Secret With Bad Boy

Secret With Bad Boy
Rencana


__ADS_3

Perjalanan dengan menggunakan mobil, memang lebih lama daripada menggunakan motor, tetapi hal itu tidak mengurangi kesenangan Kala dan Kinanti. Selama diperjalanan mereka membahas rencana piknik minggu ini dan memutuskan pulau seribu menjadi tempat tujuan mereka.


"Semoga gak penuh ya, akhir pekan begini." Kinanti bergumam sendiri.


"Nggak lah." Kala mencoba menyemangati. Setelah ini sepertinya ia harus meminta bantuan temannya untuk booking tempat terbaik di pulau seribu.


Tiba di sekolah, Kala segera memarkirkan mobilnya. Pandangan para siswa langsung tertuju pada dua remaja yang turun dari mobil mewah itu. Tidak sedikit yang berbisik mengomentari kedekatan mereka.


“Liat, lagi-lagi lo ketinggalan dari Kala, karena lo terlalu lamban,” hasut Frea yang sedang berjalan bersama Demian dan memandangi pasangan itu dari kejauhan.


Demian tidak menimpali, hanya dadanya saja yang bergejolak melihat kedekatan Kala dan Kinanti juga cara mereka berbincang yang begitu akrab dan menyenangkan.


“Ikutin saran gue kalau lo mau cepet dapetin Kinanti.” Lagi, gadis itu menambahkan hasutan.


Demian tetap dengan sikap diamnya, tetapi ia mengiyakan tawaran Frea dalam hatinya. Beberapa rencana yang disusun Frea untuknya dan Kinanti, sepertinya harus benar-benar direalisasikan. Saat ini, ia memilih untuk pergi ke ruang pemantapan dan menunggu Kinanti di sana.


Benar saja, Kinanti dan Kala berpisah untuk beberapa saat. Kala perggi ke kelas dan Kinanti ke ruang pemantapan. Masing-masing dari mereka akan melakukan rencananya hari ini. Kinanti akan belajar untuk olimpiade sementara Kala, Ia menaruh tasnya lalu pergi ke suatu tempat.


Pos keamanan, tempat yang Kala tuju.


“D-Den Kala?” seorang security tergagap melihat Kala datang ke ruang kerjanya.


“Beri aku rekaman CCTV hari kemarin,” pinta Kala dengan tegas.


“CCTV, den?” security itu menatap Kala dengan bingung.

__ADS_1


“Iya, apa ucapanku kurang jelas?” Kala duduk dengan santai di salah satu kursi sambil menyilangkan kakinya. Tatapannya begitu mengintimidasi pada pria itu.


“Ba-baik Den. Area mana yang ingin Aden lihat?” security itu tampak gelagapan.


“Kamu mengenal Frea?” alih-alih menjawab pertanyaan security, Kala balas memberikan pertanyaan.


“Non Frea?” laki-laki itu tampak berpikir., membuat Kala sadar kalau bukan pria ini yang dihubungi Frea semalam.


Kala mengeluarkan ponselnya lalu menunjukkan sebuah nomor. “Kamu kenal nomor ini?”


Laki-laki itu mengernyitkan dahinya tampak berpikir. Ia mencocokan dengan yang ada di ponselnya, “Oh ini nomor security yang kemarin bertugas. Ada apa ya, Den?”


“Telepon dia dan tanya, dimana kemarin dia melihat Frea berbicara dengan preman yang masuk ke sekolah,” titah Kala.


“Oh, baik Den.” Security itu segera menurut dan mengikuti perintah Kala. Ia menghubungi rekannya dan menanyakan apa yang ingin Kala tahu. Beberapa informasi didapatkan dengan mudah karena security itu tidak tahu kalau Kala lah yang meminta informasi tersebut. Trick Kala berhasil dengan baik.


Alih-alih masuk kelas, Kala memilih keluar dari sekolah. Dengan menggunakan mobilnya ia berkeliling, melihat lokasi saat Kinanti di serang juga daerah lainnya. Ia bertanya pada beberapa orang tentang preman itu dan sebuah tempat persembunyian ditunjukkan warga pada Kala.


Pencarian itu membawa Kala ke sebuah rumah di pinggiran kota. Rumah yang berdekatan dengan sebuah tempat pembuangan sampah. Beberapa orang pemulung sedang mengais rejeki di sana dan banyaknya botol minuman yang terserak menjadi ladang rejeki untuk mereka.


