Secret With Bad Boy

Secret With Bad Boy
Mengenang


__ADS_3

Jam sepuluh malam, Kala dan Riko sudah pulang ke rumahnya. Kinanti sudah masuk kamar, sementara Emili masih membersihkan tubuhnya di kamar mandi. Gadis itu memang terbiasa mandi malam, katanya kalau mandi malam tidurnya jadi lebih nyenyak karena badannya bersih.


Sambil menunggu Emili yang tidak suka di tinggal tidur, Kinanti membereskan buku-bukunya. Buku yang sudah selesai ia pelajari dan diujikan. Ia masukkan ke dalam sebuah container box besar dan menatanya dengan rapi. Buku ini suatu waktu pasti akan dibutuhkan lagi jadi ia harus menyimpannya dengan baik. Ia juga membereskan laci mejanya dan tanpa sengaja, ia menemukan buku diarynya.


Kinanti duduk tegak di kursi belajarnya. Ia menaikkan kakinya ke atas kursi lalu membuka-buka halaman diary itu. Ia tersenyum kecil membaca tulisannya di sana. Wajahnya berubah sendu saat ia melihat kertas-kertas yang ia simpan dan berisi tulisan tangan Lukman. Tulisan ini berisi kalimat-kalimat Lukman setiap kali laki-laki itu ingin berbicara dengan panjang lebar sementara napasnya tercekat atau suaranya parau.


Ada banyak hal yang Lukman tulis disana. Kinanti tidak menyangka, tulisan tangan Lukman ini menjadi kenangan bersejarah dalam hidupnya. ia mengusap tulisan Lukman yang jauh dari kata rapi, tetapi sangat berkesan.


“Terima kasih udah menjadi Ayah terbaik buat Kinan, Ayah. Yang Kinan alami saat ini masih tidak mudah, tapi Kinant berusaha melalui proses ini dengan baik.” Dikecupnya tulisan tangan Lukman itu dengan penuh perasaan seolah ia tengah berusaha mengecup bayangan sang ayah. Sekilas bayangan Lukman muncul dipikirannya. Mengisi imajinasinya yang hampa membuat Kinanti betah memejamkan matanya dan bermain dengan kenangan di masa lalunya.


“Anak ayah kuat, anak ayah hebat.” Kalimat itu yang kemudian terngiang diingatan Kinanti setiap kali Kinanti terjatuh dan Lukman dengan setia menyemangati putrinya sambil mengusap kedua kaki Kinanti agar tegak berdiri lagi dan terbiasa dengan rasa sakit itu.

__ADS_1


Perlahan Kinanti membuka matanya. Ia menatap kembali tulisan Lukman. “Anak ayah kuat, anak ayah hebat.” Kinanti mengulang kalimat itu untuk menyemangati dirinya sendiri. Itu seperti mantra yang bisa Kinanti gunakan setiap kali ia merasa sedih.


Ada banyak perasaan yang Kinanti rasakan saat ini. Namun, satu perasaan yang pasti dan membuat gadis itu tersenyum adalah rasa bangga memilki seorang ayah seperti Lukman.


“Setelah ini, Kinan akan lebih kuat lagi, ayah.” Kinanti bergumam sendiri dan berjanji dalam hatinya.


“Nan,” tidak lama suara Emili terdengar. Ia baru keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya. Ia memandangi bahu Kinanti yang terduduk di meja belajarnya dan tampak melamun. Ia takut sahabatnya itu bersedih lagi.


Entah mengapa tiba-tiba saja Emili menghembuskan napasnya lega. Ya, sangat lega saat melihat Kinanti tersenyum dan tidak ada sisa air mata di wajahnya. Seolah gadis itu telah melewati masa berdukanya dan berganti dengan Kinanti yang lebih kuat. Kupu-kupu itu telah keluar dari kepompongnya.


“Gak apa-apa, pengen aja manggil lo.” Tidak masalah terdengar random, yang penting ia bisa memastikan kalau Kinanti sudah lebih baik.

__ADS_1


“Dih, kamu kebiasaan ngomong suka di gantung.” Kinanti menyimpan kembali diary-nya dan berpindah dari kursi belajarnya ke ranjang lalu membaringkan tubuhnya di sana.


“Aku mau tidur duluan ya, kamu jangan lupa keringin dulu rambut biar besok gak vertigo.” Kinanti mengingatkan. Ia menarik selimut hingga ke batas bahu lalu membaringkan tubuhnya menyamping membelakangi Emili.


“Iya,” sahut Emili. Ia melanjutkan mengeringkan rambutnya sambil memandangi punggung Kinanti. “Mimpi yang indah, Nan.” Suara Emili terdengar pelan karena niatnya ia hanya akan berbicara dalam hati.


“Iya, kamu juga. Jangan chatingan terus sama Riko, biar besok gak kesiangan.” Ternyata Kinanti menimpali.


"Hehehehe... tau aja. Iyaa, hp nya juga mau gue matiin kok." Emili terkekeh kecil dan melanjutkan mengeringkan rambutnya. Hah, Kinanti malam ini benar-benar berbeda. Ia tidak lagi hanya berfokus pada dirinya sendiri, tetapi juga pada sekitarnya termasuk Emili.


****

__ADS_1


__ADS_2