
“Jadi kamu mau ke luar negeri?” tanya Kinanti yang menatap Kala dengan tidak percaya. Saat ini dua remaja itu tengah berbicara di taman belakang. Suasana yang tadi ceria mendadak tegang setelah Kala mengakui kalau ia berniat kuliah di luar negeri.
“Ya, aku pikir akan melakukannya.” Kala menatap Kinanti yang tengah memandanginya dengan rasa yang bergejolak.
Kinanti berjalan menuju ayunan dan terduduk di sana. Memandangi nyala lampu taman berbentuk bulat dan berwarna kekuningan. Gadis itu tidak terlihat marah, tetapi wajahnya juga bukan wajah yang menunjukkan ia bahagia mendengar kabar itu. Ia masih terkejut karena sebelumnya Kala tidak pernah mengatakan apapun tentang rencana kuliahnya. Ia bahkan tidak bercerita tentang beasiswa kuliah yang ia dapatkan.
"Nan," Kala menghampiri gadis itu, menatap wajah cantik yang tidak berrespon apapun. "Aku janji, aku gak akan ninggalin kamu. Kamu akan tetep dapat perhatian dari aku dan menjadi prioritasku.” Kala bersimpuh di hadapan Kinanti, membuat ayunan itu berhenti bergerak. Ia memegangi tangan sang gadis dan menggenggamnya dengan erat.
“Apa pergi keluar negeri bukan meninggalkanku?” pertanyaan Kinanti terdengar sederhana, tetapi menyesakkan.
Kala tidak langsung menjawab, ia menatap Kinanti beberapa saat lantas tertunduk lesu. Ia berusaha untuk mengumpulkan kekuatan bukan hanya untuk memberi penjelasan pada Kinanti, tetapi juga memantapkan hatinya.
Kinanti ikut terdiam. Ia melihat Kala yang sepertinya kehabisan kata-kata. Beberapa saat lalu Kinanti melihat dengan jelas kobaran semangat di mata Kala saat ia berbicara dengan Bertha tentang rencana pendidikan dan masa depannya. Lalu, sekarang kobaran semangat itu seolah mulai redup. Entah mengapa Kinanti merasa tidak rela. Baru kali ini Kinanti melihat semangat Kala yang menggebu dan rasanya ia tidak mau kehilangan semangat itu. Dan ia sadar, pertanyaan sederhana yang tadi ia tanyakan, memerlukan jawaban yang tepat dari Kala agar Kinanti tidak salah memahami.
“Kamu harusnya menceritakan ini sama aku Kal. Jauh-jauh hari. Supaya aku bisa bersiap dan tidak merasa ditinggalkan dengan tiba-tiba lagi.” Hati Kinanti melunak dengan sendirinya. Ia tidak tega melihat Kala kehilangan semangatnya hanya karena dirinya. Ia tahu persis bagaimana rasa semangat yang menggebu itu hadir dan tidak muncul setiap waktu. Hanya saja, untuk beberapa saat tadi Kinanti merasa kalau keadaan akan mencuri Kala dari sisinya.
“Aku minta maaf, aku tau aku salah. Aku, hanya belum menemukan waktu yang tepat untuk menceritakan semuanya. Aku gak mau kalau rasa bahagia aku malah membuat kamu bersedih, Kinan.” Kala semakin mengeratkan genggaman tangannya. Bedanya, saat ini ia beranikan diri untuk menatap sepasang netra bening milik Kinanti, untuk menegaskan kalimatnya.
“Waktu yang tepat itu seperti apa? Waktu seperti apa yang kamu tunggu? Waktu kamu tiba-tiba ada di bandara atau tiba-tiba menghubungi aku dari luar negeri? Waktu yang tepat itu sebaiknya diciptakan, bukan hanya di tunggu, yang akhirnya kita hanya membuang-buang waku dan membuat kita mulai tidak percaya satu sama lain.” Kalimat Kinanti terdengar panjang dengan nada kecewa. Ia sudah pernah dihadapkan pada kondisi menunggu waktu yang tepat, tetapi hal itu malah membuatnya merasa begitu terpukul. Andai tahu lebih awal, mungkin semua sesal tidak akan pernah ada.
