
Disebuah ruang makan yang mewah, ada Demian yang sedang mengunyah makanannya dengan enggan. Baru hari ini demian keluar dari kamarnya dan mau makan bersama dengan kedua orang tuanya. Imelda tersenyum lega, melihat Demian akhirnya mau membuka dirinya lagi.
“Makan yang banyak sayang, biar Demi cepet pulih lagi.” Imelda menambahkan potongan ayam ke atas piring Demian. Meski putranya sudah tumbuh dewasa, bahkan tingginya jauh melebihi Imelda, tetapi untuk seorang Imelda, Demian tetaplah anak-anak yang harus ia perhatikan dalam segala hal.
Demian hanya mengangguk semu dengan pikiran yang masih kosong. Bayangan kejadian tragis yang menimpanya masih menjadi mimpi buruk yang terus berulang dipikirannya. Para preman itu tidak hanya menyakiti fisiknya, melainkan juga mentalnya. Mental yang sempat hancur karena trauma dimasa kecilnya. Pemukulan yang serupa pernah dialami oleh Demian dan dilakukan oleh orang terdekatnya, yaitu ayah kandungnya sendiri. Hal ini yang membuat Demian cukup terpuruk saat mengalami kembali kejadian yang sama.
Imelda dan Yudhistira memandangi Demian dengan khawatir. Meski sudah berkonsultasi dengan psikolog, kondisi Demian masih tetap sama, belum mau terbuka sepenuhnya. Sepasang orang tua itu terlihat sangat sedih melihat Demian yang seperti ini. Demian yang lebih banyak mengurung dirinya dikamar dan hanya tertidur sepanjang hari. Ia seperti tidak memiliki motivasi hidup lagi.
“Dem,” Yudhistira mencoba mengajak Demian berbicara.
Demian hanya menoleh dan menunjukkan wajahnya yang tidak memiliki ketertarikan pada hal apapun.
“Papah sempet ketemu sama temen kamu, yang namanya Kinanti. Dia nanyain kabar kamu.” Yudhistira mencoba menyampaikan hal ini. Mungkin saja dapat membangkitkan semangat putra sambungnya.
“Kapan Pah?” benar bukan, Demian mulai mau bicara.
Yudhistira tersenyum kecil, ia menaruh sendoknya dan memutuskan untuk fokus pada Demian. “Beberapa hari lalu, saat Papah ke sekolah dan memberikan hadiah untuknya. Dia sengaja nemuin Papah secara pribadi sebelum Papah pulang. Dia nanyain kabar kamu dan mendo’akan kamu supaya segera pulih.”
“Papah bilang, kalau ada waktu, mainlah ke rumah. Dia boleh menemui Demi. Apa Papah salah menawarinya untuk datang?” Yudistira menatap Demian dengan penuh perhatian.
“Nggak Pah, terima kasih. Demi seneng denger dia nanyain kabar Demi.” Remaja itu tersenyum kecil. Ada nyala semangat yang membuat jantungnya kembali berdebar kencang saat mendengar Kinanti mencemaskannya.
Imelda ikut tersenyum melihat senyum yang terbit dibibir Demian.
“Mah, boleh gak kalau Demi minta dibeliin hape baru?” tanya Demian ragu-ragu.
“Tunggu sebentar,” ucap Imelda seraya tersenyum kecil. Ia beranjak dari tempatnya dan mengambil sesuatu yang ia taruh diatas meja. “Mamah udah nyiapin ini buat Demi.” Imelda membawakan ponsel baru yang masih berada didalam dusnya.
__ADS_1
“Hubungi Kinanti kalau itu bisa membuat Demi semangat.” Ia menyerahkan ponsel itu pada Demian.
Demian menerimanya dengan senang hati. Ia memandangi benda pipih berwarna hitam itu dan sekilas wajah Kinanti muncul disana.
“Demi masuk dulu ya, Mah, Pah,” pamit Demian kemudian.
