Secret With Bad Boy

Secret With Bad Boy
Kecemasan


__ADS_3

Sekitar jam sepuluh malam, Kala sudah tiba di rumah Kinanti. Ia sengaja datang untuk memberi kejutan pada gadis manis itu. Ia membelli makanan seperti biasanya untuk menemani Kinanti belajar.


Akhir-akhir ini ia memang suka sekali memberikan sesuatu untuk Kinanti. Sepulang bekerja, ia pasti sempatkan untuk membeli sesuatu dan mengantarkannya pada Kinanti. Rasanya menyenangkan melihat mata Kinanti yang berbinar saat menerima hadiah kecil darinya.


Kala memperhatikan dari pagar, ada yang tidak biasa menurutnya. Ia melihat lampu-lampu rumah Kinanti padam. Tidak ada yang menyala satu pun.


“Apa dia udah tidur?” Kala bergumam dalam hatinya.


Sebelum turun, Kala memutuskan untuk menelepon Kinanti. Satu kali deringan dan panggilan itu segera di jawab.


“Iya, Kal.” Suara Kinanti terdengar lemah, tidak seperti biasanya.


“Kinan, kamu dimana? Udah tidur?” Kala memperhatikan lampu kamar Kinanti, tidak menyala meski ia meneleponnya.


“Aku lagi di luar Kal, lagi ada perlu.”


“Di luar? Di luar dimana?”


“Em, mau di rumah sakit.” Kinanti akhirnya jujur.


“Hah, siapa yang sakit? Ayah kamu?” Kala langsung panik.


“Bukan. Tadi ada kecelakaan gak terduga jadi aku sama Demian pergi ke rumah sakit.”


Deg!


Perasaan Kala langsung tidak karuan.


"Gimana kondisi kamu sekarang?" ia bertanya dengan cepat.


"Aku baik-baik aja, tapi Demian agak parah." Kala masih bisa menghembuskan nafasnya lega. Baginya, yang penting Kinanti baik-baik saja.


“Kirimin aku lokasi rumah sakitnya.” Ia tidak memikirkan apapun selain ingin segera menemui Kinanti.


"Iya, Kal."


Kinanti langsung mengirimkan lokasi rumah sakit. Sementara Kala, tanpa menunggu lama, ia segera melajukan motornya menuju lokasi yang dikirimkan Kinanti. Pikirannya sudah tidak karuan membayangkan hal yang buruk menimpa Kinanti. Motornya melesat cepat layaknya pembalap yang harus segera sampai di garis finish dalam tempo secepat-cepatnya.


Di Rumah sakit, Kinanti baru tiba setelah membuat laporan di kantor polisi. Ia memegang bukti laporan yang katanya akan segera mereka tindak lanjuti. Kinanti menggaris bawahi permintaannya pada pihak kepolisian, bahwa jangan sampai ada siswi lain mengalami hal yang ia alami beberapa saat lalu.


Hatinya sedikit lega karena pihak kepolisian berkata akan bertindak tegas pada siapapun yang merusak ketenangan dan ketertiban terlebih mereka para preman.

__ADS_1


Tiba di depan ruang perawatan Kala, Kinanti mendengar suara perbincangan dua orang yang cukup asing untuknya. Tapi satu suara ia sangat kenal yaitu suara milik Jack.


Kinanti terdiam beberapa saat di depan pintu ruangan, ragu untuk masuk. Sampai kemudian seseorang membuka pintu tanpa sengaja.


Wanita itu tersenyum kaget melihat sosok Kinanti yang masih mengenakan seragam sekolahnya. Syalnya juga di penuhi noda darah. Rasanya ia tahu siapa gadis ini.


“Kinanti?” tanya Imelda. Menyebut nama yang disebutkan oleh Jack dan Demian yang baru terbangun. Sejak tadi putranya terus menanyakan keberadaan Kinanti.


“I-iya. Selamat malam tante.” Kinanti mengangguk dengan sopan.


“Selamat malam, masuklah.” Imelda membukakan pintu lebih lebar untuk Kinanti. Wanita itu memandangi Kinanti dengan penuh rasa penasaran.


“Selamat malam Om, Demian, Mr Jack.” Kinanti juga menyapa tiga orang yang menatap kedatangannya. Masing-masing menatap Kinanti dengan sorot mata yang berbeda.


“Malam, Kinanti.” Jack yang menimpali lebih dulu.


“Kinan, kamu dari mana? Kenapa pergi-pergian sendiri?” Demian terlihat cemas.


“Aku gak sendirian, tadi aku di anter sama mobil polisi,” terang Kinanti apa adanya.


“Mobil polisi? Memang kamu dari mana?” Yudhistira yang bertanya lebih dulu. Pikirnya, untuk apa anak ini berurusan dengan polisi.


