Secret With Bad Boy

Secret With Bad Boy
Putusan


__ADS_3

“Selamat sore Pak Lukman,” sapa Leon yang sore ini sedang berjaga.


Lukman mengangguk sopan sementara Kala langsung waspada. Entah mengapa laki-laki ini selalu ada di Rumah sakit. Tidak adakah tempat lain yang bisa dia tempati selain didekat Kinanti?


“Katanya Bapak udah pengen pulang ya?” Leon mulai berbasa-basi.


Lukman mengangguk dengan sungguh.


“Gimana perasaan bapak hari ini? Bukankah tadi baru selesai chemo?” Leon penasaran untuk bertanya karena kondisi Lukman tidak lagi selemah biasanya.


Lukman menuliskan sesuatu di bukunya. Cukup panjang. “Saya merasa sudah lebih baik. Efek chemo juga sudah tidak terlalu berat. Saya mau istirahat di rumah aja. Mau tidur di kamar saya dan beraktivitas seperti biasa.” Kalimat itu yang ditulis Lukman.


“Baik, Pak Lukman. Tadi saya sudah konsul dengan dokter konsulen bapak, beliau mengatakan kalau bapak bersikeras mau pulang, silakan. Hanya saja ada beberapa surat yang harus ditanda tangani. Selain itu, dokter juga menyarankan bapak untuk chemo lagi minggu depan. Begitu pak,” terang Leon.


Lukman mengangguk setuju. “Surat apapun akan saya tanda tangani, asalkan saya boleh pulang. Kalau ada jadwal terapi lagi, saya akan datang bersama putri saya.” Tulis Lukman yang ia tunjukkan pada Leon.


Leon mengangguk paham, benar yang dikatakan Kinanti kalau Lukman sudah bersikeras ingin pulang.


“Baik Pak, kami siapkan dulu berkasnya yaa. Saya pinjam Kinantinya sebentar ya Pak,” pinta Leon. Lukman hanya mengangguk dan membiarkan Kinanti menyelesaikan masalah administrasi.


“Dokter itu kayaknya suka sama Kinan. Dia rajin banget beliin Kinan sarapan.” Lukman menulis kalimat itu dan menunjukkan pada Kala. Remaja itu langsung mengeram kesal dalam hati.


“Ayah setuju?” Kala penasaran dan langsung bertanya.


Lukman menggeleng. “Bukan standar ideal calon mantu Ayah.” Tulisannya kali ini membuat Kala tersenyum lega.

__ADS_1


“Emang yang gimana yang standar mantu Ayah?” Kala semakin penasaran.


“Emmm, nanti Ayah ceritakan kalau udah di rumah. Ngomong-ngomong jaket Kala bagus.” Dua kalimat itu ditulis Lukman bersamaan.


“Ayah mau pake jaket begini? Kala ada loh jaket yang kekinian buat para Ayah gaul.” Kala sengaja bergaya didepan Lukman.


Laki-laki itu mengangguk dan menyentuh jaket Kala dengan lembut.


“Nanti Kala bawain, Kala jamin Ayah pasti suka. Kalau Ayah udah sembuh, kita motoran bareng.” Kala tidak tanggung-tanggung menyemangati Lukman.


Lukman langsung mengangguk setuju. Lihat matanya yang membola penuh semangat. Mereka juga berjabat tangan ala biker lalu mengacungkan tangannya dengan gaya metal.


“Ayah teman yang menyenangkan,” batin Kala seraya tertawa bersama Lukman. Andai saja ia bisa melakukan hal yang sama dengan Yudhistira, mungkin hidupnya akan sangat bahagia.


****


“Aku saranin kamu ada perawat yang menjaga ayahmu, Kinan. Supaya beliau lebih terperhatikan,” ucap Leon memberi masukan.


Kinanti mengangguk setuju karena ia memang sudah memiliki rencana itu. “Kak Leon ada rekomendasi perawat gak buat ayah?” Kinanti balik bertanya. Pengetahuannya tentang dunia medis memang terbatas.


“Paling aku kasih kontak sebuah yayasan homecare ya, nanti kamu bisa bicara langsung dengan mereka.” Leon mengeluarkan ponselnya dan Kinanti mengangguk setuju.


“Nomor hape kamu berapa, biar aku kirimin kontaknya.” Ada kesempatan untuk Leon meminta nomor Kinanti.


“Oh okey,” Kinanti mulai menyebutkan nomornya dan Leon mencatatnya dengan semangat. “Itu nomorku.” Lanjut Leon setelah mengirimkan pesan sapaan ‘hay’ pada Kinanti.

__ADS_1


“Okey, aku simpan. Makasih ya kak.” Kinanti terlihat begitu senang padahal Leon lah yang sebenarnya lebih senang.


“Sama-sama. Oh iya, ini aku juga punya beberapa buku. Aku liat kamu sering baca jurnal online. Sebenarnya tidak masalah tetapi beberapa jurnal biasanya memberika penafsiran subjective bahkan ada yang kesannya menakut-nakuti pembaca. Jadi kalau kamu perlu bahan bacaan tentang kondisi kesehatan ayah kamu, kamu bisa baca ini.” Leon memberikan setumpuk buku pada Kinanti.


“Ya ampun, ini buat aku?” Kinanti menatap tidak percaya. Ia tahu persis kalau buku-buku kedokteran tidaklah murah.


“Iya. Kamu bilang kan kamu juga mau jadi dokter, jadi belajar yang tekun ya. Supaya suatu hari kita ada diprofesi yang sama dan bisa menolong banyak orang. Mungkin aja kelak kita juga ada di tempat kerja yang sama.” Leon berusaha keras untuk menyemangati Kinanti.


“Ya ampun, makasih banyak Kak. Kakak baik banget sama aku.” Kinanti menatap Leon dengan penuh haru.


“Sama-sama. Semangat jagain ayah kamu ya. Tapi jangan lupa, kamu juga harus menjaga kesehatan. Hubungi aku kalau kamu memerlukan bantuan apapun, ponselku aktif dua puluh empat jam kok.” Leon memang terlampau ramah.


“Iya kak, terima kasih banyak. Kakak banyak banget bantu aku.” Kinanti berujar dengan sungguh dan jantung Leon rasanya berdetak kencang melihat sepasang mata yang polos dan tulus itu.


Selesai dengan urusan administrasi, Kinanti segera kembali ke ruangan Lukman. Ia harus mengabarkan kabar baik ini pada Kala dan ayahnya. Sementara itu Leon masih memandangi Kinanti yang berjalan dengan tenang menunju kamar rawat ayahnya.


“Manis ya, Dok. Kayak gula aren. Anaknya juga pinter dan kuat,” puji seorang perawat yang sedari tadi menyimak pembicaraan Leon dengan Kinanti.


“Iya, gadis yang sangat menarik.” Leon balas memuji. Ia mengeratkan genggamannya pada ponsel yang menyimpan nomor Kinanti.


“Tapi hati-hati loh Dok, dia udah punya pacar. Remaja tampan yang matanya tajam banget itu loh. Kayak ada laser dari matanya tiap ada orang yang ngelirik gadis itu.” Perawat itu mencontohkan cara Kala menatap sekitarnya.


“Hahahahaha... iya kamu benar, Yaa, tapi dia kan masih remaja. Wajar lah cinta monyet. Biarin aja. Belum tentu bertahan menghadapi realita hidup yang sebenarnya.” Leon berbicara dengan penuh percaya diri.


Benarkah, cinta mereka hanya cinta monyet? Hati-hati kamu diserbu fansnya Kala-Kinan, dokter Leon.

__ADS_1


****


__ADS_2