Sang Penggila Kekuatan

Sang Penggila Kekuatan
MINERVO 83 : Pahlawan Birahi


__ADS_3

"Pergilah, pergilah dari sini, Isabella. Aku sudah tidak membutuhkanmu lagi."


Ketika Isabella hendak merespon ucapan Paul yang mengungkapkan bahwa dirinya terpilih menjadi seorang pahlawan, tiba-tiba saja terdengar suara Gina Orcadelia yang meminta perempuan itu untuk pergi dari hidupnya, tentu saja itu mengejutkan mereka semua, terutama Isabella yang mendengarnya.


Sebab, Isabella kaget pada ucapan Gina yang mendadak memintanya untuk pergi, yang merupakan seorang pelacur paling hits di Kota Luna, yang telah memiliki penghasilan milyaran tiap bulannya. Bukankah dampaknya bakal menjadi kerugian besar jika Gina meminta Isabella untuk hengkang dari dunia pelacuran? Rasanya seperti melemparkan harta paling berharganya ke dalam air keruh, itu hanya akan menciptakkan sebuah kerugian. Dan Gina Orcadelia sangat paham pada hal tersebut.


"Kau sudah sadar, ya?" Isabella membiarkan Gina Orcadelia bangun dari paha-paha mulusnya, setelah wanita berambut cokelat itu duduk tegak di sampingnya, ia berkata, "Apa yang kau maksud dengan memintaku untuk pergi? Kau memecatku, begitu? Tapi kenapa?"


Sebelum menjawabnya, Gina Orcadelia melirik ke wajah Cherry, Naomi, Paul, dan Isabella. Mendadak, Gina menyunggingkan senyuman tipisnya dan berkata, "Aku sudah tidak membutuhkanmu lagi, kau boleh pergi, Isabella. Jangan mengkhawatirkan aturan-aturan yang telah kubuat, aku tidak akan menghukummu. Jadi, pergilah dari sini, bersama mereka."


Isabella langsung berdiri dari sofa dan berseru pada Gina, "Tapi kenapa!? Apa yang terjadi!? Kau tiba-tiba aneh, Gina?"


Gina Orcadelia menundukkan kepalanya. "Aku senang saat kau bilang pada mereka bahwa aku adalah malaikatmu yang paling baik. Aku tersentuh."


"Itu hanya kebohongan saja, ayolah, Gina? Aku tidak benar-benar menganggapmu seperti--"

__ADS_1


"Tetap saja, aku senang mendengarnya," Gina Orcadelia melirik ke muka Isabella. "Dan entah kenapa, aku merasa kalau aku sudah tidak boleh lagi membiarkanmu tenggelam di dunia itu, kau harus diselamatkan. Ya, kau harus diselamatkan, Isabella. Kau tidak boleh berakhir sepertiku, yang sudah seutuhnya menjadi bagian dari kebusukkan dunia itu. Kau berbeda denganku, kau masih bersih. Walaupun kau sudah melakukan hubungan seks dengan 987 lelaki, tapi kau masih bersih, Isabella."


Saat mendengar angka yang disebutkan oleh Gina, membuat Cherry, Paul, dan Naomi tersentak. Bukankah itu angka yang cukup besar?


"Ya ampun, kau menyebut jumlahnya dengan detail, Gina. Kau membuatku malu," Isabella menghela napasnya dengan menggeleng-gelengkan kepala. "Tapi apa maksudmu dengan 'aku masih bersih'? Jelas-jelas tubuhku sudah kotor, rusak, busuk, dan menjijikan. Dan kau masih menganggapku sebagai manusia yang bersih? Jangan membuatku tertawa, Gina."


"Entahlah, tapi aku merasa kalau kau masih bersih jika dibandingkan denganku. Tapi meskipun begitu, sebenarnya aku masih marah pada mereka bertiga," Gina menatap sinis ke sosok Paul, Cherry, dan Naomi yang sedang memandanginya di seberang sofa. "Tapi kupikir mereka adalah orang-orang yang tepat untukmu melanjutkan hidup dengan bebas, tanpa harus terikat dengan dunia pelacuran atau diriku sendiri. Kau bisa hidup bebas, Isabella. Menjadi dirimu sendiri. Bukankah itu yang selama ini kau inginkan?"


Merasa ada yang ganjil, Isabella langsung bertanya, "Percuma saja, Paul tidak mau memberikan dua gadis itu untukmu. Dan sepertinya dia pun mulai menolak untuk memberikan barang-barang berharganya, buktinya, dia sudah memakai semua pakaian mahalnya itu? Dan mengantongi ponselnya lagi. Jadi, tidak ada untungnya kau memberikan diriku secara cuma-cuma pada orang yang tidak mampu membayar harga tinggi, kan? Itu mottomu, harga tinggi maka kualitas tinggi. Tapi mereka, tidak sesuai dengan mottomu, Gina. Menyerahlah."


