
Orang-orang berpakaian hitam memenuhi rumah kinanti. Rumah yang biasanya hanya dihuni oleh dua orang itu sekarang penuh sesak. Ada rekan-rekan kerja Lukman, teman-teman sekolah Kinanti dan ada sanak saudara serta tetangga yang membantu mengurusi pemulasaraan jenazah Lukman.
Kinanti terduduk di salah satu sudut ruangan yang tidak terlalu luas itu. Beberapa orang menghampirinya dan menyampaikan ucapan duka yang mendalam. Gadis itu hanya terdiam, pikirannya masih tidak di sini, hatinya masih menjerit menangisi kepergian sang ayah.
Bendera kuning melambai-lambai di pagar rumahnya, seolah mengingatkan mereka yang melintas untuk ingat bahwa setiap orang akan pergi pada saatnya. Entah sedetik kemudian, entah satu jam kemudian, entah saat tertawa, entah saat menangis. Semua memiliki caranya masing-masing seperti halnya Lukman yang harus pergi dalam pelukan putri yang sangat ia sayangi.
Kala masih berdiam diri di teras rumah, bersama Riko, Emili dan Bertha. Ya hari ini hari pertama Bertha menginjakkan kakinya di rumah Kinanti. Rumah yang rencananya akan ia kunjungi untuk berkenalan dengan keluarga Kinanti nyatanya menjadi rumah duka yang ia kunjungi dengan pakaian serba hitam dan ungkapan bela sungkawa. Ia mendadak jadi anggota keluarga ini dan menerima setiap ungkapan bela sungkawa dari semua orang yang mengenal Lukman dan Kinanti.
“Apa Kinanti punya keluarga lain?” tanya Bertha. Wanita itu terus memandangi Kinanti yang tidak bergeming di tempatnya.
“Ada tantenya dari Bandung. Mereka sedang dalam perjalanan ke sini.” Kala ikut memandangi Kinanti. Gadis itu sangat terpukul dan berduka. Kala bisa membayangkan bagaimana rasa kehilangannya seorang Kinanti atas kepergian sang Ayah. Separuh jiwanya telah pergi.
“Jam berapa almarhum akan dimakamkan? Sepertinya harus kita yang mengambil keputusan karena Kinanti masih terpukul.”
Bertha memandangi gadis yang berusaha kuat itu dengan khawatir. Gadis itu sudah tidak menangis terisak-isak atau mengamuk hingga tidak sadarkan diri. Hanya duduk saja dan termenung mengingat senyuman Lukman yang terakhir ia lihat. Mata bulat dan bengkaknya pelan berkedip, ia masih mencoba menerima bahwa Lukman sudah tidak ada lagi disisinya.
“Kita tunggu keluarga dari Bandung ya Mah. Bagaimana pun mereka keluarga terdekat Kinanti saat ini,” timpal Kala.
“Iya, Mamah setuju.” Bertha mengangguk setuju. ia masuk ke dalam rumah bersama Emili lantas menghampiri Kinanti. Diusapnya kepala gadis itu dengan sayang. “Turut berduka cita, ya Nak,” ucap Bertha dengan suaranya yang lembut.
Kinanti mengangguk pelan, ia menatap sepasang mata yang sedang mengkhawatirkannya, “Terima kasih, Bu.” Gadis itu berusaha tersenyum.
Bertha tidak menimpali, usaha Kinanti untuk menegarkan dirinya membuat ia ingin memeluk gadis itu. Dadanya ikut sesak menahan air mata kesedihan. Kala memandangi Kinanti dan ibunya dari luar, rasanya ikut meringis sedih. Ia ingin menghampiri dua wanita itu sayangnya tugasnya masih belum selesai menerima ucapan turut berduka cita dari orang-orang yang datang.
“Kuatlah, Nan. Seperti yang ayah pesankan sama kita selama ini.” Hanya ungkapan itu yang hati Kala sampaikan untuk gadisnya.
Bertha mengusap kepala Kinanti dan memandangi wajah yang tenang dalam keterpurukannya.
__ADS_1
“Tante Bertha ini, mamahnya Kala, Nan.” Adalah Emili yang kemudian bersuara. Dahi Kinanti mengernyit, ia menatap Bertha dengan lekat. Ditengah pikirannya yang berantakan, Kinanti mencoba memahami apa yang didengarnya.
“Iya Kinan, saya bukan hanya datang sebagai mantan atasannya ayah kamu, saya datang sebagai ibunya Kala. Maaf karena selama ini saya tidak memperkenalkan diri dengan benar.” Bertha berujar dengan sesal. Harusnya ia memperkenalkan dirinya sejak awal pada gadis manis ini.
