Secret With Bad Boy

Secret With Bad Boy
Samar bayang


__ADS_3

Ada samar bayangan yang terlihat saat Lukman membuka matanya untuk yang pertama kali. Lampu yang menyala terang, memperjelas penglihatannya pada dinding berwarna putih dengan suara bunyi-bunyian yang tidak asing ditelinganya. Itu suara monitor yang berbunyi konstan di samping tempat tidurnya.


“Pak Lukman, Pak. Pak Lukman….” Suara itu terdengar ditelinga Lukman. Suara panggilan yang kerap ia dengar setiap kali ia terbangun dari tidur panjang diatas ranjang rumah sakit. Tubuhnya serasa melayang, tidak menetap ditempatnya dengan rasa lemas yang menjalari sekujur tubuhnya.


“Pak Lukman, bapak bisa mendengar saya?” Panggilan itu terdengar semakin jelas, seperti ia mendengar gema disebuah lorong gelap dan sempit kemudian mulai nyata kalau seseorang berdiri disampingnya.


Mata bulat Lukman terbuka dengan sempurna. Ia melirik seseorang yang memanggil namanya, ternyata seorang dokter laki-laki dengan perawakan tambun dan usia yang cukup matang.


“Bapak bisa mendengar suara saya?” lagi, laki-laki itu mengulang pertanyaannya seraya menyentuh tangan Lukman. Hangat, tidak seperti sekujur tubuhnya yang dingin.


“I-ya.” Suara Lukman terdengar serak, nyaris tidak terdengar.


“Pasien siuman dok,” perawat disamping Dokter itupun terlihat ikut senang.


“Iya. Pak, coba lihat saya. Bapak tau sekarang bapak ada dimana?” Dokter itu kembali bertanya.


Lukman mengangguk. “Rumah sakit,” katanya dengan suara yang masih serak.


“Betul, bapak ada di Rumah sakit. Saya izin periksa sebentar yaa….” Dokter itu mulai memeriksa dada Lukman dengan stetoscopenya, mendengarkan bunyi jantung dan area lapang paru beberapa saat lalu memeriksa lubang di leher Lukman. Ia juga memeriksa perut Lukman yang cekung karena sedikit terisi makanan. Beberapa hari ini nutrisi yang masuk ke tubuh Lukman hanya dari cairan infus saja.

__ADS_1


“Pak Lukman, saat ini ada alat bantu napas yang terpasang dileher bapak. Berhati-hati ya Pak, ini berfungsi untuk membantu bapak agar tidak sesak jadi bapak tidak perlu panik.” Dokter itu melanjutkan kalimatnya.


Lukman mengangguk pelan, ia memang merasakan sesuatu yang kaku dilehernya. Ia menelan salivanya kasar dan rasanya lebih mudah dibanding saat ia berusaha menelan obat. Entah berapa hari lalu obat itu ditelannya dengan susah payah.


“Wah, bapak juga sudah bisa menelan. Progress yang sangat bagus. Kita coba test makannya lewat selang makan ya pak,” tawar dokter.


Lukman mengangguk kecil dan perawatpun segera mendekat. Dengan sebuah suntikan besar tanpa jarum, ia memasukkan air hangat ke dalam selang, pelan-pelan sekali.


“Selamat minum Pak,” ucap perawat itu dengan senyum terkembang.


Lukman berusaha tersenyum tetapi bibirnya sangat kaku. Mungkin karena mulutnya sempat terbuka lama akibat pemasangan alat bantu napas.


“Baik, Dok.” Perawat itu mengangguk patuh.


“Pak Lukman, beberapa hari ini bapak di rawat dirumah sakit di ruang ICU. Tetapi, saat ini kondisi bapak sudah jauh membaik dibanding saat masuk. Ada seseorang yang selalu menunggui bapak didepan ruang perawatan dan mendo’akan kesembuhan bapak. Ditemui ya pak,” Dokter memberikan motivasi agar Lukman mau menemui putrinya. Ia tahu kalau selama ini Lukman menyembunyikan penyakitnya dari satu-satunya keluarga yang ia miliki.


