
Test sesi pertama akan segera dimulai dan semua peserta olimpiade sudah diminta masuk ke dalam ruangan dan menempati kursi berdasarkan nomor urut peserta. Kinanti duduk di salah satu sudut ruangan, lurus dengan kursi milik Demian hanya terhalang oleh satu baris disampingnya. Sayangnya, hingga saat ini kursi itu masih kosong padahal panitia sudah menginformasikan kalau test akan dimulai dalam waktu lima menit kedepan.
Kinanti mulai gelisah, entah kemana perginya Demian. Diluar ruangan, Kinanti juga melihat Jack sedang bertelepon dengan seseorang dan tampak begitu panik. Apa Demian menghilang?
“Permis, Bu.” Kinanti mengangkat tangannya.
“Ya, kenapa?” Seorang pengawas wanita dengan kacamata tebal yang membingkai kedua matanya, menatap Kinanti dengan tajam.
“Saya izin keluar sebentar, boleh?” Takut-takut Kinanti meminta izin.
“Untuk apa kamu keluar? Ujian akan segera dimulai.” Wanita itu menatap Kinanti penuh selidik.
“Maaf Bu, teman saya belum kembali, kursinya masih kosong. Saya izin memeriksanya sebentar saja.” Kinanti setengah memohon.
Pengawas itu menoleh satu bangku yang memang masih kosong. “Lima menit. Lebih dari itu, kamu tidak diizinkan masuk. Ingat, salah satu point penilaian dari olimpiade ini adalah ketepatan kehadiran peserta.” Wanita itu mengultimatum Kinanti.
“Baik, Bu. Terima kasih.” Tanpa menunggu lama, Kinanti segera keluar kelas. Ia menemui Jack yang tampak gelisah.
“Mr Jack, apa Demian belum juga kembali?” tanya Kinanti, pada Jack yang baru selesai bertelepon.
“Belum Kinan, dia belum kembali. Saya telepon juga handphonenya malah gak aktif. Saya udah menghubungi panitia untuk membantu pencarian, tapi masih belum juga ditemukan.” Jack benar-benar panik.
“Apa tidak sebaiknya kita lapor polisi?” Kinanti memberi ide.
“Nggak bisa. Seseorang bisa dilaporkan hilang setelah satu kali dua puluh empat jam menghilang tanpa kabar.” Jack mengguyar rambutnya kasar, pikirannya buntu tidak bisa berpikir banyak.
“Kenapa harus menunggu selama itu? Ini bukan karena Demian mau ikut olimpiade, tapi saya khawatir terjadi sesuatu yang buruk pada Demian. Demian datang ke sini dengan semangat dan dalam kondisi baik-baik saja, mana mungkin pergi begitu saja?” Kinanti semakin cemas.
“Iya, saya tau. Saya akan melakukan pencarian ulang dengan panitia. Kamu masuklah. Jangan sampai kamu didiskualifikasi,” ujar Jack dengan kekhawatiran yang bertambah.
“Iya, saya akan masuk. Tolong kabari saya.” Terpaksa Kinanti harus menurut karena ada kewajiban lain yang harus ia penuhi. Jack hanya terangguk, ia tidak bisa berkata-kata.
Lembaran jawaban sudah dibagikan dan Kinanti masih memandangi kursi Demian yang kosong. Dalam hatinya ia memanggil nama Demian agar segera kembali, tetapi sepertinya pesan itu tidak pernah sampai.
__ADS_1
“Segera isi identitas kalian. Jangan buang-buang waktu karena kecepatan mengumpulkan juga menjadi penilaian tambahan.” Lagi, ucapan pengawas menjadi alarm yang menyadarkan Kinanti. Sepertinya pengawas itu sedang mengingatkan Kinanti yang terus memandangi kursi Demian.
Kinanti mulai berusaha memfokuskan dirinya. Ia mengisi identitas dengan lengkap lalu membaca satu per satu soal yang akan ia kerjakan. Matanya bergerak dengan cepat membaca soal, mengingat teori yang ia pelajari lalu memilih jawaban yang ia rasa tepat. Semuanya ia lakukan dengan cepat karena Kinanti ingin segera selesai.
Tangannya sampai dingin dan basah karena tegang. Bukan hanya karena harus mengerjakan sebanyak serratus soal, tetapi juga masih harus memikirkan Demian yang belum juga kembali. Satu jam berlalu, sekitar enam puluh soal sudah Kinanti selesaikan. Selama itu juga Demian belum kembali. Perasaan Kinanti semakin tidak karuan.
“Fokus Kinan, lakukan satu per satu. Percayalah kalau Mr Jack akan mencari Demian dan Demian akan segera ditemukan.” Kalimat itu seperti mantra yang Kinanti ucapkan berulang untuk menyemangati dirinya sendiri.
“Tenanglah, Demian baik-baik saja.” Ini kalimat kedua yang Kinanti gumamkan.
Dua jam berlalu dan semua soal selesai dikerjakan oleh Kinanti. Ia periksa ulang beberapa saat sebelum kemudian ia putuskan untuk mengumpulkan lembar jawabannya.
“Kamu sudah yakin dengan jawaban-jawaban kamu?” Pengawas itu menatap sangsi pada Kinanti.
