Secret With Bad Boy

Secret With Bad Boy
Hari yang indah


__ADS_3

Setelah beberapa saat, dua sejoli itu kembali menghampiri Lukman. “Kita makan siang yuk Yah. Makanannya udah siap tuh....” Kala mengajak Lukman kembali ke Gazebo.


“Iya.” Laki-laki itu mengangguk. Mereka kembali ke Gazebo dan Kinanti segera menyiapkan makanan Lukman yang masih harus makan makanan lunak yang khusus ia buat.


“Kinan makan aja, Ayah bisa makan sendiri,” ujar Lukman.


“Iya Ayah, pelan-pelan ya makannya.” Kinanti memberikan mangkuk bubur itu pada Lukman. Dengan senang hati pria itu mengangguki.


“Waahh, ada ikan kuwe nih. Jadi ini ikan apa kuwe?” Riko iseng berceloteh sambil mengangkat sepiring besar ikan bakar yang ditata dengan cantik di atas piring lebar.


“Oh namanya ikan kuwe ya? Aku baru tau. Padahal aku suka banget makan ikan ini.” Emili ikut berceloteh.


“Makanya, kalau mau makan, makanannya di ajak kenalan dulu.” Riko mengambilkan ikan untuk Emili agar kuku cantik gadis itu tidak rusak.


“Hehehehe… makasih Ayang.” Emili menerima makanannya dengan senang hati.


“Sama-sama ayang….” Riko bersuara dengan gemas sambil mencoleh hidung Emili.


“Dih, si najis. Ayang-ayang segala, malu tuh sama kumis!” ledek Kala.


“Dih resek, bilang aja sirik. Mau bilang ayang tapi malu sama Om Lukman, cemen nih Om si Kala?” Riko balas meledek.


“Berisik lo! Udah makan!” Kala menyikut Riko dengan kesal.


“Ini, lagi makan. Cuma penasaran aja, Kala udah minta izin Om belum buat macarin Kinanti?” Berani sekali Riko bertanya membuat mata Kala dan Kinanti sama-sama melotot dan wajahnya memerah. Kinanti langsung terbatuk dan buru-buru mencari air yang disodorkan Emili, sementara Kala langsung menutup mulut sahabatnya sambil menatap dan tersenyum malu pada Lukman.


“Ayah udah tau.” Lukman balas tersenyum.


“Hah, udah tau?” Kinanti dan Kala berrespon seragam.


Lukman mengangguk pasti.


“Nah loh! Pake sembunyi-sembunyi segala sih… takut kan pas ketauan? Oow, kamu ketauan. Udah pacaran. Tapi diem-diem, awas dikawinin!” Riko bernyanyi riang dengan mengganti lirik lagu sebuah band.

__ADS_1


“Ayang ikh!” Emili mencubit Riko agar kekasihnya diam.


“Aduh sebentar, lagi seru ini.” Riko mengusap-usap pahanya yang pedas kena cubitan Emili. Tetapi hal itu tidak lantas membuat ia berhenti untuk jahil. “Terus gimana tangapan Om?” ia masih sangat penasaran.


“Ya nggak apa-apa, asal kalian tau batas pacaran itu seperti apa. Ayah percaya kalau kalian anak-anak remaja yang berpikiran dewasa dan memiliki rasa tanggung jawab. Kalian tentu tau kalau masa depan kalian masih panjang.


"Jangan sampai karena rasa penasaran dan keinginan sesaat, masa depan kalian rusak. Belajar menghormati satu sama lain karena hubungan yang baik dan langgeng itu dimulai dari rasa menghormati dan menyayangi satu sama lain. Baru diikuti dengan saling mengasihi dan menjaga satu sama lain.” Kalimat Lukman terdengar panjang dan mulus ia ucapkan walau dengan suara yang serak nyaris terputus-putus.


“Wiihh pencerahan banget nih dari Om Lukman. Jadi dapet restu dong nih. Selamat yaa buat kalian berdua.” Riko menepuk bahu Kala dengan perasaan senang. Kala dan Kinanti saling melirik dan melempar senyum satu sama lain.


“Terima kasih Ayah.” Kala sampai salim pada Lukman.


Lukman mengangguk pelan, “Jaga Kinan baik-baik. Dia anak kesayangan Ayah. Jangan buat dia sedih.” Pesan itu yang lukman sampaikan pada remaja yang masih berusia berlasan ini.


“Iya Ayah, Kala pasti jaga Kinan dengan baik-baik.” Kala menyanggupinya.


“Wiihh selamaatt yaa… udah dapet restu ayah kalian. Inget nih, gue sama Emili saksi. Kalau Kala macem-macem, nanti Riko yang lapor Om.” Riko memberika hormat singkat pada Lukman. Ia mengabaikan sikutan Kala di perutnya yang tidak seberapa.


Lukman hanya mengangguk. Ia memandangi dua wajah remaja yang saling mengasihi ini. Lihat wajah mereka yang sama-sama merona itu. Rona wajah yang sama yang ia alami saat mengungkapkan cintanya pada mendiang ibu Kinanti. Haahhh, sudah lama, tetapi kesannya masih teringat.