Kala mengangguk pelan, ia mengakui benar ucapan Kinanti. Terlebih gadis ini baru kehilangan seseorang dalam hidupnya. Seseorang yang sangat berarti dan membuatnya terpuruk. Kala tidak tega menambah beban kesedihan Kinanti.
“Aku minta maaf Nan, aku bener-bener minta maaf. Kamu benar, setiap peluang itu harusnya diciptakan, bukan hanya di tunggu.” Lagi Kala menimpali dengan wajah sedih.
__ADS_1
Kinanti menghembuskan napasnya kasar, tidak tega juga melihat Kala sedih begini. “Kenapa harus ke luar negeri? Apa yang kamu cari di sana?” Kinanti memberikan pertanyaan yang menurutnya penting untuk Kala.
Kala beranjak pindah duduk di samping Kinanti dengan tetap memegangi tangan lembut itu. “Untuk membalas dendam pada suami mamahku.” Kala tersenyum getir di ujung kalimat pendeknya. Ia menghadap Kinanti dan menatap lekat sepasang mata yang selalu membuatnya teduh.
“Laki-laki itu selalu mengancamku dengan mengatakan kalau dia akan mengirimku keluar negeri kalau aku gak menuruti permintaannya atau kalau aku tidak memenuhi ekspektasinya. Menurut dia, dia yang paling tau apa yang terbaik buat aku. Belajar bisnis dan memenuhi kebanggannya dengan banyak gelar yang aku sandang, seperti mimpi anak tirinya. Dia selalu ingin memisahkan aku dari mamah dan membuat hidupku tidak tenang.”
“Kali ini aku ingin melawan semua perasaan terintimidasi itu. Aku ingin menunjukkan walau sekalipun aku harus keluar negeri, itu bukan karena intimidasi dia. Tapi karena aku memang mampu menjadi Kala yang bisa dibanggakan, bukan hanya bisa di tekan sesuak hati.”
“Aku mau menunjukkan, bahwa aku bertanggung jawab pada hidupku sendiri, karena aku memang mampu mempertanggung jawabkannya bukan karena dia memaksaku untuk bertanggung jawab. Aku ingin memberitahunya kalau keangkuhan dia tidak berbekas apapun padaku. Aku tau cara menjadi versi terbaik untuk diriku sendiri, bukan menurut dia.”
Baru kali ini Kala berbicara dengan sangat panjang. Bukan tentang Kinanti, bukan tentang hubungan mereka. Tetapi tentang Kala yang memiliki keinginan untuk memperbaiki masa depannya. Ia ingin membalaskan dendamnya yang indah pada Yudhistira. Ia ingin menepis ucapan Yudhistira yang selalu mengatakan kalau ia telah memiliki anak yang gagal dan tidak bisa dibanggakan. Ya, semenyakitkan itu kalimat yang pernah Yudhistira ucapkan disertai tamparan yang membuat rongga kepala Kala bergemuruh dan hatinya hancur.
Kinanti mengembuskan napasnya dengan berat. Walau membayangkan Kala pergi dari hidupnya itu sangat berat, tetapi membayangkan dirinya menjadi seseorang yang mematahkan mimpi orang yang ia sayangi, jauh terasa lebih berat. Ia sadar kalau selama ini Kala telah melakukan banyak hal untuk dirinya dan Lukman, lalu apa salahnya kalau Kala ingin melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri?
“Negara mana yang kamu pilih?” Pikiran Kinanti mulai terbuka dan hal itu membuat Kala tiba-tiba memeluknya dengan erat. Ia tahu, hati gadisnya tidak sekeras itu. Kinanti sangat memahami keinginanya.
“Seperti yang aku katakan, aku pergi tapi bukan untuk meninggalkan kamu, Kinan. Kita akan bertemu lagi saat kita sama-sama dewasa. Kamu sebagai seorang dokter dan aku akan mendirikan sebuah perusahaan game sesuai cita-citaku.”
“Dalam perjalanannya, aku akan sangat membutuhkan kehadiran kamu. Karena kamu adalah inspirasi aku dan seseorang yang membuatku berani untuk bermimpi bahkan mewujudkan mimpi itu.” Kala berujar dengan semangat. Ia melerai pelukannya dari Kinanti lantas menatap gadis itu dengan lekat.
