
Benar saja, setelah sesi belanja buku, kini giliran belanja makanan. Mereka membeli makanan di pinggir jalan. Bakso tahu dan beberapa minuman dalam kemasan. Giliran Kinanti yang membayar dengan harga yang tidak sepadan dengan uang yang dikeluarkan oleh Kala.
“Gak apa-apa, lain kali kamu traktir aku lagi,” ucap Kala seraya mengusap kepala Kinanti dengan sayang. Kinanti masih kesal karena uang yang ia keluarkan jauh di bawah nominal yang Kala berikan. Bukan apa-apa, ia tahu bagaimana sulitnya Kala mencari uang sendiri dan ia tidak mau menjadi beban sahabatnya.
“Bener yaa, nanti aku traktir kamu lagi.”
“Iyak. Sekarang ke sekolah dulu ya, aku mau belajar di rooftop aja. Kebetulan aku kerja juga masuknya malem, tukeran sama temen.”
“Ya udah, ayok.”
Mereka kembali naik kuda besi Kala. Mengarungi jalanan yang cukup padat. “Kal, aku mau cerita.” Sebuah aba-aba obrolan serius dilontarkan Kinanti pada sahabatnya.
“Ceritalah.” Kala melirik Kinanti dari spion. Tangannya memeluk Kala dengan erat dan wajahnya terlihat cemas seperti ada yang ia sembunyikan.
“Em, kamu inget gak sama preman yang waktu itu jahatin aku sama Demian?”
“Oh, waktu si carmuk itu sok-sok-an nolongin kamu?” Kala langsung merespon.
“Iihhh, kok kesitu sih bahasnya? Dia korban Kal, jangan posisikaan dia seolah dia pelaku.” Sebuah cubitan diberikan Kinanti di perut Kala.
“Aduh!” Kala langsung terhenyak. Bukan sakit tapi kaget karena perut ratanya dicubit Kinanti. Lebih seperti usapan sih.
“Orang gak kecubit. Lebay!” Kinanti menggerutu kesal.
Kala hanya terkekeh, ya memang tidak sakit, hanya geli saja. “Okey, lanjut!” Remaja tampan itu berusaha mengalihkan rasa berdesir dihatinya.
“Iyaa, jadi tadi siang tuh aku liat mereka datang ke sekolah. Berani banget kan?”
“Mereka ganggu kamu lagi? Kamu diapain sama mereka, kenapa baru cerita sekarang?” Kala langsung panik.
“Ih, bukan aku Kal, tapi Frea. Mereka kayaknya mau malak Frea. Soalnya mereka kayak berantem gitu sampe Frea di dorong dan jatuh. Untung Frea gak kenapa-napa. Tapi, aku khawatir kalau mereka datang lagi dan bikin keributan lagi. Aku takut temen-temen merasa terancam, Kal.” Kinanti dengan segala rasa cemasnya.
“Nanti aku bilang Mr Jack. Kamu tenang aja.”
“Iyaa, makasih, Kal. Tapi aku bingung, kok mereka gak di tangkap ya? Perasaan laporan aku udah lengkap. Ada hasil visum segala malah.”
__ADS_1
Kala tidak menimpali, ia pun masih memikirkan hal yang sama dan tidak ingin memberikan jawaban yang salah.
Kegundahan Kinanti sedikit terobati setelah ia berbicara walau rasa penasarannya tidak lantas hilang. Saat ini mereka sudah sampai di rooftop. Keduanya memilih menikmati jajanan mereka terlebih dahulu sebelum memulai belajar. Mereka juga duduk di lantai dengan alas bekas spanduk.
“Ini enak!” ungkap Kinanti saat satu suapan bakso tahu masuk ke mulutnya.
“Oh ya? Punyaku kok asin sih?” Kala beralasan.
“Masa sih?” Kinanti tidak lantas percaya.
“Asli, asin banget. Mintalah punya kamu.” Mulut Kala terbuka lebar-lebar. Tanpa rasa keberatan Kinanti menyuapi Kala membuat remaja itu tersenyum senang dalam hati.
“Iya ya, punya kamu enak.” Sambil mengunyah makanannya Kala masih berceloteh.
Kinanti yang penasaran segera mencoba bakso tahu milik Kala. “Ish rasanya sama tau Kal! Boong kamu mah.” Gadis itu bercebik kesal.
“Hahahahaha….” Kala hanya tertawa, gemas sendiri karena melihat Kinanti kesal.
“Tau akh, ngeselin!” satu sikutan diberikan Kinanti pada remaja iseng itu. Namun Kala hanya terkekeh sambil mengacak rambut Kinanti dengan gemas. Menyenangkan memang menggoda Kinanti seperti ini.
