Secret With Bad Boy

Secret With Bad Boy
Pamit


__ADS_3

Siang itu, setelah bell sekolah berbunyi, Kinanti segera keluar dari kelasnya. Gadis itu terlihat tergesa-gesa karena ada hal yang harus ia lakukan saat ini juga.


Beruntung hari ini ia tidak pulang sore karena ada try out dari sebuah Universitas terkenal bagi mereka yang saat ini berada di kelas tiga SMA. Hasil try out Kinanti sangat bagus dan pihak Universitas mengapresiasi itu. Mereka menawari Kinanti untuk melanjutkan study-nya disana. Kinanti sebenarnya tertarik, tetapi label kampus itu sebagai kampus swasta terbaik, bisa jadi biaya perkuliahannya pun selangit. Walau beasiswa yang Kinanti dapatkan bisa memastikan biaya kuliah seluruhnya tertanggung, tetapi bagaimana dengan biaya lainnya?


“Tenang Kinan, minta pendapat Ayah dulu. Sekarang kita selesaikan satu-satu.” Mantra itu yang Kinanti ucapkan untuk menegaskan pilihan sikapnya. Ada Lukman yang harus selalu ia libatkan dalam setiap keputusannya.


Keluar dari area sekolah, Kinanti langsung menuju halte bis tempat ia biasa menunggu mode transportasi umum itu. Hari ini gadis itu memang bepergian sendiri karena Kala masih berada di Singapore. Hal ini cukup menguntungkan karena dengan begini Kinanti seperti kembali pada dirinya yang dulu, yang mandiri dan tidak bergantung pada orang lain, sekalipun itu Kala.


Sesekali ia memang perlu melakukan hal ini agar ia tidak terlalu ketergantungan dan selalu mengandalkan Kala. Ia juga merindukan suasana berdiri berdesakan didalam busway yang mulai sulit untuk mendapatkan tempat duduk. Ini realita yang sebenarnya, bahwa selamanya hidup itu adalah sebuah kompetisi termasuk kompetisi untuk mendapatkan tempat duduk. Yang berbeda, ada empati yang harus kita gunakan saat kita menapaki jalan hidup kita.


Kinanti mencoba menikmati itu, menikmati perjalanan yang membuat jantungnya berdebar kencang. Entah seperti apa tanggapan HRD Lukman nantinya saat ternyata Lukman akhirnya memutuskan untuk berhenti. Apakah mereka akan bersedih atau hanya bersikap biasa saja karena setelah ini pun mereka bisa merekrut tenaga muda yang lebih kuat, sehat dan produktif.


Hati Kinanti sedikit menciut, saat menyadari bahwa saat kita bekerja disuatu tempat, seleksi alam itu akan terjadi. Kita akan menemui hal yang seperti ini, bertemu dengan lingkungan kerja yang baru lalu berakhir dengan sebuah perpisahan. Kemungkinannya hanya ada dua, kepergian kita akan dikenang atau dilupakan begitu saja tanpa ada rasa penyesalan bagi mereka. Ya, itu realita sebenarnya saat kita bekerja di sebuah tempat kerja.


Di halte berikutnya, Kinanti turun. Ia berjalan kaki menuju pusat perkantoran yang hanya berjarak beberapa meter saja. mode transportasi yang terus berkembang memang memberi banyak kemudahan dan membantunya. Ia hanyaperlu bersabar dan berbagi dengan orang lain yang juga memiliki kepentingan sendiri.


Tiba didepan perusahaan tempat Lukman bekerja, Kinanti menghentikan langkahya beberapa saat. Ia memandangi bangunan kokoh tempat ayahnya mengais rejeki selama puluhan tahun.


“Ini yang terbaik, ya ini yang terbaik. Bukan hanya bagi ayah, tapi juga bagi perusahaan ini.” Kinanti menguatkan dirinya sebelum masuk ke halaman perusahaan ini. Setelah yakin, dengan gegap gempita Kinanti menemui seorang resepsionis yang menyambutnya.


“Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?” tanya wanita bersanggul rapi yang menyambut Kinanti dengan hangat.


“Siang Kak. Saya mau bertemu dengan HRD disini. Saya harus menyampaikan surat dari ayah saya.” Kinanti mengeluarkan sebuah amplop yang ia simpan di dalam tas.


“Oh, boleh dek. Adek tulis identitas adek di sini dan jenis surat yang adek bawa. Suratnya akan saya sampaikan ke departemen HRD.” Resepsionis itu berujar dengan ramah.


“Mohon maaf kak, apa boleh saya yang menyerahkannya secara langsung? Karena ada beberapa hal yang harus saya sampaikan,” pinta Kinanti dengan setengah memohon.


