
Selesai acara di aula sekolah, Kinanti menyempatkan untuk menemui Yudhistira yang sedang berjalan menuju mobilnya, hendak kembali ke kantor. Langkah kecil Kinanti, ia buat cepat untuk mengimbangi langkah panjang pria gagah itu.
“Permisi Om,” sapa Kinanti saat sudah berhasil menyusul Yudhistira dan assistant-nya.
“Ya,” laki-laki itu menghentikan langkahnya beberapa saat. “Ada apa?” ia melepas kacamata hitamnya sebelum berbicara lebih jauh dengan Kinanti.
“Mohon maaf, Om sebelumnya, saya menemui Om secara pribadi,” ujar Kinanti dengan sopan.
“Tidak apa-apa. Ada masalah apa?” Laki-laki itu memandangi Kinanti dengan serius. Dalam hati Kinanti, ia seperti berhadapan dengan sosok Kala dua puluh tahun ke depan.
“Em, ini Om. Saya mau menanyakan kondisi Demian. Bagaimana kabarnya, Om?” Kinanti sengaja bertanya langsung selagi ada kesempatan, karena kalau ke rumah sakit, belum tentu ia diizinkan bertemu dengan Demian.
“Demian sudah diperbolehkan pulang. Dia sudah ada di rumah dan sedang menjalani masa pemulihan dari traumanya. Untuk satu minggu ini mungkin dia tidak saya izinkan ke sekolah dulu, sebelum pelaku penyerangannya tertangkap,” terang Yudhistira dengan penuh kecemasan.
“Oh iya Om. Saya turut menyesal mendengarnya. Semoga Demi segera pulih dan pelakunya bisa segera tertangkap ya Om.” Kinanti berujar dengan sungguh-sungguh.
“Iya, kamu juga jaga diri baik-baik. Jangan bepergian sendirian, apalagi ke tempat yang sepi. Orang-orang semakin gila dan tanpa merasa bersalah melukai orang lain. Sesekali, mainlah ke rumah, Om yakin Demian akan senang kalau temannya datang menjenguk,” pesan Yudhistira.
Ia ingat persis bagaimana Demian yang meminta izin dengan sungguh untuk mendekati seorang gadis bernama Kinanti ini. Dan sepertinya ia tidak masalah kalau Demian dekat dengan Kinanti. Gadis ini sopan, baik dan pintar. Benar yang Riko teriakan saat ia dipodium tadi, kalau Kinanti calon menantu idaman.
“Terima kasih Om atas perhatian dan izinnya. Salam untuk Demian, semoga lekas pulih dan bisa kembali ke sekolah,” timpal Kinanti seraya mengangguk sopan.
__ADS_1
“Iya, nanti saya sampaikan. Saya permisi dulu.”
“Iya Om, hati-hati di jalan.”
Tidak berselang lama, Yudhistira pun naik ke mobilnya dan berangkat menuju kantor. Tinggal Kinanti yang masih mematung sambil memikirkan kondisi Demian yang menurutnya sangat mengkhawatirkan. Teman sekelasnya itu pasti sangat trauma dengan apa yang menimpanya.
Tanpa Kinanti sadari, empat orang memperhatikan ia dari kejauhan. Adalah Frea dan teman-temannya yang melihat Kinanti berbicara dengan Yudhistira.
“Apa gue bilang, tuh anak cupu mulai berani tebar pesona. Pake ngajak nngobrol bokap Kala segala. Sok kecakepan emang, padahal cuma modal menang olimpiade doang. Itu juga dapet pujiannya paling setahun sekali, gak setiap hari. Gak kayak kita, karena kita popular, kita dipuja tiap hari. Tapi gila ya, dia lebih besar kepala dari kita,” ujar Emili dengan rasa tidak suka yang menggebu-gebu.
Frea yang memperhatikan Kinanti pun sepakat dengan apa yang dikatakan sahabatnya.
Frea tersenyum sinis. “Sebenernya sih gue gak rugi juga kalaupun di Kinanti deketin om Yudhistira. Toh udah jelas kok kalau yang om Yudhistira dukung itu hubungan Kinanti sama Demian, bukan sama Kala. Tapi, kalau kalian gatel pengen ngasih pelajaran, kenapa nggak?” Frea menghampiri Kinanti dan menghadang jalannya. Ia bersidekap dengan angkuh dan menatap Kinanti dengan sinis.
“Udah, cari mukanya?” tanya Frea seraya mendorong bahu Kinanti hingga mundur satu langkah.
“Maksud kamu?” Kinanti mengernyitkan dahinya tidak mengerti.
“Halah, lo pasti tau maksud gue. Gak usah sok polos deh, pake nanya, 'maksud kamu?' Sok penting banget sih lo!” Frea hendak mentoyor kepala Kinanti, tetapi dengan segera Kinanti menghindar dan menepis tangan Frea. Ia tidak akan mengizinkan siapapun menyentuh kepalanya dan merendahkannya sekalipun orang tersebut lebih memiliki segalanya dibanding apa yang Kinanti punya.
“Kamu sebenarnya apa kabar Frea?” Kinanti bertanya dengan tenang. Raut wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun termasuk ekspresi takut.
__ADS_1
“Ngapain lo nanya kabar Frea? Sok peduli banget sih lo!” Emili yang menimpali.
Kinanti tidak bergeming, masih dengan sikapnya yang semula, tenang. “Ya, mungkin aja perasaannya lagi gak nyaman, makanya gangguin aku. Tapi biar aku kasih tau, kalau kamu lagi ngerasa gak nyaman, gak ada gunanya gangguin aku. Rasa gak nyaman kamu gak akan hilang hanya dengan mengganguku,” ujar Kinanti dengan apa adanya.
“Pake ceramah lagi lo! Sok suci lo! Sok tau!” Emili mengatai Kinanti dengan puas dan Kinanti memilih untuk tidak terpancing. Ia membiarkan mereka mengatakan apapun yang ingin mereka katakan, karena itu tidak penting untuk Kinanti.
Hal berbeda ditunjukkan oleh Frea. Ia memandangi Kinanti yang tadi menanyakan kabarnya. Entah apa yang ada dipikiran gadis itu dan sekarang pertanyaan itu membuat Frea tidak bisa berkata-kata dan gelisah.
“Terserah kamu mau bilang apa. Aku cuma bisa menyimpulkan, kalau yang dikatakan orang-orang tentang kalian itu sepertinya memang benar.” Lagi, Kinanti menimpali dengan tenang.
“Yang dikatakan orang-orang? Emang orang-orang bilang apa soal genk gue, hah?” Emili terpancing.
Kinanti memilih untuk tidak menjawab, ia membiarkan Emili bertanya-tanya sendiri. Ia berlalu pergi menuju kelas karena jam pelajaran akan segera dimulai.
“Orang-orang ngomong apa soal genk kita hah? Soal apa?” Emili panik sendiri. Sepertinya serangan mental Kinanti berhasil.
“Ya mana gue tau. Siswa disekolah ini kan banyak. Masa kita harus tanyain satu-satu apa yang mereka omongin tentang kita? Yang ada kita malah di ledek. Kesannya penting banget pendapat mereka soal kita. Gak akh, gue males, mending diem dulu aja,” timpal satu teman Frea lainnya. Sepertinya trick Kinanti berhasil untuk membuat para gadis itu berpikir ulang tentang apa yang mereka lakukan.
Frea tetap tidak menanggapi dan hanya memandangi Kinanti yang berjalan pergi meninggalkannya. Apa sebenarnya yang ada dipikiran gadis itu? Kenapa dia terlalu tenang?
****
__ADS_1