
Benar adanya pepatah yang mengatakan bahwa seseorang sering kali didewasakan oleh masalah yang dihadapinya. Hal itu yang saat ini sedang dialami oleh tiga orang remaja saat ini sedang belajar menghadapi masalahnya. Frea yang menghadapi Atla sang ayah, Demian yang menghadapi Yudhistira dan Imelda, lalu Kala yang menghadapi para genk motor. Mereka berada diposisi masing-masing, harus mempertanggungjawabkan akibat atas perbuatan yang pernah mereka lakukan.
Karena sebuah penyesalan dan rasa bertanggung jawab, mereka mengambil langkah berani untuk menghadapi semuanya. Konsekuensi atas tindakan siap mereka terima untuk membuat hidup mereka menjadi lebih tenang dan damai.
*Malam itu, Kala kembali menemui geng motor dengan ditemani Riko. Riko menunggangi motor Kala sementara Kala mengendarai motor sport* berwarna biru metalik dengan banyak tempelan stiker yang menunjukkan identitas sebuah genk motor terbesar di Ibu Kota. Suara mesinnya terdengar menggema saat Kala menarik handle gas dan berhasil menarik perhatian anggota genk motor untuk berkumpul dan mengelilingi Kala.
Entah berapa jumlah anggota genk motor yang saat ini memenuhi jalanan yang dulu kerap dijadikan area balapan oleh mereka. Kala pernah menjadi salah satu petarung yang selamat setelah tubuhnya terlempar dan terjatuh diatas permukaan aspal yang keras lagi kasar. Perhatian mereka tertuju bukan hanya pada sosok Kala yang mereka tunggu melainkan pada sepeda motor yang beberapa bulan ini disimpan Kala setelah ia tebus dan perbaiki.
Ketua geng motor bernama Gilbert itu ikut mendekat. Menghampiri Kala yang baru turun dan melepas helmnya. Seperti dejavu bagi pria itu, gaya Kala yang gagah mengingatkannya pada sang ketua geng motornya yang telah tiada. Sepeda motor itupun menjadi benda yang memiliki nilai sentimental besar baginya. Kuda besi itu mengingatkannya kalau ia telah kehilangan seorang ketua genk yang juga seorang sahabat sekaligus kakak untuknya. Dan Kala, seperti sosok nyata yang muncul dari balik kabut gelap yang membungkus petaka itu.
“Gue datang untuk memenuhi jaji gue,” ucap Kala terdengar tegas.
Ketua geng motor itu tidak menimpali, ia memilih segera menghampiri motor yang berada dibelakang Kala. Mengusap jok kuda besi itu juga stang dan bagian mesin yang dipenuhi stiker kebanggan sang kakak. Ia bersyukur motor ini kembali ke tangannya.
Bibirnya tersenyum kelu dan terdiam beberapa saat membelakangi Kala sambil mengenang kepergian sang kakak yang tragis. Semuanya seperti baru terjadi kemarin tetapi nyatanya sudah lebih dari satu tahun berlalu. Kepalanya menengadah, memandang langit malam yang terang dipenuhi bintang-bintang. Entah mengapa ada air hujan yang turun hingga membuat matanya basah.
Terdengar hembusan napas kasar dari pria itu. Ditepuknya bagian mesin motor itu, dengan penuh rasa bangga. Berterima kasih karena kuda besi ini masih tampak utuh padahal terakhir ia lihat cukup hancur setelah menabrak trotoar jalan.
“Ya, lo memenuhi janji lo. Dan gue juga memenuhi janji gue.” Ujar pria itu seraya menepuk bahu Kala. Ia berdiri disamping Kala dan dengan isyarat tangan ia memerintahkan sesuatu pada anak buahnya. Tidak lama, beberapa anak genk motor menghampiri Kala dan ketua genk. Para preman yang dimaksud Kala, mereka ikat dan dibuat tidak berdaya dengan bertekuk lutut dihadapan Kala dan Gilbert.
“Lo tau siapa dia?” tanya Gilbert pada preman-preman itu.
Preman itu menatap Kala beberapa saat, lalu tertunduk. Tentu ia tahu, remaja ini yang melaporkannya untuk kedua kali ke pihak kepolisian saat ia masuk ke lingkungan sekolah. Remaja ini juga yang membuatnya berstatus tersangka pengeroyokan dan pemalakan terhadap siswa.
__ADS_1
“Dia Kalantara dan kalian semua begitu lancang karena berani mengganggunya.” Gilbert berjalan mendekat pada preman-preman itu lalu berjongkok, menatap beberapa pasang mata yang sudah biru lebam dihajar oleh anggota genk motornya.
“Kalian harus tau, kalau kalian berurusan dengan orang yang salah. Harusnya kalian gak mengusik dia dan orang-orang disekitarnya.” Lanjut laki-laki itu seraya melayangkan pukulan telak ke wajah preman hingga membuat wajahnya berpaling dan lehernya seperti nyaris patah.
“Arrghh!” Preman itu mengerang kesakitan dan tubuhnya ambruk diatas jalan beraspal. Mulutnya mengeluarkan darah sementara napasnya mendengus kasar, tetapi ia tidak bisa berbuat apapun. Ia pasrah, membuarkan pipinya mencium aspal hitam dan lelehan darah dari hidungnya membasahi permukaan kasar itu.
“Jangan berani-berani lo ganggu dia dan orang-orang disekitarnya lagi. Atau gue bisa bikin lo tamat. Lo tau kan, siapa yang berkuasa disini?” Gilbert kembali berdiri, dengan sepatunya yang tebal ia menginjak leher preman itu hingga laki-laki itu bersuara mengorok karena kesakitan dan kesesakan. Teman-temannya mulai ketar-ketir dan nyalinya menciut begitu saja.