Menjelang sore hari, sesuai permintaan Lukman, mereka memutuskan untuk pulang. Di dalam sebuah mobil SUV itu suasana tampak tenang. Kala melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang karena, Lukman sedang tertidur sambil menyandarkan kepalanya ke bahu Kinanti dengan nyaman.


Kinanti menggenggam tangan sang ayah yang terasa dingin dan sesekali memberinya minyak kayu putih untuk menghangatkannya. Ia juga membalutnya dengan syal, khawatir Lukman kedinginan. Kala dan Riko yang duduk di depan, sesekali melihat dari kaca spion untuk mengecek kondisi Lukman. Laki-laki itu benar-benar terlelap dengan damai.


“Kayaknya bokapnya Kinan seneng banget keinginannya dia diikutin. Seharian ini dia ketawa mulu, tidurnya juga nyenyak banget,” ujar Riko sambil memandangi wajah Lukman. Kala hanya tersenyum dan ikut merasa lega dengan apa yang ia lihat.


Tiba di rumah, cahaya matahari masih terlihat di balik langit sore yang berwarna jingga dan sedikit gelap. Lukman segera di bantu untuk berganti baju, membersihkan stoma trachea-nya dan makan malam. Itupun hanya sedikit karena katanya masih kenyang. Ia lebih banyak memandangi dua remaja yang duduk dihadapannya. Sesekali tersenyum entah untuk alasan apa.


“Kala, Kinan, makasih ya udah ngajak Ayah jalan-jalan. Ayah seneng banget hari ini.” Kalimat itu yang diucapkan oleh Lukman saat ia sudah berada di atas tempat tidurnya.


“Iya Ayah, sama-sama. Kinan juga sebeng banget bisa liburan singkat sama Ayah. Ayah badannya capek gak? Ada yang sakit gak?” Kinanti memijat pelan lengan sang ayah yang sejak tadi terus terasa dingin.


“Enggak. Badan Ayah malah berasa enteng banget. Rasanya segar, pikiran dan perasaan Ayah juga ringan. Ayah sangat bahagia hari ini.” Lukman berujar dengan sesungguhnya.

__ADS_1


“Syukurlah. Kalau ada yang gak nyaman, Ayah bilang ya sama Kinan. Jangan sungkan-sungkan.” Kinanti menggenggam tangan sang ayah dengan erat.


“Nggak lah, kalau ada yang gak nyaman Ayah pasti bilang. Ayah cuma pengen lanjutin istirahat aja. Kala kalau mau pulang, hati-hati di jalan ya, jangan ngebut-ngebut. Kinan juga, tidurnya jangan malem-malem. Kan katanya besok mau ke pasar pagi-pagi.” Lukman sempat kan untuk memberi pesan pada dua remaja itu.


“Iya, Ayah.” Kinanti dan Kala menimpali dengan kompak. Beberapa saat mereka bertatapan, saling mengungkapkan perasaan sayang untuk satu sama lain.


Tiba-tiba Lukman merentangkan tangannya dan menyambut dua remaja itu dalam pelukannya. Mereka berdua dipeluk oleh tubuh Lukman yang ringkih.


“Ayah sayang kalian, sangat sayang.” Ungkapan Lukman terdengar begitu mendalam. Ia bahkan mengecup kepala Kinanti dan Kala bersamaan.


Dua remaja itu tersenyum haru.


“Kala juga sayang Ayah.”


“Kinan juga sayang Ayah.”


Dua kalimat itu terdengar bersamaan di telinga Lukman. Diusapnya punggung Kala dan Kinanti dengan lembut sebelum kemudian pelukan itu terlepas.


Lukman mulai membaringkan tubuhnya. Kinanti menyelimuti tubuh itu hingga ke batas dada. Dikecupnya dahi Lukman dengan sayang. “Selamat malam, Ayah,” ucap gadis itu lirih.


“Malam….” balas Lukman. Laki-laki itu tersenyum kecil saat melihat kedua remaja itu beranjak dari tempatnya. Kinanti sengaja tidak mematikan lampu karena akan kembali ke kamar Lukman setelah ia membersihkan dirinya.


“Aku pulang ya, kamu istirahat,” ucap Kala seraya mengusap kepala Kinanti.


“Iya, kamu hati-hati di jalan. Makasih buat hari ini.” Gadis itu berujar dengan sungguh-sungguh.


“Sama-sama.” Satu kecupan didaratkan Kala di dahi Kinanti dan gadis itu memejamkan mata untuk beberapa saat. Ia begitu menikmati setiap detik waktu saat Kala ada didekatnya. Walau masih ingin bersama, nyatanya Kala memang harus segera pulang. Dua remaja itu saling melambaikan tangan dan berpisah beberapa saat.


Sebelum naik ke motornya, Kala memandangi Kinanti yang berdiri di pintu.


“Besok aku akan ngasih kejutan buat kamu. Aku akan ngajak mamah ke sini,” janji Kala dalam hatinya. Ya, itu yang Kala rencanakan untuk esok hari. Ia ingin Kinanti mengenal Bertha sebagai ibunya bukan sebagai bos ayahnya.


Lambaian tangan dan senyum manis Kinanti menjadi akhir dari pertemuan mereka.

__ADS_1


****


__ADS_2