
Pagi menjelang, sudah ada yang menjemput Kinanti di depan pagarnya. Kinanti mengenal benar suara motor yang bergema itu sebagai kuda besi milik Kala. Sesuai janjinya semalam, Kala benar-benar menjemut Kinanti. Katanya, selama Lukman ada pekerjaan di luar kota, maka Kala yang akan mengantar jemput Kinanti.
Deringan ponsel dengan nama Kala muncul di layar ponsel Kinanti.
“Ya?” jawab Kinanti.
“Aku udah di depan,” ucap remaja yang mengenakan helm full face itu.
“Aku tau. Kamu udah sarapan?”
“Belum,”
“Okey, tunggu bentar. Nanti aku bawain sarapan buat kamu. Suka selai coklat, strawberry atau kacang?” Kinanti menjejerkan botol selai dihadapannya. Selai yang biasa ia gunakan untuk membuat roti bakar.
“Coklat,”
“Sip, bentar.”
Panggilan di putus oleh Kinanti karena ia harus menyiapkan sarapan. Beruntung tebakannya benar kalau Kala akan menyukai selai coklat sehingga ia membuat roti dengan selai coklat. Sekarang tinggal ia masukkan ke dalam kotak makanan. Tidak lupa botol minum kecil untuk susu coklat.
“Okey, udah siap. Berangkat dulu.” Kinanti mengambil tasnya lalu segera keluar dari rumah.
“Sarapan kamu.” Kinanti mengangkat sebuah goody bag yang berisi bekal sarapan untuk ia dan Kala.
Kala menaikan kaca visor helmnya hingga membuat wajahnya terlihat jelas.
“Masukin ke sini.” Kala membuka resleting tasnya yang sengaja ia gendong di depan dada.
“Tapi nanti tas kamu penuh dan buku kamu berantakan.”
“Bukuku cuma satu. Jadi masih sangat kosong.”
“Dih, dasar pemalas,” ledek Kinanti yang menurut memasukkan bekal makanan itu ke dalam tas Kala.
“Bukan males tapi aku mencatatnya di sini.” Kala menunjuk kepalanya sendiri dengan bangga.
“Yaa yaa yaa, aku percaya.” Tentu saja Kinanti percaya karena ia sudah melihat sendiri kemampuan tidak terduga Kala, saat pelajaran Bahasa Inggris.
“Tapi ada pepatah yang bilang, ikatlah ilmu dengan menuliskannya. Makanya sebaiknya materi itu di tulis. Jadi kalau nanti kamu butuh, kamu bisa baca lagi,” cicit Kinanti memberi kuliah pagi gratis.
“Sia-sia, karena aku gak pernah bisa baca tulisanku sendiri.”
Kala tersenyum angkuh, ia memakaikan helm di kepala Kinanti lalu menepuk bagian atasnya hingga kaca visornya menutupi wajah cantik Kinanti.
__ADS_1
“Dih, iseng!” Kinanti menepuk tangan Kala yang masih ada di atas kepalanya.
“Berisik. Naik!” titah Kala dengan acuh.
Kinanti berdecik kesal dan terpaksa menurut pada titah Kala.
Perjalanan menuju sekolahpun di mulai. Sepanjang perjalanan Kinanti berceloteh tentang materi yang akan mereka pelajari hari ini. Kinanti memang suka membaca terlebih dahulu materi yang akan dipelajari hari ini agar dirinya merasa lebih siap.
Kala yang mendengarkan tidak protes sedikitpun. Kecerdasannya memang tipe auditory sehingga pelajaran akan lebih menempel saat ia mendengarkannya.
Seperti itulah yang dilakukan dua orang ini hingga mereka tiba di sekolah.
****
“Lo bawa sarapan? Tumben!” ledek Riko saat melihat Kala mengeluarkan kotak makanan yang kemudian ia masukkan ke dalam laci meja belajarnya.
“Bikinan dia,” Kala menunjuk Kinanti dengan bibirnya yang mengerucut. Gadis itu tengah menyiapkan buku pelajaran yang ia bawa.
“Enak banget lo.” Riko berdecik kesal. Mujur sekali Nasib Kala setelah mengenal Kinanti. Kala tersenyum meledek dan dengan sengaja mengigit rotinya di hadapan Riko.
“Kinan, aku gak kebagian sarapan?” kali ini remaja itu merengek pada Kinanti.
“Oh, kamu mau sarapan? Masih ada kok, nih.” Kinanti menyodorkan kotak makanannya pada Riko.
“Akh pelit lo!” protes Riko.
“Bodo amat. Dia aja yang bikinnya belum sarapan, masa mau lo abisin.” Kala tidak peduli dengan kekesalan sahabatnya.
“Hah, Nasib. Kenapa gini banget sih hidup gue.” Riko mengguyar rambutnya kasar membuat Kala menahan tawanya.
“Ya udah, kalau mau boleh kok ini. Aku bikin cukup banyak.” Kinanti bersikukuh memberikan rotinya pada Riko. Tidak tega melihat temannya merengek.
