
Ini waktu yang sulit, ya sangat sulit bagi Kinanti. Hingga tengah malam, Kinanti masih berperang dengan pikiran dan perasaannya. Tidak ada yang ia pikirkan saat ini selain kondisi Lukman.
Sudah lebih dari dua bulan, Kinanti mengetahui penyakit yang bernama kanker nasofaring. Ia membaca banyak referensi buku, melihat tayangan video di sosial media tentang penyakit itu bahkan menjadikannya artikel sebagai syarat saat ia akan mengikuti program beasiswa. Ia juga tahu, bagaimana sulitnya seorang pasien yang berjuang melawan penyakit ini. Namun ia tidak tahu, kalau selama ini Lukman lah yang sedang berjuang, bukan Seno.
Bodoh! Ya, perasaan sebagai orang bodoh itu yang Kinanti rasakan saat ini. Ia masih mengingat bagaimana sedihnya ekspresi Lukman saat katanya sahabat terdekatnya menderita penyakit yang mematikan ini. Laki-laki itu kehilangan harapan dan menjadi peer besar bagi Lukman untuk menyemangati sahabatnya itu.
Lebih bodoh lagi saat Kinanti dengan semangat mewawancarai Lukman atas nama Seno. Ia bertanya bagaimana tanda dan gelaja penyakit itu, seperti apa pengalaman Lukman melihat kondisi Seno yang berjuang seorang diri, termasuk keinginan Seno untuk merahasiakan hal ini dari keluarganya dengan alasan tidak tega melihat keluarganya bersedih karena kondisinya yang lemah dan tidak berdaya.
Ada satu pertanyaan yang sampai saat ini masih mengusik perasaan Kinanti. Yaitu saat ia bertanya, seperti apa rasa sakit yang dirasakan Lukman saat laki-laki itu menjalani chemoteraphy?
“Ayah selalu gak tega, setiap kali nemenin om Seno chemoteraphy. Dia meringis kesakitan, terus megangin tangan ayah, eraaatttt banget. Kayak gini.” Lukman bahkan mencontohkan bagaimana eratnya genggaman tangan Seno ditangannya, hingga tangan Kinanti merah.
“Astaga ayah, apa seerat itu?” Kinanti sampai merinding.
“Ya, sesakit itu. Mungkin lebih. Kadang giginya sampai menggeretak saking sakitnya. Pernah beberapa kali om Seno sampai kehilangan kesadaran dan sesak. Kata dokter itu efek fisiologis dan efek psikologis dari sebuah penyakit. Artinya, mental seorang pasien juga bisa menambahkan rasa sakit pada tubuh yang sedang berjuang itu dan bisa membuatnya semakin lemah dan tidak stabil.”
“Jadi pada orang sakit itu selain fisiknya yang berjuang, juga psikologisnya yang harus dikuatkan.” Simpulan Lukman saat itu membuat Kinanti merinding ngeri membayangkan kondisi Seno yang pasti tersiksa setiap waktu. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana sakitnya tubuh Seno menerima setiap terapi yang harus ia jalani. Bagaimana bisa mentalnya begitu kuat diuji dengan rasa sakit itu? Saat itu Kinanti begitu kagum dengan kekuatan Seno.
“Apa cukup ayah yang nemenin dia? Kenapa gak keluarganya aja? Bukankah kalau keluarganya yang menjaganya, dia akan merasa lebih tenang?” pertanyaan polos inipun pernah ditanyakan Kinanti.
Saat itu Lukman hanya tersenyum dan menggenggam erat tangan Kinanti. Ia menatap Kinanti seolah Seno yang sedang berbicara.
“Dibanding rasa sakit penyakit yang harus ditahan, beliau bilang lebih menyakitkan lagi melihat keluarganya yang putus asa. Istri yang mulai mengasihaninya, anak-anak yang mulai berhenti bercanda karena takut mengganggu kesehatannya, juga lingkungan sekitar yang membuatnya seolah menjadi orang yang tidak berdaya dan menjadi beban bagi keluarga. Tidak selamanya dikasihani itu menyenangkan, Nan. Sering kali itu lebih melukai kita.” Kinanti mendengar kalimat itu disampaikan Lukman dengan mendalam.