“Bisakah kamu menungguku, Kinan?” Tatapan Kala begitu mengunci sepasang mata milik Kinanti.
Kinanti balas menatap Kala, memandangi tangannya yang digenggam erat oleh laki-laki yang membuatnya jatuh cinta begitu dalam. Mana mungkin ia melepaskan kehangatan dan kasih sayang yang Kala berikan selama ini.
__ADS_1
“Aku ingin kita sama-sama berjuang, bukan hanya untuk cita-cita kita tetapi juga untuk hubungan kita. Jika dipertengahan jalan kamu merasa perasaan kamu berubah dan kita tidak lagi sejalan, maka katakan baik-baik sama aku. Aku tidak mau mengikat seseorang dan memaksanya ada disampingku sementara dia tidak bahagia.” Kinanti begitu tegas dengan kata-katanya.
Kala tersenyum kecil, lantas mengecup tangan Kinanti tanpa melepaskan pandangannya dari gadis itu. “Kamu harus tau, ada satu rahasia yang aku buat bersama ayah,” Kala menjeda kalimatnya beberapa saat. Ingatannya mengulang moment saat Lukman berpesan banyak padanya. Salah satunya saat Lukman bertanya seperti apa hubungannya dengan Kinanti.
“Ayah pernah nanya sama aku, seberapa serius hubungan kita dan aku bilang, saat aku dewasa aku ingin menikahi kamu.” Kala tersenyum bangga mengingat moment itu.
“Ayah langsung menampar pelan wajahku. Katanya mimpiku terlalu muluk-muluk. Mungkin saja kelak aku bertemu dengan wanita yang lebih cantik, lebih pintar, lebih baik daripada putrinya. Aku disarankan untuk menarik kata-kataku.”
“Lalu aku bilang sama ayah, udah pasti aku akan bertemu dengan para wwanita itu. Tapi sayangnya, mereka bukan Kinantinya aku. Jadi, aku membuat sebuah rahasia dengan ayah kalau aku dima-diam akan berusaha melakukan hal yang lebih baik dari saat itu."
"Aku bilangm cuma putri Pak Lukman yang kelak akan aku pinang, aku sayangi sepenuh hati, aku jaga, aku kasih perhatian. Bukan wanita yang cantik, yang pintar dan yang baik yang lainnya. Melainkan seorang Kinanti yang ada dihadapan aku sekarang. Seperti itu rahasia yang aku buat sama ayah. Rahasia sekaligus janji yang aku buat sebelum ayah pergi. Dan aku, akan mewujdkan janji itu, Nan.”
Kala menatap Kinanti dengan penuh kesungguhan. Diusapnya pipi sang gadis yang merona kemerahan dengan matanya yang menahan haru. Gadis itu tidak menimpali melainkan memilih memeluk Kala.
“Kinanti yang kamu kenal juga keras kepala dan kaku. Tidak bisa mengatakan hal romantis seperti halnya kamu. Tidak pandai membuat suasana menjadi menyenangkan. Kamu mau bertaruh untuk gadis seperti itu?” Kinanti berbisik dalam pelukan Kala.
Kala tersenyum kecil lantas mengeratkan pelukannya pada Kinanti. “Yang penting, Kinantinya itu kamu dan bukan yang lain,” ungkap Kala dengan sungguh. Ia mengusap kepala Kinanti sebelum kemudian ia mengecup kening gadis itu dengan penuh perasaan.
Mereka bertatapan beberapa saat dan saling tersenyum satu sama lain.
“Aku sayang kamu, Nan.” Kala berujar dari lubuk hatinya yang paling dalam.
“Aku juga sayang kamu, Kal.” Kinanti menimpalinya dengan penuh keyakinan.
__ADS_1
Mereka saling melempar senyum dan membuat seseorang yang ada di dalam sana ikut tersenyum haru. “Astaga, anak Mamah udah dewasa. Udah bisa berjanji sama seorang perempuan,” gumam Bertha sambil mengusap air matanya. Ia menepuk-nepuk dadanya sendiri, merasakan perasaan menyeruak yang mengisi dadanya. Dalam hati ia berjanji kalau ia yang akan menjaga Kinanti dengan baik.
****