Secret With Bad Boy

Secret With Bad Boy
Mengalah


__ADS_3

“Dimana kamu?” suara itu yang terdengar saat Kala menjawab panggilan dari Yudhistira. tidak ada basa basi layaknya seorang anak dengan ayahnya.


“Sekolah.” Pendek, Kala pun enggan untuk berbasa-basi. Padahal ia bisa berbincang selama berjam-jam dengan Lukman.


“Di Sekolah?” Yudhistira tersenyum sinis mendengar jawaban Kala. “Mana mungkin di Sekolah tapi tingkahmu seperti preman?” Yudistrira sudah jelas menyindir Kala.


Kala balas terssenyum dalam hati. Ia sudah bisa menduga kalau Demian pasti mengadu yang tidak-tidak pada Yudhistira dan itu sudah biasa.


“Aku tidak akan meminta maaf, jadi tidak perlu mengharapkan apapun.” Kala berujar dengan tegas, sebelum Yudhistira memerintahnya dengan banyak hal.


“KALANTARA!” gertak Yudhistira sambil memukul meja kerjanya dengan kepalan tangan yang membulat. Wanita dihadapannya ikut terhenyak dan tidak bisa menghentikan tangisnya setelah Demian mengirimkan foto tangannya yang luka karena Kala.


“Minta maaf pada Demian, atau kamu akan tau akibatnya.” Sebuah ancaman yang kemudian didapatkan Kala. Ia tahu persis kalau Yudhistira sedang marah, hanya makian dan ancaman yang akan ia dengar. Tunggu, memangnya kapan Yudhistira tidak marah padanya? Bukankah sejak Kala merusak pesta pernikahan orang tuanya, Yudhistira selalu memusuhinya?


“Sebaiknya, kenali putra tirimu lebih baik lagi, baru putuskan siapa yang seharusnya meminta maaf.” Kala tetap bersikukuh dengan keputusannya.


“Brengsek kamu Kala! Berani kamu menantang saya?!” suara Yudhistira menggaung di telinga Kala. Kala hanya mengernyitkan dahinya dan menjauhkan benda pipih itu dari telinganya. Tanpa berpiki panjang, ia mematikan panggilan itu. Tidak penting menurutnya.


Setelah bertelepon dengan Yudhistira, Kala melanjutkan langkahnya menuju kelas. Ia masih tersenyum sinis dan kemudian tatapannya berubah tajam saat mengingat apa yang Yudhistira katakan beberapa saat lalu. Lagi, laki-laki itu lebih mempercayai anak tirinya di banding Kala. Ya, selalu seperti itu.

__ADS_1


Baru akan tiba di depan kelasnya, ponsel Kala kembali berdering. Nada deringnya berbeda dari biasanya dan membuat Kala segera menjawabnya.


“Ya, Mah.” Bertha yang menghubunginya.


“Kal, ada apa di Sekolah?” Bertha bertanya langsung pada inti masalahnya.


Kala menghembuskan nafasnya kasar seraya bersandar pada dinding kelas. Ia lupa kalau setelah melawan Yudhistira, maka Bertha lah yang akan ditekan untuk memaksakan kehendaknya.


“Dia melukai dirinya sendiri, bukan aku pelakunya.” Jawaban itu dirasa cukup oleh Kala.


Bertha tidak menimpali, ia beranjak dari tempat duduknya dan memandangi pemandangan diluar jendelanya. Hatinya risau memikirkan Kala. Ia percaya Kala tidak melukai Demian tapi menurut Yudhistira, Kala tetaplah bersalah karena menantang kakak tirinya.


“Mamah gak percaya sama aku?” Kala melanjutkan kalimat penuh kesangsian pada Bertha.


“Mah!” Kala tidak terima. “Aku gak ngelakuin apa-apa sama dia. Udah aku bilang dia ngelukai dirinya sendiri. Kenapa jadi aku yang harus minta maaf buat kesalahan yang tidak aku perbuat?” Kala semakin meradang.


“Kal, tolonglah. Jangan buat papah kamu mengajukan perebutan hak asuh kamu sama Mamah. Mamah gak bisa melawan itu. Kamu tau kan, papah kamu udah sangat siap untuk menjatuhkan Mamah dengan menganggap dia lebih mampu mendidik kamu. Semakin banyak kesalahan kamu, papah kamu semakin berada di atas angin. Tolong bantu Mamah, Kal.” Bertha terdengar putus asa. Ancaman ini yang memang diberikan Yudhistira padanya.


“Bisa kan, Kal?” Wanita itu setengah memohon pada putranya.

__ADS_1


“Ya, nanti aku akan minta maaf.” Kala akhirnya menyerah. Lagi, ia harus menahan egonya demi tidak membuat ibunya merasa terintimidasi.


“Hebat anak Mamah. Terima kasih, Nak. Kala harus ingat, meminta maaf lebih dulu tidak lantas membuat kamu terlihat lebih rendah dari orang lain. Iya, Nak?” Bertha terlihat lega.


Kala tidak menimpali, hatinya kembali tergores setiap kali mendengar Yudhistira mengancam ibunya dan membuatnya harus mengalah. Kebenciannya semakin bertambah setaip kali laki-laki itu menekan wanita yang sudah ia sakiti dan tinggalkan tanpa penjelasan apapun.


Panggilan itu diakhiri oleh Kala. Ia masuk ke kelas lalu berdiri dihadapan Demian. Remaja itu tampak duduk tenang di mejanya, membaca pelajaran yang akan ia dapatkan sekarang. Bisa terlihat tangannya yang terbungkus perban mungkin lukanya memang cukup parah sehingga ia tidak bisa menggunakan tangan kanannya untuk menulis.


“Sorry,” ucap Kala tanpa ragu. Anggap saja ini cara agar Yudhistira tidak lagi menekan Bertha.


Demian tidak menjawab, remaja itu hanya terdiam dengan senyum penuh kemenangan yang coba ia sembunyikan. Bukan dari Kala, tapi dari seorang gadis yang sedang menatap mereka dengan penuh rasa khawatir. Khawatir dua orang itu bertikai lagi.


Merasa apa yang ia lakukan sudah cukup, Kala pun kembali ke mejanya. Ia mendapat senyuman dari Kinanti juga acungan jempol.


“Kamu hebat Kal,” bisik Kinanti seraya menutup setengah mulutnya dengan telapak tangan. Hingga yang terdengar hanya suara samar.


“Traktir aku makanan yang enak,” timpal Kala.


“Okey! Nanti aku traktir bakso Pakde.” Gadis itu menyahuti dengan semangat.

__ADS_1


Kala hanya tersenyum kecil, sebelum kemudian memilih bersidekap dan menjatuhkan kepalanya di atas kedua tangannya. Ia perlu waktu beberapa saat untuk berdamai dengan dirinya sendiri.


****


__ADS_2