“Terima kasih tante, terima kasih sudah datang.” Hanya itu jawaban Kinanti, masih dengan air muka yang sama.
Bertha mengangguk mengiyakan. Ia mengulum bibirnya menahan tangis sementara tangannya masih tetap mengusap-usap punggung Kinanti. Ia salut pada usaha Kinanti untuk menegarkan dirinya. Kinanti hanya terdiam, menatap jenazah sang ayah yang ada dihadapannya dan berada di tengah-tengah ruangan. Beliau menjadi tuan rumah dari rumah sedeharana ini sayangnya dalam kondisi sudah tidak bernyawa.
*****
Jam setenah sembilan pagi jenazah Lukman dimakamkan. Keluarga terdekat Lukman sudah datang dan menemani Kinanti ke pemakaman. Mereka menangis tersedu-sedu merasa kehilangan sosok Lukman yang begitu baik. Mereka memeluki, menciumi dan mengasihani Kinanti yang kini hanya tinggal sebatang kara. Kinanti tidak bergeming. Ia masih dengan sikap diamnya tanpa berbicara sedikitpun.
Di pemakaman, jasad Lukman telah resmi dikebumikan. Untaian do’a, ungkapan bela sungkawa dan taburan bunga menghiasi makam berukuran dua kali satu meter. Kinanti berjongkok terdiam di samping makam itu. Memandangi nama Lukman yang saat ini terukir di sebuah kayu dengan tulisan hitam yang menunjukkan warna langit Kinanti saat ini.
Ditaburinya kembali gundukan tanah itu dengan bunga berwarna warni. Wangi khas kamboja menjadi wangi terakhir yang tercium oleh Kinanti. Usai pemakaman, satu per satu orang pergi meninggalkan Lukman dan Kinanti. Mereka bersimpati pada anak yatim piatu yang sedari tadi hanya terduduk di samping pusara. Memegangi tanah merah yang sesekali ia remas.
Suara seraknya, tawa ringannya, kekehannya, pelukan hangatnya, candaannya, nasihat-nasihatnya, perhatiannya, kelembutannya dan semua hal tentang Lukman sekarang hanya tinggal kenangan. Laki-laki itu pergi sesuai dengan keinginannya. Tanpa rasa sakit, tanpa air mata dan tanpa suara-suara mengerikan yang biasa ia dengar di rumah sakit. Keinginanya terkabul dan ia pergi dengan tenang setelah semua keinginannya terpenuhi.
“Ayah,” ucap lirih Kinanti seraya menggenggam tanah merah itu di dalam genggamannya yang lemah. Ia menatap nisan Lukman, membayangkan seolah wajah laki-laki itu ada di sana dan sedang menatap Kinanti.
“Sekarang Ayah benar-benar pergi dan Kinan sendirian.” Suara batinnya pun tercekik oleh rasa kehilangan. Tidak ada gumaman atau suara yang terdengar, hanya hatinya yang sedang berdialog dengan bayangan Lukman yang diciptakan oleh imajinya.
“Delapan belas tahun empat bulan delapan belas hari, Kinan memiliki Ayah. Hingga semalam, tidak sedetikpun Kinan pernah merasa kekurangan kasih sayang Ayah. Ayah begitu menyayangi Kinan, memanjakan Kinan, melindungi Kinan dan semua hal yang tidak semua anak dapatkan, tetapi Kinan mendapatkan dengan melimpah dan tulus. Sekarang Ayah pergi meninggalkan Kinan dengan cara yang Ayah inginkan. Apa Ayah begitu percaya kalau Kinanti sangat kuat menghadapi semuanya sendiri?”
Kinanti tertunduk lesu. Matanya terpejam dalam pikiran yang dalam. Tidak sampai satu bulan ia berjuang bersama Lukman, tetapi Lukman sudah harus pergi menghadap sang pencipta. Selain tidak ingin lagi merasakan kesedihan, Lukman pun tidak ingin lagi merepotkan putri semata wayangnya. Kinantii menyesalkan semua itu, tetapi sayangnya tidak ada yang bisa diulang. Lukman tetap tidak akan pernah kembali.
“Ayah, hidup tidak lagi sama setelah Ayah pergi. Akan selalu ada tempat yang kosong dan tidak akan pernah bisa diisi apapun. Kinan udah gak punya tempat untuk bercerita dan bermanja lagi sekarang. Tidak ada lagi yang menasihati Kinan dengan penuh kasih sayang. Sama siapa sekarang Kinan harus mengadu, Ayah?” lagi Kinanti menggenggam erat tangan merah itu, merasakan rasa sedih dan kehilangan yang begitu nyata. Sebesar apapun duka yang ia rasakan, nyatanya Lukman tidak akan pernah kembali. Hal itu menjadi kenyataan yang harus siap Kinanti terima.
