Secret With Bad Boy

Secret With Bad Boy
Rasa berdebar


__ADS_3

Moment itu terulang kembali, yaitu moment saat Kinanti merasakan sensasi berdebar hebat saat berdiri diatas panggung bersama dua orang lawan olimpiadenya. Mereka berkumpul didalam sebuah aula besar yang menampung banyak orang yang tengah harap-harap cemas menunggu hasil kejuaraan dibacakan.


Jantungnya tidak aman, terus berdebar kencang menunggu pengumuman urutan pemenang olimpiade saat ini. Setelah beberapa cabang olimpiade diumumkan dan sekolah Kinanti belum mendapatkan kemenangan satupun, kini tiba giliran cabang MIPA yang akan memberi kejutan. Kinanti sebenarnya sudah menjadi salah satu juara, yang ia tunggu saat in adalah pengukuhan posisi juara yang akan ia terima.


Dihadapan para siswa dan guru, Kinanti duduk terpaku dengan tegang. Jack yang baru datang segera masuk dan duduk disamping gadis itu. Ia mengacungkan ibu jarinya pada Kinanti sebagai bentuk apresiasinya pada usaha Kinanti yang sampai di tiitk ini. Ditengah kekalutan atas kejadian tadi, juga kenyataan kalau Demian tidak ikut berdiri di depan, keberadaan Kinanti seperti obat luka yang membuatnya bangga.


“Beranjak pada cabang pemenang di cabang berikutnya, Saya akan mengumumkan pemenang olimpiade cabang MIPA." Suara pembawa acara itu terdengar membahana di ruangan yang cukup luas dan menarik perhatian seisi ruangan.


"Diantara ketiga siswa berprestasi yang masuk ke final cabang MIPA, masing-masing akan membawa pulang medali kejuaraan dan tropy juara bergilir untuk juara satu. Kira-kira siapa yang akan membawa pulang tropy bergilir pada kesempatan ini?” pembawa acara seolah sengaja membuat narasi seperti itu untuk membuat seisi ruangan ini semakin tegang.


Masing-masing pendukung meneriakan nama perwakilan sekolah mereka termasuk Jack yang mengangkat tangan Kinanti tinggi-tinggi.


"Kinanti! Kinanti! Kinanti!" serunya dengan semangat.


"Astaga...." Wajah gadis itu sampai bersemu kemerahan seraya terkekeh melihat tingkah gurunya. Hal yang dilakukan Jack cukup membuat Kinanti terhibur dan berhasil mengalihkan rasa tegangnya.


Tangannya sudah dingin dan basah karena diliputi ketegangan yang belum juga berakhir. Ia sudah bersiap dengan hasil yang akan ia terima. Posisi berapapun akan ia terima karena ia sadar, pikirannya yang terpecah oleh kejadian yang menimpa Demian.


“Wah, sepertinya tegang sekali ya. Coba kita beri tepuk tangan dulu untuk calon juara kita.” Pembawa acara berusaha mencairkan suasana. Kinanti ikut bertepuk tangan untuk mengalihkan rasa tegangnya, meski tidak lantas membuatnya lebih tenang. Apa mungkin hanya Jack yang akan mendengar hasil keputusan para juri?


Apa Lukman dan Kala tidak akan datang?


Gadis itu melihat ke pintu dan dua orang yang ia harapkan kedatangannya, belum terlihat sama sekali. Sepertinya mereka tidak akan datang. Sedih, tetapi Kinanti mencoba menerimanya.


“Baik, beberapa saat lagi kita akan melihat urutan juara dari nama yang muncul di layar dan menentukan juara berdasarkan score nilai yang mereka kumpulkan. Harapan kami, siapapun yang kelak akan menjadi juara, semua pihak dapat menerima hasil keputusan kami. Apa sudah siap?” tanya pria tersebut.

__ADS_1


Kinanti hanya menghela napas dalam dan mengangguk perlahan. Ia menunduk dan mengatur napasnya untuk menenangkan diri. Meski sudah sering dalam kondisi seperti ini, namun tidak lantas membuatnya terbiasa.


Tiga nama muncul di layar dan sedang diacak secara system berdasarkan peraih nilai tertinggi. Pengacakan itu membuat suasana semakin tegang. Beberapa kali Kinanti menghembuskan napasnya kasar untuk menenangkan perasaannya.


“Kita Bersiap, pemenang olimpiade science ke empat puluh dua cabang MIPA, dimenangkan oleh….” Pembaca acara itu menggantung kalimatnya menunggu hasil juara muncul dilayar. Kinanti mengeratkan genggaman tangannya erat-erat. Jantungnya seperti mau pecah.


“Selamat, Juara tiga, Galih Susilo. Juara dua, Febriana Salam dan Juara pertama, Kinanti Amelia!” seru pembawa acara dengan suara menggema didalam ruang aula yang luas tersebut.


Seisi ruangan bertepuk tangan dan Kinanti masih dengan wajah tidak percayanya mendengar hasil pengumuman.


