
“Demi, astaga!” Kinanti memandangi tidak percaya pada sosok Demian yang terluka parah dan tidak sadarkan diri. Banyak bekas pukulan yang memenuhi wajah dan tubuhnya. Sepertinya sekelompok orang baru saja menghajar Demian.
“Tolong bopong dia, kita baringkan disini,” pinta Kinanti yang panik. Ia menunjuk sebuah pelataran yang luas dan rata ditempat yang mirip sebuah pos.
“Iya.” Dua orang itu segera mengangkat tubuh Demian yang tidak berdaya dan tergolek lemah. Kinanti menyentuh hidungnya dan remaja itu masih bernapas normal.
“Demi, tolong bangunlah. Demi.” Kinanti menepuk-nepuk wajah Demian tapi remaja itu tidak bergeming.
“Astaga!” Jack tiba dengan cepat bersama beberapa orang panitia dan petugas keamanan sekolah. Jack lari pontang panting setelah mendapat kabar dari Kinanti. Ia segera memeriksa Demian yang ternyata belum sadarkan diri.
“Demiaaan, astagaaa!!!” Jack benar-benar panik. Ia memeriksa tubuh Demian dan menemukan koyakan di saku seragamnya.
“Apa dia dirampok?” Kinanti ikut memperhatikan.
“Kita belum tau. Tolong segera hubungi polisi dan ambulance.” Jack gemetaran, memberi perintah pada panitia.
“Iya, akan segera kami hubungi. Tapi mari kita bawa dulu siswa ini ke sekolah. Dua orang tolong tetap diam di sini dan memastikan tidak ada orang lain yang datang ke tempat ini sebelum polisi datang,” urai ketua panitia.
Dua orang security mengangguk paham dan tetap berjaga. Sementara Demian dibawa masuk ke dalam sekolah. Kondisi sekolahpun mendadak ramai terlebih saat polisi dan ambulance datang.
“Kinanti, tolong tetap lanjutkan semuanya. Saya akan membawa Demian ke rumah sakit.” Pesan jack yang pergi dengan tergesa-gesa, naik ke dalam ambulance.
“Iya Mr Jack.” Kinanti mengangguk patuh.
“Setelah kompetisinya selesai, kami minta adek untuk menemui kami ya. Dan menjelaskan apa yang tadi adek lihat.” Polisi yang tiba pun ikut berpesan.
__ADS_1
“Baik, Pak.” Kinanti kembali mengangguk patuh. Ia masih berdiri mematung sampai kemudian ambulance itu membawa Demian pergi meninggalkannya.
“Ya Tuhan, ada apa lagi ini?” Kinanti memejamkan matanya beberapa saat berusaha menenangkan dirinya sendiri. Ia masih tidak habis pikir dengan yang dialami Demian padahal pagi ini remaja tersebut masih baik-baik saja.
“Masuklah, pengumuman sudah keluar,” ujar seorang siswa yang tadi menemani Kinanti melakukan pencarian.
“Iya, Kak.” Dengan langkah gontai Kinanti menurut saja pergi untuk melihat hasil pengumuman. Sejujurnya ia tidak terlalu yakin dengan hasilnya karena selama mengerjakan soal pikiran Kinanti tidak sepenuhnya berada di olimpiade ini.
Di depan kelas, para peserta berkerumun untuk melihat pengumuman peserta yang lolos tahap satu. Kinanti melihat banyak raut kecewa karena sepertinya mereka gagal masuk ke tahap berikutnya. Kinanti pun tidak berharap banyak. Mungkin kali ini ia pun akan menemui kegagalan.
Setelah beberapa siswa mundur, Kinanti mulai memeriksa daftar nama yang lolos. Dari urutan satu, nama Kinanti tidak muncul dijajaran paling atas, padahal biasanya posisi Kinanti selalu ada dijajaran dua teratas.
Sorot matanya terus mengikuti nomor urut dan baru berhenti di nomor urut enam. “Hah, syukurlah.” Kinanti menghembuskan napasnya kasar. Ia masih tidak menyangka kalau namanya akan muncul dijajaran nama peserta yang lolos dengan nomor urut enam.
Tubuhnya yang masih lemas, ia dudukkan dibangku sambil menangkup wajahnya yang terasa tegang.
Tidak lama, ponsel Kinanti terus bergetar memberikan notifikasi pesan masuk. Kinanti memeriksanya dan ternyata itu notifikasi pesan masuk di group. Mereka membahas perihal masalah Demian. Kondisi Kinanti juga tidak lepas dari pertanyaan mereka.