Lukman mengangguk meski dengan berat hati. Rupanya, sekarang Kinanti sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Tidak lama terlihat seseorang masuk. Mengenakan baju pengunjung pasien pasien ICU juga penutup kepala berwarna hijau khas rumah sakit. Gadis itu tersenyum kecil pada Lukman. Tidak ada air mata seperti yang dicemaskan Lukman selama ini.


“Nih, putrinya udah ada disini. Bapak membesarkan seorang anak yang hebat dan kuat, persis ayahnya yang tidak henti berjuang. Silakan berbincang yaaa, kalau perlu sesuatu, adeknya bisa tekan tombol panggil dan nanti susternya akan datang. Saya permisi dulu.” Dokter itu pamit untuk memberi ruang.

__ADS_1


“Terima kasih dok,” Kinanti dan Lukman menyahuti bersamaan tetapi hanya suara Kinanti yang terdengar jelas, tidak dengan suaranya. Hanya hembusan napas dan suara serak yang mungkin hanya bisa didengar oleh Lukman sendiri.


“Selamat pagi, Ayah. Gimana kabar Ayah hari ini?” sapa Kinanti seraya menggenggam tangan Lukman dengan erat.


Lukman tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca. “Baik,” suaranya masih begitu serak, tetapi Kinanti masih bisa mendengarnya.


“Terima kasih sudah berjuang ya Ayah, Kinan seneng bisa melihat Ayah membaik.” Genggaman Kinanti semakin erat ditangan Lukman dan laki-laki itu berusaha membalasnya walau dengan lemah.


“Maafin Ayah ya, Nak. Ayah udah bikin Kinan cemas dan sedih.” Meski terlihat baik-baik saja, Lukman bisa melihat gurat kesedihan dimata putrinya. Ia mengusap wajah kinanti dengan tangannya yang dingin dan Kinanti menggenggam tangan dipipinya.


“Kinan memang cemas dan sedih dengan kondisi Ayah, tapi Kinan udah bisa menerima semuanya. Kita hadapi ini sama-sama ya Ayah. Semangat untuk kesembuhan Ayah.” Kinanti berujar dengan penuh kesungguhan.


Lukman terangguk pelan “Suara Ayah kecil banget ya, kayak orang bisik-bisik,” kata Lukman sambil berusaha memegang lehernya.


“Iya Ayah, tapi Kinan masih bisa denger dengan jelas kok. Kalau kurang jelas, Kinan bisa geser mendekat ke Ayah. Jadi Kinan bisa lebih sering-sering deket Ayah dan meluk Ayah sambil dengerin Ayah bicara. Tapi, kalau Ayah merasa gak nyaman saat bicara, nanti kita coba tulis ya Ayah. Udah lama kan kita gak main surat-suratan?” Kinanti mencoba menghibur Lukman ditengah rasa tidak berdayanya.


Lukman tersenyum kecil menatap wajah manis Kinanti. Anaknya berusaha untuk tegar dan tenang dihadapannya, ia tahu itu bukan sesuatu yang mudah dihadapi oleh anak semuda Kinanti. Tetapi melihat Kinanti yang kuat seperti ini, rasanya ia setuju dengan ucapan dokter beberapa saat lalu, kalau ia memiliki anak yang kuat dan hebat. Putrinya sudah tumbuh menjadi remaja yang beranjak dewasa dengan pemikirannya yang mulai matang. Kinantinya sudah bukan anak kecil yang merengek-rengek lagi. Satu hal yang tidak pernah berubah dari sang putri yaitu pembawaannya yang manis dan menggemaskan.


Lantas, tidak ada alasan untuk Lukman terpuruk. Apa yang ia takutkan selama ini ternyata tidak terbukti.

__ADS_1


****


__ADS_2