
Ponsel yang tertinggal, menjadi alasan Kinanti pergi ke kelasnya dan meninggalkan Kala yang tadi asyik berbincang masalah basket dengan Riko. Selain mengambil ponsel, Kinanti juga mengambil tas ranselnya. Buku-buku ia bereskan. Tidak hanya miliknya melainkan juga milik Kala. Remaja itu meminta tolong Kinanti membawakan tasnya agar mereka bisa langsung pulang.
“Pantesan tas kamu enteng banget Kal. Isinya cuma buku tulis dua biji itupun corat coret, sama satu ballpoint. Liat tutupnya aja gak ada dan tintanya bocor. Masa kamu mau ngiket ilmu dengan cara seperti ini?” Kinanti bergumam tidak mengerti.
Sambil menggeleng, ia tetap membereskan buku-buku Kala. Membuang ballpoint Kala dan menggantinya dengan ballpoint miliknya. Ballpoint berwarna green sage yang sebenarnya tidak cocok untuk lelaki maskulin seperti Kala. Namun Kinanti merasa ini lebih baik di banding membiarkan ballpoint bocor ada di dalam tas Kala. Ini bisa mengotori buku-buku Kala.
“Okey, lain kali kita pergi ke toko buku dan beli alat tulis.” Kinanti membuat janji pada bayangan Kala yang ada dipikirannya. Mereka akan segera menghadapi ujian tengah semester, Kinanti berniat kalau ia harus membantu Kala mulai dari hal terkecil dan sering dilupakan yaitu alat tulis.
Setelah membereskan semua perlengkapan alat tulis Kala, Kinanti membawa tas ransel itu keluar dari kelas. Tas ransel miliknya ia bawa di pungung sementara tas ransel Kala di depan dada. Hanya jaket Kala saja yang ia tenteng.
Menuju lapang basket, tanpa sengaja Kinanti melihat Frea berada di salah satu sudut sekolah. Sedikit aneh karena sepertinya Frea yang seorang diri sedang berbicara dengan orang-orang asing, bukan para siswa.
Kinanti memutuskan untuk mendekat, mengintip dibalik dinding kelas.
“Hah, aku kok familiar ya sama orang-orang itu? Apa mereka mau ganggu Frea juga?” Kinanti bergumam sendiri. Sosok orang-orang yang berbicara dengan Frea itu benar-benar tidak asing bagi Kinanti. Dari penampilannya yang urakan, juga kendaraan yang ia gunakan, Kinanti sangat yakin kalau mereka adalah anak genk motor yang waktu itu menyerangnya dan Demian.
“Astaga! Iya bener, itu mereka.” Kinanti kaget sendiri.
Untuk apa orang-orang itu datang ke sekolah ini? Untuk menemuinya lagi kah, atau berganti mengganggu Frea? Lalu mengapa mereka masih berkeliaran, bukankah Kinanti sudah melaporkannya pada polisi?
Kinanti semakin ketar-ketir terlebih saat ia melihat Frea berdebat dengan lelaki gondrong yang waktu itu ia semprot matanya dengan merica. Laki-laki itu seperti berteriak pada Frea tapi Kinanti tidak mendengar jelas pembicaraan mereka.
“Aku lapor aja!” Kinanti segera pergi ke pos satpam untuk melapor. Ia berjalan dengan tergesa-gesa khawatir Frea juga di ganggu oleh para preman yang meresahkan itu. Belum sampai di pos satpam, Kinanti sudah lebih dulu bertemu dengan petugas keamanan.
“Pak!” panggil Kinanti.
__ADS_1
“Iya, Non.” Laki-laki itu segera menoleh.
“Pak, tolong ikut saya sebentar. Itu tadi temen saya kayaknya digangguin sama geng motor deh.” Kinanti berbicara dengan tergesa-gesa.
“Hah, kok bisa masuk ya? Padahal tadi saya jaga di depan gak ada yang nyelonong masuk kok.” Petugas keamanan itu bingung sendiri.
“Saya juga gak tau Pak. Udah kita liat dulu aja. Takutnya teman saya digangguin.”
“Oh iya Non, ayo kita lihat.”