“Oh maaf, nggak bisa dek. Kecuali adeknya sudah punya janji temu.” Alasan resepsionis itu cukup bisa Kinanti pahami hanya saja tidak sesuai dengan keinginannya.


“Ada apa ini?” tanya seorang wanita yang mendengar penolakan resepsionisnya pada seorang gadis.


Kinanti dan resepsionis itu segera menoleh dan ternyata ada Bertha yang baru kembali dari makan siang dengan kliennya.

__ADS_1


“Selamat siang Bu, maaf saya membuat kegaduhan. Saya Kinanti, anaknya pak Lukman, salah satu karyawan di perusahaan ini.” Kinanti segera memperkenalkan dirinya dengan sopan.


Tentu saja Bertha mengenal gadis ini. Gadis yang membuat banyak perubahan pada diri putranya. “Ya, saya ingat. Ikutlah dengan saya.” Sahut Wanita itu dengan senyumnya yang ramah.


“Oh, terima kasih, Bu.” Kinanti sampai kaget karena ternyata ia diperbolehkan masuk. Ia berpikir kalau HRD perusahaan ini tidak setegas yang ia pikirkan. Ia tidak tahu kalau wanita ini adalah pemilik perusahaan sekaligus ibu kandung Kala.


Wanita itu berjalan didepan Kinanti dan Kinanti menyusul dibelakangnya. Mereka masuk ke dalam lift menunju ruangan direktur utama. Sesekali Bertha memperhatikan sosok gadis manis ini dari pantulan dinding lift. Gadis ini tersenyum kecil saat tanpa sengaja mereka bertemu pandang. Bertha menghembuskan napasnya lega saat ia sadar kalau putranya memiliki teman yang sangat manis dan baik.


Lift berhenti dilantai empat belas, tempat ruangan kerja Bertha berada. Bertha sengaja tidak membawa Kinanti masuk ke ruangannya agar tidak terasa tegang. Ia memilih mengajak Kinanti masuk ke ruangan santainya yang memiliki balkon dengan view kota Jakarta yang oadat. Ia ingin berbincang santai dengan gadis dihadapannya.


“Silakan duduk,” Wanita itu dengan ramah mempersilakan Kinanti duduk.


“Terima kasih.” Kinanti duduk dengan anggun di salah satu sudut sofa.


“Apa yang bisa saya bantu?” Penerimaan Bertha memang sangat ramah.


“Sebelumnya terima kasih karena ibu sudah berkenan menemui saya.” Gadis itu memulai kalimatnya dan menaruh sebuah amplop putih diatas meja. Amplop yang Lukman tulis sendiri sebagai surat pengunduran dirinya.


“Saya membawa amanat dari ayah saya untuk menyampaikan ini ada Ibu.” Ia mendorong surat itu mendekat pada Bertha.


“Saya mewakili ayah saya yang tidak bisa memberikan surat pengunduran diri ini pada Ibu, sekaligus ingin mengucapkan banyak terima kasih atas kebaikan perusahan ini pada ayah saya. Dua puluh empat tahu ayah saya bekerja di sini dan sampai saat ini, saya masih melihat kebanggan dimata ayah saya, setiap kali menceritakan tentang perusahaan ini.” Kinanti menjeda kalimatnya beberapa saat, ia juga mencengkramkan tangannya satu sama lain untuk menahan gejolak kesedihan yang ia rasakan.


“Ayah saya sangat suka bekerja diperusahaan ini. Setiap ada kenalannya yang bertanya ayah kerja dimana, beliau akan menceritakan kalau beliau bekerja ditempat yang nyaman dan membuatnya bersedia mengabdikan dirinya ditempat ini. Bukan perihal gajinya saja yang membuat beliau nyaman, tetapi karena orang-orang yang ada disini yang selalu memotivasinya juga karena kebaikan dari pimpinan perusahaan seperti ibu.” Gadis itu tersenyum penuh arti membuat hati Bertha tergugah. Rasanya ia mulai paham mengapa Kala berubah setelah mengenal gadis ini.


“Ayah saya, sakit.” Pada bagian ini suara Kinanti terdengar sedikit gemetar meski bibirnya berusaha tersenyum untuk menunjukkan kalau ia tegar.


“Sebuah penyakit yang membuat dunianya berubah serratus delapan puluh derajat. Kekuatannya tidak sebesar dulu dan semangatnya juga tidak semenggebu saat ia sehat. Karena itu beliau memutuskan untuk berhenti dari perusahaan ini. Bukan karena sudah tidak ingin memberikan kontribusinya bagi perusahaan ini, tetapi karena beliau sadar, perusahaan ini terlalu baik dengan memberikan permakluman yang besar atas kondisi ayah saya yang tidak sama dengan karyawan lain.”