Beberapa motor berderet di sana. Plat nomornya sama dengan yang dicatat Kinanti. Kala semakin yakin kalau orang-orang yang satu per stau keluar itu adalah preman yang dimaksud Kinanti.


Kala mempotret beberapa hal di sana sebagai bukti. Termasuk wajah para preman untuk ai cocokkan dengan rekaman CCTV. Setelah merasa semuanya cukup, ia pun kembali. Ia tidak mau ambil resiko dengan melakukan kontak fisik dengan mereka. Kali ini remaja itu memutuskan untuk menggunakan otaknya saja di banding ototnya.


Satu jam sudah, Kala baru sampai di sekolah. Ia mengecek ponselnya dan tidak ada panggilan dari Kinanti. Itu berarti ia aman, Kinanti tidak curiga apapun. Ia segera menuju ruangan Jack dan ternyata pria itu sedang membimbing Kinanti dan Demian. Akhirnya ia memutuskan untuk menyusul ke ruang pemantapan dan melaporkan semuanya pada Jack.

__ADS_1


“Anda menyelidikinya sendiri, tuan?” tanya Jack tidak percaya.


“Iya, aku ingin kamu membantuku menyelesaikan penyelidikan ini atas nama sekolah. Datangi preman itu dan introgasi dengan benar dia agar mengatakan yang sebenarnya. Aku tidak mau preman itu mengancam siswa atau siswi yang ada disekolah ini dan citra sekolah menjadi buruk. Kalau perlu libatkan polisi, karena sepertinya ada hal yang menyebabkan mereka tidak bisa di tahan hingga semakin berani datang ke sekolah ini,” terang Kala.


Jack mengangguk paham. Ia bisa melihat kalau Kala sangat bersungguh-sungguh dengan hal ini. Ia tidak pernah menyangka kalau Kala akan peduli dengan citra sekolah padahal selama ini ia selalu menunjukkan kebrutalannya. Namun sepertinya, banyak hal yang sudah berubah dari Kala.


“Selain itu, buatkan aku surat izin untuk ini,” Kala menyodorkan selembar kertas pada Jack.


Jack segera membacanya. “Kompetisi gamer?” Ia menatap Kala tidak paham.


“Ya. Aku bisa saja pergi sendiri tanpa meminta izin pihak sekolah. Tapi bukankah aku harus membanggakan sekolah ini paling tidak satu kali dalam hidupku?” kalimat Kala terdengar seperti sebuah sindiran telak karena pihak sekolah selalu memperbandingkan Kala dengan Demian yang notabene sama-sama putra dari pemilik sekolah.


“Saya akan mengurusnya tuan. Saya akan mengirimkan surat rekomendasinya melalui email.” Jack tersenyum bangga pada remaja ini. Seorang Kala benar-benar berbeda. Kala yang dulu menjadi kebanggan karena menjadi tim basket, sepertinya mulai kembali dan menunjukkan geliatnya dengan cara yang berbeda.


Menjelang sore, Kinanti masih belum melihat keberadaan Kala. Ia hanya menerima pesan kalau remaja itu ada urusan dan harus pergi ke suatu tempat.


“Pulangnya jam berapa?” tanya Kala.


“Sekitar jam lima sore. Tenanglah, aku bisa pulang sendiri.” Kinanti membalas dengan sembunyi-sembunyi dari Demian dan guru pembimbingnya.


“Jangan naik kendaraan umum. Seseorang akan menjemputpun dan mengantarmu pulang.”


“Gak usah Kal, itu berlebihan. Aku bukan tuan putri yang harus di antar jemput ke sana kemari. Aku masih punya organ tubuh yang lengkap dan bisa berpikir dengan jernih. Jadi kamu tenang aja.” Kinanti membalas sedikit panjang.


“Hati-hati saat pulang. Kita ketemu nanti malam.” Hanya itu saja balasan dari Kala dan membuat Kinanti tersenyum tipis. Setelah itu ia kembali meneruskan cara memecahkan soal yang guru pembimbinganya berikan. Demian meliriknya sekilas, rasanya ia tahu kenapa Kinanti sedari tadi sering kali tersenyum.

__ADS_1


Apa ia setujui saja rencana yang sudah disiapkan Frea?


****


__ADS_2