“Iya sayang,” sahut Imelda sementara Yudhistira hanya mengangguki.
Imelda tersenyum lega melihat Demian yang berjalan dengan semangat menuju kamarnya. “Mas bener-bener ketemu gadis itu kan? Bukan cuma buat nyenengin Demi aja kan?” Imelda bertanya penuh harap.
Yudhistira meraih tangan Imelda lalu mentautkan jarinya dengan wanita yang ia cintai. “Gadis itu anak yang sopan. Selain manis, aku juga melihat dia penuh dengan semangat. Rasanya aku bisa menerima gadis itu untuk putra kita. Dia membawa semangat untuk Demi.” Dikecupnya tangan Imelda dengan penuh cinta.
“Eemm, makasih, Mas,” ucap Imelda penuh haru. Ia memeluk Yudhistira dengan sayang. Beberapa saat Yudhistira terdiam, moment seperti ini rasanya familiar. Hanya tempatnya saja yang berbeda. Dulu kemesraan dan kehangatan ini terjalin dirumahnya bersama Bertha, sebelum egonya merasa tidak terima karena posisi pekerjaan Bertha yang lebih tingi darinya.
Dikamarnya, Demian sedang memasangkan sim card dari ponsel lamanya yang hancur. Ia memasangkannya dengan terburu-buru karena ingin segera menghubungi Kinanti. Ia mengingat persis urutan digit nomor ponsel Kinanti dan memutuskan untuk menghubungi gadis itu.
“Kinanti kemana? Apa dia udah tidur? Atau lagi belajar?” Demian bertanya pada ponselnya. Ia memandangi benda pipih itu beberapa saat dan melihat jam yang tertera disana. Baru jam setengah tujuh malam.
“Mungkin dia lagi belajar atau makan malam bersama Ayahnya.” Demian masih menduga hal yang baik.
Tanpa ia tahu, saat ini Kinanti masih berada dirumah sakit. Pakaian seragam masih melekat ditubuhnya sementara Kala sedang mengobati lutut Kinanti yang tanpa sadar terluka oleh pecahan gelas yang terserak. Baru sekarang gadis itu merasakan perih dari lukanya.
Kala berjongkok dihadapan Kinanti yang duduk diatas bangku. Ia meniupi luka Kinanti yang beberapa saat lalu ia olesi obat luka. Lukanya cukup lebar dan dalam, tetapi gadis itu menolak untuk meminta bantuan petugas medis. Ia tidak mau mengganggu fokus tim medis yang sedang menangani ayahnya. Ia merasa lukanya tidak seberapa dibanding sakitnya Lukman.
Remaja tampan itu menutup luka Kinanti dengan kain kasa dan merekatkanya dengan plester. Menekannya pelan agar plester melekat sempurna.
“Kinan, sebaiknya kamu juga memeriksakan luka kamu. Ini cukup dalam dan lebar, gak cukup dengan satu kasa.” Kala berusaha mengingatkan. Setelah selesai, ia berpindah duduk kesamping Kinanti.
__ADS_1
“Gak usah Kal, luka aku luka cetek doang kok, nanti juga sembuh. Lagian tim medis lagi sibuk ngurusin ayah dan pasien lainnya. Biarin mereka fokus dulu sama hal yang lebih penting. Aku masih bisa mengobati lukaku sendiri.” Kinanti masih bersikeras.
“Ya, aku tau kalau mereka sedang mengurusi ayah. Tapi kondisi kamu juga kan penting. Lagi pula, kelak kamu kan mau jadi dokter, jangan hanya menganggap penting kondisi orang lain. Kondisi kamu juga harus dipikirkan. Gimana kamu mau merawat mereka kalau kamu tidak memperdulikan kesehatan kamu sendiri?” Kala menatap Kinanti dengan serius. Ia mengusap kepala Kinanti dengan sayang, gadis ini pasti sangat mencemaskan Lukman sampai tidak merasakan sakit pada tubuhnya sendiri.
