Secret With Bad Boy

Secret With Bad Boy
Penyesalan


__ADS_3

Menyesal, perasaan itu yang saat ini Kala rasakan. Anfalnya Lukman, tidak hanya menjadi pukulan keras bagi Kinanti seorang, melainkan juga bagi Kala. Laki-laki baik yang sudah ia anggap sebagai ayahnya sendiri, berada dipersimpangan hidup yang entah akan bertahan lama atau tidak. Seorang gadis ikut terpuruk dan tidak tahu harus berbuat apa.


Dari kejauhan Kala masih memperhatikan Kinanti yang beberapa saat lalu mengusirnya dan memintanya untuk tidak pernah kembali. Sungguh ia sangat sedih melihat Kinanti yang duduk sendirian dengan pikiran kosong seperti itu. Rasanya ia ingin berlari dan menemani Kinanti yang pasti kesepian dan ketakutan.


Namun apalah daya. Saat ini Kala hanya bisa memperhatikan Kinanti dari kejauhan. Ia memahami benar alasan kemarahan Kinanti. Rasa kecewa karena merasa dibohongi dan dibodohi oleh orang yang begitu ia sayangi dan percaya salah satunya adalah Kala sendiri.


Seraya mengusap wajahnya dengan kasar, Kala membayangkan kembali apa jadinya jika ia memberitahu Kinanti lebih cepat  tentang kondisi kesehatan ayahnya. Apa gadis itu tidak akan marah seperti sekarang? Kala merasakan benar kalau kemarahan orang sabar yang dikecewakan itu sangat luar biasa. Murkanya Kinanti membuat dunia Kala serasa hancur tak bersisa. Padahal baru beberapa jam lalu ia merasa memiliki Kinanti seutuhnya, tetapi sekarang ia merasa begitu asing. Tidak mengenali Kinanti yang membentengi dirinya dibalik rasa marah.


Kendatipun ia ingin memberitahu Kinanti tentang kondisi Lukman yang sebenarnya, tetapi ada batasan yang tidak pernah bisa ia langar. Hak privasi Lukman dan tentu saja janjinya pada Lukman untuk merahasiakan semua ini. Hancur, sudah pasti. Kecewa, itupun sudah pasti, Kala tidak bisa mengingkari kalau perasaan itu pasti mendasari kemarahan Kinanti dan gadis itu perlu berdamai dengan keadaan terutama berdamai dengan dirinya sendiri yang belum bisa menerima kondisi Lukman yang jatuh sakit.


Merasa tidak berguna dan bodoh, dua hal yang dulu pernah Kala rasakan. Hal itu bahkan masih dirasakan Kala hingga saat ini saat ia mengingat perpisahan kedua orang tuanya. Andai saja Kala lebih berprestasi dan lebih bisa membanggakan kedua orang tuanya, apakah perpisahan semacam itu tidak akan terjadi?


Kala melantur, ya remaja itu sudah mulai melantur. Pikirannya berputar-putar diantara masalahnya dan masalah Kinanti. Untuk saat ini memang baiknya Kala dan Kinanti sama-sama menenangkan dirinya masing-masing. Ia masih harus menyiapkan dirinya agar lebih siap menghadapi Kinanti jika kondisi gadis itu semakin terpuruk.


“Aku pergi, Nan. Tapi aku akan kembali. Semakin sering kamu menolak kehadiranku, maka aku akan semakin sering datang menemuimu.” Itu janji Kala dalam hatinya.

__ADS_1


Ia sudah memutuskan untuk pulang lebih dulu. Ia berjalan keluar rumah sakit di malam yang sudah cukup larut. Ia melihat langit yang begitu gelap dan sepertinya akan turun hujan.


“Kinan gak pake jaket?” Kala bergumam sendiri. Ia membayangkan kalau Kinanti mungkin akan menggigil. Tetapi, jika ia kembali, apa Kinanti akan menerimanya? Bukankah gadis itu hanya akan menolaknya mentah-mentah dan membuat gadis itu kehabisan energi karena emosinya kembali terpancing?


Akhirnya, Kala memutuskan pergi. Ia tidak bisa memaksa Kinanti terus menerimanya. Mungkin waktu yang akan membuat Kinanti perlahan menerimanya.


Dengan mobil Lukman, Kala meninggalkan rumah sakit. Ia melajukan mobil tua itu menuju rumahnya dan mengembalikannya besok. Tetapi baru sampai diperempatan jalan, ia teringat bagaimana kondisi rumah Kinanti saat ditinggalkan. Mungkin mereka tidak mengunci pintu atau pecahan kaca masih terserak dilantai kamar Lukman.


Kala memutar balik arah laju kendaraannya. Ia memilih untuk pergi ke rumah Kinanti terlebih dahulu. Sekitar lima belas menit saja Kala sudah sampai dirumah Kinanti. Benar saja, pintu tidak dikunci, lampu tidak ada yang menyala, buku dari tas Kinanti berhamburan berjatuhan, termasuk dompet dan ponsel Kinanti yang sudah mati dan terserak dilantai. Syalnya juga ada di atas sofa. Kinanti benar-benar tidak membawa apapun ke rumah sakit selain dirinya yang rapuh.


Maka Kala memutuskan untuk membereskan semuanya. Ia mengambil sapu dan kain pel untuk membereskan semuanya. Ini kali pertama Kala membereskan rumah dan bukan rumahnya sendiri, melainkan rumah Kinanti. Mungkin ini tidak membantu banyak, tetapi Kala berharap ini bisa mengurangi sedikit rasa bersalah karena tidak bisa membantu banyak untuk sahabat sekaligus kekasihnya.


Menjelang tengah malam, semuanya baru selesai. Kala terduduk dilantai beberapa saat, merasakan lelah ditubuhnya yang baru terasa. Setelah tenaganya pulih, ia memutuskan untuk pulang ke rumahnya.


Dalam perjalanan pulang pun Kala masih gelisah. Ia merindukan seseorang yang biasanya duduk diboncengannya sambil memeluknya. Lalu ia berceloteh apa saja termasuk sesekali menyanyikan lagu naik-naik kepuncak gunung. Katanya itu lagu pertama yang ia hapal saat SD. Gemas, ya Kinanti memang menggemaskan. Hal itu yang menjadi salah satu alasan Kala merindukan Kinanti padahal baru beberapa saat lalu melihatnya.

__ADS_1


Perjalanan lambat itu membawa Kala tiba dirumahnya. Suasana sudah sangat sepi. Orang-orang rumah sepertinya sudah tidur.


“Kal, baru pulang?” suara Bertha mengagetkan remaja itu.


“Iya, Mah. Mamah belum tidur?” Kala menghampiri Bertha dan mengecup keningnya.


“Mamah udah tidur tapi kebangun karena haus. Kamu udah makan?” Bertha menatap wajah putranya yang terlihat sedih dan lelah.


“Udah Mah. Kala mau masuk dulu ya,” pamit Kala. Ia berbohong, ia tidak berselera untuk makan.


“Iya sayang, istirahat yaa….” Pesan Bertha sambil tersenyum kecil.


Kala hanya mengangguk, bibirnya begitu sulit untuk menyunggingkan senyum. Ia segera masuk ke kamarnya dan Bertha hanya memandangi bahu putranya itu dengan perasaan tidak menentu.


“Kamu kenapa, Kal?” Bertha bertanya pada sosok Kala yang sudah lebih dulu masuk ke kamarnya. Baru kali ini Bertha melihat putranya sesedih itu.

__ADS_1


****


__ADS_2