
Perpustakaan menjadi tempat yang di pilih oleh Kinanti saat jam istirahat. Ia di ajak Demian untuk mencari materi tambahan untuk persiapan olimpiade.
Di tangan Demian sudah bertumpuk buku yang di pilih Kinanti untuk mereka baca. Ada sekitar enam buku yang harus mereka pelajari sebagai referensi.
Melewati Lorong-lorong antar lemari buku yang tersusun rapi, mereka masih mencari buku apalagi yang sekiranya akan membantu mereka belajar.
“Kalau Kimia, kira-kira materi apalagi yaa yang akan menjadi pertanyaan?” sambil memilih-milih buku, Kinanti dan Demian masih berbincang.
“Kita belum baca tentang senyawa karbon. Kita cari di sebelah sana.” Dengan sorot matanya Demian menunjuk rak yang berada di ujung lorong.
“Okey, nanti aku ambil. Kamu simpen dulu aja buku itu, kasian nanti tangan kamu nanti pegal.” Kinanti mengkhawatirkan tangan Demian yang membawa enam buku tebal bertumpuk di tangannya.
“Okey, kabari aku kalau letak bukunya terlalu tinggi.”
“Tenang, ada bangku. Pergilah, cari tempat duduk yang nyaman.”
“Okey, aku tunggu di sana, dekat jendela.” Demian menunjuk sebuah meja yang berada di ujung dekat jendela yang mengarah ke taman.
“Ya, nanti aku nyusul.”
Demian kembali ke meja lebih dulu sementara Kinanti melanjutkan mencari buku. Satu per satu buku diperhatikan Kinanti di rak ujung. Banyak buku kimia di sana dan dari judulnya, sama sebenarnya yaitu membuat ia pusing.
Ia mengambil satu buku dengan judul yang tadi disebutkan Demian dan membacanya beberapa saat sebelum memutuskan untuk mengambilnya.
Ada banyak materi baru yang menarik untuk di baca. Sebenarnya materi ini belum diajarkan oleh gurunya tapi tidak menutup kemungkinan kalau materi ini akan ditampilkan dalam soal olimpiade.
“Okey, ini aja.” Kinanti kukuh mengambil satu buku yang tebal.
Ia kembali ke meja yang telah di pilih oleh Demian.
“Dapet bukunya?” tanya Demian. Remaja itu mengalihkan perhatiannya dari buku fisika yang ada di tangannya.
“Iyaa, dapet. Ini dari penerbit luar, selain tampilannya menarik cara penulisannya juga tidak membosankan dan mudah dipahami,” komentar Kinanti.
“Mau buku mana dulu yang kamu baca?”
“Ini aja. Aku penasaran sama isinya.” Kinanti memilih buku Kimia itu untuk ia pelajari pertama kali.
Demian dan Kinanti mulai membaca buku masing-masing. Mereka terlarut dalam teori yang disampaikan oleh penulis. Banyak hal baru yang mereka ketahui dan membuat Kinanti sesekali mengangguk paham.
__ADS_1
Kinanti mengeluarkan buku catatannya. Ia mencatat beberapa rumus kimia dan mulai menghitung contoh soal.
“Ngitung apa?” Demian penasaran dengan apa yang dilakukan teman belajarnya.
“Rantai karbon. Aku baru liat teori ini.” Ia melanjutkan mencatat materi tersebut.
Demian memperhatikannya beberapa saat. Lucu juga tulisan Kinanti. Mudah dibaca dan diingat. Gadis itu juga suka menuliskan materi yang ingin ia pelajari dengan menambahkan gambar-gambar menarik dan ballpoint warna-warni agar mudah di ingat.
“Kinan, boleh aku bertanya?” Demian bertanya dengan penasaran.
“Boleh lah, tentang apa?” Kinanti terus menulis dan sesekali melirik Demian yang tampak ragu.
“Cita-cita kamu mau jadi apa?” Demian bertanya dengan serius.
Kinanti tersenyum kecil saat mendengar pertanyaan temannya. Ia melirik Demian sedikit dengan ujung matanya. Sepertinya remaja itu serius dengan pertanyaannya.
“Kenapa bertanya tentang cita-cita? Apa aku terlihat seperti orang yang tidak punya tujuan?” Kinanti membalasnya dengan pertanyaan.
“Bukan begitu.” Demian mengguyar rambutnya kasar.
“Lalu?” Kinanti berhenti menulis beberapa saat dan memilih menatap Demian. Netra beningnya seolah tersenyum pada Demian.
Kinanti mengangguk pelan, “Iya, kamu benar, semua ilmu menurut aku menarik. Makanya aku juga bingung dengan pilihan cita-citaku sendiri.” Gadis itu tersenyum kecil.
“Sejujurnya yang ada dibenakku saat ini adalah pekerjaanku harus memiliki arti tidak hanya buat aku tapi juga buat orang di sekitarku. Terutama ayahku, orang yang berusaha keras membesarkanku seorang diri.”
“Aku ingin membuat dia tenang dan ikut bahagia dengan pilihan cita-cita yang aku ambil.”
