
Malam terasa begitu panjang bagi seorang Lukman yang merasa seperti habis bertarung dengan maut seorang diri. Ia bersyukur karena saat ini ia masih bisa bernapas, untuk melanjutkan hidupnya. Mata yang bengkak itu mengerjap pelan saat bias cahaya mentari pagi masuk melalui celah kaca dan membuat isi kamarnya sedikit terang. Glotisnya naik turun dengan pelan saat ia menelan saliva yang terasa kering ditenggorokannya.
Ia mengulat, mengerakkan tubuhnya hendak beranjak untuk mengambil air minum yang berada di meja kecil samping tempat tidurnya, tetapi hanya jemarinya saja yang bisa ia gerakkan. Lukman menghembuskan napasnya kasar, ia merasa begitu lemah dan tidak berdaya bahkan hanya untuk sekedar mengasihani dirinya sendiri.
Dengan sisa tenaganya, ia kembali mengulat, menggerakan tubuhnya di atas permukaan kasur, untuk mendekat pada meja kecil. Ia mencengkram sisi tempat tidurnya dengan kuat dan menjadikannya tumpuan untuk bangkit.
“Akh!” Lukman mengaduh saat ia merasakan pusin yang hebat ketika berhasil bangkit pelan-pelan. Ia duduk bersandar pada sandaran tempat tidurnya. Tangannya yang lemah berusaha menggapai gelas yang ada disampingnya. Setelah berhasil ia raih, ia berusaha mengangkat gelas yang terasa begitu berat. Padahal isinya hanya sisa setengah.
Tangan yang gemetar itu terus berjuang, hingga ia bisa meneguk air. Saat air dingin itu melewati tenggorokannya, ada rasa tertahan ditenggorokannya yang membuat ia hanya bisa menelan sedikit demi sedikit air yang sudah ada dimulutnya.
“Apa mungkin tenggorokanku mulai bengkak, seperti yang pernah dikatakan dokter?” Lukman bertanya pada dirinya sendiri.
“Kinan, Kala.” Lukman berusaha bersuara untuk mengetes suara seperti apa yang keluar dari mulutnya. Serak, kecil, seperti bisikan padahal ia bersuara sepenuh hati.
“Kinan….” Kali ini ia menyebut nama Kinanti lebih panjang, tetapi napasnya tidak sampai dan malah terbatuk. Ia terbatuk beberapa saat, sambil mengusap-usap dadanya yang mulai sesak.
“Ayah, apa Ayah udah bangun?” suara Kinanti terdengar dibalik pintu.
“Ya.” Lukman mengeluarkan suaranya, tetapi begitu pelan.
“Ayah, Ayah perlu sesuatu?” Kinanti mengetuk lagi pintu kamar Lukman, sepertinya ia tahu, ada yang tidak beres dengan ayahnya.
Lukman mengumpulkan semua tenaganya untuk menjawab pertanyaan Kinanti. “Ayah akan segera keluar, nak.” Setelah berusaha sepenuh tenaga, suara itu akhirnya terdengar lebih keras.
“Oh, iya Ayah. Kinan bikin sup telur puyuh kesukaan Ayah. Kita sarapan bareng ya Ayah. Kala juga udah dijalan kayaknya.” Suara Kinanti lagi terdengar.
“Iya, nak.” Lukman menyahuti dengan tenaga penuh walau hasilnya tetap suaranya pelan dan hanya cukup didengar Kinanti.
“Okey, Ayah.” Kinanti menimpali. Walau masih tampak berpikir karena merasa Lukman berbeda hari ini, namun ia berusaha mengerti. Mungkin ayahnya kelelahan dengan banyaknya pekerjaan yang ia terima.
__ADS_1
Setelah suara Kinanti tidak lagi terdengar, Lukman berusaha untuk bangkit. Ia berjalan tertatih-tatih menuju kamar mandi. Kakinya terasa begitu kaku, mungkin karena semalaman ia mengejang beberapa kali saat merasakan sakit ditubuhnya. Ia menyeret dua kaki yang lemah itu dan tetap berpegangan pada apa saja yang bisa membantunya tegak berdiri.
Butuh usaha yang besar hanya agar bisa duduk diatas dudukan toilet. Ia terduduk disana sambil melamun, memikirkan apa yang harus ia lakukan sekarang.
“Apa aku beritahu saja Kinanti, kalau mungkin umurku tidak panjang lagi?” Lukman bergumam seorang diri. Ia menatap dinding putih yang ada dihadapannya dan rasanya ia seperti melihat sosok istrinya yang sudah lama tiada.
“Bu, apa Kinan akan kuat kalau Ayah tinggalkan seorang diri?” ia seperti berdialog dengan sosok yang divisualisasikan oleh otaknya yang mulai melemah.
“Kalau Ayah pergi, siapa yang nanti akan menjaganya? Siapa yang akan menggajaknya jalan-jalan ke Bandung dan berkunjung ke makam ibu? Siapa yang akan mendengarkan cerita hari-harinya yang penuh warna dan panjang? Siapa yang akan memeluknya saat dia putus asa dan merindukan kita? Apa kita hanya akan memandanginya saja dari atas sana?”
