Secret With Bad Boy

Secret With Bad Boy
Hubungan apa?


__ADS_3

“KINANTI! KINANTI! KINANTI!!!” seru siswa satu kelas beberapa saat lalu ketika Kinanti berhasil menungguli Frea dalam menjawab soal.


Satu kelas itu dibuat riuh oleh suara tepukan tangan untuk Kinanti. Ia juga mendapat tiara yang dibuat dari kertas sebagai bentuk apresiasi atas keberhasilan Kinanti mengalahkan Frea dalam hal pelajaran.


“Kamu ingat kan sama perjanjian kita?” Kinanti mengulurkan tangannya meminta kembali kertas formulir yang hampir di sobek oleh Frea.


“Gue gak pernah ngelanggar janji gue sendiri.” Terpaksa Frea mengembalikan formulir itu dengan perasaan kesal.


“Yeaaahhh!!!!” seru teman-teman satu kelas Kinanti, saat akhirnya formulir itu kembali ke tangan pemiliknya.


“Makasih Frea. Aku harap, kamu akan menyiapkan yeal-yeal yang bagus untuk mendukungku dan Demian,” ucap Kinanti pada rivalnya.


Frea hanya mendengus kesal karena ia terpaksa harus mengikuti kemauan Kinanti untuk mendukungnya di olimpiade nanti.


Euphoria itu masih di rasakan oleh Kinanti dan Kala hingga akhirnya mereka memilih menepi dari kehingaran kelas dan pergi ke rooftop. Mereka masih tertawa-tawa merasakan kebahagiaan karena berhasil mengungguli Frea.


“Kamu melakukannya dengan baik. Aku gak nyangka kalau kamu akan membalas Frea dengan cara seperti itu,” puji Kala saat mereka sudah tiba di rooftop dan duduk di atas kursi karet.


Kinanti hanya tersenyum, merasakan kelegaan karena akhirnya ia bisa belajar dengan tenang tanpa ganguan Frea lagi.


“Seperti yang kamu bilang, aku gak boleh membiarkan orang lain merendahkanku. Maka aku buat dia menunjukkan kalau aku lebih unggul dari dia di hadapan banyak orang. Aku jahat gak sih Kal?” Kinanti balas bertanya pada Kala.


Kala menggeleng. “Jelas gak jahat. Kalau aku ada di posisi kamu, mungkin aku akan main jambak-jambakan sama dia sampai salah satu di antara kami botak,” timpal Kala.


“Hahahaha … itu terlalu jahat Kal. Bagaimanapun Frea itu temen kita juga. Kita harus berusaha mengingatkan kalau apa yang dia lakukan salah.” Kinanti berujar dengan tegas.


“Ya, kamu benar. Tapi kamu jangan lupa, orang yang kamu anggap temen, belum tentu menganggapmu sebagai temen. Bisa jadi dia memposisikan kamu sebagai lawannya.” Kala menimpali dengan sarkas. Ia teringat pada persahabatannya dengan Demian dulu.


Kinanti tidak mengiyakan atau membantah kalimat Kala, ia hanya memandangi Kala dari samping dan terlihat wajahnya yang kesal.


“Aku menganggapmu teman, apa kamu juga menganggapku teman?” Kinanti bertanya dengan penasaran. Ia ingin Kala mengalihkan pikirannya dari Demian.


Kala tersenyum kecil lalu menoleh Kinanti. Mereka bertatapan beberapa saat.

__ADS_1


“Jawab aku,” tantang Kinanti. Ia bisa melihat Kala yang tersenyum kecil bersamaan dengan wajahnya yang sedikit memerah.


Bukan jawaban yang di terima Kinanti melainkan satu usapan lembut di wajahnya dari telapak tangan Kala yang lebar.


“Ish, Kala! Tangan kamu nutupin semua bagian muka aku, tau.” Kinanti berdecik kesal.


“Ya lagian ngapain kamu ngasih aku pertanyaan bodoh!” cetusnya sambil mengusap kepala Kinanti.


Dia memilih beranjak dari tempatnya lalu berdiri tegak seraya membuang nafasnya kasar. Ia juga mengusap dadanya yang kembali berdegub kencang seperti semalam saat memandangi kamar Kinanti dari kejauhan.


“Kata guruku gak ada pertanyaan yang bodoh, hanya kita saja yang tidak bisa membaca arah atau memahami pertanyaan itu.” Kinanti ikut beranjak dari tempatnya dan berdiri di samping Kala.


“Memangnya pertanyaan itu harus dipahami?” Kala menoleh Kinanti yang sedang menatap jauh ke depan sana.


