Secret With Bad Boy

Secret With Bad Boy
Hubungan yang aneh


__ADS_3

Di ruang kelas XI IPA II saat ini ada seorang remaja yang sedang bernyanyi lirih sambil membersihkan papan tulis berwarna hijau yang dipenuhi tulisan angka bekas pelajaran fisika, yang baru berakhir di jam pelajaran terakhir.


Biasanya ia membersihkan papan tulis ini berdua bersama Kala, tetapi remaja itu sudah lebih dulu pergi meninggalkannya saat bell jam akhir pelajaran berbunyi.


“Duh, Nasib gue kok gini banget ya?” Riko masih meratapi kesendiriannya sambil mengusap keringat didahinya dengan lengan kanannya yang masih menggantung diudara menyelesaikan pekerjaannya, membersihkan papan tulis.


“Demian masih kagak mau sekolah, Kala sibuk pacaran, terus gue? Temenannya malah sama penghapus papan tulis.” Riko menaruh penghapus papan tulisnya dengan malas. Ia memandangi beberapa saat kelasnya yang sudah ia rapikan. Walau sekolah ini memiliki cleaning service, tetapi para siswa tetap diwajibkan mengikuti jadwal piket. Mereka diharuskan bertanggung jawab pada kebersihan kelas mereka, sebagai bentuk pelajaran rasa tanggung jawab terhadap lingkungan.


Selesai dengan papan tulis, Riko membereskan meja dan kursi. Menatanya dengan rapi agar besok pagi siap digunakan. Pekerjaan terakhir adalah, membuang sampah pada tempatnya. Ia mengambil tempat sampah disudut ruangan dan membawanya keluar.


“Astaga!” Riko terhenyak kaget saat tiba-tiba seorang gadis hampir menabraknya dipintu. Bukan hanya Riko yang kaget, melainkan juga gadis itu.


“Minggir!” gadis itu adalah Emili, yang memaksa masuk ke dalam kelas dan mencari sesuatu di kolong bangkunya.


“Lo nyari apa?” tanya Riko. Ia memperhatikan Emili yang mengacak kolong bangkunya hingga sisa sampah yang tersembunyi ikut berjatuhan.


“Dompet gue ketinggalan. Frea lupa bawa dompet jadi harus gue yang giliran bayar.” Emili berbicara dengan kesal. Ya, genk gadis popular itu memang diisi oleh gadis-gadis banyak gaya. Diantara empat orang itu ada Frea dan Emili yang paling kaya. Dua lainnya biasa saja.


“Sekarang kan bayarnya bisa pake hape. Tinggal scan barcode doang. Gak bawa dompet gak usah panik yang penting gak lupa bawa hape.” Riko masih berkomentar. Ia mengambil sisa sampah yang berjatuhan dilantai. Memungutinya satu per satu agar kelasnya tetap bersih dan rapi.


“Mobile banking-nya ke blokir katanya. Gak taulah, sekarang Frea banyak alesan kalo diminta bayarin. Kayak orang susah aja. Gak mungkin kan dia gak dikasih uang jajan sama bokapnya?” Akhirnya dompet itu ditemukan. Ia mengecek isinya dan hanya ada beberapa lembar uang cash.


“Bagi duit dong.” Emili menengadahkan tangannya pada Riko.


“Hah, bagi duit? Lo gak salah minta duit sama gue? Udah kayak bini minta duit sama lakinya aja, lo.” Riko mengernyitkan dahinya tidak mengerti.

__ADS_1


“Duit cash gue cuma dikit, takut gak cukup, males gue ke atm. Gue minta sama lo dulu, nanti gue transfer.” Emili menunjukkan layar ponselnya yang sedang membuka aplikasi perbank-an.


“Haduuhh, bini belum punya, tapi udah diporotin aja.” Sambil menggerutu Riko mengeluarkan dompetnya. Ada beberapa lembar uang berwarna merah didalamnya, lalu ia serahkan pada Emili.


“Thanks. Nomor rekening lo berapa?” gadis itu memasukkan uangnya ke dalam dompet lalu bersiap mentransfer.


Riko tidak menjawab, ia mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan nomor rekeningnya pada Emili. Emili mulai melakukan transaksi perbankan, tetapi kemudian jaringan terputus karena seseorang menghubunginya.


“Bentaarr yaaang, aku lagi pake hape buat transfer dulu. Ini aku juga mau transfer kok ke kamu.” Kalimat itu yang Emili ucapkan saat menerima telepon dari seseorang yang ia beri nama ‘My moon and back.’ Sebentar saja dan panggilan itu langsung terputus.


