paling atas hingga paling bawah. Membuat seluruh perawat di setiap lantai kepanikan menangani para pasien yang mulai memberontak dan mengamuk.



Lelaki pucat itu tersenyum tipis, "Hukuman penjara sepertinya terlalu ringan untuk perbuatan kalian," kata lelaki itu dengan lembut. "Kira-kira hukuman apa, ya? Yang tepat untuk kalian?"



Muka semua perawat yang ada di sana memucat, dan perawat pirang yang ada di antara mereka maju ke hadapan lelaki pucat itu dan berkata, "Minggir! Kami mau masuk ke dalam lift ini!"



"Oh? Dengan melupakan tanggung jawab kalian?" balas lelaki pucat itu dengan tersenyum. "Lihatlah ke belakang, pasien-pasien kalian berdatangan, termasuk pasien yang paling berbahaya."



Sontak, para perawat langsung menolehkan kepalanya ke belakang, dan mereka semua menjerit saat gadis-gadis gila yang harusnya terkurung di kamarnya masing-masing, sedang berlarian ke arah mereka.


__ADS_1


__ADS_2