Secret With Bad Boy

Secret With Bad Boy
Memojokkan


__ADS_3

Makan malam antara keluarga Yudhistira dan keluarga Atla resmi digelar. Dua keluarga itu tampak menikmati makan malam yang sudah direncanakan jauh-jauh hari tapi baru terrealisasi hari ini. Banyak aral melintang yang menjadi penghalang dua keluarga ini untuk mendekat. Dimulai dari Demian yang sakit, Yudhistira yang harus keluar kota hingga Atla sendiri yang memiliki banyak kesibukan. Kukuhnya permintaan Frea, anak tunggal Atla, membuat makan malam ini pada akhirnya resmi digelar.


Selesai makan malam, mereka pindah ke ruang keluarga untuk saling berbincang dan mengakrabkan hubungan dua keluarga yang dimulai dari hubungan bisnis ini. Yudhistira dan Alta saling mengali informasi tentang keluarga masing-masing agar bisa mengenal lebih jauh satu sama lain.


“Saya dengar Yayasan Pendidikan mas Yudhi kembali membuka program beasiswa untuk siswa berprestasi. Apa benar?” tanya Atla di salah satu perbincangan mereka.


“Iya, benar sekali. Kami ada pogram beasiswa tahunan dan tahun ini peminatnya cukup banyak.” Yudhistira menjawab dengan bangga.


“Wah, itu bagus. Saya dengar sampai membiayai beasiswa keluar negeri ya?”


“Betul. Saya sudah bekerja sama dengan lima negara besar. Awalnya kami hanya riset tapi ternyata mereka menyambut baik program kami. Mereka juga membuka pintu selebar-lebarnya kalau ada mahasiswa Indonesia yang mau kuliah di negara mereka.”


“Itu sangat bagus mas Yudh. Mungkin nanti kami juga akan invest di bidang pendidikan. Harapannya, para lulusan itu kelak mau bergabung dengan perusahaanku. Bagaimana menurut mas Yudhi?” Atla terlihat begitu bersemangat.


“Tidak masalah. Selama ini saya pun mengambil para lulusan Yayasan untuk dijadikan karyawan unggulan di perusahaan,” sahut Yudhistira, menyambut niatan Atla dengan tangan terbuka.


“Bailah. Nanti aku akan siapakan berkas ajuan kerja samanya.”


“Aku tunggu.” Yudhistira berujar dengan senang hati. Mereka saling bertatapan penuh kepercayaan satu sama lain.


“Ngomong-ngomong, mas Yudhi punya dua jagoan hebat untuk meneruskan bisnis Mas Yudhi. Siapa yang nanti akan jadi penerus di Yayasan? Kala atau Demian?” Atla menatap Demian dan Kala bergantian, penuh rasa penasaran.


Demian yang terlihat begitu antusias saat namanya disebut. Bagaimana tidak, selama hidup berdua dengan Imelda, ibunya, Demian kerap mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari keluarga mantan ayahnya. Jadi ini kesempatan besar untuk mengambil kepercayaan Yudhistira agar ia bisa membungkam mulut-mulut yang dulu menghina Imelda. Sepertinya sudah tidak masalah walaupun statusnya hanya anak sambung.


“Putraku Demian, sangat baik dalam hal pelajaran. Tentunya aku tidak akan ragu memilih dia jadi penerus di Yayasan Pendidikan.” Gayung bersambut, Yudhistira langsung menunjukkan kebanggannya pada Demian, sang anak sambung.

__ADS_1


Kala tersenyum dalam hati, Demian benar-benar sudah berhasil mengambil hati dan kepercayaan orang tuanya hingga yang pertama dilirik adalah rivalnya.


“Waahh, mas Yudhi terlihat sangat yakin dengan Demian ini. Sepertinya prestasi Demian cukup membanggakan ya.” Atla semakin penasaran.


“Ya. Dia beberapa kali juara olimpiade. Nilai sekolahnya juga selalu bagus. Sebagai anak dari pemilik sekolah, Demian tidak pernah mengecewakan saya.” Yudhistira menepuk-nepuk punggung Demian dengan bangga, membuat remaja berusia belasan itu tersenyum bangga. Bukan hanya pada pencapaiannya yang dibanggakan oleh Yudhistira tapi juga karena berhasil mengunguli Kala satu point lebih tinggi.


“Kala juga sekarang nilai membaik kok Om. Ujian hariannya selalu di atas rata-rata loh Om. Iya kan Kal?” Membendung orientasi sang ayah agar tidak hanya membanggakan Demian, membuat Frea ikut berbicara. Baginya penting menunjukkan citra baik Kala di mata ayahnya.