“Ayah pernah bilang, kalau dia bangga denger kamu pengen jadi dokter. Tapi ayah juga khawatir karena saat kamu terlalu fokus pada sesuatu, kamu selalu melupakan diri kamu sendiri dan hal lain yang kamu anggap kecil.”
“Padahal Kinan, menjadi dokter itu bukan hanya sekedar menyelamatkan nyawa atau mencegah seseorang untuk pergi. Menjadi dokter juga adalah usaha untuk mengatasi kondisi kesehatan lainnya walau mungkin hanya mengakibatkan sisa dampak kecil ditubuh pasien atau terhadap kesehatanmu. Luka itu bisa kecil, tapi arti luka itu bisa besar,” imbuh Kala dengan penuh kesungguhan. Ia tersenyum pada Kinanti, lalu menggenggam tangan gadis itu dengan erat.
“Walau menurut kamu lukamu itu tidak penting, tapi buat aku yang menyayangi kamu, ini sangat penting. Karena kamu bukan hanya perlu diperdulikan oleh diri kamu sendiri melainkan oleh orang-orang yang menyayangi kamu,” lanjut Kala.
Pada titik ini, ada bulir air mata yang terkumpul di sudut mata Kinanti. Beberapa detik kemudian air mata itu menetes.
“Heyy, sorry kalau kata-kata aku nyinggung kamu.” Kala berujar dengan lirih. Ia menangkup satu sisi wajah Kinanti dan mengusap air mata yang menetes disana.
Kinanti menggeleng, kemudian balas menggenggam tangan Kala.
“Makasih udah ngingetin aku Kal, aku bersyukur kamu masih peduli sama aku. Tapi saat ini, yang aku pikirin hanya kesembuhan ayah. Apa artinya aku bertubuh sehat sementara ayah masih sakit? Aku bahkan gak tau ayah sakit apa hingga dokter begitu lama memberikan pertolongan. Aku gak bisa kehilangan ayah Kal, sekalipun hanya membayangkannya.” Kinanti akhirnya menangis terisak. Isakan yang baru Kala dengar setelah tadi gadis ini hanya terdiam ditempatnya dengan banyak pikiran yang memenuhi kepalanya.
Kala meraih tubuh Kinanti lalu memeluknya dengan erat. Ia mengerti benar beban berat yang sedang dipikul Kinanti. Diusapnya punggung Kinanti dengan lembut.
“Setiap orang yang saling menyayangi, pasti gak akan pernah mau kehilangan orang itu atau melihatnya menderita. Bukan hanya kamu yang merasa seperti itu, Kinan. Aku sama ayah juga sama-sama merasakan apa yang kamu rasakan. Pernah gak kamu berpikir dari sudut pandang ayah, apa yang akan ayah rasakan saat tau putrinya acuh pada dirinya sendiri karena mencemaskannya? Bukankah ayah akan sangat sedih dan marah pada dirinya sendiri karena merasa menjadi beban buat kamu?” Kala balik bertanya.
Ia merasakan Kinanti mengangguk dalam pelukannya. Gadis itu sadar sepenuhnya dan mengakui kebenaran ucapan Kala. Terkadang ia memang terlalu keras pada dirinya sendiri. Itu yang selalu Lukman peringatkan dulu. Mungkin karena seorang Kinanti dipaksa untuk dewasa sebelum usianya. Ia hanya bisa bermanja pada Lukman , itupun tidak setiap waktu. Dan saat waktu mereka lebih sering bersama, nyatanya Lukman jatuh sakit.
Bersamaan dengan hal itu, Kala pun memikirkan bagaimana kalau nanti Kinanti tahu ayahnya sakit kanker? Apa yang akan terjadi pada gadis rapuh ini? Bisakah ia tetap menguatkan Kinanti seperti saat ini?
****
__ADS_1