
“Kal, baru pulang?” tanya Bertha saat melihat putranya yang baru pulang. Ia menepuk tempat di sampingnya sebagai isyarat agar Kala duduk didekatnya.
“Malem, Mah.” Kala menghampiri Bertha dan mengecup dahi ibunya sebelum duduk disamping Bertha.
“Iya. Aku habis ngerjain tugas bareng temen.” Kala menjawab dengan seadanya. Ia memang baru pulang dari rumah Kinanti dan mengerjakan tugas karena materi itu sangat sulit untuk ia pahami.
“Dari rumah Riko?” Bertha bertanya dengan penasaran. Ia sengaja menyebut nama teman lama Kala sebagai pancingan.
“Bukan. Dari rumah Kinanti.” Ada senyum yang terukir saat Kala menyebut nama itu.
“Kinanti? Kok Mamah baru denger nama itu? Cantik. Kayak gimana orangnya?” Bertha semakin penasaran. Baru kali ini Kala menyebut nama seorang gadis dengan mata berbinar seperti itu.
Kala tersenyum kecil lantas mengusap wajahnya. Menyebut nama Kinanti memang selalu otomatis memunculkan bayangan wajah gadis yang seharian ini banyak ia pandangi. Banyak hal yang ingin ia ungkapkan tapi ada satu hal yang selalu menahannya. Kinanti mulai membuatnya resah.
“Sepertinya sangat special. Mamah kepo nih. Kasih tau dong.” Bertha mengusap punggung sang putra yang sangat tegang. Sepertinya ia sedang berpikir keras, membuat putusan apa harus mengenalkan Kinanti atau tidak pada wanita disampingnya.
“Dia anak baru, Mah. Yaa, anaknya pinter. Pemikirannya dewasa. Dia juga menyenangkan untuk diajak berbicara. Terus, apa lagi ya?” Kala kehabisan kata-kata untuk menggambarkan sosok Kinanti.
“Apa lagi dong? Kan Mamah juga gak tau.” Bertha kembali memancing putranya. Setelah sekian lama, baru kali ini Kala mau berbicara panjang dengannya. Membahas hal lain selain kekecewaannya pada sang ayah.
“Dia suka bikin ekspresi gini.” Kala mengecurutkan bibirnya dan matanya yang mendelik ke atas.
“Hahahahha? Apa iya?” Bertha sampai tertawa melihat ekspresi wajah anaknya.
“Tuh kan, Mamah aja ketawa, apalagi aku yang liat dia tiap hari.” Kala jadi cengengesan tidak jelas.
“Okey, apalagi yang bikin dia unik?” Bertha semakin tertarik dengan sosok yang membuat putranya kembali. Putra yang dulu sangat ceria dan energik dan berubah menjadi bad boy karena perpisahannya dengan sang suami.
“Dia random. Hobynya baca, sering bikin Kala sakit kepala denger ocehan dia. Tapi kalo dia gak ngoceh juga, kayaknya sepiiii, gitu. Dia juga gak bisa niup permen karet, Mah. Pernah suatu hari dia sok-soak jajan permen karet. Dia coba tiup, tapi gak berhasil dan malah ketelen. Mukanya sampe merah gara-gara panik takut permen karet mengembang di perutnya. Dia sampai minum obat pencahar supaya permennya ceper keluar. Kacau emang itu si Kinan.” Kala tersenyum gemas sendiri mengingat kejadian itu, tetapi kemudian sedikit melamun, membayangkan sosok Kinanti.
“Yaa, sisi baiknya sih dia bisa masak, masakannya lumayan enak. Hoby banget sarapan pake roti. Favoritnya selai strawberry. Padahal asem kan ya, Mah.” Sampai kalimat ini Kala menoleh Bertha yang menyimak benar ocehannya.
“Mamah, ngapain nanya-nanya soal Kinan?” baru kali ini Kala sadar dengan yang dilakukannya.
“Ya, penasaran aja. Mamah pengen tau, siapa yang bikin kamu jadi kayak gini.” Bertha mengusap kepala putranya dengan sayang.
“Mau dong, Mamah liat fotonya.” Penasaran Bertha semakin bertambah.
