
“Kinan… Kinan….” Suara Lukman terdengar begitu jelas menggema ditelinga Kinanti.
Dalam sekejap mata, gadis itu membuka matanya yang baru terlelap sekitar dua jam saja. Matanya tampak merah menatap seseorang yang ada dihadapannya dan sedang menutupi telinganya.
"Kala?" Kinanti bergumam dalam dadanya. Ia pikir Lukman yang ada dihadapannya.
Remaja itu datang saat Kinanti tertidur meringkuk diatas bangku penunggu pasien. Ia memasangkan selimut ditubuh kurus itu, lalu menutup telinga Kinanti dengan tangannya karena ada blankar pasien yang lewat dan terdengar cukup berisik. Niat hati remaja itu ingin membantu Kinanti agar suara blankar yang lewat itu tidak mengusik tidur sang gadis, tetapi nyatanya mata Kinanti malah terbuka, meski bukan karena suara blankar, melainkan suara Lukman yang terdengar cukup jelas memanggil namanya.
“A-aku gak ada maksud apapun.” Kala segera menarik tangannya dan nyaris terjengkang saat melihat mata Kinanti yang merah terbuka lebar. Cukup mengagetkan untuk Kala.
“Ta-tadi ada blankar lewat. Jadi, aku pikir, itu akan mengganggumu.” Kalimat Kala terdengar terbata-bata. Masih kaget melihat mata Kinanti yang merah menyalak padanya.
Gadis itu memilih bangun dan duduk dibangku sambil berusaha mengumpulkan kesadarannya. Hari mulai pagi dan orang-orang berlalu lalang disekitarnya. Sementara Kala masih memandanginya dengan penasaran, mungkin karena Kinanti hanya terdiam saja.
Kinanti yang tampak bingung, melihat selimut yang dipasangkan Kala ditubuhnya dan selimut ini dari kamar Kinanti. Didekat kakinya yang meringkuk juga ada sebuah tas ransel miliknya yang sepertinya terisi penuh barang.
“Maaf, aku ke rumah kamu pagi ini. Aku pikir aku perlu membawakan beberapa barang. Maaf juga karena aku masuk ke kamarmu dan kamar ayah. Aku gak tau, barang-barang ini berguna atau tidak. Aku gak minta izin dulu sama kamu karena aku tau hp kamu ada dirumah. Ini, udah aku charge.” Kalimat panjang Kala diakhiri dengan menyerahkan benda pipih berwarna rose gold milik Kinanti, pada pemiliknya.
Kinanti memandangi beberapa saat ponsel yang terulur padanya, lalu mengambilnya dan menyalakannya.
“Terima kasih.” Kalimat itu yang kemudian terlontar dari mulut Kinanti, lantas menoleh Kala yang tinggi menjulang, berdiri dihadapannya. Keberadaannya melindungi Kinanti dari rasa silau karena sinar matahari yang mulai masuk melalui jendela.
“Hem, sama-sama.” Kala tersenyum lega. Bibirnya senyam senyum sendiri sambil menggaruk kepala yang tidak gatal. Sebenarnya ia sudah bersiap kalau Kinanti akan memaki dan mengomelinya lagi. Ia bertekad akan diam dan menerima semua marahnya Kinanti. Tetapi nyatanya, gadis ini malah berterima kasih. Hatinya berbunga-bunga di lahan yang tandus sisa kegelisahan semalam.
Melihat Kinanti yang memandangi ponselnya, Kala inisiatif untuk duduk disamping gadis itu. Ia memangku tas ransel diatas kedua kakinya.
“Ada baju ganti disini, tapi aku gak bawain seragam karena aku pikir, mungkin kamu akan izin gak masuk sekolah dulu. Tenang aja, absensi hanya mempengaruhi sekitar sepuluh persen aja terhadap nilai. Jadi itu tidak akan membuatmu tidak lulus SMA.”
__ADS_1
“Dan soal tugas, aku akan meminta guru untuk mengirimkannya ke email kamu. Kamu boleh memakai laptopku kalau kamu perlu." Menepuk laptop hitam yang ia taruh disampingnya. Agak sedikit lemot memang laptopnya karena penuh dengan game. Tapi, itu tidak masalah, kamu masih bisa memakainya.” Kalimat Kala masih bersambung. Tidak ada timpalan dan penolakan dari Kinanti, membuat Kala merasa harus memanfaatkan waktu yang sempit ini untuk memberi penjelasan pada Kinanti.
Kinanti masih tidak menimpali. Ia mengambil alih tasnya dari Kala lalu beranjak untuk pergi ke toilet.
“Alat mandi aku simpen dibagian depan ya!” seru Kala, pada Kinanti yang berlalu. Kinanti tidak merespon, ia memilih meneruskan langkahnya menuju kamar mandi. Kala masih senyum-senyum sendiri melihat Kinanti yang sepertinya mulai tenang.
