Secret With Bad Boy

Secret With Bad Boy
Mendukung teman


__ADS_3

Di rooftop saat ini Kinanti dan Kala berada. Kinanti tengah membaca-baca materi untuk persiapan olimpiade yang akan ia ikuti. Sudah satu buku yang di baca Kinanti yaitu buku materi pelajaran Fisika. Kepalanya sudah mulai penuh dan berdenyut pening. Untuk meredakannya, ia mengambil plester kompres anak lalu menempelkannya di dahinya.


Tengkuk Kinanti sudah sangat pegal. Ia memiringkan kepalanya ke kiri dan kanan lalu ke belakang dan depan. Setelah itu ia menggeliat, meregangkan otot-otot di tubuhnya. Untuk menghilangkan rasa pegal, ia beranjak dari tempatnya. Berjalan ke sana kemari agar kakinya tidak kesemutan.


Sementara itu, Kala masih sibuk dengan laptopnya. Ia mengenakan headset untuk mendengarkan suara yang muncul dari sebuah game yang sedang dimainkannya. Sesekali ia membuka algoritma aplikasi yang sedang ia rancang. Dahinya tampak berkerut, efek berpikir dengan serius.


“Kamu ngapain?” Rupanya Kala penasaran dengan yang dilakukan Kinanti.


“Peregangan,” sahut gadis manis itu. Ia mengulang untuk memiringkan badannya ke kiri dan kanan.


“Terus itu apa?” Kala menunjuk plester putih yang menempel di dahi Kinanti.


“Plester demam.”


“Kamu demam?” Kala melepas headsetnya dan memperhatikan Kinanti.


“Nggak lah. Ini karena aku pusing aja belajar fisika. Otakku ngebul, kepala berasa mau pecah. Aku udah gak sanggup baca lagi. Nanti aja malem lah.” Kinanti benar-benar menyerah.


“Emang itu ngaruh ya?” Kala semakin penasaran.


“Mau coba? Aku masih punya satu lagi.” Kinanti mengambil satu plester demam dari tasnya. “Nih! Mau gak?”


“Hem,” Kala terangguk setuju. Penasaran juga seperti apa rasanya.


Kinanti membuka plastik plester itu lalu melepas perekatnya dan mengusap dahi Kala sebelum ia menempelkan plester.


“Jiirr dingin, Nan.” Kala bergidik geli.


“Hahahaha... itu karena kamu baru pertama kali coba. Nanti juga kebiasa.”


“Iya kah?” Kala menekan-nekan plester di dahinya. Rasanya lucu, kenyal-kenyal begitu.


“Iya lah. Eh bentar, mau aku fotoin dulu.” Kinanti mengeluarkan ponselnya dari dalam saku.


“Buat apa?” Kala langsung waspada. Tidak ada orang yang boleh sembarangan mempotretnya.


“Mau aku fotoin lah. Buat kenang-kenangan kalau kita dewasa nanti.” Kinanti menarik bahu Kala agar sedikit merunduk lalu melingkarkan tangannya di bahu itu. Beberapa foto ia ambil dengan berbagai ekspresi. Awalnya Kala menunjukkan ekspresi yang enggan dan dingin,


“Senyum lah! Jangan kayak orang nahan pup gitu mukanya!” Kinanti mencubit pipi Kala.


“Aduh!” Kala mengaduh kesakitan.


“Makanya senyum. Hiiiiii...” Kinanti tersenyum dengan lebar, menujukkan barisan giginya yang putih dan rapi.


Kala gemas sendiri melihat senyum Kinanti yang lebar dan matanya yang menyipit. Mirip boneka rabbit menurutnya. Tanpa sadar, Kala pun ikut tersenyum dan sesekali memasang ekspresi yang aneh. Entah berapa foto yang mereka ambil dengan aksesoris plester demam di dahinya.

__ADS_1


“Hahahaha ... ini lucu. Mata kamu jereng gini sih Kal?” Kala mencontoh gaya Kala saat berfoto. Bibirnya ikut mengerucut membuat gemas.


Susah payah Kala menahan tawanya. Akhirnya ia kembali ke kursinya setelah sebelumnya mengusap kepala Kinanti.


“Jangan lucu gitu, nanti aku gak bisa tidur,” batin Kala yang kembali duduk di tempatnya.


“Mau aku kirim fotonya?” tawar Kinanti. Ia sengaja mengintip untuk menatap wajah Kala yang menunduk dari bawah.


“Boleh,” Kala tidak berani membalas tatapan Kinanti yang membuat pipinya menghangat.


“Okey, tapi aku pilihin yaaa. Aku akan kirim foto yang kamunya jelek dan akunya cantik. Hahahaha....” Kinanti tertawa sendiri. Perempuan kadang memang begitu.


Sementara Kala hanya tersenyum dalam hati. Tuhaaannn, tingkah Kinanti benar-benar menyiksanya.


Beberapa foto sudah di kirim Kinanti ke nomor Kala. “Cek dong, kamu liat dulu hasil fotonya.” Kinanti menyenggol lengan Kala dengan iseng.


“Nanti,” sahutnya. Dia yang memilih fotonya, kenapa haus di cek ulang segala, pikir Kala.


“Heemm, ya udah. Jangan protes kalau nanti kamu nyesel aku ngirim foto yang jelek.”


Kala tidak merespon melainkan hanya tersenyum dalam hati. Mengerjakan algoritma aplikasi adalah satu-satunya cara agar ia bisa mengalihkan pikirannya.