“Dih, udah pinter ngancam!” tawa Kala langsung berhenti berganti tingkah isengnya dengan mengcengkram dagu Kinanti lalu mengecurutkan bibir gadis itu dengan gemas.
“Gau, igh!” suara Kinanti tidak terdengar jelas dan membuat Kala kembali tergelak. Lucu sekali menurutnya.
“Hawk!” Kinanti mengingit tangan Kala dengan kesal.
“Aaakk, aku bisa rabies.” Kala memegangi tangannya yang sakit karena gigitan Kinanti.
“Enak aja! Jahat kamu Kal. Masa aku bisa nularin rabies.” Kinanti semakin kesal dan itu semakin menarik untuk Kala.
“Jangan marah dong, aku kan becanda aja.” Kala mencolek dagu Kinanti dan Kinanti menepuk tangan Kala dengan kesal.
“Wah, marah beneran ini.” Kala terlihat bingung. “Gini deh, aku pinjemin satu komik aku sebagai bentuk permintaan maaf.” Usaha Kala memang random.
“Gak mau. Orang aku gak bisa baca komik. Jangan ngeledek deh!” Gadis itu semakin kesal.
__ADS_1
“Ya gampang, kalo gitu aku yang bacain.” Kala mengambil inisiatif. Di tambah bonus dengan membaringkan tubuhnya dan menjadikan kaki Kinanti sebagai bantalnya.
“Astaga!” Kinanti sampai kaget, tapi Kala hanya tersenyum seraya memandangi Kinanti dari bawah.
“Aku bacain komik satu chapter, udah itu baru kita belajar. Boleh ya?” rajukannya setengah memohon.
“Terserah. Aku sambil rapihin kotak pensil kamu.” Kinanti mengambil kotak pensil yang sudah ia beli.
Kala pun mulai berceloteh, membacakan isi percakapan di komiknya pada Kinanti. Gadis itu menyimak benar apa yang Kala bacakan dan imajinasinya menggambarkan dengan baik semua cerita Kala. Sementara tangannya sibuk menghias kotak pensil untuk Kala.
Selesai satu chapter di baca, Kinanti menunjukkan kotak pensil yang ia rapikan. “Kenapa harus coklat manis gini warnanya?” Kala protes tidak mengerti.
Kinanti hanya terkekeh, ia senang karena berhasil mengerjai Kala. Belum lagi saat melihat isi kotak pensil yang ada tulisan nama Kala di dalamnya.
“Astagaaa, pamorku benar-benar jatuh. Jangan sampe yang lain liat ini.” Kala menutup wajahnya yang bersemu kemerahan karena malu.
“Kata siapa gak boleh ada yang liat? Orang foto kotak pensilnya udah aku kirim ke Riko.”
“APA?!” Kala semakin panik. “Mana aku liat!” Kala segera merebut ponsel Kinanti, ia memeriksa ponsel Kinanti. “Kok gak ada?” ia bingung sendiri.
“Ya gak ada lah. Orang aku gak tau nomornya Riko. Hahahaha….” Baru kali ini Kinanti tertawa lebar karena berhasil mengerjai Kala.
“Ish! Mulai berani ngerjain aku ya. Dasar!” Kala menyentil dahi Kinanti dengan pelan.
“Adduuhh, sakit Kal. Kepala aku bisa bocor ini.” Kinanti mengaduh pura-pura.
“Kamu pikir aku percaya? Bohongnya kamu itu ketara banget, aku gak akan ketipu lagi,” ucap Kala seraya memandangi kotak pensilnya yang sangat manis dengan stiker teddy bear di bagian depan. Tanpa sadar Kala pun tersenyum.
“Makasih. Ini kotak pensil pertamaku,” ucapnya kemudian. Entah mengapa ia merasa kalau hadiah dari Kinanti teramat berarti untuknya.
“Sama-sama. Dipake yaa, jangan diumpetin,” timpal Kinanti. Kala hanya mengangguk, tentu saja ia akan memakainya.
Kebahagiaan itu sedikit teralihkan saat tiba-tiba sebuah pesan masuk ke nomor Kala. “Makan malam jam 7 di rumah Frea. Awas kalau kamu gak datang.” Entah pemberitahuan atau ancaman yang saat ini didapatkan Kala dari ayahnya. Yang jelas, kemarahannya kembali bangkit dan ia merasa kalau ini kesempatan yang tepat untuk merusak suasana dan nama baik Yudhistira.
****
__ADS_1