Secret With Bad Boy

Secret With Bad Boy
Hari yang berjalan


__ADS_3

“Gimana hari ini?” tanya Lukman saat berada di meja makan.


Saat ini, dua orang itu tengah menikmati makan malam mereka yang sederhana. Setelah seharian beraktifitas, ini saatnya mereka bertukar cerita.


“Lancar ayah, aku dapet beberapa temen baru. Ayah gimana di kantor? Baik-baik gak orang kantor pusat?” Kinanti balik bertanya. Penasaran dengan ekspresi sang ayah yang terlihat bahagia sejak ia pulang bekerja.


Saat ini, Kinanti pun lebih suka mendengar cerita Lukman seharian di banding cerita miliknya.


“Ya, sama, ayah juga ketemu rekan kerja baru. Ada satu orang yang satu divisi sama ayah, dia juga asalnya dari Bandung. Namanya Om Seno. Usianya lebih muda sedikit dari ayah.” Lukman memberikan sepotong paha ayam untuk Kinanti.


“Kata om Seno, di sekolah Kinan itu sering ada banyak tawaran beasiswa. Keponakan om Seno ada yang sampai kuliah di inggris dan setelah lulus dia di minta langsung sama salah satu perusahaan asing. Dia mendapatkan posisi yang nyaman di perusahaan itu padahal dia dari keluarga sederhana. Wah, dia sangat beruntung.” Ungkap Lukman dengan penuh kebanggan.


“Kerreennn. Ngomong-ngomong ayah, Kinan juga di kasih tau sama temen kalau nilai Kinan semester ini bagus, Kinan bisa apply beasiswa. Terus katanya bulan depan ada olimpiade, Kinar di saranin ikut, siapa tau masuk tiga besar nanti bisa jadi perwakilan sekolah. Tapi, Kinan lagi coba mempelajari silabus pembelajaran tahun ini, takutnya Kinan gak bisa ngejar.”


“Wah, ayah dukung itu. Itu langkah yang bagus untuk Kinan mendapatkan pengalaman yang lebih di banding di sekolah Kinar sebelumnya. Kira-kira, apa yang bisa ayah bantu buat Kinan?” Lukman terlihat begitu bersemangat.


Melihat antusiasme Lukman, Kinanti tersenyum kecil. “Saat ini dukungan semangat dari ayah yang paling Kinan butuhkan. Kasih Kinan kepercayaan untuk belajar menata masa depan Kinan ya ayah.” Kinanti menyentuh tangan kiri Lukman.


“Tentu sayang, ayah pasti mendukung semua keputusan Kinan. Kinan anak kebanggan ayah, apapun yang terbaik buat Kinan, pasti ayah berikan. Semangat ya, semangat!!” Lukman mengeratkan genggaman tangannya pada Kinanti.


“Makasih ayah.”


Kinanti tersenyum haru mendengar dukungan penuh dari sang ayah. Ia mencium tanga Lukman dan Lukman mengusap lembut pipi sang putri yang ia tangkup dengan sebelah tangan.


Makan malam terasa begitu hangat seperti biasanya. Tiba waktunya Lukman menikmati secangkir teh di belakang rumah sambil bersantai dengan ikan-ikannya. Mereka memiliki kolam kecil yang ditanami ikan mas. Lukman sangat suka mengistirahatkan pikirannya di sana.


“Ayah, kita belum punya gula. Kinan beli dulu yaa ke mini market.” Ucap Kinan, mengusik ketenangan sang ayah yang sedang memberi makan ikan-ikannya.


“Oh iyaa, kita belum belajna. Ya udah biar ayah yang beli.” Lukman segera menaruh pakan ikan di tempatnya.


“Gak usah, biar Kinan aja yang beli, ayah tunggu aja di rumah. Anginnya cukup dingin, nanti alergi ayah malah kambuh dan bersin-bersin. Lagi pula, Kinan liat ada mini market terdekat yang jaraknya cuma sekitar lima ratus meter dari sini. Sekalian Kinan juga pengen nghafalin area sini, biar gak nyasar-nyasar.”

__ADS_1


“Tapi ini udah malem nak.” Lukman terlihat khawatir.


