
“Kal,” suara seorang wanita terdengar di balik pintu kamar Kala, bersamaan dengan ketukan pintu.
Kala yang sedang melamun, segera menyadarkan dirinya. Lamunan bersama Kinanti yang saat ini sedang mengisi pikirannya.
Cepat-cepat ia bangkit dari baringannya dan duduk bersandar di atas tempat tidur.
“Iya, Mah.” Kala menyahuti.
Tidak lama pintu kamarnya terbuka menampakkan sosok Bertha yang datang dengan membawa segelas susu.
“Boleh mamah masuk?” tanya Bertha dengan ragu.
“Iya, Mah. Masuklah.”
Kala membereskan buku-bukunya yang terserak di atas tempat tidur. Buku-buku ini yang ia gunakan untuk belajar bersama dengan Kinanti. Bertha memperhatikan apa yang dilakukan putranya. Tumben sekali Kala belajar, pikirnya.
“Mamah bawain susu buat Kala, minumlah.” Wanita itu duduk di tepian tempat tidur Kala sambil menyodorkan segelas susu.
“Makasih, Mah.” Dengan senang hati Kala menerimanya.
Ia meneguk susu itu perlahan sambil memandangi Bertha sementara Bertha mengusap kepala Kala dengan penuh kasih. Anaknya sudah tumbuh dewasa, begitu tampan dengan sorot matanya yang tajam.
Setelah selesai meminum susunya, remaja itupun menaruh gelasnya di samping tempat tidur.
__ADS_1
“Gimana sekolah Kala? Apa tugasnya sangat banyak?” Bertha mengambil satu buku Kala yang tebal. Buku tentang game tiga dimensi yang terselip dan sering dipelajari Kala.
“Ya, lumayan. Sekarang Kala kelas tiga SMA, udah pasti banyak tugas dan ujian dadakan. Tapi semuanya mulai bisa Kala kendalikan.” Kala berusaha menenangkan ibunya.
Bertha mengangguk paham seraya tersenyum. Senang rasanya melihat Kala yang mulai bersemangat dan mau belajar. Entah motivasi apa yang membuat Kala banyak berubah belakangan ini. Ia juga melihat Kala yang tampak bahagia dan ceria, berbeda dengan Kala seminggu bahkan sebulan lalu. Seperti putranya telah kembali, putranya yang sempat terpuruk karena masalah perceraiannya.
“Apa Kala udah mikirin nanti mau ngelanjutin sekolah dimana?” Bertha bertanya dengan penasaran.
Kala menggeleng, “Belum. Kala belum mikirin sejauh itu, Mah.” Ia menatap Bertha dengan lekat.
“Gak apa-apa, mamah paham. Kala bisa memikirkannya dengan tenang. Hanya saja, mamah harap Kala gak akan pernah ninggalin mamah. Hem?” Wanita itu menggenggam tangan Kala dengan erat. Seperti sangat takut putranya pergi dari hidupnya.
Kala membalas genggaman tangan Bertha lalu menciumnya.
Ia memang belum memikirkan masa depannya dengan lebih serius. Tapi, Bertha adalah salah satu bagian hidupnya baik saat ini ataupun di masa depan.
Bertha tersenyum haru dengan mata berkaca-kaca. Ia juga mengusap kepala sang anah dengan sayang.
“Mamah beruntung punya Kala. Walaupun mamah bukan ibu yang sempurna, tapi Kala menyayangi mamah. Mamah bisa kehilangan apapun asal jangan anak yang mamah sayangi.”
“Mamah sempat punya keinginan kalau suatu hari mungkin kita harus pergi dari negara ini. Kalau Kala bersedia meneruskan perusahaan ini, mamah sangat bersyukur kalau pun tidak mamah pengen ngejual perusahaan kita karena mamah udah gak bisa mengurusnya lagi. Mamah pengen menikmati masa tua mamah dengan tenang.”
“Gimana menurut Kala?” Bertha menatap Kala dengan sungguh. Bulir air mata menetes di pipinya. Sepertinya wanita ini masih begitu hancur setelah perpisahannya dengan Yudhistira.
__ADS_1
“Kala, belum punya pendapat apa-apa saat ini.” Kala menyeka air mata Bertha dengan lembut.
“Kala juga sebenarnya pengen berusaha dengan kemampuan Kala sendiri tanpa mendompleng nama besar mamah apalagi laki-laki itu. Kalau sekiranya mamah merasa tenang dan bahagia dengan pergi dari negara ini, Kala gak bisa ngelarang. Karena kebahagiaan mamah yang terpenting buat Kala.”
Di genggamnya tangan Bertha dengan erat.
Bertha tidak bisa berkata-kata. Ia hanya bisa menangis haru memikirkan Kala yang kembali harus menjadi korban dalam keluarganya yang hancur.
“Ya, mamah akan memikirkannya lagi. Tapi paling tidak, mamah udah ngerasa lega karena Kala mau mengikuti permintaan mamah.” Wanita itu tersenyum haru.
Kala tidak menimpali. Ia memilih memeluk Bertha dengan erat untuk menenangkan hati ibunya.
Tapi, muncul tanya dalam hatinya, jika kemudian ia ikut pergi Bersama Bertha, bagaimana nasib pertemanannya dengan Kinanti? Bukankah semuanya baru di mulai?
Akh, kenapa dadanya mendadak sesak membayangkan isi pikirannya sendiri?
Malam itu, setelah Bertha kembali ke kamarnya, tiba-tiba saja Kala mengambil kunci motornya. Ia juga memakai jaket tebal dan helm. Ada satu tempat yang kemudian ia tuju.
Kediaman Kinanti, ya tempat itu yang Kala tuju. Dinginnya udara malam tidak menyurutkan langkahnya untuk memacu motornya dalam kecepatan tinggi. Tidak ada hal yang ia lakukan sebenernya, selain berdiam diri di atas motornya sambil memandangi kamar Kinanti yang berada di lantai dua rumahnya. Kala mengecek ponselnya dan sudah hampir tengah malam. Ia menduga kalau Kinanti mungkin sudah tidur.
"Mimpi yang indah. Kita ketemu lagi besok di sekolah," ucap Kala dengan perasaan yang entah.
****
__ADS_1