
Di waktu yang bersamaan, Frea tengah tertunduk lesu dihadapan sang ayah yang ia buat murka. “Maafin aku pih,” suaranya terdengar gemetar menahan tangis sesal setelah ia menceritakan semuanya.
Beberapa menit lalu, Atla baru mendengar sebuah pengakuan dari putrinya. Dengan tegas Frea mengakui semua hal yang ia lakukan selama ini dibelakang ayahnya. Ia juga membeberkan alasan mengapa uangnya selalu habis, mengapa ia meminta Atla membela dan menebus preman dari jeratan hukum, hingga alasan sakitnya Demian karena dipukuli oleh preman yang ia bayar. Semuanya Frea akui sebagai tindakannya yang sudah berani bermain-main dengan sebuah tindakan kejahatan.
“Kamu tau kalau ini sudah masuk ke dalam tindakan kriminal? Kamu tau kalau hal ini bisa menyeret kamu ikut masuk ke dalam penjara?!” suara Atla menggema diseisi ruang kerjanya yang luas dan besar. Laki-laki itu menatap tidak mengerti pada seorang putri yang ia besarkan dengan penuh kasih sayang.
Frea hanya bisa terhenyak dengan tubuh gemetar dan air mata yang menganak sungai. Ini kali pertama ia mendapat kemarahan besar dari sang ayah yang selama ini selalu berada dipihaknya.
“Tau Pih, karena itu aku minta maaf.” Frea bersimpuh dihadapan sang ayah yang ia buat murka. Ia tidak tahu harus berbuat apa, ia hanya mengikuti perintah Kala untuk mengakui kesalahannya.
Atla gundah dan marah. Ia tidak menyangka kalau putrinya bisa berpikiran picik dan jahat seperti ini. Ia sangat kecewa, seperti halnya Yudhistira dan Imelda yang juga kecewa pada putra kebanggan mereka, Demian.
“Jadi ini yang kamu lakukan selama ini?” Yudhistira menatap tajam wajah ketakutan yang ada dihadapannya. Matanya masih menyalak pada sang anak sambung yang membuat emosinya tidak tertahan.
Ia masih tidak menyangka kalau seorang Demian melakukan tindakan yang menyalahi hukum dan bisa mencelakai dirinya sendiri. Dibanding pada Kala, ia lebih kecewa pada Demian yang sudah mengkhianati kepercayaannya. Selama ini ia selalu membanggakan Demian didepan semua orang. Tidak peduli meski Demian hanya anak sambungnya. Ia menyayangi Demian dengan tulus melebihi kasih sayangnya pada Kala.
“Maafin Demi, Pah. Demi bener-bener nyesel.” Demian hanya bisa tertunduk dihadapan Yudhistira yang sedang sangat kecewa.
Laki-laki itu tidak menimpali, ia memilih memukul meja kerjanya dengan sangat keras hingga Demian dan Imelda terhenyak dengan jantung yang nyaris copot. Ini kemarahan terbesar Yudhistira. Ia sangat kecewa pada Demian. Ia maish tidak menyangka kalau Demian bisa merancang sebuah kejahatan yang ternyata berbalik menyerangnya. Lebih tidak menyangka lagi kalau ternyata selama ini Demian sengaja melaporkan hal yang tidak-tidak padanya tentang Kala. Menyudutkan Kala dengan banyaknya laporan palsu yang membuat Yudhistira semakin murka pada putranya.
“Kenapa kamu melakukan ini sama Kala hah, KENAPA?!” Laki-laki itu berteriak keras dihadapan Demian, seperti ingin menelan bulat-bulat putra sambungnya.
“Mas,” Imelda mencoba menghampiri dan menahan tangan Yudhistira yang melayang ke udara hendak menampar Demian.
__ADS_1
“DIAM!!!” Dengan tegas Yudhistira mengibaskan tangannya. Ia tidak suka Imelda ikut campur dan selalu membela putranya yang bersalah ini.
“Karena aku iri sama Kala Pah! Aku iri!” seru Demian dengan sejujurnya. Matanya yang bulat itu menitikkan air mata. Remaja itu menatap Yudhistira dengan mata yang merah dan basah.
“Kala memiliki keluarga yang utuh yang selalu dia banggakan. Ayah yang hebat, ibu yang baik. Keluarga yang tenang dan tentram. Sementara aku? Aku punya apa? Aku hanya punya mantan ayah yang selalu menyiksaku dan mengintimidasiku. Juga seorang ibu yang menangis siang dan malam karena meratapi hidupnya. Aku,”
Suara Demian sampai tercekat dipertengahan kalimatnya. Tubuhnya sampai gemetar dan ambruk. Ia tidak bisa melajutkan kalimatnya. Semuanya terlalu menyesakkan dan menyakitkan saat ia ulang untuk mengingatnya.
Kekecewaan Yudhistira pun tidak kalah besar. Berbagai perasaan berkumpul didadanya dan menunggu untuk ia luapkan.