"Kinan, kamu juara satu!" tanpa sadar Jack langsung merangkul gadis itu. Kinanti masih terdiam karena masih sangat kaget. Ia melihat Jack mengacungkan jempolnya pada Kinanti dan Kinanti hanya bisa membekap mulutnya yang nyaris mengeluarkan tangis haru. Matanya berkaca-kaca dengan rasa bangga yang menyeruak.


Apa hanya ia dan Jack yang akan menikmati kemenangan ini?


****


“Kinanti Amelia! Selamat!!” nama itu yang membuat kekuatan Lukman seolah datang begitu saja. Saat tiba di pintu aula, ia melihat putrinya sedang dikalungi medali. Kakinya mendadak lemah hingga ia harus berpegangan pada Kala. Penglihatannya samar tertutupi rinai air mata haru yang menetes begitu saja.


Jack yang melihat kedatangan Lukman, segera menghampiri laki-laki paruh baya itu. “Selamat Pak, putri Anda menjadi juara pertama,” ucap Jack seraya mengulurkan tangannya pada Lukman.


Serta merta Lukman menjabat tangan itu lalu memeluk Jack dengan erat. Ia tidak bisa berkata-kata, hanya air matanya saja yang menetes dikedua sudut mata yang keriput. Ia berdiri dengan penuh kebanggan saat melihat sang putri juga menerima tropy besar yang hampir setinggi tubuhnya.


Lihat tawanya yang lebar dan ceria. Lukman bertepuk tangan lirih sambil mengusap kasar air matanya dengan punggung tangannya yang mulai kisut. Ia memandangi sang putri yang berdiri tegak didepan sana dan memberinya kebanggaan padanya untuk kesekian kalinya.


Rasa haru dan menyeruak itu juga dirasakan Kala. Ia tersenyum lega saat melihat Kinanti yang menatap ke arahnya dan Lukman dengan penuh keterkejutan. Sepertinya ia baru sadar kalau Lukman dan Kala baru datang di waktu yang tepat.

__ADS_1


“Maafin Ayah karena gak nemenin Kinan di waktu yang begitu menegangkan, Nak. Ayah hanya mengecap rasa manis buah perjuangan Kinan, tapi Ayah tidak menemani Kinan di saat Kinan butuh dukungan.”


Lukman berbicara dalam hatinya. Terlihat sekali kalau ia sangat menyesal karena melewatkan waktu untuk menemani Kinanti melewati masa sulitnya. Tetapi lihatlah, gadis itu bisa berdiri tegak sendiri dengan banyak kebanggan yang mengelilinginya. Lukman sungguh sangat bersyukur.


“Silakan para pendamping bisa maju ke depan, untuk berfoto bersama.” Sang pembawa acara mempersilakan para pendamping untuk maju.


“Silakan, bapak yang menemani Kinanti.” Dengan segala kerendahan hati Jack mempersilakan Lukman untuk maju.


Laki-laki itupun menurut saja. Dengan langkahnya yang sedikit gontai, ia berjalan naik ke atas panggung untuk menghampiri Kinanti. Kinanti segera menyambut sang ayah yang ia pikir sangat gemetaran karena gugup. Andai Kinanti tahu, sulitnya untuk Lukman melangkah karena efek chemoteraphy yang belum sepenuhnya hilang. Ia masih berusaha menahan sakit yang menggerogoti tubuhnya dan tetap berusaha bertahan untuk putrinya.


“Sebelah sini, Ayah.” Kinanti membawa Lukman berdiri disampingnya. Banyak moment yang diabadikan dan dipenuhi dengan rasa bangga. Jack sampai ikut terharu melihat interaksi kedekatan ayah dan anak itu.


Laki-laki itu tidak bisa berkata-kata saat ketua panitia menggenggam tangannya dan mengucapkan selamat. Sungguh tidak ada kata-kata yang mampu mewakili perasaannya saat ini.


Lukman mengecup pucuk kepala Kinanti dengan sayang lalu memeluknya dengan erat. Ada Kala yang dengan setia mengabadikan moment mengharukan itu. Ia berkata dalam hatinya, andai ia memiliki ayah sehebat Lukman. Ia masih mengingat bagaimana pria itu melawan rasa sakitnya selama dalam perjalanan demi bisa tiba tepat waktu.


Dari tempatnya Kinanti juga memandangi Kala seraya mengucap terima kasih. Kala tersenyum bangga. Cepat-cepat Kala menghampiri gadis itu, saat Kinanti melambaikan tangannya.


Mereka mengambil beberapa foto diatas panggung bersama Lukman dan tentu saja Kala. Sementara Jack dengan setia mengambilkan beberapa gambar.


Salah satu gambar yang begitu menarik bagi Kinanti adalah, saat ia berdiri di antara Kala dan Lukman dengan kedua tangannya yang dilingkarkan di lengan dua laki-laki itu. Kala memegangi tropy dan Lukman menunjukan medali Kinanti. Mereka tersenyum lebar merayakan kemenangan Kinanti.


Akankah kebahagiaan dan kebanggan ini berlangsung lama?


****

__ADS_1


__ADS_2