Secret With Bad Boy

Secret With Bad Boy
Ketidaksukaan


__ADS_3

Sebuah komunitas pecinta basket, saat ini tengah melakukan sesi latihan di lapangan luas milik sekolah bertaraf internasional ini. Mereka terbagi ke dalam dua tim yang saling berhadapan untuk melakukan uji kekuatan dan skill dari masing-masing pemain. Walau tidak ada pertandingan resmi, tapi permainan mereka benar-benar diawasi ketat oleh sang pelatih.


Di extrakulikuler ini, Kala dan Riko tergabung. Keterampilan mereka untuk memainkan salah satu cabang olahraga yang menggunakan bola bundar itu, memang sangat mumpuni. Kala bertindak sebagai point guard di timnya, ia bertugas sebagai playmaker atau pemain yang mengatur serangan dalam timnya. Kemampuan Kala dalam permainan bola basket memang sangat mumpuni khususnya dalam hal mengoper dan mengontrol bola. Juga tehnik penyerangannya yang terkonsep. Tembakannya tidak pernah meleset. Meski demikian, ia tetap memerlukan rekan satu timnya.


Salah satunya adalah Riko. Remaja ini berperan sebagai centre, dengan tugas utama sebagai pencetak poin dari jarak dekat. Selain itu ia juga ditugaskan untuk melakukan rebound. Hal ini sangat didukung oleh postur tubuhnya yang tinggi menjulang.


Meski bukan sebuah pertandingan, para gadis antusias berkumpul di pinggir lapangan untuk memberi semangat. Pesona para pemain basket ini memang menarik perhatian mereka, hingga sering kali para gadis muda itu berteriak kencang memanggil nama pemain yang ingin ia beri semangat.


“Shoot, Ko!” seru pelatih basket sesaat setelah Kala mengoper bola pada Riko. Riko segera mendrible bola mendekat pada ring lalu melempar bola dengan jarak yang cukup dekat sambil melompat.


“Good!” seru pelatih. Bola pun masuk ke dalam keranjang.


Kala menyambut sahabatnya dengan ajakan tos untuk menyemangati satu sama lain. Mereka berangkulan untuk merayakan keberhasilan permainan mereka.


“Akh gilaa, Riko keren banget anjir. Dia keliatan ganteng banget kalo lagi maen basket.” Komentar itu keluar dari bibir bergincu merah muda milik Emili, sahabat Frea. Mereka ikut menyaksikan sesi latihan teman-teman pemain basket.


“Inget, lo punya pacar. Masa masih muji-muji si Riko!” timpal satu sahabat Frea lainnya.

__ADS_1


“Kalau liat Riko kayak begini, kadang gue mikir apa gue putusin aja yaa pacar gue, terus gue jadian sama Riko?” Emili tampak termenung dalam. Sosok Riko yang tinggi menjulang dengan kulitnya yang kecoklatan, terlihat jantan dalam balutan jersey tim berwarna merah, membuat jantung gadis itu tidak aman.


“Kalau bisa dua-duanya, kenapa harus milih salah satu, iya gak Frea?” goda teman Frea lainnya.


Pandangan merekapun tertuju pada Frea yang sedang terduduk tegak sambil bersidekap. Ia tidak merespon, hanya tersenyum kecil saja memandangi Kala yang menurutnya terlihat sangat keren saat berkeringat seperti itu. Head band yang melingkar di kepalanya, membuat remaja itu terlihat sangat tampan.


“Ekhm! Ada yang makin jatuh cinta nih kayaknya liat ayang Kala?” ledek seorang sahabat Frea yang menyenggol lengan Frea dengan sengaja.


“Hah, gimana?” Frea terhenyak kaget sampai celingukan bingung.


“Gimana apanya? Tolong kondisikan itu mata sama bibir. Dua-duanya kompak nunjukin cinta buat Kala.” Emili mencolek hidung bangir Frea.


“Iya lah, calon nyonya Kala. Mana mungkin gak cinta sama dia.” Frea menyunggingkan senyum tipisnya yang menarik.


“Cieeeee….” Ketiga sahabatnya kompak menggoda dan Frea hanya senyum-senyum saja dipenuhi bunga cinta disekitarnya.


Suara peluit panjang terdengar nyaring sebagai tanda berakhirnya sesi latihan. Frea segera beranjak dari tempatnya, membawa botol minum miliknya mendekat ke garis lapangan untuk menyambut Kala yang berlari menepi.

__ADS_1


Frea menyambut Kala dengan senang hati. Ia menyodorkan botol minumnya saat Kala tepat berada di depan matanya. “Minum, Kal,” tawar gadis itu.


Mata elang Kala hanya menatap sekilas tangan Frea yang terulur lengkap. “No, thanks!” sahut Kala yang kemudian ia pergi begitu saja. Ia memilih menghampiri Kinanti yang duduk di kursi penonton.


“Brengsek!” Frea mendengkus kesal saat ia melihat Kala malah mengambil botol minum yang disodorkan oleh Kinanti. Menyebalkan sekali menurutnya.


“Sok cantik banget itu si cupu!” Emili berkomentar sambil menghampiri Frea. Ia berdiri di samping Frea yang sedang menatap tidak suka pada gadis yang sedang digoda oleh Kala dengan mencolekkan keringat asamnya ke hidung Kinanti.


“Isshh Kala! Bau matahari tau!” Kinanti menutup hidungnya dengan punggung tangan tapi Kala malah meraih tengkuk Kinanti dan mendekatkannya ke tubuhnya agar Kinanti mencium bau tubuhnya yang berkeringat.


“Gak mau!!!” Kinanti memukul-mukul dada Kala dan remaja itu hanya tergelak saja. Tawanya terdengar begitu renyah hingga Frea kaget sendiri mendengar suara Kala yang belum pernah di dengarnya.


“Sialan! Liat aja nanti, gue bikin perhitungan sama tuh cewek kampung!” kekesalan Frea berbuah ancaman yang tidak mungkin tidak ia lakukan. Ia membuang botol minum di tangannya begitu saja sebelum kemudian pergi dari hadapan teman-temannya.


“Feee….” Panggil Emili yang segera menyusul Frea tapi Frea tetap meneruskan langkahnya.


"Jangan ikuti gue!" serunya. Sungguh, ia sangat kesal lagi-lagi ia kalah dari Kinanti yang lebih bisa mengambil perhatian Kala.

__ADS_1


Apa lebihnya coba, gadis itu di mata Kala? Hanya perempuan biasa saja kan?


****


__ADS_2