
“Gilaaa!! Permainan lo makin keren bro!” seru Riko yang berjalan menghampiri Kala lalu mengajaknya melakukan tos.
Kala menyambutnya dan mereka saling menyatukan kepalan tangan mereka yang kemudian saling menggenggam dan membenturkan lengak kokoh satu sama lain. Ia tos khas mereka. Dulu, dilakukan bertiga dengan Demian. Akan tetapi kali ini, remaja satu itu hanya melintas begitu saja menuju tempat parkir kendaraan. Ia lebih memilih pulang daripada mengikuti ajakan pelatih untuk bermain basket.
“Lo juga keren!” Kala balas memuji sahabatnya. Posisi mereka memang berbeda dan hal itu membuat mereka bisa saling melengkapi.
“Pastilah! Gue yakin, pertandingan bulan depan, sekolah kita akan jadi juara.” Riko berujar dengan optimis.
“Hem, gue juga yakin. Tahun kemaren kita cuma kalah strategi aja, tapi tahun ini, gue udah bikin strategi baru. Kita pasti bisa menang.” Kala pun tidak kalah optimis.
Mereka sama-sama tersenyum sambil memandangi lapangan basket yang masih terik di bawah sinar matahari. Kala dan Riko, masih mengingat bagaimana pertandingan basket tahun kemarin, berlangsung. Sejak awal babak mereka menguasai permainan. Mereka berdua bersama Demian menjadi bintang lapangan yang menguasai permainan.
Sampai pada saat sesi istirahat permainan berbalik melemah. Tepatnya saat Kala melihat kedatangan Yudhistira ke tempat pertandingan. Kala sangat senang saat itu. Akan tetapi senyumnya kemudian hilang saat ternyata Yudhistira datang bersama wanita asing yang ia rangkul di sampingnya.
“Mamah?” Demian yang berdiri disamping Kala pun berujar lirih. Mereka sama-sama memandangi dua orang yang sepertinya memiliki hubungan khusus. Kala dan Demian saling menoleh dengan tatapan tidak mengerti satu sama lain.
“Demian! Kala! Semangat!!! Mamah sama Papah datang untuk mendukung kalian!” seru wanita yang datang bersama Yudhistira.
__ADS_1
Dua remaja itu mematung beberapa saat sebelum kemudian mereka saling menjauh dengan kesadaran diri masing-masing. Saat itulah strategi permainan mereka hancur total. Mereka bukan lagi teman, melainkan lawan yang mulai membenci satu sama lain. Hal ini yang membuat mereka menderita kekalahan. Tidak hanya itu, mereka pun adu jotos di belakang gedung olahraga saat Kala sadar kalau wanita itu yang membuat sang ayah meninggalkan ibunya.
“Ya, dia calon ibu tirimu. Kamu harus menerimanya Kal. Papah dan Mamah, udah gak bersama lagi.” Penjelasan itu yang di dengar Kala dan membuat hatinya patah.
“Kenapa Papah ninggalin Mamah?” Kala masih menahan amarahnya. Ia perlu tahu alasan Yudhistira menggugat cerai Bertha.
Yudhistira terdiam beberapa saat. Ia melepas kacamata hitam yang menutupi mata elangnya.
“Papah udah gak ngerasain cinta lagi sama mamahmu Kal, untuk itu kami sepakat berpisah.” Yudhistira mengakui dengan sebenarnya apa yang ia rasakan.
“Ya. Mamahmu sudah memiliki segalanya. Papah rasa, mamahmu sudah tidak membutuhkan Papah lagi,” ujar Yudhistira dengan tenang. Ketenangan yang membuat amarah Kala bergejolak.
Pria itu, merasa kalau Bertha sudah memiliki banyak hal, terlebih setelah mendiang ayahnya meninggal dan memberikannya banyak warisan. Bertha disibukkan oleh pekerjaannya hingga waktu mereka berdua jarang sekali ada. Yudhistira merasa tidak ada lagi alasan untuk berjuang bersama Bertha dan disaat itulah wanita manja yang membutuhkan sosok Yudhistira hadir dan menggantikan posisi Bertha di hatinya.
Sebuah layangan bogem mentah diarahkan Kala ke dinding yang ada di belakang Yudhistira. Matanya menyalak dipenuhi kemarahan pada sosok sang ayah.
“Tidak ada lagi cinta? Lucu.” Kala tersenyum sini pada sang ayah.
__ADS_1
“Seriuslah Pah. Mana mungkin cinta pergi begitu saja kalau Papah tidak berusaha berpegangan pada janji sehidup semati yang kalian buat. Kalau memang ada masalah di antara kalian, kenapa tidak diselesaikan saja, bukan pergi begitu saja, seperti pecundang."
"Papah bahkan membawa seorang wanita lain ke hadapanku yang sudah Papah ajak berhubungan jauh sebelum kalian berpisah.”
“Alasan Papah tadi hanya alasan seorang pecundang yang ingin mengkabinghitamkan seorang wanita yang aku hormati dan sayangi. Untuk apa? Untuk menutupi keegoisan Papah. Benar bukan?” Kala menyeringai sinis pada Yudhistira, penuh kemarahan.
“KALA!!!” Yudhistira berteriak kencang, tidak terima dengan ucapan putranya.
“YA!!! AKUI ITU PECUNDANG!!” Kala tidak kalah menyalak merah bercampur butiran air mata penuh kekecewaan yang terkumpul di sudut matanya. Wajahnya sampai merah padam. Lihat juga tangannya yang mengepal kuat dan urat-urat nadinya yang timbul dan mengencang di permukaan kulitnya yang putih.
Ayah dan anak itu kukuh berhadapan dengan pikirannya masing-masing. Yudhistira mengeram kesal dalam hati. Berani sekali Kala mengatakan hal seperti itu dengan gamblang di depan wajahnya. Nyali putranya terlalu besar.
Pikiran yang sama juga mampir dibenak Kala. Menurutnya, tidak ada alasan untuk ia patuh lagi pada pria yang dulu selalu ia banggakan.
“Pe cun dang!” Kala mengulang ucapannya dengan pelan namun penuh penekanan. Setelah itu, ia berlalu begitu saja meninggalkan Yudhistira yang masing mematung di tempatnya dengan penuh kemarahan.
****
__ADS_1