“Baru jam setengah delapan ayah. Ayah tenang aja, Kinan akan bawa semprotan merica. Kalau ada yang macam-macam, Kinan semprot pake semprotan itu.”


“Beneran?” Lukman tidak kuasa menahan senyumnya.


“Iya lah. Kinan kan udah bisa melindungi diri sendiri. Jadi ayah tenang aja. Temenin aja ikan-ikannya, kasian mereka masih lapar.”


“Baiklah. Pake jaket ya nak, anginnya cukup kenceng.”


“Siap ayah.”


Kinanti segera berlari ke kamarnya untuk mengambil jaket dan dompetnya. Hanya beberapa saat saja sebelum ia benar-benar pergi.


“Ayah, Kinan pergi dulu.” Teriak Kinanti di pintu.


“Iyak hati-hati.” Sahut Lukman.


“Hatchu!” Lukman sudah mulai bersin.


“Hatchu!” tidak hanya sekali melainkan beberapa kali. Sama seperti saat di kantor, dahinya sampai berdenyut nyeri karena bersin berulang yang cukup keras.


Lukman masuk ke dalam rumah untuk mengambil tisue. Ia menekan hidungnya yang selalu meler setelah bersin beberapa kali.


“Aduh, kok sampe meler begini.” Gumam Lukman sambil menekan cuping hidungnya.


Selembar tisue ia ambil dan ia usapkan pada hidungnya. Tapi baru beberapa saat di usapkan, tisuenya sudah terasa basah.


Lukman berniat membuangnya. Tapi ia begitu terkejut saat ternyata yang basah itu bukan lendir hidung melainkan darah.


“Astaga!” seru Lukman.

__ADS_1


Ia segera mengambil tisue lainnya dan memasukkannya ke dalam lubang hidung. Tapi sudah beberapa kali mengganti tisuenya, darahnya tidak juga berhenti.


“Ini kenapa lagi? Padahal aku nggak lagi flu.” Lukman panik sendiri.


Ia pergi ke kamar mandi dan mencuci mukanya. Beberapa kali juga ia membasuh wajah dan hidungnya tapi darah di tangannya cukup banyak hingga tercium bau amis yang sangat menyengat.


Lukman semakin panik, ia kembali ke rumah dan mengambil tisue lebih banyak. Ia mencoba menenangkan dirinya dengan duduk di sofa sambil menengadahkan kepalanya. ia juga memasukkan tisue ke lubang hidungnya dan menggunakan mulut untuk bernafas.


“Aku kok kayak ikan, megap-megap gini.” Masih bisa-bisanya ia mencandai dirinya sendiri yang sedang ketar ketir. Ia sangat takut kalau Kinanti pulang dan melihat apa yang terjadi padanya. Putrinya pasti langsung menyuruh ia pergi ke rumah sakit, sama seperti yang dikatakan Seno siang tadi.


Tapi, melihat darah sebanyak ini, apa mungkin ia memang harus pergi memeriksakan dirinya ke dokter? Apa mungkin sinusnya kambuh?


“Ada-ada saja.” Ucap Lukman saat membayangkan hal buruk mungkin terjadi pada dirinya.


Lantas ia mengambil ponselnya lalu mengirim pesan pada seseorang,


“Sen, besok aku izin ke klinik sebentar ya, mau periksa dulu.” Tulis Lukman.


“Kenapa kang Lukman, bersin-bersinnya kambuh lagi ya?” cepat juga Seno membalas.


“Iya, sampe berdarah ini. “


“Ya udah, segera periksakan, jangan di tunda-tunda. Mau aku temenin?”


“Gak usah, aku bisa pergi sendiri setelah mengantar anakku ke sekolah. Tolong titip kalau bos nanya.”


“Santai kang, kerjaan kita besok gak terlalu banyak. Aku masih bisa handle. Yang penting, kang Lukman sembuh dulu.”


“Iya, makasih Sen. Kamu juga jaga kesehatan.”


Acara berkirim pesan itu pun selesai dan Lukman kembali menenangkan dirinya. Ia membuang satu persatu tisue yang sudah ia gunakan, banyak sekali darahnya. Ia tidak tidak boleh meninggalkan jejak, atau Kinanti akan panik.

__ADS_1


*****


__ADS_2