Secret With Bad Boy

Secret With Bad Boy
Undangan


__ADS_3

“Selamat sore om....”  sapa seorang gadis yang menemui Yudhistira di kantornya.


Yudhistira tersenyum senang menyambut kedatangan gadis belia yang cantik dihadapannya.


“Sore, Frea.” Ia memeluk Frea layaknya seorang ayah pada anaknya.


“Om apa kabar? Maaf nih Frea ganguin Om dengan main-main ke kantor Om.” Frea mulai berbasa-basi. Sudah lama ia tidak bertemu dengan pria gagah yang merupakan ayah dari Kalantara.


“Kabar Om baik dong. Ya nggak apa-apa, Om malah seneng kamu ada main ke sini. Duduklah.”


“Makasih Om. Waahh, kantor Om banyak perubahan, Frea bener-bener suka sama tampilan kantor Om. Berkelas dan elegan, bener-bener mencerminkan karakter perusahaan ini.” Frea memperhatikan sekeliling ruangan yang menjadi tempat pertemuan ia dengan Yudhistira.


“Iya, ini ide mamahnya Demian. Dia seorang interior decorator yang handal. Kamu bisa lihat di majalah-majalah interior yang dia terbitkan, kamu pasti suka.” Yudhistira memuji sang istri dengan penuh rasa bangga.


“Waah iya Om, nanti aku liat deh." Gadis itu mengangguk antusias.


"Ngomong-ngomong Om, kedatangan Frea ke sini karena Frea diminta papah menyampaikan undangan beliau untuk makan malam di rumah. Om bisa datang kan?” Frea langsung pada fokus maksud kedatangannya.


“Boleh, kapan waktunya? Kebetulan Om juga udah lama gak ketemu papah kamu.” Yudhistira terlihat antusias.


"YES!!!!" Frea berseru dalam hati.

__ADS_1


“Rencananya weekend ini Om. Aku tadinya mau titip pesen sama Kala, tapi sepertinya Kalanya sibuk Om.” Frea menunjukkan wajahnya yang murung.


“Sibuk? Sibuk apa anak itu?” membahas Kala, emosi Yudhistira selalu terpancing.


“Aku mau cerita sama Om, tapi Om jangan marah ya....” Frea menunjukkan wajah sedihnya.


“Nggak lah. Kamu bisa cerita apa pun sama Om, terutama masalah anak nakal itu. Om juga perlu memantau dia supaya gak berulah.” Wajah Yudhistira sudah terlihat meradang. Beberapa kali tangannya mengepal karena kesal saat mengingat ulah Kala.


“Em, jadi gini Om, kayaknya Kala punya pacar deh Om. Dia sering ngilang-ngilang gitu Om. Jam makan siang aja dia gak tau kemana. Padahal kan makan siang itu penting ya Om. Gimana dia mau fokus belajar kalau perutnya kosong. Yang ada dia malah sakit. Gimana coba Om, aku khawatir sama Kala.” Frea benar-benar menunjukkan raut wajah sedih.


“EHM!” Yudhistira segera membenarkan posisi duduknya lebih tegak. Lagi, ada saja kabar buruk yang menyangkut masalah putranya. Padahal ia sudah sepakat dengan ayahnya Frea untuk menjodohkan kedua anak mereka. Tapi Kala malah berulah.


“Kamu tau siapa pacarnya?” Yudhistira menatap Frea dengan kesal.


Yudhistira terdiam, ia tampak berpikir.


“Kalau bisa, pas nanti makan malam, Kala di ajak ya Om. Biar aku juga bisa ngobrol. Siapa tau kan aku bisa nyari tau siapa pacar Kala sebenarnya. Aku takut dia pacaran sama gadis yang salah dan malah bawa efek buruk buat Kala." Frea lulus memainkan karakternya dengan gemilang.


"Iya, nanti pasti Om bawa. Om juga mau kalian semakin dekat. Kalian udah semakin dewasa, harusnya hubungan kalian semakin spesial. Kamu tenang aja yaaa...." Yudhistira mengusap kepala Frea dengan sayang.


"Iyaa Om, makasih banyak atas dukungan Om." Frea menunjukkan wajahnya yang penuh rasa haru padahal dalam hatinya ia tengah tertawa, menertawakan kemalangan yang mungkin akan ditemui Kala.

__ADS_1


"Sorry Kala, kalau gak gini kamu malah bakalan tambah deket sama Kinanti," batin Frea dengan hembusan nafas lega.


*****


Menjelang malam, Bertha melihat lampu kamar Kala yang masih menyala. Dari pintu kamarnya, sayup-sayup ia mendengar Kala sedang berbicara dengan seseorang. Karena penasaran, Bertha memutuskan untuk mengintip sedikit apa yang sedang dilakukan Kala di kamarnya. Ia penasaran hal apa yang membuat Kala belakangan in betah berdiam diri di kamarnya.


"Kalau itu masuknya simbiosis komensalisme. Simbiosis yang menguntungkan salah satu pihak namun tidak merugikan pihak lainnya. Jangan sampe lupa Kal, pertanyaan soal ini selalu muncul loh di ujian kita." Suara seorang gadis yang saat ini di dengar Bertha dari sebuah panggilan video.


Hati-hati sekali Bertha mengintip dari celah pintu. Ia melihat Kala sedang duduk di meja belajarnya sambil mencatat sesuatu di buku tulisnya.


Bertha tersenyum lebar, baru kali ini ia melihat Kala belajar. Yang membuatnya ingin tertawa adalah saat melihat ada plester yang menempel di dahinya. Apa coba maksudnya?


"Okey, udah aku tandai. Kalau benalu itu masuk kategori apa?"


"Itu simbiosis parasitisme. Benalunya doang yang diuntungin tapi inangnya bisa mati." Suara ceria itu kembali terdengar. Sungguh, Bertha sangat penasaran dengan pemilik suara ceria itu. Ia sangat yakin kalau suara itu bukan milik Frea sang calon mantunya.


Bertha memutuskan untuk tidak mengganggu Kala lagi. Ia berniat menghubungi seseorang yang sangat ia kenal di sekolah Kala.


"Ya, selamat malam." Bertha menghubungi orang tersebut lewat sambungan telepon.


"Ya, ini tentang Kala. Apa yang saya gak tau soal dia belakangan ini? Tumben kamu gak pernah ngirim surat pemberitahuan lagi?" sambung Bertha selanjutnya. Ia memilih menjauh dari kamar Kala karena khawatir putranya mendengar perbincangannya dengan seseorang.

__ADS_1


Siapa yang sebenarnya sedang dihubungi Bertha?


*****


__ADS_2