
Rasa mendebarkan kembali dirasakan Kinanti saat ia menunggu hasil pengumuman. Kinanti dan sembilan siswa lainnya berkumpul di dalam kelas dan menunggu hasil dengan perasaan berdebar. Seorang panitia membagikan sebuah amplop yang entah berisi apa.
“Ditangan kalian, ada amplop yang bertuliskan nama masing-masing. Didalamnya, kami sudah menuliskan hasil kelulusan kalian disesi kedua tadi. Peserta yang lolos, akan langsung mendapatkan materi presentasi yang harus disiapkan dalam waktu setengah jam sementara peserta yang belum lolos, bisa keluar dari ruangan ini. Saya ucapkan terima kasih pada seluruh siswa yang sudah mengikuti olimpiade ke empat puluh dua ini. Semoga, kalian tetap semangat dalam belajar,” urai ketua panitia yag memberikan pengumumam.
Kinanti dan siswa lain, menatap cemas amplop yang ada di tangannya. Entah apa hasil yang akan mereka terima saat ini.
“Silakan dibuka dan berbesar hatilah dengan apa yang kalian dapatkan,” imbuh pria bertubuh tambun itu dengan senyum semangat yang terkembang.
Perasaan Kinanti semakin ketar-ketir. Ia memejamkan matanya beberapa saat sambil mengingat apa yang Lukman pesankan beberapa waktu lalu. Ia masih mengingat bahwa segala sesuatu dalam hidup ini adalah sebuah kejutan yang harus Kinanti terima dan syukuri apapun hasilnya.
Seperti saat ini, Kinanti berusaha pasrah dengan hasil yang ia terima. Ia sudah berjuang seoptimal mungkin di tengah gempuran rasa cemas akan kondisi temannya, Demian. Maka, yang bisa ia lakukan saat ini adalah menerima semua keputusan yang akan ia dapatkan.
Para siswa membuka amplop di tangan mereka. Satu per satu siswa keluar dari kelas yang berarti mereka gagal. Ada juga yang menangis sesegukan dan tetap tinggal ditempatnya yang berarti dia lolos. Lalu milik Kinanti?
“Selamat telah melewati sesi kedua dengan baik. Kami tunggu disesi berikutnya. Siapkan materi terbaik untuk sesi tiga, dengan tema MIPA adalah pilihanku.” Kinanti melonjak kaget, matanya sampai membulat dan berkaca-kaca. Ia tidak menyangka kalau ia akan masuk ke sesi selanjutnya padahal sesi pertama dan kedua sudah sangat sulit ia lewati.
Tiga siswa yang ada diruangan ini kompak menunduk. Mereka sama-sama merasakan keterkejutan dan bahagia di waktu yang bersamaan. Sekarang sudah jelas siapa yang akan menjadi juara di olimpiade ini. Sisanya, hanya masalah urutan juara yang akan mereka perebutkan.
“Selamat untuk kalian bertiga. Silakan siapkan materi dalam waktu tiga puluh menit. Sumbernya boleh dari artikel atau buku yang pernah kalian baca. Presentasi dilakukan secara langsung, tanpa menggunakan media apapun. Jadi pastikan, materi yang akan disampaikan menarik untuk kami simak,” tutur ketua panitia dengan jelas, yang pergi setelah mengetuk meja yang menjadi tumpuannya.
“Baik, Pak.” Mereka bertiga kompak menjawab.
__ADS_1
Waktu setengah jam itu tidaklah lama. Setelah memberi kabar baik pada Lukman dan Kala, kalau ia lolos ke babak selanjutnya, Kinanti segera menyiapkan materi untuk presentasinya. Benar yang dikatakan Jack kalau penentuan juara satu, dua dan tiga dilakukan dengan mekanisme seperti ini. Ia harus menyiapkan materi yang singkat dan padat juga menarik karena waktunya tidak banyak. Hanya sekitar lima belas menit saja untuk sesi presentasi dan sesi diskusi selama empat puluh lima menit.
Hah, jantung Kinanti berloncatan tidak karuan membayangkan ia sudah berada disesi ini. Kinanti membuka ponselnya dan melihat catatan yang sudah ia simpan di file catatan ponselnya. Ia membaca ulang materi yang pernah ia buat lalu menghubungkannya dengan mata pelajar favoritnya yaitu MIPA.
