
Suasana sedikit canggung sesaat setelah pelukan keduanya terlepas. Baik Kala maupun Kinanti, menunjukkan wajahnya yang memerah dan tidak berani bertatapan secara langsung.
“Sorry,” Kala menyatakan permintaan maafnya atas refleksnya yang tidak terkendali. Tapi hal itu tidak lantas menghapus rasa canggung sepasang sejoli ini.
Kecanggungan itu masih terbawa hingga Kinanti dan Kala tiba di rumah.
“Mau minum hangat?” tawar Kinanti yang tidak berani menatap wajah Kala yang persis berada di hadapannya dan sedang melepas helmnya.
“Boleh,” sahut Kala yang menatap sepasang mata bening dan wajah yang kemerahan itu. Ia sedikit lama melepas helm Kinanti agar bisa lebih lama memandang wajah cantik Kinanti.
“Duduklah, nanti aku buatkan.” Kinanti segera berpaling, sesaat setelah Kala berhasil melepas helmnya.
“Iya,” Kala tersenyum tertahan. Dadanya masih membuncah.
“Hah, sial! Dada gue berasa mau meledak,” gumam kala seraya mengusap dadanya yang berdebar kencang. Ia memandangi Kinanti yang masuk ke rumah dan meninggalkannya sendirian di teras.
Ia memilih duduk di kursi yang ada di teras sambil berusaha menenangkan dirinya dan gejolak di dadanya. Kakinya bergerak-gerak dengan sendirinya, seolah sedang menikmati alunan masuk yang melintas di pikirannya. Mungkin sebuah lagu cinta yang ada dipikirannya.
Tidak lama, Kinanti kembali ke hadapannya dengan dua cangkir minuman hangat. Satu ia berikan pada Kala.
“Minumlah, biar gak masuk angin,” tawar kinanti.
__ADS_1
“Makasih.” Dengan senang hati Kala menerimanya.
Ia menyeruput minuman itu tanpa mengalihkan padangannya dari Kinanti. Sementara Kinanti lebih memilih melihat ke arah lain. Jantungnya tidak aman kalau berpandangan seperti ini dengan Kala. Waktunya seperti berhenti dan rasa berdebar itu semakin sulit untuk ia kendalikan.
“Kal,” panggil Kinanti ragu.
“Hem?” Lihat, laki-laki itu menoleh dengan cepat dan tatapannya yang teramat tajam, penuh perhatian. Jantung Kinanti seperti dihujani banyak anak panah.
“Aku boleh nanya?” sambil memalingkan wajah lalu menunduk, ia bertanya.
“Aku dengan senang hati akan menjawab,” sahut Kala.
Kinanti mengangguk. Dengan segenap keberanian, ia memutuskan untuk bertanya.
Kala tidak lantas menjawab, ia berusaha mengingat apa yang terjadi satu tahun lalu. Ingatan akan kesedihan dan kemarahan pun muncul di dada dan pikirannya.
“Karena sebuah kesalahan,” sahut Kala, memulai kalimatnya.
Kinanti menoleh dan menatap Kala dengan bingung.
“Maksud kamu?”
__ADS_1
Kala menghela nafasnya dalam lalu menghembuskannya perlahan. Sepertinya memang tidak ada yang perlu ia tutupi lagi dari Kinanti.
“Orang tuaku berpisah satu tahun lalu. Mereka membuat sebuah keputusan yang menurutku sangat mengecewakan. Berpisah karena orang ketiga, brengsek bukan?” Kala bertanya pada Kinanti. Pertanyaan yang tidak ia perlu dengar jawabannya.
“Aku marah sama keputusan mereka. Aku banyak bertingkah untuk mengekspresikan kekesalanku. Aku juga sering bertengkar dengan mantan suami mamahku hingga aku dianggap sebagai anak yang tidak tahu diri. Padahal, siapa yang tidak tahu diri? Bukankah dia yang memberi contoh tidak pantas pada anaknya?” Ucapan Kala terdengar sarkas. Kinanti bisa melihat kilatan kemarahan dari sepasang mata elang itu.
“Laki-laki itu tidak hanya menghancurkan impianku tentang sebuah keluarga yang bahagia. Dia juga menghilangkan rasa hormat dan kepercayaanku terhadapnya. Dia juga sudah menghilangkan orang-orang yang harusnya masih menemaniku. Dia merusak banyak hal dalam hidupku.” Nafas Kala terdengar berat dan Kinanti bisa merasakan itu.
“Sampai di puncak kemarahanku, aku sering ikut balapan liar. Hampir setiap malam aku balapan. Aku juga menjadi rival dari ketua genk motor yang tadi menghadang kita. Dan satu hal naas yang tidak aku duga, ketua genk motor sebelumnya meninggal karena kecelakaan saat bertanding denganku.”
“Menurut mereka, akulah penyebab kematian ketua genk mereka. Hingga akhirnya mereka membenci dan memusuhiku.” Kala tertunduk lesu. Kalau mengingat bagaimana ia melihat pria itu bersimpah darah di jalanan setelah menabrak pembatas jalan, rasanya sangat mengerikan.
Kinnati tidak berani berkomentar. Ia membiarkan Kala dengan rasa sesal yang ia rasakan. Mungkin saat ini Kala hanya butuh di dengarkan. Bukan solusi apalagi sebuah penghakiman.
“Sebrengsek itu hidupku Kinan." Kala menatap Kinanti dengan nanar.
"Aku tidak akan memaksamu menemaniku, tapi aku berharap, kamu tidak akan pernah meninggalkanku.” Kala berucap lirih. Ia menatap Kinanti yang ada di hadapannya. Gadis itu memandanginya dengan perasaan yang entah.
Kala memberanikan diri untuk menyentuh tangan Kinanti, mempertemukan kelingkingnya dengan kelingking Kinanti. Usapan halu antar permukaan kulit itu membuat jantung Kala seperti berhenti memompa. Kinanti tidak menolak, membuat Kala genggam dengan erat tangan itu. Rasanya sangat hangat dan menenangkan. Semangatnya seperti kembali terkumpul hanya karena melihat sepasang mata yang selalu menatapnya dengan penuh perhatian.
“Aku gak akan kemana-mana,” timpal Kinanti. Ia tidak hanya berjanji pada Kala tapi juga pada dirinya sendiri.
__ADS_1
****