“Astaga, cepat sekali nyebarnya.” Kinanti bergumam lirih. Ia berharap kabar ini tidak segera menyebar ke pihak orang tua. Karena Kinanti yakin, Lukman pasti akan sangat mencemaskannya.
Kinanti melihat pesan lain yang jumlahnya cukup banyak, ternyata pengirimnya adalah Kala.
“Kinan, kamu baik-baik aja? Apa yang teradi? Kinan, kamu dimana? Kinan, tolong jawab? Kinan, aku akan ke sana.” Pesan-pesan itu yang Kala kirimkan pada Kinanti.
Kinanti tersenyum kecil melihat pesan Kala. “Aku baik-baik aja Kal. Aku disekolah dan bentar lagi aku masuk kelas untuk ujian sesi dua,” balas Kinanti.
__ADS_1
“Hah, syukurlah. Aku boleh telepon atau video call?” Kala membalas dengan cepat. Ia ingin memastikan kalau Kinanti baik-baik saja.
“Aku akan menghubungimu setelah semuanya selesai. Tolong jangan kasih tau ayah tentang apa yang terjadi disini,” balas Kinanti.
“Iyaa. Hubungi aku segera setelah semuanya selesai. Tetap tenang Kinan, fokuslah,” timpal Kala dengan perasaan yang sedikit lega. Hampir saja jantungnya copot mendengar kondisi Kinanti di sana. Namun sekarang, ia sudah bisa menghela napas lega. Paling tidak, ia tahu kalau Kinanti lolos ke babak selanjutnya dan dalam kondisi baik-baik saja.
****
Ujian sesi kedua akan segera dimulai. Kinanti berada di dalam ruangan dengan teman-temannya yang berjumlah sekitar sepuluh orang. Mereka duduk dengan jarak saling berjauhan satu sama lain dan bersiap dengan ujian berikutnya.
Soal essay sebanyak dua puluh nomor menunggu untuk diselesaikan. Kinanti menghembuskan napasnya kasar saat ternyata soal yang disajikan cukup sulit dan membutuhkan analisanya. Kolom identitas yang Kinanti isi untuk pertama kalinya lalu mulai menjawab dengan lebih teliti dan cermat. Ia tidak bisa melewatkan kesempatan kedua ini. Selain mewakili dirinya sendiri dan sekolah, ia pun mewakili Demian yang saat ini dalam perjalanan ke rumah sakit.
Waktu terus bergulir, satu per satu siswa mulai menyelesaikan jawabannya tidak terkecuali Kinanti. Suasana tegang diruangan itu benar-benar membuat Kinanti berkeringat dingin. Ia segera menyerahkan lembar jawaban setelah semuanya selesai ia jawab.
“Pengumuman peserta yang lolos, akan kami sampaikan dalam waktu satu jam ke depan. Silakan kalian bisa makan siang dulu ya. Nanti kembali ke sini sekitar jam satu siang,” tutur pengawas dengan jelas.
“Baik, Bu.” Mereka kompak menjawab. Satu per satu siswa keluar dari ruangan itu. Kinanti tidak memiliki selera makan sama sekali dan memilih pergi ke perpustakaan, tempat yang pasti hening dan cocok untuk menenangkan diri.
Di perpustakaan itu tidak ada oran lain, selain petugas perpustakaan. Mungkin karena sekolah ini sedang diliburkan sehingga tidak ada siswa yang datang kemari.
“Mau membaca? Masuklah.” Petugas perpustakaan itu menyambut Kinanti dengan ramah.
“Iya Pak, terima kasih.” Kinanti segera masuk. Ia memperhatikan seisi perpustakaan yang sangat luas, rapi dan bersih. Ia mencari buku, tetapi bukan buku pelajaran. Melainkan buku dongeng untuk menenangkan pikirannya.
Beberapa buku cerpen diambil Kinanti dan ia baca disalah satu sudut ruang Perpustakaan. Sedikit demi sedikit pikirannya mulai teralihkan dan Kinanti mulai menemukan ketenangannya. Terlebih setelah ia menerima pesan dari Jack yang berbunyi, “Demian sudah siuman dan mulai bisa diajak bicara.” Begitu isi pesan yang dikirim Jack dan membuat Kinanti bisa bernapas lega.
__ADS_1
“Syukurlah,” gumamnya. Akhirnya ada kabar baik tentang kondisi Demian yang berangsur membaik.
****