“Ya, tentu saja.” Gadis itu berujar dengan serius.


“Misal, fungsi kata tanya apa itu menunjukkan pertanyaan tentang benda. Kata tanya siapa menanyakan tentang orang dan bentuk kata tanya lainnya menunjukkan fungsinya masing-masing. Bisa kita jawab dengan jelas karena arah pertanyaannya pun jelas.”


“Tapi terkadang, ada pertanyaan yang menggunakan kata tanya tapi gak bisa kamu jawab sembarangan. Kamu gak bisa mendefinisikan pertanyaan itu menunjukkan orang kah, sesuatu kah atau apalah. Pertanyaan seperti itu gak bisa di jawab dengan logika melainkan dengan perasaan.”


“Ish, malah ketawa lagi. Ngeselin akh! Sekarang aku yakin, kalau cuma aku yang nganggap kamu temen. Sementara aku, akh sudahlah. Aku malas bahasnya!”


Kinanti memilih berlalu pergi meninggalkan Kala.


“Eh, tunggu!” tiba-tiba saja Kala menarik tangan Kinanti hingga terhenyak dan tertarik ke arahnya.


“Buk!”


Kinanti menubruk tubuh Kala hingga hampir jatuh. Kala refleks memegangi kedua bahu Kinanti hingga mereka berdiri berhadapan dengan jarak yang sangat dekat. Kala bisa melihat mata Kinanti yang menyalak kaget. Sementara pipinya terasa hangat dan tubuhnya seperti menyimpan bara di dadanya.


Mereka sama-sama terdiam beberapa saat, merasakan desiran aneh yang mengaliri aliran darah keduanya. Sampai kemudian Kala berkata,


“Sa-kit,” ucapnya pelan.

__ADS_1


Kinanti mengernyitkan dahinya tidak mengerti. Lantas Kala menunduk dan Kinanti mengikutinya. Matanya semakin melebar saat sadar kalau Kinanti sedang menginjak kaki Kala.


“Astaga! Maaf, aku gak tau.” Kinanti segera melonjak menjauh dari Kala.


“Ng-nggak apa-apa.” Kalimat Kala mendadak tergagap.


“Apa sakit banget?” wajah Kinanti berubah cemas.


Kala hanya menggeleng. Di banding kaki yang sakit karena terinjak Kinanti lebih para jantungnya yang berdebar sangat kencang.


“Aku gak akan minta maaf ya, soalnya salah kamu sendiri pake narik tangan aku.” Kinanti segera memalingkan wajahnya saat ia merasa kalau pipinya menghangat. Malu rasanya mendapat tatapan lekat dari Kala seperti ini.


“Gak apa-apa. Aku kok yang salah. Aku yang ngeledekin kamu dan narik tangan kamu. Sorry,” Kala mengulurkan tangannya pada Kinanti.


“Hem,” Kinanti membalas uluran tangan Kala beberapa saat saja.


“Udah akh kita ke kelas. Nanti di cariin lagi.” Cepat-cepat Kinanti melepaskan genggaman tangannya. Jantungnya tidak aman kalau mereka terus saling berjabatan.


Kala tidak menimpali, ia membiarkan Kinanti pergi lebih dulu. Ia memandangi pundak Kinanti yang semakin menjauh dan sosoknya yang sudah hampir sampai di pintu rooftop, rasanya ia enggan untuk berjarak lebih jauh lagi.


“Kinan,” tiba-tiba Kala memanggil Kinanti. Langkah Kinanti pun terhenti. Entah mengapa ia refleks menahan nafasnya seperti bersiap kalau Kala akan mengatakan sesuatu.


“Kamu gak cuma temenku, tapi kamu orang yang bisa membuatku mendengarkan pendapat dan nasihat orang lain. Apa nama panggilan yang cocok untuk hubungan semacam itu?” tanya Kala.


Kinanti tidak lantas menjawab, ia masih kesulitan mengendalikan jantungnya yang benar-benar gemetaran. Tangannya juga mendadak basah dan ia kepalkan sambil berpegangan pada pinggiran rok abu tua, untuk menahan perasaannya.


“Aku gak tau. Aku belum pernah membaca istilah seperti itu di buku ajar,” sahut Kinanti.


Sungguh ia tidak berani berbalik apalagi harus menatap wajah Kala. Ia memilih melanjutkan langkahnya turun dari rooftop. Ia merasa suasana canggung ini harus ia akhiri.


"Kenapa dia pergi? Apa aku salah bicara?"


Kala mematung tidak mengerti.

__ADS_1


****


__ADS_2