Sang Penggila Kekuatan

Sang Penggila Kekuatan
MINERVO 100 : Mengesankan


__ADS_3

"Dasar," Isabella menyenggol paha keras Paul dengan paha lembutnya. "Kau tidak perlu berteriak-teriak begitu di tengah jalan. Bagaimana kalau juniormu ikut-ikutan berteriak di dalam celana, itu akan merepotkan, kan?"


Kini, Paul, Isabella, dan Abbas, sudah berada di dalam helikopter yang sedang terbang. Sang pilot--si pria tambun--yang duduk di depan mereka, tampak serius mengendalikan helikopter ini menuju Kota Barasta.


"Memang begitu caranya berkomunikasi dengan Si Colin Sialan! Harus berteriak-teriak sampai suara kita pecah!" jawab Paul, yang duduk di kursi panjang yang sama dengan Isabella dan Abbas. "Dan jangan libatkan juniorku yang tidak ada sangkut pautnya dengan itu, brengsek!"


Isabella terbahak-bahak mendengarnya, menggoda orang seperti Paul memang sangat menghibur. Terkadang melihat kemarahan Paul sudah bukan lagi seperti hal menyeramkan, malah sebaliknya, Isabella menganggapnya seperti hal yang lucu. Lucu sekali.


Menurut kamus kehidupan Isabella--yang tercipta di dalam kepalanya--orang-orang yang gampang dibercandai adalah orang-orang yang selalu serius, seperti Nico dan Naomi. Orang-orang berisik, seperti Cherry, Jeddy, dan Colin. Dan orang-orang pemarah, seperti Paul. Sedangkan untuk Abbas dan Koko, masuk ke dalam kategori orang-orang yang sulit dibercandai, karena mereka itu pendiam dan pemalu. Orang-orang yang seperti itu, sangat-sangat-sangat sulit untuk digoda, diejek, atau bahkan ditertawai. Karena itulah, porsi godaan Isabella pada Abbas dan Koko sangat minim atau bahkan jarang.


Disela-sela tawanya, Isabella berkata, "Ngomong-ngomong, karena jumlah pahlawan sudah semakin banyak, mengapa kita tidak membuat grup di sosial media? Bukankah itu akan memudahkan kita untuk berkomunikasi secara berkelompok? Seperti contohnya sekarang, bakal seru kalau semua kegiatan kita diceritakan pada mereka lewat grup di sosial media. Pasti seru sekali. Iya, kan? Abbas?" Isabella menoleh pada Abbas, meminta persetujuan.


Abbas--dengan polosnya--menganggukkan kepala. "Iya, itu benar," kata Abbas dengan tenang. "Tapi, aku tidak punya ponsel."


"Eh?" Isabella terkejut. "Selama ini kau tidak punya ponsel?" Abbas kembali menganggukkan kepalanya. "Bukankah itu gawat?"


"Sepertinya," Paul mulai bersuara, untuk meluruskan kejanggalan itu. "Murid-muridku yang tidak punya ponsel adalah Cherry, Koko, dan Abbas. Sementara untuk Colin, Jeddy, Nico, dan Naomi, mereka memilikinya."


"Ya ampun, mengapa kau baru bilang sekarang tentang itu, Paul?" Isabella memijit-mijit keningnya. "Kalau begitu, sepulang dari Barasta, aku akan membeli ponsel untuk Cherry, Koko, dan Abbas. Aku tidak ingin salah satu dari kita tidak punya alat komunikasi, karena ponsel sangat penting di zaman sekarang." Isabella mulai berbisik ke telinga Paul. "Walau sebagian besar, ponselku selalu kugunakan untuk menonton video porno, sih." Paul tercengang mendengar itu, ia sampai menggeser pantatnya untuk menjauhi Isabella. Dan Isabella tertawa-tawa melihat reaksi Paul.


"Dasar tidak tahu malu!" bentak Paul pada Isabella dengan jengkel.

__ADS_1


Abbas hanya termenung dalam kebingungan melihat Paul dan Isabella bertingkah aneh di sampingnya. Namun, Abbas segera mengabaikannya.


"Ah, ya!" Isabella tiba-tiba berseru, dengan menepuk tangannya satu kali. Sepertinya ia mendapatkan ide yang menarik di kepalanya. "Selagi kita menunggu helikopter mendarat di Barasta, bagaimana kalau kita memainkan permainan menarik di sini!?"


Paul mencoba memprediksinya. "Pasti tebak-tebakkan lagi, kan!? Tidak mau! Itu membosankan!"


"Bukan-bukan," Isabella berusaha meyakinkan Paul. "Kali ini berbeda, permainannya lebih seru dari sekedar tebak-tebakkan."


"Lalu apa?" Paul menaikan sebelah alisnya, tampak tidak percaya.