“Gak usah lah. Gak enak diliat kok, gak cantik.” Kala mengelak.
“Ya gak apa-apa. Mamah kan pengen tau, siapa tau nanti ketemu di jalan. Kan Mamah bisa nyapa; ‘eehh, temennya Kala ya?’ gitu Kal.” Bertha memberi contoh.
Kala tidak menimpali, hanya tersenyum saja sambil mengeluarkan ponselnya. Ia mencari fotonya dengan Kinanti saat berada di rooftop.
“Nih. Ekspresi dia kayak gini.” Kala menunjukkan foto Kinanti yang berekspresi seperti yang ia contohkan tadi.
__ADS_1
“Hahaha... Unik. Ada yang lain?” Bertha ketagihan.
“Ini.” Kala menunjukkan foto Kinanti saat sedang belajar. Juga foto mereka berdua yang tertawa riang.
“Cantik,” komentar Bertha.
“Akh, mata Mamah udah rabun. Udah akh, Kala mau mandi.” Kala memilih beranjak. Ia tidak mau semakin banyak yang ia ceritakan tentang Kinanti.
“Hey, belum selesai loh ceritanya!” panggil Bertha menggoda sang putra.
“Udah, gak ada cerita-cerita. Kinanti ngebosenin kok. Temenannya sama buku doang. Dah lah, Kala mau mandi.”
“Dih, tumben mandi,” ledek Bertha.
Kala hanya tertawa sambil melambaikan tangannya pada Bertha beberapa saat sebelum ia naik tangga menuju kamarnya.
“Kinanti, nama yang cantik. Terima kasih, Nak,” gumam Bertha seraya membayangkan sosok yang banyak mengubah putranya. Ralat, mengembalikan sosok putranya.
****
Di kamarnya Kinanti masih mengerjakan tugas essay. Ia membuat konsep essay yang harus dikumpulkan untuk seleksi penerima beasiswa. Satu ide mulai terkumpul dan ia mulai semangat menuangkan idenya.
"Okey, tinggal referensinya aja yang ditambah. Udah gitu bikin paparan singkat sama contoh kasus. Selesai deh." Kinanti bergumam sendiri dengan kertas dan ballpointnya.
"Anak Ayah kayaknya lagi sibuk ya?" Lukman bertanya dengan penasaran. Ia sengaja datang ke kamar Kinanti karena sudah lama tidak melihat putrinya belajar.
"Emang Ayah gak ganggu nih?" Ragu-ragu Lukman masuk ke kamar Kinanti.
"Nggak dong. Justru Kinan senang Ayah ke sini. Soalnya Kinan butuh diskusi sama Ayah."
"Diskusi apa sama Ayah? Soal pelajaran jaman sekarang, Ayah banyak gak ngerti. Jaman Ayah pelajarannya gak sesulit sekarang. Apalagi Ayah cuma lulusan sekolah di daerah." Lukman duduk ditepian tempat tidur Kinanti.
"Ini gak ada hubungannya sama materi pelajaran sekolah. Tapi hubungannya sama masa depan Kinan."
"Oh ya? Apa yang bisa Ayah bantu?"
Kinanti mengeluarkan sebuah amplop dari dalam tasnya dan menunjuk isi amplop itu pada Lukman.
"Ayah inget kan waktu Kinan ngirim voice note dan bilang dapet tawaran beasiswa dari yayasan?"
"Inget. Emang kenapa?"
"Jadi gini Yah, untuk test beasiswa yayasan itu Kinan diminta bikin essay atau artikel gitu sesuai dengan jurusan pendidikan yang nanti akan Kinan ambil. Diminta tiga essay untuk tiga jurusan yang berbeda. Tadinya Kinan mau bikin ketiganya tapi setelah dipikir-pikir mending Kinan bikin satu essay tapi maksimal dibanding bikin banyak tapi kurang maksimal."
"Berdasarkan pengalaman hari ini, Kinan semakin yakin untuk bikin essay atau artikel kedokteran dengan materi tentang penyakit kanker. Gimana menurut Ayah?" Kinanti begitu bersungguh-sungguh hingga membuat Lukman terhenyak mendengar ucapan Kinanti.
