Secret With Bad Boy

Secret With Bad Boy
Intimidasi


__ADS_3

Satu uluran tangan dari Frea menarikan paksa kerah baju Kinanti. Frea mencengkram kerah baju Kinanti lalu mendorongnya ke dinding. Ia mengunci Kinanti di dinding menggunakan lengannya yang kuat.


“Aakkh, “ Kinanti hanya bisa melenguh, menepuk-nepuk lengan Frea agar melepaskan himpitan di dada dan lehernya.


“Kenapa, sakit? Atau sesak?” tanya Frea dengan senyum sinis yang tersungging.


Kinanti tidak bisa menjawab. Tenggorokannya seperti tercekik dan sulit bernafas. Ia terus memukul-mukul lengan Frea agar melepaskannya. Tapi Frea tetap menekan dada dan leher Kinanti tanpa ada rasa belas kasihan sedikit pun.


“Lo tau apa kesalahan lo?” tanya Frea yang belum puas melihat Kinanti meronta-ronta.


Kinanti hanya menggeleng, ia tidak bisa memikirkan apapun selain ingin terlepas dari himpitan lengan Frea.


“Lo mau gue lepasin?” Frea menantang Kinanti yang sudah tidak berdaya.


Kinanti hanya bisa mengangguk. Biar air mata ketakutan terlihat di sudut matanya yang bening.


“Uuuhh kasiaann ... mau gue lepasin ya, mau?” Frea mengejek Kinanti yang terengah kesesakan.


Suara tawa teman-temannya menyahuti sikap arogan Frea, sang ketua genk. Benar kata Riko, selain Kala, Kinanti juga harus waspada pada Frea dan teman-temannya. Kali ini semuanya terbukti. Gadis cantik ini tidak segan-segan melakukan kekerasan pada Frea.


Mereka terus asyik tertawa terbahak-bahak melihat wajah Kinanti yang pucat nyaris kehabisan nafas.

__ADS_1


“Tenang, gua akan lepasin lo, dengan catatan, lo harus jawab pertanyaan gue dengan jujur.” Tawar Frea.


Kinanti mengangguk lemah. Ia sudah sangat pasrah apapun yang kelak akan terjadi pada dirinya. Ia sudah tidak berkutik dan yang ia ingat sekarang adalah sang ayah yang mungkin akan bersedih jika suatu hal buruk terjadi padanya.


“Uhuk!” Kinanti langsung terbatuk begitu himpitan tangan Frea terlepas.


“Uhuk-uhuk!” ia sampai membungkuk, lemah rasanya karena harus mengambil nafas dalam satu tarikan.


“Hahahahahha ....” sementara keempay gadis itu asyik menertawakan kemalangan Kinanti.


“Liat gue cewek kampung,” Frea menarik dagu Kinanti agar menengadah.


“Lo gak usah belagu dan sok cantik. Gue ingetin sama lo, Kala itu punya gue, cuma punya gue. Jadi jangan sok perhatian di depan dia.” Dengan kukunya yang tajam, Frea mencengkram dagu dan pipi Kinanti hingga gadis itu meringis kesakitan.


“Hahahahaha....” Frea tertawa bersamaan dengan temannya sambil mengibaskan tangannya dari dagu Kinanti.


Kinanti hanya bisa terhuyung, merasakan kakinya yang seperti tersengat listrik ratusan volt.


“Gue tanya sekali lagi, apa yang lo lakuin sama Kala, semalam?” lagi Frea bertanya.


Ia menatap Kinanti dengan tajam. Butuh jawaban Kinanti dengan cepat.

__ADS_1


Kinanti berusaha menegakkan tubuhnya. Ia mencoba menyibak helaian rambutnya yang berantakan dan menutupi wajahnya.


“Aku gak ngapa-ngapain sama Kala. Kami hanya bertemu di mini market.” Sahut Kinanti apa-adanya.


“Lo pikir gue percaya? IYA?!” teriak Frea. Matanya masih melotot pada Kinanti. Ternyata sosok Frea yang seperti ini terlihat begitu menakutkan.


“Aku bersungguh-sungguh Frea, aku tidak melakukan apapun dengan Kala. Aku tidak sengaja bertemu dengan dia di mini market sekitar jam delapan malam. Dia membeli beberapa makanan dan memakannya sendiri di depan mini market. Aku sungguh-sungguh, tidak berbohong sedikitpun.” Urai Kinanti dengan sungguh-sungguh.


Frea hanya tersenyum dan kembali mendekat pada Kinanti.


“AKH!” Kinanti mengaduh, saat Frea menarik rambut tebal dan panjangnyanya hingga menegadah.


“Kali ini gue percaya sama lo. Tapi kalau gue liat lagi lo bareng-bareng sama Kala, gue pastiin gak cuma rambut lo yang rontoh dari tubuh lo, tapi juga tangan dan kaki lo. Paham?!” Ancam Frea dengan penuh kesungguhan.


“Paham.” Kinanti terengah-engah kesakitan.


Tangan Frea dengan ringan mengibaskan genggaman tangannya hingga Kinanti terjatuh di lantai. Ia pandangi beberapa saat Kinanti yang berada di lantai. Gadis itu sangat lemah dan melihatnya terintimidasi seperti itu, terasa menyenangkan untuk Frea.


“Cabut!” seru Frea setelah memberikan satu tendangan di kaki Kinanti hingga gadis itu meringis kesakitan. Tidak lupa ia juga menginjak coklat yang diberikan Kala, hingga coklat itu hancur tidak berbentuk.


Setelah merasa puas, gadis cantik itupun pergi meninggalkan Kinanti yang kesakitan seorang diri di toilet.

__ADS_1


****


__ADS_2