Ada tangis yang berusaha ditahan Kinanti saat sepasang mata Bertha menatapnya dengan penuh perhatian dan haru. “Terima kasih, Bu. Terima kasih karena perusahaan ini telah memberikan penghidupan yang layak untuk kami sekeluarga. Terima kasih juga atas permakluman yang sangat besar pada kondisi ayah saya. Saya dan ayah saya, tidak bisa membalas kebaikan ibu dan para pimpinan perusahaan ini. Saya hanya bisa mendo’akan agar perusahaan ini selalu sukses dalam meraih visi dan misinya sehingga banyak karyawan yang tertolong seperti halnya ayah saya.” Kinanti mengakhiri kalimatnya dengan sebuah senyuman, senyuman yang berisi banyak ucapan terima kasih.


Bertha sampai tidak bisa berkata-kata mendengar ucapan Kinanti yang begitu tulus dan mendalam. Pesan Kinanti dan Lukman begitu sampai kehatinya.


“Bagaimana kabar ayahmu sekarang?” Pertanyaan itu yang akhirnya Bertha tanyakan. Ia menatap Kinanti dengan penuh empati.

__ADS_1


“Baik, ayah saya perlahan membaik.” Kinanti menyahuti dengan penuh ketenangan walau hatinya bergejolak setiap kali mendengar seseorang menanyakan kondisi ayahnya.


“Sampaikan salam dan ucapan terima kasih saya untuk pak Lukman. Semoga beliau sehat selalu.” Kalimat itu diucapkan Bertha dengan suara bergetar. Ia berusaha tegas sebagai seorang pimpinan, tetapi hatinya terlampau terrenyuh oleh sikap seorang Kinanti.


“Terima kasih, Bu. Akan saya sampaikan.” Suara Kinanti sudah berubah netral sepertinya kekuatannya mulai kembali.


Tidak lama, gadis itu memilih pamit, meninggalkan Bertha yang masih menatap selembar surat pengunduran diri yang membuat hatinya terrenyuh. Banyak hal yang kemudian ia pikirkan setelah kepergian Kinanti dan kalimat-kalimatnya yang begitu sarat makna. Satu hal yang ia lakukan saat ini yaitu memanggil assistantnya untuk masuk dan menghadapnya.


“Ada yang bisa saya bantu nyonya?” tanya sang assistant pada Bertha.


Bertha melipat surat ditangannya dan menyimpannya dengan tapi. Ia tersenyum pada assistantnya dan memberi pria itu perintah.


“Batalkan semua ajuan penjualan perusahaan ini.” Ucapan Bertha terdengar tegas hingga membuat asstantnya menatap wanita itu dengan penuh keterkejutan.


"Maksud anda, nyonya?" Sang assistant dibuat bingung.


Bertha tersenyum kecil, ia beranjak dari tempatnya dan menghembuskan napasnya lega. "Saya masih akan melanjutkan untuk mengelola perusahaan ini oleh tangan saya sendiri," ucap wanita itu dengan penuh keyakinan.


“Ba-baik Nyonya.” Assistant itu sampai tergagap.


Bertha tersenyum lega setelah mengatakan apa yang ia tahan dalam hatinya. Dengan hati dan pikiran yang sudah mengerucut, ia sampai pada sebuah simpulan kalau ia tidak akan melepaskan perusahaan ini begitu saja. Perusahaan yang diamanatkan sang ayah untuk ia jaga. Ia juga diwarisi banyak karyawan yang menggantungkan hidupnya diperusahaan ini.


Seorang Lukman dan putrinya, telah membuka matanya bahwa mungkin tidak hanya satu orang Lukman yang berdedikasi tinggi pada perusahaan ini. Sudah pasti banyak juga karyawan yang loyal pada perusahaan ini.


Bertha merasa kalau ia tidak mau kehilangan orang-orang itu. Ia tidak siap jika kemudian manajemen yang baru, yang membeli perusahaannya, memiliki pola pikir yang berbeda tentang cara memperlakukan karyawan dengan caranya dan cara mendiang sang ayah. Ya, keputusan Bertha sudah sangat bulat untuk tetap memegang kendali atas perusahaan ini.


“Selain itu, tolong siapakan sebuah gathering untuk para pegawai dan keluarganya. Saya ingin mengenal mereka dengan lebih baik lagi,” titah Bertha berikutnya. Ia tidak mau kehilangan moment mengenal orang-orang berdedikasi seperti Lukman. Ya, ia tidak mau melewatkan itu.


“Baik, Nyonya.” Lagi assistant Bertha menimpali dengan patuh.


Tidak ada lagi kalimat perintah dari nyonya besar ini. Nyonya besar masih berfokus dengan perasaannya yang lega atas keputusan yang ia pilih saat ini.


Lihat, langit Jakarta begitu cerah hari ini.

__ADS_1


****


__ADS_2