__ADS_1
Saat itu Kinanti begitu sedih membayangkan bagaimana sulitnya posisi Seno menghadapi kondisi dan lingkungannya. Tetapi sekarang dunianya terasa seperti hancur saat tahu kalau yang mengalami semua itu adalah Lukman. Rasa bersalah, takut dan sakit itu dirasakan langsung oleh dirinya, bukan orang lain.
“Astagaaa….” Kinanti mengusap wajahnya kasar. Wajah yang sudah tidak menyisakan air mata karena air matanya sudah kering akibat menangis sejak tadi. Saat itu ia memahami alasan Seno menyembunyikan penyakitnya dari keluarga. Tetapi untuk seorang Lukman, hal itu membuatnya tidak habis pikir.
Kinanti seperti tidak mengenali seperti apa laki-laki yang menurutnya cukup egois. Demi menyembunyikan penyakitnya, ia memilih tidak melibatkan Kinanti menghadapi rasa sakitnya. Bukankah harusnya disaat seperti itu, tangan Kinantilah yang Lukman genggam? Bukan tangan Seno apalagi Kala. Mereka orang-orang luar yang seharusnya tidak mengetahui kondisi Lukman sebanyak dirinya, tetapi semuanya malah terbalik.
Andai ia tahu Lukman sakit, mungkin ia tidak akan menghabiskan waktunya berlama-lama dengan teman-temannya dan buku-buku. Ia akan menghabiskan waktunya lebih lama dengan Lukman. Menemani laki-laki itu dimasa tersulitnya dan menerima kondisi Lukman dengan Ikhlas. Tidakkah Lukman percaya kalau Kinanti bisa sekuat itu? Tidakkah ia tahu kalau dengan dibohongi membuat perasaan Kinanti begitu hancur?
Lalu Kala, laki-laki yang beberapa saat lalu ia usir. Sejujurnya ia bisa memahami bahwa yang memiliki kewenangan penuh untuk memberitahukan kondisi kesehatannya adalah Lukman, bukan Kala walau hubungan mereka sangat dekat. Tetapi, mengetahui Kala yang lebih dulu tahu kondisi ayahnya dibanding dirinya, ada rasa iri yang ia rasakan. Rasa tidak berguna karena Lukman lebih mempercayai bercerita pada sahabatnya dibanding putrinya sendiri. Lebih dari itu, ia perlu seseorang yang bisa ia salahkan atas kondisi Lukman yang belum bisa ia terima.
Rumit, ya memang sangat rumit. Hal itu yang membuat Kinanti tidak bisa tertidur meski waktu teleh melewati pertengahan malam. Rumit juga karena dilubuk hatinya yang paling dalam, sebenarnya ia membutuhkan kehadiran Kala. Laki-laki yang selalu bisa menenangkannya, tempat bersandar terbaik setelah ayahnya.
Namun, kata-katanya sudah tidak bisa ditarik. Kinanti paham benar jika kalimatnya tadi banyak melukai Kala. Saat ini sudah pasti Kala kecewa dan marah dengan sikapnya yang seperti ini. Menyalahkan Kala karena berada diposisinya sangat sulit. Ia pun tahu kalau Kala bukan tidak peduli pada dirinya, laki-laki itu sangat peduli. Mungkin karena itu Kala tidak lagi mendebatnya dan memilih untuk pergi, menuruti semua keinginan Kinanti.
“Dok,” Gadis itu segera berdiri saat melihat dokter jaga yang keluar dari ruang perawatan Lukman. Dokter itu tersenyum kecil pada Kinanti yang tampak lesu.
“Duduklah,” Dokter itu mengajak Kinanti duduk. Kinanti menurut untuk duduk, bersisian dengan dokter tersebut. Selintas Kinanti melihat nama dokter tersebut di id card. Leon, nama laki-laki itu. Pria berkacamata dengan wajah oriental dan berkulit putih.
“Malam yang berat bukan?” tanya Leon seraya menyandarkan tubuhnya pada dinding. Sedari tadi ia melihat Kinanti terus terjaga dengan penampilan hancur seperti ini. Dahinya terus berkerut seolah banyak hal yang tidak bisa ia pahami.
Kinanti mengangguk, ia berusaha tersenyum sambil membuang napasnya kasar. Ia ikut menyandarkan tubuhnya, punggungnya sudah sangat pegal tetapi hatinya jauh lebih pegal.
“Kondisi pasien, mulai menunjukkan perbaikan. Saturasi oksigennya mulai stabil. Itu artinya, dia sedang berjuang.” Dokter itu menjeda kalimatnya dan menoleh Kinanti. Kinanti tidak merespon, hanya menengadahkan kepalanya menghalau air mata yang tiba-tiba ingin menetes.