__ADS_1
"Kinan mau jadi dokter?" Lukman bertanya dengan perasaan yang entah. Antara senang, sedih dan haru.
"Iya Ayah, itu keputusan Kinan saat ini." Kinanti menjawab dengan penuh keyakinan.
lukman tersenyum kelu. Untuk beberapa saat ia tidak bisa berkata-kata. Ia hanya memandangi Kinanti dengan lekat.
"Gimana menurut Ayah?" Kinanti yang tidak sabar, mengulang pertanyaannya.
"Kenapa Kinan mau jadi dokter?" suara Lukman terdengar gamang.
"Kinan ingin bisa membantu banyak orang. Kinan kasian liat para pasien yang mengantri untuk diperiksa. Kinan baca di artikel online, salah satu alasannya karena jumlah dokter yang belum banyak terutama dokter spesialis tertentu. Satu dokter bisa praktek di banyak rumah sakit."
"Gak kebayang kan Ayah segimana hecticnya? Sementara namanya pasien kan butuh pertolongan cepat. Beberapa di antara mereka mungkin gak bisa nunggu terlalu lama. Ya siapa tau, dengan Kinan menjadi bagian dari tim medis itu, Kinan bisa membantu banyak orang yang membutuhkan. Gimana menurut Ayah?"
Bukannya menjawab, Lukman malah memilih memeluk putrinya. memeluknya dengan erat dan penuh rasa haru. Andai tidak ingat kalau ia tidak boleh menunjukkan perasaannya, mungkin ia sudah menangis sesegukan dihadapan Kinanti. Tetapi ia masih berusaha menahan diri.
"Niat Kinan sangat tulus, Ayah bangga dan mendukung pilihan Kinan." Kalimat itu yang kemudian diucapkan Lukman. Ia melerai pelukannya dari Kinanti lalu menepuk bahu Kinanti dengan bangga.
"Bener Ayah dukung pilihan Kinan?" Mata Kinanti membulat penuh semangat.
"Ya." Lukman mengangguk dengan pasti.
"Makasih Ayah." Kinanti tampak begitu antusias.
"Ayah yang seharusnya berterima kasih karena Kinan begitu dewasa dalam berpikir. Ayah bangga sama Kinan." Lukman mengecup kepala Kinanti dengan sayang.
Kinanti tersenyum lega, ia memeluk Lukman dengan penuh kasih.
"Tapi Ayah, Kinan masih perlu bantuan Ayah." Kinanti teringat kembali niatnya.
"Okey, apa yang bisa Ayah bantu?"
"Em, gini Ayah, Kinan kan ngambil materi tentang kanker, bisa gak Ayah bantu Kinan supaya bisa berkomunikasi sama om Seno? Kinan perlu sharing pengalaman sama om Seno."
Lukman tersenyum kecil, ia paham benar maksud putrinya.
"Om Seno diharuskan banyak istirahat oleh dokter, sepertinya tidak memungkinkan kalau Kinan nanya-nanya beliau. Biar Ayah yang jawab pertanyaan Kinan, karena Ayah tahu persis apa yang dialami om Seno selama ini. Gimana?"
"Ide yang bagus Ayah. Kalau gitu, Kinan wawancara Ayah aja ya. Oleh sekarang? Atau Ayah udah capek?" Kinanti begitu semangat membuat Lukman menangis dalam hati.
Lukman hanya mengangguk mengiyakan ajakan Kinanti. Anggap saja ia sedamg curhat pada putrinya, menceritakan semuanya seolah pengalaman Seno, padahal ia sendiri yang mengalami.
Wawancara pun dimulai. Kinanti memberi pertanyaan dan Lukman dengan setia menjawab seolah ia paling paham perasaan dan kondisi yang dirasakan Lukman.
Sering kali Lukman mendengar Kinanti berkata, "Kasian om Seno," dengan matanya yang berkaca-kaca. Hati Lukman seperti hancur. Andai Kinanti tahu bahwa yang diceritakan adalah pengalaman ayahnya, akankah ia sanggup meneruskan pertanyaannya?
__ADS_1
*****