"Apa-apaan yang kau katakan itu?" Isabella menahan tawanya, dia tidak percaya seorang Gina Orcadelia bisa mengungkapkan hal semacam itu. "Kau bilang kau menculikku? Bukankah dulu aku yang mengejarmu untuk kau jadikan sebagai pelacur? Masa depan? Ini adalah masa depanku. Aku senang mendapatkan kesuksesan yang sangat melejit di dunia ini. Aku merasa kalau ini adalah masa depanku yang sesungguhnya. Lalu apa itu? Menyelamatkanku? Aku tidak sedang berada di posisi ingin diselamatkan. Camkan itu."


Paul, Cherry, dan Naomi, saat ini sedang menyimak pembicaraan antara Isabella Melvana dan Gina Orcadelia, mereka bertiga dari tadi tak henti-hentinya tersentak saat mendengar kata demi kata yang dilontarkan oleh dua perempuan bertubuh seksi itu. Banyak sekali hal-hal yang baru diketahui mereka tentang kehidupan Isabella Melvana dan Gina Orcadelia, sembari mendengarkan, mereka memunguti pengetahuan-pengetahuan baru terkait kehidupan pribadi dua perempuan tersebut, yang sepertinya banyak terjadi skandal.


"Kau tidak perlu khawatir, Isabella. Walau aku memecatmu, aku tidak akan mengambil uang triliunan yang ada di dalam rekeningmu, helikopter pribadimu, atau aset-aset lainnya, karena itu adalah hasil dari keringatmu sendiri, dan sepenuhnya adalah hak milikmu. Jadi, kau bisa hidup tenang tanpa digerayangi kemiskinan. Lagipula, aku tidak semiskin itu sampai-sampai ingin merenggut semua hartamu. Aku masih punya Adele, Rosalina, Melgy, Noir, Lisa, dan yang lainnya. Koleksi bonekaku masih banyak. Jadi, kepergian satu boneka sepertimu tidak akan mempengaruhi bisnisku. Aku akan tetap kaya, dan kau pun sama. Pokoknya, selamat jalan, Isabella Melvana."

__ADS_1


"Tunggu sebentar!" Paul langsung berteriak dengan lantang, seraya menampilkan wajah kebingungan. "Kau sungguh tidak mau kami membayarmu dengan 500 juta? Aku masih meragukan itu soalnya!"


"Cih, orang miskin bertanya," gumam Gina Orcadelia ketika melihat Paul berteriak. Lalu, ia mencoba memperbaiki sikapnya dan mulai menjawab, "Tidak masalah, aku tidak keberatan kau tidak membayarnya. Yang penting, Isabella bisa bahagia bersama kalian, itu sudah cukup bagiku. Kalau salah satu dari kalian mengganggu Isabella, maka aku akan menyewa pembunuh bayaran untuk membantai kalian semua. Itu saja. Terima kasih."


"Pembunuh bayaran?" Naomi melongo saking kagetnya.


"Menakutkan sekali," Cherry tertegun mendengar itu. "Sepertinya Cherry harus menjaga sikap agar tidak dibantai oleh pembunuh bayaran itu! Hihihihi!"


"Apa pun itu, terserahlah. Aku tidak peduli. Kalau begitu, pergilah dari rumahku, kalian semua, termasuk kau, Isabella Melvana. Pergilah!"


Akhirnya, Paul, Cherry, Naomi, dan Isabella keluar dari gedung kediaman Gina Orcadelia, dan tampaknya mereka bertiga telah berhasil membawa pahlawan baru di Kota Luna. Benar-benar akhir yang sangat memuaskan. Namun, ketika mereka semua telah berada di dalam helikopter yang sedang terbang, untuk bergegas ke suatu tempat, tiba-tiba saja Isabella berkata.


"Akan jadi pahlawan seperti apa nantinya aku ini?" Isabella yang sedang duduk di samping Paul, mengangkat tangan kanannya untuk menyentuh selangkangan mentornya. "Apakah menjadi pahlawan biasa?" Isabella meremas-remas buah z*kar Paul dengan liarnya. "Atau mungkin," Isabella berbisik ke telinga Paul. "Menjadi pahlawan birahi?"


Naomi dan Cherry yang duduk di kursi belakang, bisa dengan jelas melihat kelakuan Isabella yang tidak senonoh pada Paul, itulah mengapa muka Naomi tampak merengut jijik, sedangkan muka Cherry tampak kaget sekaligus penasaran. Sedangkan Paul, yang badannya sedang digerayangi oleh Isabella, merasa sangat jengkel. Sampai akhirnya, Paul berseru hingga membuat helikopter yang mereka tempati bergoyang-goyang di udara.

__ADS_1


"JANGAN MENYENTUH TUBUHKU! BAJINGAN!"


__ADS_2