__ADS_1
“Mendampingin orang sakit ikut, sulit. Perlu kesabaran yang tinggi dan permakluman yang besar, tapi bukan berarti tidak bisa. Disanalah telak perjuangan para pendamping pasien. Kalau ayahmu saja sedang berjuang, kenapa kamu juga tidak berusaha berjuang lebih keras lagi? Paling tidak, pikirkan kesehatanmu agar lebih kuat nememani ayahmu.” Selintas kalimat Leon terdengar sinis, tetapi Kinanti memahami benar maksud pria ini. Dokter ini berusaha memberikan cambukan semangat untuk Kinanti yang kesulitan untuk bertahan.
“Saya bukan tidak berjuang, dok.” Kinanti mulai berbicara. Menjedanya dengan hembusan napas berat. “Saya sedang mencoba menerima semuanya, menerima kalau ayah saya sedang sakit dan ada rasa takut kalau penyakit mengerikan itu akan membawa ayah saya pergi.” Kinanti tersenyum kelu, lalu mengguyar rambutnya kasar. Terkadang orang asing bisa dengan mudah memahami kita bukan karena mereka mengenal kita, tetapi karena mereka pernah merasakan hal yang sama.
“Perjuangan kamu, bukan hanya membuat ayahmu sembuh. Tapi memberi dia kesan terindah selama dia masih ada. Nyawa seseorang tidak bertumpu ditanganmu, begitupun ditangan saya. Usaha kitalah yang terpenting, untuk membuat dia merasakan tidak hidup dan berjuang sendirian. Kita coba mengisi hidupnya dengan berarti tanpa menyisakan penyesalan.” Kalimat Leon terdengar sederhana, tetapi bermakna sangat dalam.
Hal itu seperti tambahan cambukan untuk seorang Kinanti yang sedang terpuruk.
“Pahami kalau setiap orang itu akan pergi dengan caranya sendiri. Entah para pasien lebih dulu atau kita yang setia menemaninya. Jangan menyesali sebuah perpisahan, tapi sesali kalau ternyata kamu tidak memanfaatkan waktu yang masih kamu miliki dan sebenarnya bisa kamu gunakan dengan sangat baik.” Ini kalimat berikutnya yang Kinanti dengar dan membuat gadis itu mengangguk pelan. Ia menggigit bibirnya kelu, ia sadar kalau ucapan Leon memang benar adanya.
Tidak lama, Leon mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya. Sebuah roti yang ia simpan didalam jas putihnya. Jaga-jaga kalau saat jaga malam ia lapar. Tetapi sepertinya gadis ini lebih memerlukan roti itu. Sejak pergantian shift malam gadis ini tidak beranjak dari tempatnya untuk sekedar minum dan memenuhi kebutuhan tubuhnya yang lain. Maka ia memutuskan untuk memberikan roti itu pada Kinanti.
“Dispensernya ada disebelah sana. Minumlah air hangat dan usahakan untuk beristirahat. Besok pagi, kamu bisa bertemu dengan dokter spesialis kanker yang merawat ayahmu. Pastikan kondisi tubuhmu sudah lebih segar.” Pesan Leon seraya menepuk bahu Kinanti.
Kinanti hanya mengangguk pelan seraya memandangi roti yang Leon jejalkan ditangannya. Setelah itu Leon pun pergi dan masuk ke ruang jaga dokter. Dia memonitor perkembangan pasiennya dari sana.
Kinanti tersenyum kelu menatap nanar roti yang ada di tangannya. Tanyannya yang gemetar membuka plastik roti itu lalu mengigitnya perlahan. Benar yang dikatakan Leon, kalau ia harus mempersiapkan dirinya untuk hari esok. Esok Lukman memerlukannya, mana mungkin ia bisa menunjukkan dirinya kalau ia selemah dan sekacau ini?
Harus Kinanti akui kalau ini roti terenak yang pernah ia makan. Entah dimana ia harus mencarinya, mungkin dirumah sakit ini, saat ia menjadi salah satu orang yang memakai jas putih itu dan memberikan pengobatan serta perhatian pada pasiennya.
“Terima kasih, dokter Leon,” gumam Kinanti. Ini roti penyelamat dan penambah semangatnya.
****
__ADS_1