Demian mengangguk paham. “Seorang guru mungkin cocok untukmu. Karena selain kamu pandai dalam hal menjelaskan, ilmu kamu juga banyak. Ya, aku rasa itu pekerjaan paling pas buat kamu.” Demian berpendapat.
“Oh ya? Entahlah, aku belum terlalu yakin. Karena untuk menjadi gurupun aku bingung harus menjadi guru mata pelajaran apa. Terlalu jamak pilihannya. Itu menurutku. Tapi akan aku coba pikirkan. Terima kasih pilihan idenya.” Kinanti mengangguk sopan pada Demian. Demian membalas anggukan itu disertai segaris senyum.
“Kamu sendiri bercita-cita menjadi apa?” Kinanti balik bertanya.
“Em, apa ya?” Demia terdiam beberapa saat sambil berpikir.
“Dulu waktu kecil aku ingin menjadi polisi. Tapi sekarang aku malah bingung. Aku hanya berpikir kalau aku harus membanggakan seseorang agar tidak ada yang mengecilkanku dan membandingkanku dengan orang lain.” Jawaban Demian terdengar gamang.
Sejujurnya Kinanti tdak begitu paham dengan pemikiran Demian karena sepertinya pemikiran laki-laki ini terlalu kompleks. Dalam benaknya, cita-cita itu harus membuatnya dirinya dulu yang bahagia, baru orang lain. Bukan sebaliknya.
__ADS_1
“Apa melakukan hal seperti itu membuat kamu bahagia?” Kinanti semakin penasaran untuk bertanya.
“Entahlah.” Demian mengendikkan bahunya lalu mengusap wajahnya kasar.
“Aku suka membuat orang lain bahagia. Tapi kadang aku berpikir, kalau cita-cita itu hanya usaha untuk memenuhi ambisi orang tua kita atau orang yang menaruh ekspektasi pada kita.”
“Kamu harus jadi ini, nanti punya gaji segini dan nanti dipandang seperti ini. Apa menurutmu juga seperti itu?” Demian terlihat gelisah. Sepertinya pikiran itu memang mengganggunya.
“Nggak, aku gak berpikir seperti itu.” Kinanti menggeleng dengan yakin.
“Oh ya?” Demian menegakkan tubuhnya dan fokus pada Kinanti. Kedua tangannya menopang dagunya di hadapan Kinanti.
“Ya, karena menurutku cinta-cita itu bukan tentang kelak kita mendapat pekerjaan apa, gajinya berapa dan sebagainya. Cita-cita itu tentang pilihan hidup kita, tidak harus selalu tentang uang atau tidak selalu tentang membuktikan sesuatu pada orang lain.”
“Buatku, pemikiran seperti itu hanya akan membuat aku merasa terbebani. Kita hanya akan menjadikan pilihan kita itu sebagai rutinitas sehari-hari yang membosankan, mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi tapi itu gak bikin kita bahagia."
"Persepsiku, apabila patokan bahagia kita terletak pada kebahagiaan orang lain, itu hanya akan membuat kita merasa capek. Karena mungkin saja semakin hari ekspektasi mereka tentang kita akan berubah”
“Bukankah lebih penting kalau bahagia dengan pilihan kita sendiri?” Kinanti membalik pertanyaan itu pada Demian.
Demian tidak lantas menimpali, ia menatap Kinanti dengan lekat.
Tidak ia pungkiri kalau selama ini sejujurnya ia hidup di bawah ekspektasi orang lain terutama Yudhistira.
Ia selalu suka setiap kali Yudhistira membanggakannya. Menganggap dirinya lebih unggul di banding Kala. Untuk beberapa saat, hal seperti itu menyenangkan karena ia seperti mendapat pengakuan. Kasih sayang dan kebanggan Yudhistira terlihat lebih besar terhadap dirinya di banding Kala yang selalu membuat Yudhistira kecewa.
Tapi, tidak ia pungkiri kalau ucapan Kinanti pun benar. Sering kali ia merasa lelah sendiri. Sering kali ia merasa terpaksa dengan apa yang ia lakukan. Ia merasa terbebani terlebih saat ia melihat Yudhistira tidak terlalu bangga dengan apa yang ia capai dan masih menyebut Kala lebih baik darinya.
Apa sebenarnya yang ia dapatkan selama ini? Pengakuan saja kah?
“Hey, kok ngelamun?” Kinanti menjentikkan jarinya di hadapan Demian.
Remaja itu tampak terhenyak. Beberapa saat tadi tatapannya terlihat kosong tapi kali ini sudah kembali meski belum sepenuhnya.
“Kinan, aku ingin merasa bahagia dengan pilihanku. Apa yang harus aku lakukan?” batin Demian memekik meminta bantuan Kinanti. Tapi sayangnya, ia tidak punya keberanian untuk mengatakannya dengan tegas. Hingga ia merasa, kenapa Kala yang urakan malah bisa tersenyum dengan lebih cerah di banding dirinya?
Apa sebenarnya Kala lebih bahagia dari dirinya?
****
__ADS_1