
Mau tidak mau, Kala dan Bertha harus menemui Yudhistira di ruang keluarga. Ruangan yang dulu dipenuhi keceriaan sekarang terasa begitu canggung terutama bagi Kinanti. Ia seharusnya tidak ada di tengah-tengah keluarga ini, tetapi Bertha tetap memegangi tangannya dan tidak mengizinkannya untuk pergi.
“Dia tamu, sama seperti kamu. Jadi kamu tidak usah pergi, Kinan.” Itu pesan Bertha saat Kinanti ingin pamit dan menunggu di taman belakang. Akhirnya Kinanti duduk bersama tiga orang yang saling canggung ini.
“Saya dengar dari Demian, ayahmu meninggal dunia. Saya turut berduka cita.” Yudhistira mengawali pembicaraannya dengan kalimat penuh empati pada Kinanti.
“Terima kasih banyak, Om.” Kinanti mengangguk sopan dan tersenyum kecil pada Yudhistira. Berbeda dengan Kala yang memilih memalingkan wajahnya saat Yudhistira menatapnya. Kaki Kala juga terus bergerak menghentak-hentak seolah menunjukkan rasa tidak nyamannya duduk berhadapan dengan sang ayah.
“Ada perlu apa Mas datang ke sini?” Bertha langsung bertanya pada intinya. Ia tidak mau memancing putranya untuk bersikap kurang baik pada ayahnya di hadapan Kinanti.
“Saya ingin memeriksa kondisi kalian. Memangnya tidak boleh?” Yudhistira dengan nada suaranya yang rendah, jauh berbeda dengan Yudhistira yang selama ini selalu bersikap kasar dan merendahkannya.
“Apa tujuannya? Saya rasa, kondisi saya dan Kala sudah tidak penting lagi untuk Mas. Mas sudah memiliki keluarga yang bahagia dan sempurna. Jadi tidak perlu meledek kami.” Bertha berbicara dengan tegas.
Mendengar kalimat Bertha Yudhistira malah tersenyum, tersenyum kelu karena kalimat Bertha seolah sedang menamparnya. “Kamu lah yang sedang mengejekku, Bertha,” timpal Yudistira seraya tersenyum kelu.
__ADS_1
“Apa maksud Mas?” Bertha tidak paham dengan kalimat pria ini.
Terlihat Yudhistira menghembuskan napasnya kasar dan melirik Kinanti. Mungkin ragu untuk berbicara.
“Dia akan tetap di sini, karena dia sudah menjadi bagian hidupku dan Kala. Jadi, saya harap Mas mengatakan hal yang penting-penting saja, tidak perlu membahas masa lalu yang sudah basi.” Kalimat Bertha seolah menegaskan kalau Yudhistira tidak berhak menyuruh Kinanti pergi.
Yudhistira mengangguk paham, bisa terlihat kalau bertha selalu memegangi tangan Kinanti dengan erat walau entah untuk alasan apa.
“Saya akan berpisah dengan Imelda.” Kalimat itu terdengarmenggantung. Genggaman tangan Bertha pun mengedur, kaget mendengar ucapan laki-laki itu.
“Apa urusannya denganku? Kita bukan keluarga ataupun kolega. Kita hanya terikat oleh Kala. Dan saya rasa, Kala pun sudah tidak peduli dengan kondisi keluarga Mas, seperti halnya aku.” Bertha masih bertahan dengan perasaannya.
“Lucu, mas bilang karena hasutan makanya berbuat tidak adil sama kami. Mau tau, kalau kalimat mas barusan hanya cocok dikatakan oleh anak-anak labil?” Kalimat Bertha terdengar sinis.
“Mas udah dewasa, juga sudah tua. Bagaimana bisa seorang Yudhistira yang keras kepala dan berpendirian teguh bisa terkena hasutan? Itu alasan yang tidak masuk akal. Berhentilah menyalahkan tindakan orang lain untuk membenarkan sikap dan pemikiran Mas. Sudah bukan masanya Mas mencari kambing hitam.” Kalimat Bertha terdengar semakin mengiris tajam membuat Yudhistira hanya bisa menunduk lesu. Ia memahami benar ucapan Bertha yang memang pantas ia terima.
__ADS_1
Kala tersenyum kecut mendengar ucapan Bertha. Ia pikir, Bertha akan mudah luluh dengan penyesalan Yudhistira, tetapi ternyata wanita itu sangat tegas. Tentu saja, waktu satu tahun telah menempa mental dan pemikiran Bertha. Wanita itu sudah disadarkan oleh realita yang ada.
“Saya memang pantas disalahkan atas semua yang terjadi pada keluarga kita dan saya menerima itu. Saya juga menyetujui keputusan kamu untuk tidak menjual perusahaan. Itu langkah yang tepat.” Yudhistira masih mencoba mencari celah untuk menyanjung Bertha.
Bertha hanya tersenyum kecil mendengar kalimat Yudhistira. “Mas gak usah menyanjungku seperti itu. Alasanku tidak menjual perusahaan itu, tidak ada hubungannya dengan Mas sama sekali. Pikiranku berubah karena seorang laki-laki dan putrinya yang berhasil membuka mataku. Mereka membuatku sadar kalau aku tidak bisa berbuat egois pada sesuatu yang sebenarnya hanya akan merugikanku dan merugikan orang banyak.” Bertha menggenapkan kalimatnya dengan menatap Kinanti. Wanita itu juga mengeratkan genggaman tangannya pada Kinanti.
“Mereka ayah dan anak yang hebat. Mereka lah yang membuat mataku terbuka.” Diusapnya kepala kinanti dengan sayang dan penuh rasa syukur. Ya, Kinanti dan Lukman lah yang membuat keputusan Bertha berubah.
Yudhistira terdiam, sepertinya ia sudah kehilangan celah untuk mendekati Bertha. Benteng pertahanan yang Bertha pasang terlalu tinggi. Wanita itu juga sudah menentukan sikapnya.
“Syukurlah, kalau kamu sudah yakin dengan keputusanmu. Lalu bagaimana dengan kamu, Kal? Apa kamu akan mengambil beasiswa itu dan kuliah di luar negeri?” tegas sekali Yudhistira bertanya pada putranya.
Kala lantas menoleh, begitupun dengan Bertha dan Kinanti. Dua wanita itu tidak pernah mendengar rencana Kala untuk kuliah di luar negeri, bagaimana Yudhistira bisa tahu?
“Tidak perlu menurusiku. Sekalipun aku kuliah di luar negeri, itu bukan karena Papah. Aku punya alasan sendiri yang tidak perlu aku umumkan seperti halnya Papah yang suka mengumumkan hal yang tidak penting. Jadi mulai sekarang, tidak usah mengancam akan menyekolahkanku di luar negeri, aku bisa memilih sendiri tempat yang ingin aku tuju.” Kala menimpali dengan dingin.
__ADS_1
Akan tetapi dari kalimat itu seolah menegaskan kalau Kala benar-benar akan pergi ke luar negeri. Benarkah?
****