
Di Perpustakaan saat ini Kinanti dan Demian berada. Kinanti masih fokus dengan buku bacaannya sementara Demian masih asyik memandangi wajah Kinanti yang membuatnya betah berlama-lama melihat wajah putih dan sedikit bersemu kemerahan itu.
Matanya yang berkedip pelan seolah memberi keteduhan pada siapapun yang memandanginya. Lihat bulu matanya yang lentik dan bola matanya yang putih penuh semangat. Juga bibirnya yang bergumam lucu, membaca beberapa bagian yang menurutnya perlu pemahaman mendalam.
Semua terlalu menarik untuk Demian. Itulah alasan mengapa ia meminta izin pada Yudhistira untuk memiliki kekasih saat sedang sekolah dan gadis pilihannya itu adalah Kinanti.
“Kamu yakin mau ngedekatin gadis seperti itu? Kamu lupa gimana cerita Frea soal nakalnya gadis itu?” kalimat penolakan itu didengar Demian dari mulut Yudhistira.
Namun Demian tidak menyurutkan niatnya. Ia punya sejuta pembelaan untuk gadis yang ia sukai. “Kinanti sebenarnya bukan gadis yang nakal Pah. Papah denger sendiri kan dari Mr Jack kalau dia gadis yang pintar? Sekarang aja dia mau ikut olimpiade sama Demi.” Demian memberikan pembelaan.
“Jadi maksdumu ucapan anak om Atla itu bohong?” Frea yang dimaksud Yudhistira.
“Bukan bohong Pah, Frea hanya salah paham. Maklum lah sesame cewek pasti gak mau ada saingan. Tapi Kinanti yang sebenarnya gak gitu Pah. Kemaren dia ngelakuin kesalahan hanya karena dia salah bergaul aja. Dia salah milih temen. Harusnya dia gak temenan sama, Kala.” Demian mengecilkan suaranya saat menyebut nama Kala. Nama yang sangat cocok untuk dijadikan kambing hitam.
“Anak itu, sekarang mulai berani merusak anak lain. Gak bisa di atur. Setelah berurusan sama polisi dan bikin seseorang meninggal dalam balapan, sekarang dia mau merusak anak gadis orang. Gak ada berubahnya itu anak.” Benar saja, Yudhistira langsung meradang.
“Pah, mungkin Kala cuma kesel aja sama Demi. Tapi dia gak bener-bener jahat kok. Nilainya sekarang gak terlalu buruk, itupun berkat Kinanti. Yang harus Demi lakukan sekarang adalah membuat mereka sedikit berjarak, supaya masing-masing tidak saling mempengaruhi hal buruk. Maaf kalau Demi harus bilang seperti ini.” Demian tertunduk penuh sesal.
Yudhistira tampak berpikir, tetapi pada akhirnya ia menginyakan permintaan Demian untuk mendekati Kinanti. Itu sebuah kemenangan besar bagi Demian jika dibanding Kala.
“Kinan,” tiba-tiba saja Demian memanggil nama gadis manis itu.
__ADS_1
“Ya?” Kinanti segera menoleh remaja yang ada dihadapannya.
“Em, aku boleh ngomong gak?” Malu-malu Demian menyampaikan maksudnya. Jangan geli dengan sikapnya yang sok polos ini yaa.
“Bolehlah. Emang siapa yang larang?” Kinanti menjawab dengan santai.
“Em, bulan depan aku ulang tahun. Kamu bisa gak dateng ke acara ulang tahunku? Hanya keluarga dan teman terdekat aja yang aku undang. Dan kamu salah satunya.” Demian pandai memberi kesan exclusive pada ajakannya.
“Makasih undangannya Demi. Kalau tidak berhalangan, aku usahakan datang.” Hanya itu yang bisa Kinanti ucapkan.
“Iya. Makasih ya.” Demian berusaha meraih tangan Kinanti tapi kemudian Kinanti menariknya.
“Kita bahas hal itu nanti lagi ya. Sekarang aku lagi pengen fokus,” ucap Kinanti yang kaget dengan sikap Demian.
****
Menjelang tidur, seperti biasa, Lukman datang ke kamar Kinanti untuk memeriksa keadaan putrinya. Ia bersandar di pintu dan memperhatikan sang putri yang sedang menguap. Sepertinya Kinanti sudah mulai mengantuk.
“Belum tidur, Nak?” tanya Lukman dengan suara yang lembut.
“Eh Ayah. Masuk Yah,” ajak Kinanti. Ia berbalik menatap Lukman yang tersenyum padanya.
__ADS_1
“Kalau matanya udah sepet, baiknya diistirahatkan dulu. Yang dibaca juga gak akan bisa diserap kalau Kinan nya udah capek.” Lukman menghampiri Kinanti dan mengusap kepala putrinya dengan sayang.
“Iya Ayah, Kinan mau udahan kok belajarnya. Kepala Kinan kayaknya udah pusing. Sampe liat ke tembok aja Kinan berasa ngeliat tulisan yang tadi Kinan baca.” Kinanti berceloteh manja.
“Hahhaaha… iyaa, itu namanya perlu istirahat. Gak boleh egois sama diri sendiri. Dia punya hak untuk diistirahatkan.” Lukman dengan nasihatnya yang bijak. Mereka duduk berhadapan, saling bertatapan penuh kasih sayang.
“Olimpiadenya besok ya?” lagi Lukman bertanya.
“Iya Ayah. Kinan berangkat jam setengah enam pagi, di jemput sama Mr Jack, guru Kinan. Pelaksanaan olimpiadenya hanya satu hari tapi disebar dibeberapa tempat. Jadi kayaknya, sore juga Kinan udah pulang,” terang Kinanti dengan jelas.
“Ayah boleh dateng?” tanya Lukman tiba-tiba.
“Hah, Ayah mau dateng?” Kinanti terlonjak senang.
“Iyaa. Tahun kemaren kan Ayah cuma liat lewat video call aja karena Ayah ada diluar kota. Ayah jarang banget dampingin Kinan lomba. Tapi sekarang, ayah usahakan datang buat semangatin Kinan saat pengumuman. Apapun hasilnya, Ayah mau jadi pendukung pertama Kinan yang menyemangati Kinan sepenuh hati.” Lukman berujar dengan sungguh-sungguh.
“Asyyiikkk, makasih Ayaah… Kinan seneng banget dengernya.” Kinanti sampai berhambur memeluk Lukman.
“Iyaa, Ayah juga seneng denger Kinan mau ikut olimpiade. Ayah sampe ikut deg-degan. Pesan Ayah, lakukan dengan sepenuh hati ya Nak, apapun hasilnya, terima dengan lapang dada. Karena proses pembelajaran itu tidak hanya tentang menang atau kalah. Tapi, serangkaian proses yang Kinan lakukan selama ini pun adalah sebuah pembelajaran.” Sebuah usapan halus diberikan Lukman di kepala putrinya yang sangat ia sayangi.
“Iya, Ayah. Kinan akan mengingat semua nasihat Ayah. Terima kasih atas semua semangatnya. Kinan pasti berusaha melakukan yang terbaik.” Kinanti berjanji pada hatinya sendiri.
__ADS_1
Lukman terangguk pelan. Sungguh ia merasa sangat beruntung karena memiliki seorang putri yang brilian seperti Kinanti.
****