Riko melirik Kala sebelum mengiyakan dan sahabatnya itu menatapnya begitu tajam.
“Gak usah. Kala benet, aku udah sarapan.” Karena tatapan Kala ia akhirnya menolak tawaran Kinanti. Padahal wangi selai coklatnya begitu mengundang selera makannya.
“Oh, ya udah.” Akhirnya Kala dan Kinanti sama-sama menikmati sarapannya. Sementara Riko hanya bisa menelan salivanya kasar-kasar dengan posisi duduk yang gelisah.
“Kinan, bisa ikut aku?” tiba-tiba Demian menghampiri dan Kala langsung menatapnya waspada.
“Kemana?” Kinanti menaruh kembali roti yang baru ia makan separuhnya.
“Mr Jack mau ketemu kamu di ruangannya.” Demian tidak memperdulikan tatapan sinis Kala.
__ADS_1
“Oh , okey.” Ia beranjak dari tempatnya mengikuti Demian yang pergi lebih dulu. Bisa Kala lihat kalau Demian tersenyum meledeknya.
“Sial, si tukang pamer!” Kala berdecik kesal dan semakin besar saja gigitan rotinya.
Riko yang melihat Kala memperhatikan kepergian Kinanti, berusaha meraih roti yang ada di atas meja. Tapi belum tangannya sampai menggapai roti itu, Kala malah lebih dulu memukul tangan Riko.
“Akh, pelit lo!” Rikopun urung mengambil roti itu.
****
Kinanti duduk berhadapan dengan pria bernama Mr Jack itu. Di hadapannya, ia memberikan selembar kertas pada Kinanti. Selembar kertas yang sepertinya akan mengubah hidup Kinanti kedepannya.
“Saya benar-benar boleh mengikutinya?” Kinanti bertanya dengan tidak percaya. Ia mendapat tawaran untuk mengajukan beasiwa kuliah dari Yayasan Pendidikan milik Yudhistira.
“Ya, tentu.” Mr Jack menjawab dengan tegas.
“Sebenarnya, ajuan beasiswa ini bisa diajukan saat peserta calon penerima beasiswa mendapatkan nilai pertama di semester pertama. Kami akan meninjau selama tiga tahun lalu kalau sampai UTS semester enam nilai siswa tersebut berada di atas rata-rata, dia berhak mendapatkan beasiswa itu.”
“Kamu, masuk ke sekolah ini di semester lima. Tapi, kamu mendapat surat rekomendasi dan salinan nilai kamu juga di atas rata-rata nilai siswa. Hanya saja, karena nilai itu bukan kamu dapatkan dari sekolah ini, maka kamu harus mengikuti ujian khusus dari Yayasan. Gimana, kamu berminat?”
Kinanti tidak lantas menjawab. Ia membaca terlebih dahulu formulir tersebut. Tawarannya sangat menarik. Ia berpikir kalau dengan cara ini ia akan bisa meringankan beban Lukman. Ia hanya perlu berusaha lebih keras lagi.
“Kalau jurusan yang diambilnya nanti seperti apa? Apakah di tentukan?” Kinanti memberanikan diri untuk bertanya.
“Kamu bisa memilih tiga jurusan yang paling kamu minati lalu kamu bikin essay yang berhubungan dengan jurusan itu. Pihak Yayasan akan menilainya dan mempertimbangkan nilai mata pelajaran kamu apa bisa masuk ke jurusan itu atau tidak.”
“Kalau bisa masuk, kamu boleh memilih jurusan tersebut. Namun tetap saja, lolos atau tidaknya ke perguruan tinggi dengan jurusan tersebut, harus mengikuti mekanisme test di universitas yang kamu pilih.”
“Baik, saya paham. Lalu timpal balik yang harus saya berikan ke pihak Yayasan seperti apa?”
“Timpal baliknya adalah, kamu masuk dalam anggota Yayasan dan harus ikut mengkampanyekan kalau ada kegiatan dari pihak yayasan. Perkenalkan diri kamu sebagai bagian dari Yayasan dan tentunya kamu harus menjaga nama baik dan kehormatan Yayasan.”
“Jadi gimana, kamu berminat?” Mr Jack menatap Kinanti dengan serius.
“Ya, saya berminat.” Kinanti menjawab dengan penuh percaya diri. Tidak mungkin ia melewatkan kesempatan besar ini.
“Okey, kalau begitu, kamu buat tiga essay untuk jurusan yang kamu minati. Kalau kamu mau melakukan penelitian dulu juga silakan. Batas waktu pengumpulan essaynya adalah dua minggu ke depan. Kamu sanggup?”
“Ya, saya sanggup.” Kinanti berujar dengan semangat.
Mr Jack tersenyum puas mendengar jawaban Kinanti. Ia mengulurkan tangannya pada Kinanti dan gadis cantik itu membalas uluran tangannya dengan sigap.
Kira-kira, jurusan apa yang akan di ambil Kinanti?
__ADS_1
****