"Astaga, dia juga masukin pakaian dalamku," gumam Kinanti saat melihat isi tasnya. Akh, ini memalukan pikirnya. Beberapa saat Kinanti hanya bisa menutup wajahnya dengan satu tangan karena malu membayangkan Kala masuk ke kamarnya dan melihat seisi kamarnya yang dipenuhi barang-barang pemberian Kala. Juga puzzle fotonya dengan Kala yang dibingkai berbentuk hati.
"Apa yang aku katakan kalau nanti Kala nanya?" Kinanti bingung sendiri harus menghadapi Kala seperti apa, nantinya.
*****
Ditempatnya, Kala tidak berpikir banyak. Kegelisahan Kinanti sebenarnya tidak menjadi bahan pikiran bagi Kala. Tentang underwear yang ia ambil sembarang dari lemari dan sambil menutup sedikit matanya, ia sudah melupakan itu karena ia hanya ingin segera sampai ke rumah sakit dan melihat kondisi Lukman dan Kinanti.
“Gimana kabar ayah ya?” Kala beranjak dari tempatnya. Mengecek dari celah kaca dipintu, tetapi tidak terlihat karena tirai maish menutupi ranjang pasien yang ditempati Lukman.
“Permisi dek,” suara seseorang terdengar mengusik Kala.
“Iya,” Remaja itu segera menoleh. Ternyata ada seorang laki-laki berkacamata yang menghampirinya. Kala memperhatikannya, laki-laki ini tampak bersih dan sudah wangi.
“Adek, liat gadis cantik yang duduk disini gak? Dia pake seragam sekolah. Rambutnya panjang dan matanya bulat. Pipinya agak kemerahan.”
“Rambutnya berponi, hidungnya mancung dan bibirnya kecil.” Kala melanjutkan ciri-ciri Kinanti.
“Oh, adek tau rupanya.” Leon menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
“Tau, emang kenapa?” Kala mulai tidak suka dengan cara laki-laki dewasa yang senyum-senyum tidak jelas sambil membawa sesuatu ditangannya.
__ADS_1
“Saya mau memberikan ini. Lagi kemana ya dia?” Leon celingukan mencari Kinanti. Baru beberapa waktu lalu ia melihat Kinanti masih tertidur dibangku ini. Tetapi baru sebentar ditinggal beli sarapan, sudah tidak ada.
“Lagi ke toilet. Kasih saya aja, nanti saya sampaikan.” Kala dengan sikapnya yang dingin.
“Oh iya, makasih yaaa. Bilangin aja dari Leon.” Dengan senang hati laki-laki itu memberikan keresek ditangannya pada Kala. “Adek dengan siapa?” Ia juga penasaran pada sosok Kala.
“Kalantara Aksa Yudhistira, pacarnya Kinanti Amelia.” Remaja itu langsung mengulurkan tangannya.
“Oh, iyaa….” Leon hanya terangguk. Wajahnya berubah kaget. Mereka berjabat tangan sebentar saja dan Kala segera mengambil alih keresek ditangan Leon.
“Kalau begitu, saya duluan ya. Semoga ada kabar baik dari dokter hari ini.” Leon pamit setelah menepuk bahu Kala dengan kuat.
Kala tidak menimpali. Ia kesal pada laki-laki yang tiba-tiba memberi perhatian pada Kinanti bahkan membelikan kekasihnya sarapan.
“Sial, baru sebentar ditinggal udah ada yang ngedeketin aja.” Kala bergumam kesal. Ia memandangi Leon yang berjalan dikoridor rumah sakit dan membalas sapaan para perawat yang menyapanya dengan malu-malu. Sepertinya laki-laki bernama Leon ini memiliki banyak fans. Iya sih, dia tampan dan tinggi.
“Ganteng sih, tapi seleranya Kinanti itu gue, bukan yang begitu. Dimana-mana bad boy yang bakal dipilih sama cewek pinter kayak Kinanti. Kalau soft boy itu terlalu membosankan, gak menantang. Dan yang jelas, gue bisa jadi apapun buat Kinanti.” Kala berusaha menyemangati hatinya yang ketar ketir karena Kinanti didekati laki-laki lain.
“Hah, harusnya gue lahir lebih cepat, supaya sekarang itu gue udah dewasa dan bisa jagain Kinanti dengan lebih baik. Tapi, kalau gue lahir lebih cepet, gimana bisa gue ketemu Kinanti?” Kala berpikir dengan keras. Lantas melihat ke kamera,
“Thor, bisa ganti setting gak, aku jadi gurunya Kinanti aja? Biar aku bisa ngelawan semua lalat nakal yang deketin Kinanti.” Kala tersenyum bangga menatapku.
“Hey, jangan membuatku bingung. Udah lanjutin aja dulu, nanti juga kamu dewasa.” Othor.
Agak laen memang Kalantara, mulai banyak maunya dan ceriwis kalau panik begini.
****
__ADS_1