
Kantin, menjadi tempat dengan suasana yang lebih tegang dari biasanya. Ada Kala dan Demian yang saling berhadapan, bertatapan tajam menantang satu sama lain.
Kejadian bermula saat Demian yang tiba-tiba duduk di samping Kinanti yang baru selesai mengambil makan siang nya. Tiba-tiba Demian mengikuti dan duduk persis di samping Kinanti. Kala baru datang kemudian, setelah dua remaja itu berbincang cukup lama tentang jadwal belajar bersama. Remaja yang tidak terbiasa melihat keberadaan lawannya ini, segera menghampiri dua remaja itu.
“Menyingkir!” titah Kala seraya menaruh piring makannya dengan kasar dihadapan Demian. Ia berbicara tanpa menatap Demian sedikitpun.
Demian yang sedang asyik berbincangpun mulai merasa terusik. “Gue datang lebih dulu, sebaiknya lo cari tempat lain. Atau duduk saja di depan gue, kursi itu kosong.” Demian tidak mau mengalah karena menurutnya ia yang lebih dulu dan lebih berhak.
“Oh ya? Kursi ini kosong?” Kala tersenyum meledek. Ia menatap Demian dengan tajam, penuh kebencian.
“Ya. Lo gak liat? Apa mata lo mulai rabun?” Demian tidak kalah meledek. Baginya tidak ada istilahnya ia kalah dari Kala.
Kala tidak menimpali, ia mengambil piring nasi Demian, mengangkatnya tinggi-tinggi lalu membalik piring itu di atas kursi yang ada di hadapan Demian. Ia merasa rivalnya ini baru saja menantangnya.
"Ups! Kursinya kotor kena makanan lo." Kala tersenyum sinis pada Demian.
“KALA!!” Demian benar-benar terpancing, ia langsung berdiri menyalak tidak terima, atas tindakan Kala. Seisi kantin mulai waspada termasuk Kinanti. Ia bingung sendiri, entah apa yang harus ia lakukan sekarang.
Kala tidak menyahuti. Ia hanya tersenyum kecil lalu berjalan ke arah Demian dan sengaja menubrukkan bahunya ke bahu Demian agar remaja itu menyingkir dan Kala bisa duduk di samping Kinanti.
__ADS_1
“Bicarakan pelajaran saat di kelas, bukan di ruang makan.” Kalimat itu yang Kala ucapkan pada dua orang di sampingnya, Demian dan Kinanti.
Tanpa di duga, Demian menanggapi ucapan Kala dengan sebuah pukulan. Pukulan pada piring Kala hingga piring itu pecah terbagi dua.
“Demian!” Kinanti langsung terhenyak. Makanan Kala berantakan dengan piring yang pecah sementara tangan Demian kotor dan berdarah.
"Apa yang kamu lakukan?" Kinanti segera menghampiri Demian dan memeriksa tangan remaja itu. lukanya cukup lebar dan dalam juga kotor oleh makanan.
Kala tidak tinggal diam. Ia segera berdiri dan menantang Demian. Di tariknya tangan Kinanti agar menjauh dari Demian. Ia tidak suka dua orang ini berdekatan.
“Rupanya lo sangat suka ngerusak. Atau lo memang terlahir sebagai perusak?” Kala berbicara pelan namun penuh penekanan pada Demian.
“Brengsek!” Kala langsung meraih kerah baju Demian, mendorongnya dengan kuat hingga dalam beberapa langkah mundur, Demian tersudut di dinding kantin.
“Bagimana ini, tolong panggil Mr Jack,” ucap wanita penjaga kantin yang mulai panik. Para siswa sudah tidak ada yang duduk tenang menikmati makanan mereka, semuanya waspada karena pasti akan ada perkelahian di ruangan ini.
“Aku akan memanggil Mr Jack.” Penjaga kantin laki-laki segera berdiri dan berlari mencari Jack.
Kinanti yang melihat kejadian itu, segera menghampiri Kala. Ia tidak mau kalau Kala sampai dilaporkan lagi pada ayahnya.
__ADS_1
“Kenapa, mau mukul gue? Silakan, nih pukul di sini. Lakukan dengan benar agar berbekas dan bisa gue visum.” Demian sengaja menunjukkan pipinya pada Kala, ia ingin melihat sebesar apa Kala menantang ayahnya yang sangat membenci setiap perbuatan kasar yang dilakukan Kala.
“Brengsek!” Tangan Kala melambung tinggi hendak melayangkan bogem mentahnya pada Demian.
“Kala! Berhenti!” seru Kinanti. Ia segera berlari dan berdiri di samping Kala. Ditatapnya remaja itu dengan tajam.
“Apa? Berhenti? Dia minta aku hajar, mana mungkin aku menolak permohonannya.” Kala menatap sinis pada Demian dengan senyum menyeringai. Beberapa senti saja jarak antara kepalan tangan Kala dengan wajah Demian yang siap terluka.
“Jangan bodoh Kala. Penjaga kantin sedang memanggil Mr Jack, kamu mau ini jadi masalah besar?” Kinanti mencoba mengingatkan, walau suaranya terdengar sedikit bergetar karena takut.
“ARGGH!” Kala hanya bisa mendengkus kasar, berteriak di depan wajah Demian saat ia sadar kalau yang dikatakan Kinanti itu benar. Memukul Demian sama saja dengan memancing Yudhistira berceloteh menyebalkan. tidak hanya dirinya, tapi ibunyapun akan terkena imbas. Terpaksa ia meredam emosinya yang sebenarnya sedang meluap.
Demian tersenyum kecil, saat Kala menurunkan tangannya meski tetap menatapnya penuh dendam.
“Demian, tolong berhenti dan obati lukamu. Kita akan bicara masalah pelajaran, nanti,” pesan Kinanti yang segera menarik tangan Kala agar keluar dari Kantin.
“Ha ha ha. HAHAHAHAHAHA!!” Demian tertawa lebar melihat Kala dan Kinanti pergi begitu saja. Orang-orang hanya memandangi Demian dari kejauhan, kaget dengan respon Demian yang biasanya tenang dan sekarang mulai ekstrim.
“Kali ini lo bikin Kinanti ninggalin gue, lain kali lo yang akan ditinggalin sama Kinanti.” Demian membatin di sela suara tawanya yang masih terdengar.
__ADS_1
****