“Hentikan!” seru Kala tiba-tiba. Ia menghampiri Gilbert dan memberi isyarat agar Gilbert menurunkan kakinya dari leher preman itu. “Gue gak pernah nyuruh lo nyiksa dia, gue cuma minta pastikan mereka gak ganggu lagi hidup gue dan orang-orang disekitar gue,” lanjut Kala dengan penuh ketegasan.
Gilbert tersenyum kecil, ia menurunkan kakinya dari leher preman itu. Lantas menatap semua pasang mata preman dihadapannya dengan tajam.
“Lo masih selamat anj^ng.” Gilbert menendang punggung preman itu hingga laki-laki itu mengaduh. Kalau saja Kala tidak memintanya berhenti, mungkin ia akan menghabisi preman itu saat ini juga.
Kala mengendikkan bahunya acuh. “Gue balikin motor temen lo,” Kala melempar kunci motor itu pada Gilbert, dengan cekatan Gilbert menangkapnya. Ditatapnya kunci itu penuh haru.
“Dan pastiin lo dan semua anak buah lo gak ganggu lagi hidup gue dan orang-orang disekitar gue,” lanjut Kala dengan penuh kesungguhan. “Untuk saat ini, gue anggap kita impas dan gak ada hutang apapun lagi antar satu sama lain.” Kala menggenapkan kalimat yang menurutnya penting.
Gilbert tersenyum kecil melihat cara Kala berbicara yang begitu tegas dan penuh kharisma. Remaja itu mengambil kembali helmnya dan hendak pergi.
“KALA!” seru Gilbert tanpa ia duga. Kala berhenti memakai helmnya. Riko yang melihat ekspresi Gilbert segera mendekat pada Kala. Ia wspada kalau Gilbert dan teman-temannya mengingkari janji mereka.
“Kal, lo janji gak bakal berantem dan kita bakalan pergi dari sini dengan selamat. Itu alasan gue ikut sama lo.” Riko berbisik dengan penuh ketegangan. Wajahnya sudah pucat. Kala tidak menimpali, ia malah berbalik menghadap lagi Gilbert.
__ADS_1
“Urusan kita belum selesai sepenuhnya.” Gilbert menatap Kala dengan dingin, membuat Riko semakin mendekat pada sahabatnya. Memegangi jaket Kala dengan tangannya yang sedikit gemetar. Mentalnya memang tidak sekuat Kala.
“Apa yang belum selesai? Gue udah memenuhi kesepakatan kita dan lo cukup memenuhi janji lo.” Kala dengan berani menghadapi laki-laki itu.
Laki-laki itu tidak bergeming, ia mendekat pada Kala dan berdiri dengan jarak yang sangat dekat. Ia menatap Kala dengan tajam dan serius.
“Gue mau ngasih lo penawaran. Kalau lo mau, lo bisa jadi bagian dari genk motor ini. Mimpin gue dan temen-temen gue, maka semua yang ada disini akan patuh sama lo, termasuk preman-preman curut itu.” Tidak disangka, kalimat itu yang keluar dari mulut Gilbert. Ia juga menyerahkan kunci motor itu pada Kala.
Kala terdiam beberapa saat, menatap laki-laki yang ada dihadapannya.
“Kenapa? Lo gak yakin buat gabung sama gue?” Gilbert berusaha tetap menarik Kala ke dalam lingkarannya.
Kala menggeleng. “Itu kehormatan yang besar buat gue. Tapi, saat gue masuk ke lingkaran lo, lo harus mengikuti cara kerja gue dan gue yakin lo gak akan suka.” Ucap Kala yang memilih tidak mengambil kunci motor itu.
“Barang itu punya lo, udah gue serahin sama lo. Gak ada urusannya lagi sama gue dan gue udah gak tertarik berada di dunia lo. Gue harap, lo gak berusaha narik gue untuk masuk lagi.” Kala berbicara dengan tegas. Ya penolakannya memang harus tegas karena ia sudah tidak mau berhubungan dengan hal semacam ini lagi.
Gilbert mengangguk paham. Ia menggenggam kunci motor yang semula ingin ia berikan pada Kala. Ia telah berharap besar kalau Kala akan menjadi bagian dari dunianya dan menggantikan sang kakak. Nyatanya, haluan Kala sudah tidak ada didunianya.
“Gue menghormati keputusan lo. Tapi, kapanpun lo butuh bantuan gue dan anak-anak, lo bisa ngasih perintah kapanpun.” Ucap Gilbert dengan gentle. Baru kali ini ia tersenyum pada Kala dan mengulurkan tangannya hendak berjabat tangan.
“Thanks!” Kala menimpali. Ia membalas uluran tangan Gilbert dan mereka berjabatan tangan serta membenturan bahu serta lengan pada satu sama lain.
“Akh sial!” Riko mendengus lega. Ia pikir akan ada pertumpahan darah, nyatanya tidak. Andai saja ia terlalu cepat mengambil tindakan, mungkin ia akan segera menekan tombol yang membuat orang-orang sewaannya mendekat dan memukuli genk motor ini hingga habis. Beruntung semua yang ada dipikiran Riko tidak terjadi. Mulai malam ini, seperti Kala benar-benar melepaskan diri dari kesalahannya dan berhasil memperbaiki apa yang seharusnya ia perbaiki.
__ADS_1
****