Yudhistira menatap Kinanti dengan seksama, Ia juga melihat tangan putih itu memegangi selembar kertas.


“Apa itu bukti pelaporannya? Coba saya lihat.” Yudhistira segera meminta kertas tersebut.


“Iya Om, silakan.” Kinanti memberikan kertas itu pada Yudhistira dan pria itu membacanya dengan seksama. Jack pun ikut melihat laporan kepolisian di tangan Yudhistira.


“Biarin Om Yudhistira baca dulu surat itu, kamu duduklah. Kamu pasti capek kan?” Imelda membawa Kinanti duduk di atas sofa yang dekat dengan Demian.


“Terima kasih tante.” Kinanti mengangguk sopan pada Imelda.


“Sama-sama. Kamu udah makan?” Imelda menatap Kinanti dengan penuh perhatian.


“Sudah tante, terima kasih.”


“Gimana kondisi Demian tante? Apa dokter sudah memeriksanya lagi?” Kinanti penasaran karena sepertinya Demian masih kesakitan.


“Sudah lebih baik. Tapi biar lebih jelas, kamu bisa tanyakan langsung sama Demi-nya.”


“Baik tante,” Kinanti pun beranjak dari tepatnya. Ia menghampiri Demian yang masih tertelentang di atas ranjang pasien karena kepalanya masih pusing.

__ADS_1


“Hay, gimana perasaan kamu sekarang? Apa udah lebih baik?” Kinanti mengambil tempat duduk di samping ranjang Demian.


“Iya, aku udah lebih baik, cuma kepala masih pusing. Kamu gimana? Kata dokter tangan kamu juga cedera?” Demian balas memperhatikan.


“Syukurlah kalau kamu mendingan. Tanganku gak apa-apa, cuma lebam aja. Dokter udah ngasih salep anti lebam sama anti nyeri jadi udah semakin membaik,” aku Kinanti.


“Syukurlah, aku takut kamu kenapa-napa Kinan. Gak ada yang sakit kan?” Demian memberikan perhatian dengan sungguh.


“Nggak lah, aku baik-baik aja. Dan kamu yang bikin aku baik-baik aja. Coba kalau kamu gak datang buat nolongin aku, aku juga gak tau apa yang bakalan terjadi. Makasih ya, maaf udah bikin kamu luka-luka kayak gini.”


Kinanti berucap dengan sesungguhnya.


“Iya, sama-sama. Yang penting kamu baik-baik aja, aku udah seneng.” Demian berujar dengan penuh kesungguhan.


Dari kejauhan, Imelda memperhatikan interaksi Demian dan Kinanti. Ia melihat dengan jelas kalau Demian sangat memperhatikan gadis itu. Ia bahkan rela terluka asalkan gadis itu baik-baik saja. Apa Kinanti begitu berharga untuk putranya?


Hal yang sama juga dirasakan oleh Yudhistira. Ia tidak menyangka kalau gadis muda ini begitu berani melakukan pelaporan ke pihak kepolisian. Ia pikir, gadis seusia Kinanti hanya akan menangis dipojokan. Tapi ternyata Jack benar, gadis yang bersama Demian ini, selain pintar dia juga cerdas dan mandiri. Yudhistira bisa bernafas lega untuk hal itu. Putra sambungnya tidak memilih teman yang salah.


“Tuntutan apa yang kamu ajukan ke pihak kepolisian?” tiba-tiba saja Yudhistira bertanya. Ia penasaran dengan rencana yang ada di benak gadis muda itu.


“Penangkapan Om. Saya meminta pihak kepolisian agar menangkap preman itu dan menghukum mereka. Karena sepertinya mereka tidak takut melakukan kejahatan di siang hari seperti tadi. Padahal daerah tempat kejadian bukan daerah yang sepi tapi mereka terlihat sangat leluasa dan berani,” urai Kinanti.


Yudhistira terangguk paham, “Ya, kamu melakukan hal yang tepat. Kerja yang bagus.” Yudhistira memberikan apresiasi.


Kinanti hanya terangguk seraya tersenyum pada Yudhistira yang menatapnya beberapa saat.


“Pah, apa pelakunya bisa tertangkap?” Demian ikut penasaran.


“Sepertinya bisa. Dia memberikan nomor polisi kendaraan pelaku juga ciri-ciri dari para preman itu. Ini akan sangat membantu proses penyelidikan,” terang Yudhistira.


Kinanti bisa menghela nafas lega tapi entahlah dengan Demian. Ia terlihat sedikit gelisah.


“Tok-tok-tok.” Suara ketukan di pintu terdengar nyaring.


“Silakan masuk,” sambut Imelda dengan ramah.


Tidak lama, daun pintu terdorong dan seseorang tampak di sana.


“Kala?” gumam kinanti yang melihat kedatangan Kala dengan wajah yang cemas.


*****

__ADS_1


__ADS_2