
Belajar di cafe ternyata memang cukup menyenangkan. Tidak ada rasa jenuh dan bosan yang melintas dipikiran Kala. Suara musik yang di putar seolah menjadi teman sehati yang menemani mereka membahas satu per satu sub bab yang tidak dipahami Kala.
Pelajaran matematika yang mumet setiap dipelajari oleh Kala, hari ini tidak terasa memusingkan. Mungkin karena suasana yang tenang dan nyaman.
Sesekali Kinan dan Kala berdiskusi santai membahas setiap sub bab dalam satu bab materi yang pernah di abaikan Kala satu tahun terakhir ini. Waktu tidak terasa berjalan begitu cepat. Satu jam ternyata tidak cukup untuk mereka belajar efektif.
Kemampuan Kinanti dalam menjelaskan juga patut di acungi jempol. Ia begitu sabar membantu Kala memahami pelajaran yang bisa ia ulangi dua hingga tiga kali sampai Kala benar-benar paham. Ia juga memberikan Kala target skoring, dimana mereka baru akan berpindah bab kalau Kala berhasil mencapai skor yang telah di tentukan oleh Kinanti.
“Kenapa pelit banget sih ngasih nilainya? Materi ini susah, harusnya bobotnya dua puluh lima persen, bukan sepuluh persen.” Protes Kala saat Kinanti memberinya nilai kecil.
“Soal yang ini bisa di pecahkan dengan cara yang lebih cepat. Tapi kamu terlalu berbelit-belit Kal. Kalau kamu ikut olimpiade, kamu akan kehabisan waktu.” Kinanti bersikukuh dengan asumsinya.
“Aku gak mau ikut olimpiade. Aku hanya butuh mendapatkan nilai yang bagus dan bisa mengalahkan siswa yang lainnya khususnya Demian.” Tegas Kala apa adanya.
“Kenapa harus Demian?” tanya Kinanti tiba-tiba.
“Maksud kamu?” Kala balik bertanya.
“Ya maksud aku kenapa kamu harus ingin mengalahkan Demian? Apa kamu merasa saingan sama dia?” Kinanti memperjelas pertanyaannya.
“Tentu aja. Dia siswa terbaik di kelas kita. Tentu dia harus jadi tolak ukurku dan aku harus bisa melampauinya.” Kala terlihat kesal dan semangat di waktu yang bersamaan.
“Lalu, kalau prestasi Demian terkalahkan oleh orang lain selain kamu, apa dia akan tetap jadi tolak ukur kamu? Atau kalau Demian sudah merasa puas dan tidak ingin berusaha lagi, apa kamu juga akan berhenti berusaha?” Kinanti memberikan pertanyaan yang lebih menyudutkan.
__ADS_1
Kala terdiam beberapa saat, mencoba mencerna perkataan Kinanti.
“Ya, mungkin aku bisa sedikit berleha-leha kalau dia sudah merasa puas dan tidak berusaha apapun lagi.” Kala tersenyum sinis, membayangkan Demian ada di bawah kakinya.
“Jadi tujuanmu hanya sampai di situ? Mengalahkan Demian?”
“Ya.” Kala begitu tegas. Tentu saja tujuannya hanya itu, mengalahkan Demian yang hobi mencari muka di depan ayahnya.
“Terus gimana kalau ternyata Demian suatu memiliki tujuan lain? Atau buruknya justru dia gak punya keinginan apa-apa selain membuat kamu merasa tersaingi? Apa kamu juga akan berhenti dan ikut menyerah?” tatapan Kinanti kali ini mengunci sepasang mata elang milik Kala.
Kala sampai membenarkan posisi duduknya, bingung menjawab pertanyaan Kinanti. Sungguh, ia belum pernah berpikir hal lain, selain memikirkan cara agar Demian berada di bawahnya.
“Apa menurutmu pemikiranku salah?” Kala berbalik bertanya pada Kinanti, ia mulai ragu. Wajah Kinanti yang terlalu bersungguh-sungguh namun teduh di waktu bersamaan malah membuat ia gelisah.
“Lalu?” Kala semakin penasaran, karena ia yakin ada yang harus di jelaskan oleh Kinanti.
“Ini pendapatku pribadi.” Kinanti ikut menegakkan tubuhnya, berbicara yang serius, tidak bisa dengan sikap yang leha-leha.
“Silakan,” baru kali ini Kala mau mendengar masukkan orang lain.
“Seseorang yang memiliki target karena ingin mengungguli orang lain, itu bukan sebuah kesalahan. Tapi, saat seseorang yang ingin kamu ungguli itu ternyata tidak punya tujuan, apa kira-kira yang akan kamu dapatkan?”
Kala tercenung, ia menggeleng seraya menatap lekat wajah Kinanti yang tenang.
__ADS_1
“Memiliki perasaan bersaing itu wajar karena dalam prestasi itu selalu ada kompetisi. Tapi, hidup kamu bukan hanya tentang kompetisi Kal, apalagi mempertaruhkan hidup hanya untuk persaingan. Aku yakin, ada hal lain yang bisa kamu lakukan dengan lebih baik tanpa harus menjadikan Demian sebagai tolak ukur kesuksesan kamu.”
“Menurutku, akan lebih baik kalau kamu menentukan standar kesuksesan kamu sendiri. Bukan hanya dengan melampaui prestasi Demian tapi dengan melakukan sesuatu yang kamu sukai dan bisa membuat kamu bertumbuh.”
“Aku yakin, itu akan membuat kamu lebih termotivasi dan lebih bahagia menjalaninya tanpa merasa terbebani saat melakukannya.” Urai Kinanti dengan lugas.
Kala tidak lantas menimpali. Ia memilih memalingkan wajahnya yang terlihat gusar dan memandang jauh keluar sana. Ia melihat seorang anak laki-laki yang tertawa riang berloncatan sambil berpegangan pada ayahnya. Sementara ibunya membawakan ia makanan, sepertinya anak itu sedang di bujuk agar mau makan.
Entah mengapa hati Kala berdesir. Masa lalunya pun seindah itu, dulu. Tapi kedatangan Demian dan ibunya telah merusak semua kebahagiaannya. Jika bukan membuat Demian jatuh, apa yang saat ini harus menjadi tolak ukurnya? Apa yang bisa ia munculkan dalam dirinya untuk menjadi versi terbaik dirinya, seperti yang Kinanti sebutkan?
“Apa aku bisa melakukannya?” Kala bertanya tanpa menoleh Kinanti, membuat Kinanti ikut memandang keluar sana. Penasaran dengan yang dilihat Kala.
“Kamu bahkan sudah memulainya, kenapa ragu tidak akan berhasil?” jawaban Kinanti cukup sederhana.
Kala kembali menoleh Kinanti, menatapnya beberapa saat sebelum kemudian meneguk air mineral milik Kinanti.
“Eh, itu milikku.” Protes Kinanti.
Tapi Kala tidak peduli. Ia tetap meneguk air mineral itu hingga tandas tanpa menurunkan pandangannya dari Kinanti. Ia sadar benar, kalau Kinanti perlahan telah merubah sudut pandang dalam hidupnya. Tidak sedikit, melainkan sangat banyak.
Ada motivasi baru yang tiba-tiba muncul dalam dirinya. Bisakah ia mewujudkan itu?
****
__ADS_1