“Saya pernah merasa gagal memiliki anak seperti Kala. Membangkang, keras kepala, membuat onar dan saya anggap dia telah membunuh seseorang. Tetapi nyatanya, kegagalan terbesar saya adalah menyayangi seorang anak yang tidak pernah menghormati dan menghargai saya. Kamu mengecewakan saya Demian. Sangat sangat mengecewakan saya! Dan saya menyesal pernah memperbandingkan kamu dengan anak saya.”
Kalimat Yudhistira terdengar pelan, tetapi penuh penekanan. Bisa terlihat dengan jelas kalau laki-laki ini sangat kecewa dan marah. Ia juga menyesal karena selama ini ia selalu mendengarkan aduan putra sambungnya tentang Kala.
“Maafkan Mamah, Dem. Maafkan Mamah.” Hanya kalimat itu yang bisa Imelda katakan dengan berurai air mata. Ia merasa telah menjadi ibu yang gagal untuk putranya.
Demian hanya terpaku, tidak menimpali. Sementara yudhistira lebih memilih melihat keluar jendela sana. Memandangi laron-laron yang beterbangan mengelilingi lampu pinjar kekuningan. Ya seperti itulah laron, mereka hanya datang saat mereka memerlukan pijar cahaya.
Dikediamannya, Kala baru sampai. Ia disambut sang ibu yang menunggunya di ruang keluarga. "Anak Mamah baru pulang?" sambut Bertha. Ia beranjak dari tempatnya, menaruh kacamata dan buku bacaannya lantas menghampiri putra kesayangannya.
Kala tersenyum kecil pada sang ibu. Dipelukanya Bertha dengan erat sekaligus menghadiahinya sebuah kecupan didahi Bertha yang mulai berkerut.
"Gimana kabar Mamah hari ini?" Tiba-tiba saja putranya bertanya dengan manis, hingga membuat Bertha menengadahkan wajahnya untuk menatap Kala. Tidak percaya rupanya kalau pertanyaan gemas diucakan putranya.
__ADS_1
"Baik. Tumben anak Mamah manis banget. Em, badannya juga masih wangi parfum. Habis ngapelin pacar ya?" Bertha menggoda Kala yang jarang membuka peluang untuk berbincang hangat seperti ini. Baru saat ini Bertha merasa kalau putranya kembali.
"Emang, kalau Kala punya pacar, Mamah bakal ngebolehin?" Remaja itu melerai pelukannya dari Bertha dan menatap wajah sang ibu dengan penasaran.
Bertha tersenyum kecil mendengar pertanyaan putranya. Ditangkupnya satu sisi wajah Kala yang menghangat dan bersemu kemerahan.
"Mana mungkin Mamah gak ngebolehin anak Mamah berhubungan dengan gadis yang bikin Kala sebahagia ini?" Ditepuk-tepuknya pipi Kala sambil ia pandangi sepasang mata elang yang kerap mengingatkannya pada Yudhistira. Lihat, remaja itu tersenyum, mengusap hidungnya yang mendadak terasa gatal karena salah tingkah.
"Cerita sama Mamah soal gadis itu sambil kita makan. Kala belum makan kan?" Bertha terlihat sangat antusias.
"Belum." Kala menggeleng sambil tersenyum. Ia memang belum makan malam dan ternyata pilihannya tepat, ia bisa makan malam bersama sang ibu.
"Kalau begitu, ayolah kita makan sambil ngobrol." Bertha dengan semangat menarik Kala ke meja makan. Tubuh jangkung itu menurut saja mengikuti langkah sang ibu. Mereka duduk berhadapan dan saling melempar senyum satu sama lain.
Ponsel Kala sempat berdering dan saat ia periksa ternyata ada nama Yudhistira yang melakukan panggilan padanya. Kala memilih tidak menjawab panggilan itu dan menaruh ponselnya terbalik. Tidak berselang lama, berganti ponsel Bertha yang berdering. Pemanggil yang sama dan wanita itupun ikut mengabaikan panggilan mantan suaminya. Ia ingin makan malam dengan tenang bersama putranya.
"Jadi, siapa gadis itu?" Sambil menyendokkan nasi untuk putranya, Bertha sempatkan untuk bertanya. Kala tidak bisa menyembunyikan ekspresi wajahnya yang malu-malu bercampur bahagia. Bertha sudah tidak sabar untuk mendengar cerita putranya tentang gadis yang membuat Kala selalu tersenyum dan bahagia.
Sepertinya, mereka sudah mulai berbahagia dengan pilihan mereka untuk hidup berdua saja dan mengabaikan seseorang yang tidak penting dan sedang menyesali perbuatannya. Sesakit itulah diabaikan oleh seseorang yang kita sayang.
"Dia, bernama Kinanti." Kalimat itu menjadi awal perbicangan Kala yang menceritakan siapa gadisnya. Bertha bersiap menyimak, karena sepertinya cerita cinta putranya, romantis dan seru.
****
__ADS_1