__ADS_1
“Terima kasih atas segala kebaikan Ayah. Maaf karena Kinan banyak merepotkan dan menyulitkan Ayah. Ayah tidak perlu khawatir, perlahan Kinan akan membaik Ayah. Kinan hanya perlu waktu untuk menerima semua kenyataan ini. Ayah dan Ibu sekarang sudah bersama-sama. Berbahagialah di sana tanpa rasa sakit dan takut lagi. Tenanglah Ayah, Kinan kuat kok. Kinan akan berusaha kuat untuk melanjutkan hidup Kinan yang tidak pernah lagi sama. Kinan sayang Ayah, sangat teramat sayang Ayah. Itu yang harusnya Kinan katakan setiap waktu saat Ayah masih ada.”
Napas Kinanti berhembus kasar. Semuanya terasa berat tetapi hidup masih terus berjalan.
“Neng,” panggil seorang wanita yang Kinanti kenal sebagai kakak sepupu dari mendiang ibunya. Wanita itu menyentuh bahu Kinanti, mengusapnya lantas mengecup pucuk kepala Kinanti. Air matanya menetes melihat kemalangan gadis manis ini.
“Kita pulang, yuk. Ayah udah tenang di sana. Ayah akan sedih kalau melihat neng sedih seperti ini. Uwa tau persis kalau ayah neng sangat gak suka liat neng sedih apalagi meratap.” Wanita itu membawa Kinanti kepelukannya dan orang-orang dibelakang sana hanya bisa memandangi Kinanti dengan perasaan yang hancur. Bertha yang sedari tadi tidak henti menitikkan air mata. Semakin tidak terlihat air mata di wajah Kinanti, ia semakin paham kalau pukulan itu teramat besar diterima oleh Kinanti.
Kinanti tidak menimpali. Ia hanya bangkit beberapa saat dari rangkulan tantenya, mengusap nisan Lukman dengan sayang lalu mengecupnya cukup lama. “Kinan kuat Ayah, Kinan merelakan ayah untuk pergi. Rasa sedih dan kehilangan ini akan tetap ada, tetapi tidak akan membuat Kinan menyalahkan takdir. Kinan percaya yang ayah katakan bahwa tidak ada hal buruk yang terjadi pada hidup kita harus kita sesalkan. Kita hanya perlu menerimanya dengan lapang dada dan Kinan sedang berusaha untuk itu.” Kalimat ini menjadi kalimat penegas perasaannya pada Lukman. Ia tidak mau jiwa Lukman merasa berat meninggalkannya.
Gadis cantik itu mulai beranjak dari tempatnya. Ia sempatkan untuk mengusap gundukan tanah pemakaman Lukman dengan lembut seraya berpamitan pada sang ayah yang sudah kembali pada pemiliknya.
“Kinan pulang Ayah. Mulai sekarang, kita akan lebih sering bertemu dalam do’a. Tenanglah di sana. Selamanya, Kinan sayang Ayah,” tegas gadis itu dalam hatinya.
Ia tersenyum kelu pada makam Lukman lantas beranjak berdiri dengan kedua kakinya yang gemetar. Kala segera menghampiri dan memegangi tangan Kinantii agar tubuh gadis itu tidak ambruk.
“Aku baik-baik aja, Kal,” ucap Kinanti yang berusaha mendorong tubuh Kala sedikit menjauh darinya. Ia berbalik lebih dulu meninggalkan orang-orang itu dan mengabaikan tatapan penuh rasa cemas yang mereka tujukan pada Kinanti.
Ia berjalan tertatih-tatih dengan usahanya sendiri. Karena ia tahu, kelak ia tidak bisa menggantungkan hidupnya pada orang lain selain dirinya sendiri. Setiap orang akan pergi dengan caranya sendiri seperti cara Lukman saat ini. Tetapi kemudian,
“KINAN!” seru Kala saat ternyata tubuh lemah itu ambruk. Beruntung Kala sempat menahannya hingga tubuh Kinanti tidak jatuh ke tanah.
“Astaga neng!” seru tante Kinanti yang melihat tubuh Kinanti ambruk tidak sadarkan diri dalam pelukan Kala.
Akui saja Kinan, kalau kamu pun tidak selalu baik-baik saja. "Addduuhh neng... kasian sekali kamu." Neneng menangisi Kinanti yang saat ini tidak sadarkan diri.
Perasaan Kala ikut ketar-ketir. Dipeluknya Kinanti dengan erat lantas ia gendong dengan kedua tangannya. "Kinan, kamu gak sendiri. Ada aku yang gak akan ninggalin kamu."
__ADS_1
****