“Lo masih ngehidupin pacar lo yang genk motor itu?” Riko penasaran kalau tidak bertanya.


“Bukan urusan lo!” Emili enggan menyahuti, ia lebih asyik melakukan transaksi perbankan untuk membayar hutangnya.


“Jangan dibiasain lo. Udah pacar lo sering main kasar sama lo, sekarang malakin lo juga. Mau-maunya lo sama cowok model begituan. Toxic itu namanya.” Riko mencoba memberi nasihat.


“Kagak ada yang ngeresein hubungan lo, maksud gue, lo bisa dapet cowok yang lebih baik dari cowok lo yang sekarang. Lo lupa kalau cowok lo pernah gebukin Kala? Gimana kalau Kala sampe tau, cowok itu adalah cowok lo?” kalimat Riko terdengar lebih panjang membuat Emili menghentikan gerakan tangannya beberapa saat.


“Gue bakal putusin cowok gue ini kalau ada cowok lain yang mau bantu gue nyingkirin dia. Lo cariin aja gue cowok yang sebanding sama dia. Soalnya gue gak mungkin kan macarin Kala? Cuma dia yang sebanding sama cowok gue, sementara Kala incarannya Frea. Ngomong-ngomong, yang dikantin itu beneran gak sih, kalau Kala pacaran sama si cewek cupu?” perhatian Emili jadi teralihkan.


“Kalau iya memang kenapa? Kan hak mereka juga kalau mau pacaran. Lo sama temen-temen lo gak usah resek. Kinanti sekarang backing-annya bokapnya Kala loh. Om Yudhistira suka banget sama Kinanti. Salah-salah, lo sama genk lo yang dapet masalah.” Riko mencoba memperingatkan yang sebenarnya.


“Ya tapi kan Sukanya juga kalau si Kinanti itu berhubungan sama Demian, bukan sama Kala.” Emili masih menimpali.


“Ya itu gak jadi urusan kita juga. Yang jelas Om Yudhistira suka sama Kinanti, dia mascot dan kebanggan sekolah ini. Jangan sampe lo kena masalah gara-gara gangguin Kinanti. Lo tau kan gimana bokapnya Kala?” Riko masih bersikeras mengingatkan.

__ADS_1


“Iya, gue tau. Tar lah itu urusannya Frea. Gue gak mau bahas.” Emili berkilah.


“Iyaa, itu emang urusannya Frea. Tapi sebagai temennya harusnya lo ingetin dia. Jangan bertingkah aneh-aneh apalagi kalau yang dia incer itu si Kala. Bukannya suka, Kala malah ilfeel sama dia. Kan dia sendiri yang repot.” Riko masih setia memberi nasihat.


“Lo bawel ya sekarang,” ejek Emili sambil menatap Riko dan tersenyum sinis.


“Iya, gue kehilangan temen ngobrol gue. Satu per satu sibuk sama urusan mereka. Padahal gue juga butuh mereka. Hah, gue kangen sama Kala dan Demian yang dulu. Kenapa semuanya jadi kayak gini sih?” Riko mengguyar rambutnya kasar. Emili yang melihat hal itu menjadi iba.


“Sabar yaa, lo cari pacar gih biar ada yang dengerin ocehan lo.” Emili menepuk-nepuk bahu Riko dengan pelan.


“Lo mau jadi pacar coba-coba gue? Gue bisa ngobrol ampe lebih dari sepuluh menit sama lo, itu berarti kita cukup cocok,” tawar remaja itu dengan putus asa.


“Mau, asal lo mau jadi selingkuhan gue. Gimana?” Emili balik memberi penawaran.


"Serius?" Riko tersenyum girang.


"Dih, seneng banget loh dijadiin selingan doang." Emili tersenyum kecut.


“Ya gak apa-apa lah, dibanding gue sepi gak ada temen chatingan. Mana tau kalau gue ternyata lebih baik dari pacar lo, bisa kali gue yang jadi priotitas?” Riko mencoba menggoda Emili.


“Bisa gue pertimbangin. Prinsipnya sama gue adalah jangan resek! Gimana, lo siap?” Emili tetap dengan keangkuhannya.


“Okey, lo pacar gue sekarang.” Riko berujar dengan santai dan Emili menyahutinya dengan sebuah anggukan. Mereka berjabatan tangan beberapa saat saling melempar senyum. Entah apa yang mereka pikirkan sekarang, yang jelas satu sama lain merasa membutuhkan bantuan. Meskipun hubungan ini aneh, paling tidak Riko bisa memonitor apa saja yang dilakukan Frea dan teman-temannya.


Cukup adil bukan?

__ADS_1


*****


__ADS_2