Kinanti dan petugas keamanan sama-sama berjalan cepat menuju sudut sekolah tadi. Mereka melihat Frea masih berbicara dengan laki-laki itu.
“HEH! Siapa kalian?!” seru petugas keamanan.
Para preman itu kaget, begitupun dengan Frea. Frea tiba-tiba jatuh beberapa saat setelah preman itu lari tunggang langgang dikejar ole petugas keamanan.
Mata Frea langsung membulat karena kaget. Entah apa yang di lihat dan di dengar oleh Kinanti, yang jelas ia mulai panik.
“I-iya. Tangan gue sakit, di dorong preman tadi.” Frea meringis sambil memegangi tangannya yang sebenarnya tidak kenapa-napa.
“Coba aku liat.” Kinanti dengan rasa pedulinya yang tinggi.
“E-enggak usah. Gue udah baik-baik aja kok.” Frea kukuh memegangi tangannya yang tidak mau ia tunjukkan pada Kinanti.
“Beneran?” Kinanti masih tetap khawatir.
__ADS_1
“I-iya.” Frea gelagapan.
“Syukurlah.” Kinanti menghembuskan nafasnya lega. “Padahal preman itu udah aku laporin ke polisi tapi mereka masih aja berkeliaran. Apa udah dibebasin ya?” Kinanti bingung sendiri.
Ia mengulurkan tangannya hendak membantu Frea berdiri namun Frea mengibaskannya.
“Gak usah, gue bisa bangun sendiri,” ucapnya.
'Iya, gara-gara lo lapor, gue sampe harus minta bantuan bokap buat ngebebasin mereka dan ngasih uang jaminan. Brengsek lo Kinanti!'
Frea berbicara dalam hati. Ya, gara-gara Kinanti melapor ke polisi, Frea sampai kerepotan harus meminta bantuan sang ayah untuk membebaskan komplotan preman itu. Hal itu terpaksa dilakukan Frea agar para preman tidak di periksa lebih lanjut apalagi sampai menyebut namanya dan Demian dalam tindakan kejahatan mereka. Ia tidak bisa membayangkan jika itu benar-benar terjadi.
“Sebaiknya, kamu jangan pergi-pergi sendiri Frea, itu sangat berbahaya. Soalnya mereka juga pernah ganggu aku dan bikin Demian masuk rumah sakit. Ini, ambilah. Ini semprotan merica. Gunakan ini kalau orang asing seperti mereka mengganggu kamu.” Kinanti memberikan semprotan merica miliknya pada Frea.
“Buat gue?” Frea menatap Kinanti dengan tidak mengerti. Gadis ini benar-benar naif menurutnya.
“Iyaa. Aku gak ngarepin kamu di ganggu lagi. Tapi kalau ada orang jahat deketin kamu, kamu cepet-cepet pake ini. Semprotin ke mukanya terutama daerah mata. Bawa kemanapun kamu pergi karena kita gak pernah tau, bahaya apa yang mengintai kita.” Kinanti berujar dengan penuh semangat, mengkhawatirkan teman sekelasnya.
Sayangnya, Kinanti mengkhawatirkan orang yang salah.
Frea pun menerima semprotan merica itu dari Kinanti. “Iya, nanti gue pake. Udah sana, gue mau balik.” Frea setengah mengusir Kinanti.
“Iya, aku juga mau pulang. Hati-hati di jalan Frea,” pesan Kinanti sebelum berlalu pergi.
Frea hanya terdiam, tidak mengiyakan ataupun membantah ucapan Kinanti. Sejujurnya ia merasa terrenyuh dengan sikap Kinanti tapi saat melihat tas ransel Kala ada di dadanya, kemarahan itu seperti kembali mengisi rongga dadanya.
__ADS_1
“Sok polos! Padahal lo ular. Liat aja, gue bakal bikin lo menyesal karena ngedeketin Kala,” ucap Frea seraya memandangi sosok Kinanti yang berjalan menjauh darinya. Sesekali gadis itu menoleh Frea, untuk memastikan gadis itu baik-baik saja. Dan setiap melihat wajah Kinanti, Frea menggenggam botol merica itu semakin erat. Menyebalkan menurutnya.
****