“Iya Bu, saya sudah yakin.” Kinanti menjawab dengan penuh rasa percaya diri.
“Ya sudah, kamu boleh keluar.” Pengawas itu mengambil lembar jawaban Kinanti lalu memasukkannya ke dalam map.
“Terima kasih, Bu.” Kinanti pun segera keluar. Ia ingin segera mengetahui kabar tentang Demian.
****
“Apa masih belum ketemu?” Kinanti menghampiri Jack yang sedang berbicara dengan panitia.
“Belum. Kami sudah melakukan pencarian disekitar sekolah, tapi masih belum ketemu. Saya terpaksa menghubungi orang tua Demian dan beliau dalam perjalanan ke sini.” Jack terlihat benar-benar putus asa.
“Saya akan membantu mencari.” Kinanti berujar dengan penuh percaya diri.
“Tidak perlu Kinanti, kamu sedang mengikuti kompetisi sebaiknya kamu fokus saja pada kompetisi.” Jack terlihat keberatan.
“Saya sudah selesai mengerjakan soal saya. Masih ada waktu untuk saya membantu mencari Demian. Lagi pula, mana mungkin saya diam-diam saja sementara teman saya hilang?” Kinanti tidak bisa menyembunyikan raut cemasnya.
Jack menghembuskan nafasnya kasar seraya mengguyar rambutnya bingung. Ucapan Kinanti memang benar, ia tidak bisa menahannya apalagi menyuruh kinanti tenang-tenang saja. “Jangan jauh-jauh Kinan. Kamu gak kenal sekolah ini. Mungkin saja kamu tersesat seperti Demian.” Jack mencoba memberi kesempatan.
__ADS_1
“Iya, saya paham. Boleh saya minta dua orang panitia laki-laki untuk menemani saya mencari Demian?” Kinanti berinisiatif.
“Boleh. Kamu akan ditemani oleh seorang security dan seorang siswa. Kamu bisa menemui mereka.” Panitia itu menunjuk dua orang yang sedang berbincang di depan ruang guru.
“Baik, saya permisi.” Kinanti segera menghampiri dua orang itu.
Ditemani dua orang yang dipilihkan panitia, Kinanti mulai mencari keberadaan Demian. Ia menyisir sekitaran sekolah dimulai dari tempat terakhir ia bertemu Demian. Membuka satu per satu ruangan yang kosong dan tidak digunakan hingga toilet siswa yang jumlahnya tidak sedikit.
Sekolah ini memang sangat luas. Menyisir setiap sudutlah ternyata sangat melelahkan dan menghabiskan banyak waktu. Kinanti juga pergi ke gudang atau tempat lain yang mungkin didatangi oleh Demian, tetapi hasilnya nihil. Ia mencoba menghubungi lagi nomor Demian dan tetap saja nomornya tidak aktif.
“Akh sial, kamu pergi kemana Demi?” Kinanti sudah mulai kalut. Ia sudah sampai di pintu gerbang sekolah dan memeriksa setiap sudut sekolah, ttetap tidak ada tanda-tanda keberadaan Demian. Keringatnya sudah bercucuran dan fokusnya pada lomba sudah mulai hilang.
“Dek, sebentar lagi pengumuman hasil sesi pertama, sebaiknya kamu masuk dulu.” Saran seorang siswa yang menemani Kinanti.
“Tunggu sebentar lagi Kak. Aku perlu memastikan hal lain.” Kinanti keluar pintu gerbang dan melihat jalan sekitaran sekolah yang sepi. Sekolah ini memang tidak terletak dipusat kota dan cukup jauh dari kebisingan dan hingar bingar kendaraan. Jalanan menuju sekolah inipun khusus. Hal ini membuat Kinanti semakin ingin mencari Demian yang tidak mungkin pergi terlalu jauh sementara mobil sekolah masih terparkir ditempatnya.
“Kamu mau kemana?” tanya siswa tadi pada Kinanti.
“Jalan apa ini kak?” Kinanti menunjuk jalan setapak yang berada di samping bangunan sekolah.
“Oh, itu jalan menuju belakang sekolah. Tidak ada apa-apa di sana, hanya tempat remaja setempat nongkrong-nongkrong dan menghabiskan waktu,” urai siswa tersebut.
“Apa ini tersambung dengan bagian belakang gedung sekolah?” Kinanti semakin penasaran.
“Tidak, sekolah ini dipasangi benteng yang tinggi. Tidak ada pintu yang tembus ke belakang.”
Kinanti mengangguk paham. Ia memperhatikan jalanan itu, sepertinya dilewati beberapa roda sepeda motor beberapa saat lalu. Tanpa rasa ragu Kinanti mengikuti jalan setapak itu. Terus menuju belakang dan setelah beberapa meter, ia menemukan bangunan rumah yang hampir rubuh. Di balik sekolah yang berdiri dengan gagah di lahan luas ini, ada bangunan kecil yang nyaris ambruk. Kinanti segera mendekat ditemani dua partnernya.
“Disini!” seru petugas security.
Kinanti segera menoleh dan menghampiri laki-laki itu. Mata Kinanti melotot kaget saat seseorang terduduk di salah satu sudut bangunan tua itu.
“DEMI?!” seru Kinanti.
__ADS_1
****