
Rumah sakit khusus kanker, adalah tempat yang saat ini di tuju Kinanti. Ia meminta Kala melajukan motornya dengan cepat dan tidak peduli pada apa pun lagi. Ia hanya ingin segera sampai di rumah sakit itu dan menemui ayahnya.
Kala melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, layaknya pembalap yang bertanding di sirkuit. Tubuh Kinanti terasa seperti terbang tapi tetap saja perjalanan ini begitu panjang bagi Kinanti. Ia berpegangan dengan erat, tangannya melingkar di pinggang Kala.
Tiba di area parkir rumah sakit, Kinanti segera masuk ke area layanan rawat jalan.
"Helm nya Kinan," Kala segera mengejar Kinanti.
"Iya, aku lupa." Kala melihat kalau Kinanti sangat panik. Wajar saja pikirannya berantakan. Ia segera melepas helm Kinanti.
"Pergilah lebih dulu, aku akan menyusul." Kinanti dan Kala terpaksa berpencar untuk mencari Lukman.
"Iya." Kinanti berjalan ke sana kemari mencari Lukman di antara banyaknya pasien yang sedang mengantri berobat. Dari tempatnya ia berusaha menghubungi Seno tapi Seno tidak menjawabnya.
“Akh sial!” Kinanti mendengus kesal. Ia semakin gugup dan tidak karuan.
Loket pendaftaran, ya loket pendaftaran yang saat ini di tuju Kinanti. Ia menunggu antrian di sana untuk bertanya pada petugas.
“Kinanti!” panggil Kala.
Kinanti segera menoleh dan ternyata Kala sedang berada di loket pelayanan informasi.
“Bodoh, memang loket itu yang harusnya aku tuju.” Kinanti memukul kepalanya sendiri yang sering blank saat sedang panik.
Kinanti segera menghampiri Kala.
“Petugas bertanya siapa nama lengkap ayahmu,” ucap Kala saat Kinanti tiba di sampingnya.
“Cuma Lukman aja, gak ada nama panjangnya,” sahut Kinanti.
“Nama Lukman banyak dek yang berobat di sini. Ada identitasnya gak, biar saya gak salah orang?” tanya petugas informasi. Tentu saja karena pasien di rumah sakit ini bisa mencapai ratusan.
“Sebentar, saya periksa dulu.” Kinanti segera mengecek isi tasnya. Begitu tergesa-gesa tapi belum menemukan apa-apa.
“Kinan?” panggil seseorang dari belakang.
__ADS_1
Kinanti langsung berhenti, ia mengenal benar suara itu. Saat ia menoleh, benar saja suara itu milik Lukman.
“AYAH!” Kinanti berseru lalu berlari menghampiri Lukman. Ia berhambur memeluk Lukman seeratnya dengan rasa lega karena akhirnya menemukan laki-laki yang menjadi cinta pertamanya.
“Kenapa ayah ada di sini? Ayah sakit apa?” Kinanti bertanya dengan terbata-bata. Dadanya sesak karena membayangkan Lukman sakit dan terbaring tidak berdaya di salah satu ruangan rumah sakit ini.
“Siapa bilang ayah sakit? Ayah lagi nemenin om Seno check up.” Lukman memilih untuk berbohong.
Kinanti segera melerai pelukannya dan menatap wajah Lukman yang terlihat kurusan dengan lingkar mata yang celong.
“Serius? Bukan ayah yang sakit?” Kinanti menatap Lukman dengan tidak percaya.
“Iya lah, Kinan liat sendiri, ayah sehat bugar begini.” Lukman merentangkan tangannya berusaha menunjukkan kalau ia baik-baik saja. Padahal kakinya masih gemetar karena ia baru turun dari ranjang perawatannya. Beruntung Kinanti tidak melihat bekas tusukan jarum di lengannya karena ia mengenakan kemeja berlengan panjang juga jaket.
“Syukurlah. Tapi kenapa ayah kurus banget? Dan kenapa ayah malah ada di rumah sakit dan gak ngabarin Kinan? Om Senonya mana?” pertanyaan kinanti begitu bertubi-tubi. Suaranya juga sedikit serak karena menahan tangisnya.
“Wah, banyak banget pertanyaannya. Sebentar ya, Kinan tunggu di sini, ayah ajak Om Seno dulu. Dia masih di ruang pemeriksaan.” Lagi Lukman berbohong.
“Iya ayah.” Kinanti patuh saja. Ia memandangi Lukman yang berjalan menjauh darinya dan menghilang saat berbelok masuk ke salah satu ruangan.
“Kata ayah, Om seno yang sakit Kal. Bukan ayah.” Kinanti berbicara pada Kala yang berdiri di sampingnya. Wajahnya terlihat sedikit lega.
"Berantakan ya aku? Hehehehe... Ketemu ayah harusnya seger dan cantik, ini malah berantakan." Kinanti memperbaiki ikatan rambutnya yang melorot dan berantakan. Mungkin bekas helm tadi.
