
Pulang sekolah, Kala pergi ke café seperti biasanya. Sementara Kinanti, ia masih berada di halte untuk menunggu bis yang akan membawanya pulang.
Sudah lebih dari sepuluh menit menunggu, belum ada juga bis yang lewat. Kinanti menunggu dengan gelisah karena hari sudah mulai mendung. Ia tidak membawa payung dan khawatir kalau ia akan kehujanan.
Beberapa sepeda motor tampak melaju ke arahnya. Mereka masuk ke jalur bis dan berdiam diri di sana.
“Bisnya gak bakal dateng, mending pulang sama kita,” ucap salah satu laki-laki berperawakan tinggi dan berbicara pada Kinanti.
“Saya?” Kinanti menunjuk dirinya sendiri karena ia rasa ia tidak kenal pada orang tersebut.
“Emang ada cewek cantik lain ya di sini?” laki-laki itu menghampiri Kinanti bersama ketiga temannya.
“Jangan mendekat, saya bisa teriak!” seru Kinanti yang sudah merasa terancam.
Laki-laki itu hanya tersenyum seraya mengusap dagunya. Ia tetap mendekat pada Kinanti yang sudah ancang-ancang akan kabur.
“Lo pikir di sini bakal ada yang nolongin lo?” saat ini laki-laki itu berdiri di hadapan Kinanti.
“Ini jalanan ramai, tentu saja akan ada yang mendengar saya.” Kinanti mulai ketakutan walau tetap berusaha terlihat berani.
Ia membuka resleting tasnya lalu mencari sesuatu. Sedikit tenang karena benda yang ia cari sudah ada di tangannya dan ia sembunyikan di balik tubuhnya.
“Coba aja kalau lo yakin.” Tidak hanya laki-laki itu, tapi ketiga temannya juga mendekat pada Kinanti.
“TOLONG!!!!” Kinanti refleks berteriak.
“HAAHAHAHAHAHA… Tolonggg!!!” laki-laki itu tertawa sambil meledek Kinanti, begitupun dengan ketiga temannya.
Mereka bisa melihat kalau Kinanti mulai terpojok.
__ADS_1
“Lo liat kan, gak ada yang denger lo. Orang-orang sibuk sendiri.” Laki-laki itu menyeringai sarkas pada Kinanti.
Kinanti benar-benar ketakutan terlebih saat ia tidak bisa mundur lagi sementara laki-laki di hadapannya semakin mendekat.
“Ayo, ikut aja!” laki-laki itu berusaha menarik tangan Kinanti.
“JANGAN PEGANG-PEGANG!!” Kinanti langsung menyalak.
“Hahahahha, boleh juga nyali nih perempuan.” Laki-laki itu tetap berusaha memegang tangan Kinanti.
“Lepas!” seru Kinanti saat satu tangannya berhasil di pegang laki-laki itu.
“Hahahahahaha… lucu nih cewek!” laki-laki itu tertawa terbahak-bahak dengan teman-temannya.
Kinanti benar-benar merasa terpojok sampai kemudian ia mengangkat satu tangan lainnya dan menyemprotkan bubuk lada yang sedari tadi sudah ia siapkan.
Merasa mendapat peluang, Kinanti segera berlari meninggalkan gerombolan preman itu.
“Kejar dia sampe dapet!!” seru laki-laki yang kesakitan. Ia tidak terima membiarkan Kinanti lolos begitu saja.
Kinanti pun di kejar. Ia berlari dengan cepat di trotoar. Tapi sayangnya, langkah kakinya kalah cepat dari dua laki-laki yang mengejarnya.
“Hayo, mau kemana lo?!” mereka mengelilingi Kinanti yang sudah terpojok.
Kinanti menodongkan membali semprotan mericanya tapi dengan mudah laki-laki itu memukul tangan Kinanti hingga semprotan itu jatuh.
“Akh!” Kinanti mengaduh kesakitan karena tangannya di pukul laki-laki tersebut.
“Hahahahaha, udah gue bilang, lo nyerah aja cewek manis.” Laki-laki itu tertawa meledek Kinanti.
__ADS_1
Kinanti sudah panik dan berkeringat dingin. Ia kehabisan akal dan tidak tahu harus meminta tolong pada siapa.
Sebisa mungkin ia mendorong salah satu laki-laki dan berlari menghindari kejaran. Kinanti berkejaran dengan dua laki-laki itu dan kembali tertangkap.
“Hah, lo ngerjain gue! Gue abisin juga lo!” ancam laki-laki. Ia mulai kesal.
“Jangan, saya mohon. Kita gak ada urusan apa-apa, tolong biarkan saya pergi.” Mata Kinanti sudah membulat panik dengan wajah pucat pasi. Dua orang itu semakin mendekat pada Kinanti dan semakin semangat mengerjai Kinanti.
“TTEEETTT!!!” sebuah klakson mobil berbunyi nyaring di dekat mereka.
Dua orang itu menoleh, termasuk Kinanti. Sebuah mobil mewah berhenti di dekat mereka. Dua laki-laki itu saling melempar senyum. Mungkin pikirnya sasaran empuk.
“Apa yang kalian lakukan?!” seru seseorang yang turun dari mobil mewah tersebut.
Kinanti sedikit tenang saat melihat yang datang itu adalah Demian.
“Gak usah ikut campur lo!” seru laki-laki itu pada Demian.
“Gak usah ikut campur gimana maksud lo?!” Demian segera menyerang dua orang itu dan baku hantampun tidak terelakkan.
“Astaga gimana ini?” gumam Kinanti yang panik. Demian di keroyok oleh dua orang dan nyaris kalah. Remaja itu terkapar di atas aspal dengan wajah yang dipenuhi luka biru lebam. Tidak hanya itu, dua orang laki-laki itupun mengambil paksa dompet Demian lalu mengambil beberapa lembar uang dari dalam dompet.
“Jangan macem-macem lo sama kita!” seru laki-laki tersebut yang kemudian pergi setelah melemparkan dompet Demian begitu saja.
“Astaga!” seru kinanti yang segera menghampiri Demian.
Demian terluka parah, lalu apa yang harus ia lakukan sekarang?
****
__ADS_1