Secret With Bad Boy

Secret With Bad Boy
Berusaha keras


__ADS_3

Usaha Demian untuk mendekat pada Kinanti, ternyata begitu mengusik pikiran Kala. Ia begitu gelisah sampai tidak bisa memejamkan mata padahal waktu sudah melewati pertengahan malam.


Kala kembali bangkit dari atas ranjangnya, berdiri mematung didepan jendela, memandangi dedaunan yang bergoyang tertiup angin. Tatapannya kosong, yang terus berpuar dikepalanya hanya pandangan Lukman dan Kinanti yang begitu baik terhadap Demian. Andai mereka tahu siapa Demian sebenarnya, mungkin mereka akan lebih waspada.


“Akh sial!” Kala mengeram kesal sendiri.


Kondisi Kala benar-benar serba salah. Kalau pun ia menceritakan siapa Demian sebenarnya, ia takut kalau posisinya kembali diragukan oleh Lukman dan Kinanti. Ia khawatir usahanya untuk memberitahu mereka, hanya dianggap sebagai bentuk perasaan iri.


Ia masih mengingat betul bagaimana dulu ia menceritakan pada Yudhistira seperti pa perlakuan Demian Demian yang sebenarnya. Namun Yudhistira tidak mempercayainya dan malah menganggap Kala iri karena Yudhistira menyayangi saudara sambungnya itu. Buntu, Kala tidak bisa mengambil keputusan untuk menghentikan usaha Demian.


Berusaha mengalihkan kegundahannya, Kala memilih untuk duduk di kursi belajarnya. Ia membuka kembali laptopnya yang menampilkan halaman online sebuah undangan bagi pembuat game. Ia membacanya baik-baik dan rasanya ia tidak bisa mengabaikan hal ini. Mungkin akan lebih baik kalau pikirannya ia alihkan beberapa saat pada festival ini. Bukankah Kinanti akan senang mendengar Kala mau ikut festival game ini?


Ya, keputusan itu akhirnya diambil Kala. Ia membuka kembali prototype gamenya dan mulai merancangnya ulang. Sebuah halaman hitam dengan banyak kata sandi mulai dibenahi oleh Kala. Ia tidak lagi berniat untuk memejamkan matanya, ia ingin ada pencapaian atas usahanya seperti usaha Kinanti yang membuat orang-orang bangga. Ia tidak mau lagi hanya dipandang iri atas kesuksesan orang lain.


Bukankah dengan menunjukkan kemampuannya, hal itu akan memuat Kala lebih dipercaya saat menyampaikan gagasannya? Bukan hanya dianggap menunjukkan rasa irinya saja pada pencapaian Demian sebagai salah satu siswa berprestasi.


Detik-detik berlalu, begitupun dengan menit dan jam yang berganti. Semakin pagi, semangat Kala semakin tidak bisa dibendung. Ia fokus menatap layar laptopnya dan hanya sesekali saja ia berkedip saat dibenaknya hanya muncul formula rumus untuk gamenya. Ide-ide bermunculan sampai sebuah rancangan game akhirnya selesai ia buat.

__ADS_1


Dengan rasa berdebar Kala mencoba game yang baru rampung. Ia tersenyum beberapa saat ketika melihat usahanya berjalan baik sejauh ini. Ia meneguk kembali kopi disampingnya untuk menyegarkan pikirannya dan tidak lama,


“YES!!” Kala terlonjak semangat. Games itu berhasil dibuat dan hanya perlu mematangkannya serta meminimalisir beberapa bug pada aplikasi yang ia buat.


“WUHU!!” Kala bersorak seorang diri saat ternyata ia bisa sampai di titik ini. Suatu hal yang tidak pernah ia duga sebelumnya. Hal yang ia pelajari secara otodidak ini ternyata membawakan hasil.


Tring! Suara pesan masuk menyadarkan Kala. Kalau sudah jam segini, siapa lagi yang menghubunginya kalau bukan Kinanti.


“Kaaalll, banguuunnn. Udah pagi. Jangan sampe kesiangan.” Begitu bunyi pesan yang Kala terima. Remaja tampan itu tersenyum kecil. Pesan ini menjadi asupan semangat yang besar bagi seorang Kala.


“Pagii Kinan… Gimana tidurnya tadi malam?” Kala iseng membalas. Padahal biasanya ia membalas dengan kata, "Ya. Aku bangun," dan baru dikirim beberapa menit kemudian setelah kesadarannya penuh.


Kala tidak membalas pesan Kinanti lagi melainkan melakukan panggilan video. Ia ingin melihat wajah gadis yang membuatnya gundah semalaman karena ia cemaskan.


“Kok video call?” tanya Kinanti yang masih mengenakan handuk untuk membungkus rambutnya yang basah. Rupanya gadis itu sudah selesai mandi.


“Ya, pengen liat muka kamu. Emang gak boleh?” Kala membaringkan kembali tubuhnya di kasur dan menempatkan ponselnya di depan wajahnya.

__ADS_1


“Ya aneh aja. Jam segini tuh waktunya siap-siap, bukan malah tidur lagi dan video call. Ayo buruan mandi,” seru Kinanti.


“Iya aku mau mandi, tapi kamu belum jawab pertanyaan aku.” Kala menatap gadis itu penuh rasa rindu.


“Pertanyaan yang mana?” Kinanti mengernyitkan dahinya tidak mengerti.


“Dih baru beberapa menit juga. Aku nanya, gimana tidurnya semalem?”


“Oh, hahahaha… ya pules lah. Liat, gak ada kantung mata apalagi muka lelah. Seger pokonya. Makanya kamu cepetan mandi.” Kinanti terlihat begitu bersemangat menunjukkan matanya yang bulat dan bening pada Kala. Sepasang mata yang selalu membuat Kala merasa teduh dan tenang.


“Heh, kok malah senyum-senyum?!” kali ini mata bulat itu melotot kesal, membuat Kala gemas sendiri.


“Iya, iyaa, aku bangun sekarang.” Kala beranjak dari tempat tidurnya lalu berjalan menuju kamar mandi.


“Matiin video call nya Kal, kebiasaan kamu. Udah ya, bye!” dalam hitungan detik Kinanti segera mengakhiri panggilannya.


“Astaga, gercep banget dia. Padahal aku baru mau ngecek air. Udah langsung dimatiin aja. Ngeres pasti otak nih anak. Udah gede dia.” Kala bergumam sendiri memandangi panggilan yang sudah diakhiri Kinanti.

__ADS_1


Sudahlah, lebih baik Kala mandi. Ia harus segera menemui Kinanti dan menunjukkan games yang semalam ia buat.


****


__ADS_2