Kala hanya tersenyum. Sejujurnya ia belum percaya sepenuhnya dengan yang dikatakan Lukman. Tapi melihat Kinanti yang terlihat senang karena ayahnya baik-baik saja, membuat Kala tidak tega menyampaikan isi pikirannya.
Tidak lama, Lukman datang bersama Seno. Pria berusia pertengahan abad itu memapah Seno yang bertingkah seolah sedang sakit. Tubuhnya ringkih dan terlihat mengkhawatirkan. Kinanti segera menghampiri dan membantu Lukman memapah Seno.
“Duduk sini dulu om,” Kinanti membawa Seno duduk di kursi tunggu.
“Terima kasih Kinanti,” ucap pria yang sesekali tampak meringis.
“Sama-sama Om.” Kinanti memandangi Lukman dan Seno bergantian. Kalau di banding-banding, Seno memang lebih sering meringis kesakitan. Tapi wajah Lukman juga pucat. apa iya ia hanya kekelahan saja?
“Ayah hanya gak bisa tidur aja saat di rumah sakit, jadi pasti sedikit terlihat pucat,” aku Lukman saat melihat Kinanti yang menatapnya lekat.
__ADS_1
Kinanti tersenyum kecil, pria itu selalu paham arti tatapan putri yang mencemaskannya.
“Kinan pulanglah duluan sama Kala. Nanti kita ngobrol di rumah. Ayah masih harus mengurus administrsi om Seno dan mengantarnya pulang. Ya nak?” laki-laki itu mengusap kepala Kinanti. Ia tidak mau Kinanti mendengar namanya di panggil sebagai pasien yang menunggu antrian obat.
“Kinan nemenin ayah dulu. Mana tau ayah perlu bantuan Kinan.” Kinanti bersikukuh.
“Nggak usah. Mending kinan siapin masakan yang enak buat ayah. Nanti kita makan sambil ngobrol-ngobrol, ayah ceritain semua yang harus Kinan dengar. Gimana?” Lukman memang pandai mengalihkan perhatian putrinya.
“Ya udah,” Kinanti terpaksa setuju karena ucapan Lukman memang benar. Ia belum menyiapkan apa-apa di rumah karena sibuk memikirkan keberadaan Lukman.
“Kala, tolong titip Kinanti ya. Bawa dia berkendara dengan aman,” pesan Lukman.
“Iya om. Om juga hati-hati di jalan.” Timpal kala.
Kala dan Kinanti pun menurut pada Lukman untuk pulang lebih dulu. Gadis cantik itu melambaikan tangannya pada Lukman.
Lukman tersenyum ketir, balas melambaikan tangannya pada Kinanti. Ia suka sekali melihat wajah Kinanti yang ceria seperti ini bukan wajah yang panik dan menyimpan banyak kekhawatiran. Sampai kemudian Kinanti dan Kala berlalu, tanpa mereka tahu, kali ini Lukman nyaris terjatuh. Kakinya lemas seperti kehilangan tenaga. Ia berpegangan pada Seno yang setia menemaninya.
"Astaga Kang, ayo duduk di sini." Seno membawa Lukman duduk di kursinya. Lukman menurut saja, ia memang belum kuat untuk berdiri lama.
"Minum kang," Lukman juga memberikan air minum untuk Lukman. Pria itu meneguk minumannya perlahan. Rasanya sangat hambar dan dahaganya tidak lantas hilang. Mungkin karena efek chemoterapy yang dijalaninya hingga membuat lidahnya baal tanpa rasa.
Lukman duduk bersandar dan mengatur ritme nafasnya yang tidak teratur. Beruntung ia bisa keluar hari ini sehingga saat Kinanti datang ia bisa menunjukkan kondisi tubuhnya yang lebih baik. Tidak terbayang kalau ia masih terbaring di ruang perawatan dan mengerang menahan sakitnya radiasi dan chemoterapy. Putrinya pasti sangat sedih dan hancur.
"Sen, maaf yaa aku terpaksa bilang kamu yang sakit. Padahal kamu sehat-sehat aja." Lukman berujar dengan lemah.
"Iya Kang, gak apa-apa. Cuma, apa gak lebih baik kalau akang bilang yang sejujurnya sama anak akang? Saya rasa dia berhak tau." Seno memberi saran.
Melihat Kinanti yang begitu kalut, Seno tidak bisa membayangkan bagaimana kalau gadis itu tiba-tiba tahu ayahnya sakit dan kondisinya sudah parah. Pasti sangat hancur.
"Saya gak tega Sen. Saya gak mau anak saya sedih karena memikirkan saya. Kamu liat sendiri kan tadi gimana paniknya dia?"
Seno hanya bisa mengangguk.
"Makanya, saya harus nyelesein dulu prosedur terapi ini. Sampai penyakit saya benar-benar hilang. " Lukman bersikukuh dengan pilihannya.
__ADS_1
Seno tidak berani menimpali. Ia hanya berharap kalau pilihan Lukman adalah yang terbaik untuk ia dan putrinya.
*****