Kalimat Lukman tercekat. Ia tertunduk lesu dengan bulir air mata yang mulai menetes. Air mata yang sangat langka karena sulit ia keluarkan walau hatinya menjerit merasakan kesedihan yang mendalam.
Lukman tidak bisa menbayangkan seperti apa putrinya hidup seorang diri. Tubuhnya sudah semakin ringkih dan mungkin tidak akan bertahan untuk waktu yang lama. Namun, ia teringat pada ucapan Kala. Lukman harus memberitahu putrinya. Jangan sampai Kinanti menyesal karena tidak mengetahui apapun tentang kondisinya.
Lantas, siapkah ia melihat tangis kesedihan putrinya, nanti?
****
“Ayah udah bangun?” Lukman yang ia tanyakan lebih dulu.
“Udah. Tadi aku panggil, ayah udah bangun. Sempet batuk-batuk juga. Kayaknya ayah kena flu deh, soalnya suaranya juga agak serak gitu,” ujar Kinanti yang melanjutkan menyiapkan sarapan untuk ia, Kala dan Lukman.
“Aku ke kamarnya, boleh?” Kala sangat khawatir. Ia merasa sepertinya Lukman sedang tidak baik-baik saja.
“Boleh. Ketuk aja pintunya.”
“Okey,” Kala segera beranjak. Ia meninggalkan Kinanti yang masih menyeduh susu untuk teman sarapan mereka dan menyiapkan secangkir teh untuk Lukman.
“Om, ini Kala. Boleh Kala masuk?” suara Kala masih bisa didengar oleh Kinanti dan Lukman.
__ADS_1
“Masuk, Kal.” Lukman langsung mengizinkannya.
“Tumben banget ayah bolehin orang lain masuk ke kamarnya? Aku aja sering dilarang, giliran Kala boleh. Padahal yang anaknya itu kan, aku.” Kinanti bergumam sendiri. Bibirnya sedikit mengerucut kesal.
Meskipun demikian, ia bersyukur karena Lukman memiliki teman bicara, yaitu Kala. Walaupun Kinanti tidak pernah tahu apa yang dua laki-laki itu bicarakan. Mungkin pembicaraan antar laki-laki.
“Om, ini buat Om.” Kala memberikan goodybag itu pada Lukman.
“Apa ini?” Lukman memandangi goody bag ditangannya, penuh tanya.
“Ini minuman multivitamin. Bisa melancarkan peredaran darah dan meningkatkan daya tahan tubuh Om. Ini juga bisa mengurangi kram dan spasme otot akibat chemoteraphy.” Kala menjelaskan apa adanya.
“Ya ampun, Om pernah dapet rekomendasi obat herbal ini dari dokter Om. Tapi, obat ini sangat mahal Kal. Kenapa kamu ngasih ini ke Om?” Lukman menatap Kala dengan tidak habis pikir.
“Karena Kala mau nemenin Om berjuang." Jawaban Kala terdengar begitu tegas dan tatapannya yang begitu serius pada Lukman. Lukman sampai terhenyak mendengar ucapan Kala.
"Di luar sana, ada seseorang yang sangat mengharapkan kesembuhan Om. Kalau Om berkata Om ingin mengatakan semuanya pada Kinan setelah Om benar-benar pulih, maka bertahanlah dan berjuanglah. Kala akan menemani Om saat mengatakan kabar gembira itu,” ucap Kala dengan penuh kesungguhan dan ketulusan.
Lukman begitu tersentuh dengan ucapan Kala. Ia meraih bahu remaja itu dan memeluknya dengan erat.
“Terima kasih Kal, terima kasih. Om sangat bersyukur bisa mengenal kamu. Kamu anak yang sangat baik. Orang tuamu pasti sangat bangga punya anak sebaik kamu.” Lukman terisak dipelukan Kala.
Kala hanya tersenyum seraya mengusap punggung Lukman yang mulai kurus. Ia bahkan bisa merasakan tonjolan tulang belakang yang teraba oleh telapak tangannya.
“Om, kalau Kala boleh meminta, bisakah Om mengatakan semuanya pada Kinan? Kala yakin Kinan pun ingin menemani Om berjuang. Jangan buat dia menyesal.” Kala setengah memohon pada laki-laki paruh baya ini.
Lukman melerai pelukanya dari Kala. Ia menatap Kala dengan lekat seraya tersenyum. Garis wajahnya yang lelah terlihat jelas oleh Kala.
“Om akan segera mengatakannya. Om akan segera mencari waktu yang tepat untuk memberitahu Kinan. Kalau nanti Kinan nangis dan menyalahkan dirinya sendiri, tolong jangan pernah tinggalkan dia ya. Saat dia marah dan kecewa, dia memang cenderung menyalahkan dirinya sendiri. Tolong, jangan buat dia larut dalam kesedihannya terlalu lama. Bisa kan, Kal?” Laki-laki renta itu menggenggam tangan Kala dengan erat.
__ADS_1
Kala tidak menimpali, ia hanya mengangguk pelan dengan tatapan penuh kekhawatiran pada lukman. Dalam hatinya ia berjanji, ia akan menjaga Kinanti dengan baik, meski Lukman tidak memintanya.
****