Setiap peserta akan dipanggil satu per satu untuk menyampaikan presentasi mereka dan tiga orang juri akan memberikan penilaian secara langsung. Audience yang hadir adalah para guru yang mengantar siswanya mengikuti kompetisi ini. Sayangnya, Jack tidak bisa hadir. Ia meminta panitia untuk melakukan siaran langsung secara daring untuk sesi ini, tetapi entah akan disetujui atau tidak.
****
Kompetisi sesi tiga akan segera dimulai. Tiga siswa itu mendapatkan nomor urut tampil dan Kinanti mendapatkan nomor urut kedua. Nomor urut yang aman karena ia masih bisa bersiap. Kinanti dan satu lawannya berada di luar, menunggu siswa pertama menyelesaikan presentasinya.
Waktu selama kurang lebih satu jam itu berlalu sangat cepat. Jantung Kinanti masih berdebar sangat kencang dan tangannya sangat dingin. Dua siswa itu saling menoleh dan melempar senyum kelu, sepertinya mereka merasakan ketegangan yang sama. Syukurlah, Kinanti masih ada teman berbagi walau dalam kondisi setegang ini.
“Iya, saya Bu.” Kinanti segera beranjak.
“Masukalh. Sekarang giliran kamu.” Wanita itu tersenyum kecil, berusaha menyemangati Kinanti.
“Baik, Bu. Terima kasih.” Kinanti menghembuskan napasnya kasar dan mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ia berdo’a dalam hati agar semua usahanya diberikan kelancaran.
Di depan kelas saat ini Kinanti berdiri. Dihadapannya ada tiga orang juri dan sekitar lima puluh enam guru yang akan menjadi audiencenya. Meski para guru itu tidak ikut memberi penilaian tapi keberadaannya cukup membuat Kinanti tegang.
“Silakan untuk perkenalkan diri,” ucap salah satu juri.
__ADS_1
“Baik, terima kasih. Perkenalkan, saya Kinanti Amelia. Nomor urut dua.” Kalimat pendek itu diucapkan Kinanti dengan penuh percaya diri.
“Baik, Kinanti, silakan sampaikan presentasi singkatmu.” Juri itu kembali memberi kesempatan.
Kinanti menganggguk yakin. Ia mencoba mengatur napasnya sebelum memulai presentasinya.
“MIPA adalah jurusan yang saya putuskan untuk saya pilih saat masuk SMA. Jurusan ini memberi saya banyak peluang untuk memperlajari banyak hal. Menjadi dokter, adalah motivasi terkuat yang muncul setelah saya memperlajari MIPA, khususnya pelajaran biologi. Dari pelajaran biologi itu saya belajar tentang bagaimana tubuh kita tumbuh dan bekembang dengan luar biasa.” Kinanti berujar dengan penuh percaya diri.
“Saya membaca beberapa artikel yang menarik tentang resusitasi Resusitasi jantung paru. Tindakan ini merupakan pertolongan medis untuk mengembalikan kemampuan napas dan sirkulasi darah yang terhenti karena kondisi atau situasi tertentu. Tindakan ini perlu dilakukan secara cepat dan tepat sebagai langkah awal menyelamatkan nyawa seseorang.”
“Resusitasi jantung paru atau disingkat RJP, ada juga yang menyebutnya dengan istilah CPR, merupakan upaya pertolongan pertama pada orang yang mengalami henti napas dan henti jantung karena berbagai alasan, seperti serangan jantung, kecelakaan, atau tenggelam.”
“Istilah resusitasi ini mungkin tidak banyak dikenal oleh pelajar seperti saya. Bantuan hidup dasar biasanya dilakukan oleh petugas medis yang terlatih, namun faktanya, teknik ini sebaiknya juga dipelajari oleh masyarakat umum contohnya kami sebagai pelajar, karena perannya yang vital terhadap keselamatan nyawa seseorang, bahkan orang terdekat kita. Tapi, bantuan hidup dasar juga tidak boleh dilakukan dengan sembarangan.”
“Bantuan hidup dasar perlu dilakukan dengan teknik yang tepat agar dapat meningkatkan peluang seseorang mempertahankan nyawanya. Kerusakan otak permanen setelah terputusnya pasokan oksigen dapat terjadi dalam jangka waktu 4 - 10 menit, oleh karena itu penting untuk segera melakukan bantuan hidup dasar kepada mereka yang membutuhkan pertolongan.”
Uraian kalimat itu terus meluncur dari mulut Kinanti dan membuat juri tertarik. Mereka memberikan beberapa pertanyaan terkait hal itu dan Kinanti dapat menjawabnya dengan baik.
Untuk hasilnya, posisi berapa yang kemudian Kinanti tempati?
****
__ADS_1