“Kamu lagi ngapain sih? Kok serius banget?” Kinanti sedikit mengintip pekerjaan Kala. Kepalanya muncul di samping kepala Kala. Berdekatan, hanya beberapa senti saja jarak mereka.


“Bikin simulasi game buat di jual,” aku Kala.


“Hem,” Kala mengangguk yakin. Selama ini, dari game buatannyalah Kala mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhannya selain ia bekerja di cafe.


“Ini aplikasi atau apa? Aku mau coba main lah.” Kinanti terlihat penuh semangat. Ia ingin mendukung hoby sahabatnya.


Kala tersenyum kecil. Baru kali ini ada orang yang antusias mendengar ia membuat game. Padahal biasanya orang-orang menganggap remeh hoby Kala. Yudhistira bahkan pernah melempar laptop Kala karena menganggap Kala hanya bermain-main saja dengan game-nya.


“Kamu serius?” ia penasaran dengan kesungguhan ucapan Kinanti.


“Iyalah, aku serius. Aku mau tau, seperti apa game yang dibuat sama temen aku. Kalau bagus, nanti aku bantu promoin. Siapa tau terkenal kan?”


Kala mengentikan ketikan jarinya beberapa saat.


“Kemarilah, duduk di sini.”


Kala jadi semangat. Ia meminta Kinanti duduk di tempatnya, menghadap ke laptop. Kinanti patuh saja. Sebuah stick dipasangkan oleh Kala dan diserahkan pada Kinanti. Ia duduk di belakang Kinanti, bersamaan memegangi stick. Seolah ia tengah memeluk Kinanti dari belakang.


“Gunakan tombol ini untuk start, ini stop, ini hit, ini untuk bertahan. Ini tombol maju, mudur lalu bergerak ke kiri dan kanan. Cobalah.” Kala melepaskan genggaman tangannya. Ia membiarkan Kinanti memulai permainannya.


“Okey, aku paham. Tapi aku kok deg-degan ya?” ucap Kinanti saat tulisan press start tertera di layar.

__ADS_1


“Aku udah deg-degan dari tadi,” batin Kala sambil tersenyum simpul.


Permainan pun dimulai. Kinanti mulai memainkan permainan balapan yang dibuat oleh Kala.


“Ke kiri Kinan, ikuti tanda panahnya,” tunjuk Kala pada layar laptopnya.


“Aku tau Kala, tapi ini tuh susah tau! Cepet banget penjahatnya pergi," seru Kinanti dengan kesal.


“Gini caranya,” Kala memegangi tangan Kinanti. Mereka bersamaan memainkan game itu.


“Hahahaha, aku menang,” seru Kinanti saat berhasil memenangkan putaran game yang pertama.


“Jangan seneng dulu, putaran kedua lebih sulit.” Kala melepaskan tangannya membiarkan Kinanti bermain sendiri.


“Udah tau susah kenapa gak di bantuin?” protes Kinanti saat permainan di mulai.


“Berusahalah sendiri supaya hasil kemenangannya manis.”


“Akh, kamu nyebelin Kal, liat ini aku hampir kalah!” Kinanti protes.


Kala hanya terkekeh melihat permainan Kinanti yang kalah total.


“Tuh, kan!!” serunya kesal.


“Hahahaha... ya udah lanjut lagi. Tapi harus beli koin dulu.”


“Gak mau akh, aku kan gak punya uang. Ini sama aja kamu ngerampok aku.” Kinanti menaruh kembali stick di tangannya. Harga koin Kala terlalu mahal.


“Ya game ini kan tujuannya memang komersil jadi pasti harga koinnya mahal. Kalau murah, aku mau dapet keuntungan dari mana?” Kala beralasan.


“Em, iya juga sih.”Kinanti mengangguki paham.


“Tapi, pernah gak sih kamu kepikiran untuk membuat game versi pendidikan? Maksud aku gak nyuruh orang unutk melulu main game tapi juga bisa ngasih nilai pembelajaran.” Ide itu tiba-tiba saja melintas dipikiran Kinanti.


“Maksudnya?” Kala masih belum paham.


“Em, maksud aku gini. Kamu bikin game yang tiap recharge gamenya itu gak pake koin tapi pake pertanyaan tentang pelajaran. Biar game yang kamu buat gak di benci sama para orang tua. Terus perharinya itu ada batas maksimal mainin permainan tapi bikinnya yang bikin orang penasaran jadi dimainkan lagi besoknya sambil mereka belajar dari pertanyaan yang muncul.”


“Pertanyaan yang muncul disesuaikan sama usia orang yang main game itu. Gimana?” urai Kinanti.


Kala termenung beberapa saat, ia membuka laptopnya dan mulai mencatat apa yang menjadi masukan Kinanti dan apa yang muncul di benaknya.


"Keuntungan aku dari mana?" Kala menoleh Kinanti yang tampak serius. Gadis ini harus bertanggung jawab dengan idenya.


"Bisa dari iklan, populernya game kamu atau kamu kerjasama sama sebuah lembaga pendidikan yang akan membayar royalti ke kamu karena menggunakan game kamu sebagai media pelajaran. Gimana?"

__ADS_1


Kala berusaha mencerna ide Kinanti. Walaupun belum sempurna, bukankah tidak salah kalau ia mulai mencobanya?


****


__ADS_2