"Permainan raja," ungkap Isabella dengan mengedipkan sebelah matanya pada Paul. "Jadi," Isabella menatap muka Paul dan Abbas secara bergantian. "Di dalam permainan ini, aturannya cukup sederhana. Siapa pun yang menjadi raja, akan mendapatkan hak khusus untuk memerintahkan orang lain sesuka hatinya." Isabella berdehem sejenak. "Dan bagaimana cara menjadi raja? Itu mudah sekali, kita hanya harus mengambil stik yang ada gambar mahkotanya, yang tergabung dengan stik-stik biasa di dalam sebuah gelas. Kebetulan," Isabella mengambil sesuatu dari kolong kursi. "Aku sudah menyiapkannya."


Paul dan Abbas pun langsung mengambil satu stik yang ada di dalam gelas plastik itu, Isabella juga mengambil satu. Setelah dilihat, Paul cukup kecewa, karena dia mendapatkan stik biasa, yang tidak ada gambar apa pun di tubuhnya. Abbas juga mengalami hal yang sama. Sementara Isabella terlihat sedang terkikik-kikik sambil matanya fokus ke stik yang dipegangnya.


"Hey," Isabella menyeringai dengan menunjukkan stik yang ia pegang pada Paul dan Abbas. "Aku dapat rajanya."


Paul dan Abbas terbelalak, mereka berdua tampak kaget dengan keberuntungan yang didapatkan oleh Isabella. "Mengapa kau bisa mendapatkannya semudah itu!?" Paul mulai mencium aroma-aroma kecurangan di permainan ini.


"Mungkin karena hoki," ucap Isabella dengan menjilati bibirnya. "Baiklah, kembalikan stik-stik itu ke gelas," Paul dan Abbas mengembalikan stik yang dipegangnya masing-masing ke gelas yang ada di paha Isabella. "Sekarang, aku akan memikirkan sesuatu yang menyenangkan untuk kalian berdua. Ya ampun, beruntung sekali, ya? Diriku ini." Isabella terkikik-kikik saking bahagianya.


"Sudah cepatlah! Jangan banyak omong!" pinta Paul menyuruh Isabella langsung ke intinya. "Awas saja kalau kau memerintahkan kami melakukan hal-hal aneh! Aku akan mencekikmu hingga mati!"

__ADS_1


"Kalau begitu, aku juga akan mencekik juniormu di 'bibir bawahku' hingga meledak-ledak di dalam."


"SUDAH CEPATLAH! BRENGSEK!"


Isabella menyunggingkan senyuman nakal mendengarnya. "Baiklah," Isabella menatap muka Paul dan Abbas dengan pipi yang memerah. "Aku ingin kalian berdua," Isabella mendesah. "Berciuman~"


"JANGAN GILA!" Paul langsung berdiri dari kursinya dan membentak-bentak Isabella. "SUDAH KUPERINGATKAN KAU UNTUK TIDAK MENYURUH KAMI MELAKUKAN HAL-HAL YANG ANEH! DAN KAU! MALAH MELAKUKANNYA! DASAR BRENGSEK!"


Isabella menahan tawanya sambil bilang, "Tapi, kan, aku rajanya di sini," Isabella tersenyum mengejek. "Apa pun yang diinginkan sang raja, harus dipenuhi, kalau tidak, kalian akan dihukum. Dan hukumannya," Isabella berbisik pada telinga Paul. "...adalah bersetubuh dengan Abbas."


"******** KAU!" Paul langsung mencengkram kerah gaun Isabella hingga wajah perempuan itu berdekatan dengan dirinya. "AKU TIDAK MAU MELAK-"


"Ah, jangan-jangan," Isabella langsung memotong perkataan Paul. "Kau ingin melakukannya denganku, ya?"


"ITU MUSTAHIL! BRENGSEK!" Paul melepaskan cengkraman itu dengan kasar, membuat Isabella terjatuh di kursinya.


Saat suasana sedang panas begitu, tiba-tiba sang pilot berseru pada mereka, "Kita sudah sampai di Barasta!" Pilot itu menoleh ke belakang. "Kita akan mendarat. Bersiaplah."


Helikopter itu pun melesat turun dari ketinggian menuju ke daratan kosong, suara baling-balingnya benar-benar berisik, dan memimbulkan hembusan angin yang cukup besar, hingga pepohonan bergoyang-goyang seperti terkena terjangan beliung. Setelah helikopter itu menyentuh tanah, dan mesinnya dimatikan, suara-suara berisiknya pun menghilang, tergantikkan dengan kicauan-kicauan burung laut yang menenangkan.


"Jadi begini, ya? Kota Barasta," Isabella turun paling pertama dari helikopter, ia memandangi pemandangan laut dari tempatnya berpijak. "Ternyata mengesankan."

__ADS_1


__ADS_2