Kala tidak menimpali, karena ia merasa tidak memerlukan pembelaan Frea.


“Oh ya? Itu hebat juga. Lalu Kala punya berprestasi apa aja nih di sekolah?” Atla kembali bertanya.


“Saya tidak punya prestasi apa-apa Om. Hanya siswa yang berusaha melakukan apa yang saya bisa tanpa menghiraukan ekspektasi orang lain dan tidak menjadi penjilat. Ya mungkin karena saya gak punya figure role model yang tepat.” Sahutan Kala terdengar ringan tapi hal itu berhasil menyulut kekesalan Yudhistira yang saat ini melotot ke arahnya. Putra kandungnya baru saja menamparnya padahal putra sambungnya mengangkat itranya tinggi sebagai orang tua yang berhasil mendidik anak.


“Kala tuh sebenarnya pinter Pah. Cuma mungkin salah bergaul aja. Apalagi sekarang Kala dekat dengan seorang gadis yang memperlakukan dia dengan tidak sopan. Masa Kala diperlakukan kayak ojeg pribadi dan orang suruhan. Gak sopan kan Om?” Frea menatap Yudhistira dengan tajam, ia berusaha menghasut Yudhistira.


“Iya.”


“Tidak.”


Jawaban Frea dan Kala tidak kompak. Kala ingin mengakui Iya dan Frea ingin menyanggahnya. Ia tidak mau perjodohannya dengan Kala semakin jauh dari kata berhasil.


“Loh, kok gak kompak, yang mana nih yang bener?” Atla terlihat makin bersemangat.


“Kala emang deket sama seorang gadis Pah, tapi menurut Frea gadis itu hanya toxic, bukan pacaran. Kasian sebenernya Kala, dia selalu dimanfaatin. Selain toxic, dia juga jahat. Tadi siang aja dia bersikap kasar sama Frea. Dia ngedorong Frea sampe jatuh gara-gara Frea bilang kalau Frea mau makan malam sama Kala. Emosi banget dia, sampe mau nyemprot muka Frea pake semprotan merica. Untung ada security datang. Jadi Frea di tolongin,” urai Frea penuh drama.

__ADS_1


“Oh ya?” Kala dan Demian berujar bersamaan.


“I-Iya.” Frea menjawab dengan semangat. Ia tidak mau orang tuanya ragu dengan ucapannya.


“Kinanti bukan tipe orang seperti itu. Kamu yakin Kinanti melakukan hal itu?” Kalau soal Kinanti, Kala memang selalu berrespon dengan cepat.


“Iya, Kal. Aku serius kok. Coba aja kamu tanya petugas security yang nolongin aku. Mau aku telepon sekarang?” tantang Frea.


“Iya, coba telepon.” Yudhistira yang menyahuti. Ia penasaran juga dengan cerita Frea.


“Okey Om, Frea hubungin security itu sekarang ya. Biar Om sama papah bisa denger langsung dan percaya kalau Kala berteman dengan orang yang salah.” Frea begitu bersemangat. Tentu saja, karena ini kesempatan untuk menjatuhkan Kinanti di mata calon mertuanya.


“Halo, selamat malam.” Suara seorang laki-laki terdengar melalui sambungan telepon.


“Malam, Pak. Ini saya Frea. Bapak lagi sibuk gak?” Frea berusaha bersikap seramah mungkin.


“Oh Non Frea. Nggak kok, saya gak sibuk. Ada yang bisa dibantu, Non?” laki-laki itu terdengar sangat familiar dengan Frea. Padahal Frea jarang mau berdekatan dengan orang dari kalangan bawah. Tapi kali ini Frea mengenal security sekolah, sedikit aneh bukan?


Kala menunggu saja bagaimana Frea melanjutkan ceritanya. Ia sudah sangat yakin kalau Frea berbohong karena hanya untuk membuat Yudhistira menjauhkannya dari Kinanti.


“Pak, saya mau mastiin. Bapak liat sendiri kan, bagaimana tadi Kinanti dorong saya sampe saya jatuh? Dia juga mau nyemprotin merica ke mata saya. Bapak liat kan? Bapak kan saksinya.” Pertanyaan Frea benar-benar menekan.


“Iya, saya liat sendiri Non. Siswa yang namanya Kinanti itu baiknya jangan didekati. Dia kayaknya anak nakal yang pura-pura polos aja.”


Frea tersenyum lebar mendengar penuturan security itu. Yudhistira langsung menoleh Kala, memberi peringatan atas apa yang sudah dilakukan putranya.

__ADS_1


****



__ADS_2